Little Things That Count

Pertengahan 1980, George Kelling dipekerjakan oleh New York Transit Authority dalam rangka pengawasan proyek pembangunan kembali sistem kereta bawah tanah yang menguras dana sampai jutaan millar dollar. Dipilihlah seorang direktur baru, David Gunn, untuk membantu tugas ini.

Banyak pejabat di direktorat terkait yang menyarankan Gunn agar tidak usah mengurusi masalah corat-coret di badan gerbong oleh anak-anak muda iseng. Mereka lebih menginginkan Gunn untuk fokus pada kejahatan-kejahatan yang lebih serius dan keandalan sistem. Masuk akal sih, ya.

Gambar : artnewsandviews.com

New York Graffiti Gambar : artnewsandviews.com

Ingat, New York pada saat itu sudah hampir lumpuh akibat tingginya kejahatan di kawasan tersebut. Segala macam kejahatan mulai dari perkosaan, perampokan, pencurian, pemerasan, pengedaran narkoba dsb. Komplit, plit, plit hihihi. Dari tahun ke tahun makin tidak terkendalikan.

Wajar saja jika hampir seluruh pejabat tadi meremehkan keinginan Gunn yang ingin serius membuat gebrakan awal dengan memberantas masalah corat-coret ini. Kalau dipikir-pikir, apa sih artinya corat-coret kereta dengan kasus pemerkosaan dan perampokan serta pembunuhan misalnya???

Gunn berkeras. Katanya, “Corat coret atau grafiti adalah simbol keambrukan sistem ini! Kita ingin menambahkan kereta-kereta baru yang per buahnya bisa sepuluh juta dolar. JIka tak mampu kita lindungi, kereta-kereta ini hanya akan berumur sehari dan setelahnya hanya akan ada … vandalisme.”

Dibuatlah sebuah sistem dengan anggaran dana yang disediakan. Semua diperhitungkan secara rinci dan cermat. Enggak hanya sekadar maju mundur cantik, maju mundur cantik pastinya ‪#‎eaaaaa‬ hahahahhahha 😀.

David Gunn, gambar : observer.com

David Gunn, gambar : observer.com

Gunn meminta timnya bereksperimen dengan teknik-teknik baru untuk membersihkan corat-coret. Gerbong yang sudah dicoret harus dipisahkan dari gerbong yang bersih. Di tiap terminal, sudah ada tim khusus yang disiapkan untuk menghapus grafiti-grafiti baru yang ada.

Jika gerbong gagal dibersihkan, gerbong tidak boleh diberangkatkan. Disiplin banget deh ngurusin masalah corat coret doang.

Ada beberapa fasilitas untuk menginapkan rangkaian kereta tertentu. Di mana saat malam hari, para berandalan akan menyelinap masuk dan seperti biasa, membuat gratifiti di badan gerbong.

Oleh Gunn, mereka dibiarkan. Tapi begitu grafitinya selesai, Gunn mengerahkan anak buahnya untuk langsung membersihkannya saat itu juga. Anak-anak ini butuh 3 hari untuk menyelesaikannya. Tapi Gunn mematahkan semangat mereka karena dia memastikan grafiti yang susah payah dibuat itu tak akan bisa terlihat oleh publik.

Gunn meminta anak buahnya untuk pantang menyerah. Dicoret lagi,, dibersihkan lagi, dicoret lagi, dibersihkan lagi, dicoret lagi, dibersihkan lagi.

Bersamaan pula dengan pembersihan grafiti oleh Gunn, NY Transit Authority melantik William Bratton menjadi komandan polisi kereta api baru. Seperti David Gunn, gebrakan yang dilakukan Bratton sama “aneh”nya.

Bratton juga memilih untuk fokus luar biasa pada penumpang-penumpang nakal yang naik kereta tanpa karcis. Kala itu, saking ‘rusaknya’ penegakan hukum di New York, naik kereta tanpa karcis itu sudah menjadi hal yang lumrah. Ada yang meloncati pagar pembatas dan lari masuk ke kereta. Ada yang mendobrakk pintu dan merusak mesin pembayar tiket. Orang ya mana peduli. Jangankan enggak punya karcis, bunuh-bunuhan di kereta aja juga saat itu terlihat lumrah, kok.

Bratton menganalisa dan berhari-hari bekerja penuh hampir 24 jam untuk memilih stasiun mana yang akan dipilihnya untuk proses pertama. Akhirnya dipilih stasiun dengan pelanggaran terbanyak.

Penjaga ditambah dan diperketat di setiap palang pintu pembelian karcis. Yang tidak punya karcis langsung disergap dan dikumpulkan. Proses administrasi yang biasanya memakan waktu seharian karena harus dibawa ke kantor polisi, isi berkas bla bla dipangkas oleh Bratton.

Bratton menyulap sebuah bus khusus menjadi sebuah kantor polisi yang dinamis, lengkap dengan mesin faks, telepon, ruang tahanan dan fasilitas sidik jari. Urusan penanganan seronga tangkapan berubah menjadi beberapa jam saja.

NYC Subway 1991 gambar : centennial.journalism.columbia.edu

NYC Subway 1991 gambar : centennial.journalism.columbia.edu

Semua yang tertangkap diperiksa dengan teliti. Banyak kalangan kepolisian yang mencemooh kerjaan Bratton. Diantara sekian banyak kejahatan berat, kok ya mau-maunya ngurusin yang remeh-remeh begitu?

Ternyata … ditemukan banyak fakta-fakta mengejutkan. Dari penggeledahan terhadap para pelanggar yang naik kereta tanpa karcis, ada saja yang kedapatan membawa senjata tajam tanpa izin, pisau, uang palsu dan bahkan harta hasil rampokan yang tak bisa mereka pertanggungjawabkan.

Voila! Tiba-tiba bagi kepolisian, penangkapan ini seperti tambang emas. Banyak kriminal-kriminal yang sedang diburu yang tidak sengaja terjaring melalui penyergapan yang dilakukan oleh Bratton tadi.

Bratton juga menerapkan dengan ketat aturan pengusiran orang mabuk dari stasiun bawah tanah. Perilaku yang mengganggu orang lain yang sifatnya remeh-remeh macam kedapatan membuang sampah sembarangan di areal stasiun juga ditindak secara masif, terstruktur dan sistematis :p.

Setelah Rudolph Giuliani terpilih sebagai wallikota New York 1994, Bratton diangkat menjadi Kepala Kepolisian New York City dan mulailah ia menerapkan hal yang sama di jajaran kepolisian kota.

Caranya ya gitu. Menindak dengan tegas kejahatan-kejahatan kecil seperti membuang sampah sembarangan (kali ini di seantero kota dihukum), buang air kecil sembarangan, melempar botol, mabuk di tempat umum (catat ya, di negara maju yang lo bilang sekuler itu, orang kagak boleh mabuk sembarangan cuy :p), dsb.

William Bratton di sampul Majalah Time ^_^

William Bratton di sampul Majalah Time ^_^

Nah, kita balik lagi ke kalimat pertama, ya. Siapa George Kelling tadi?

Again and again. Ini adalah sedikit ringkasan dari Buku Tipping Point hihihi. Duh, ni buku kagak habis-habis dibahas euy. Habisnya memang isinya menggemparkan .

George Kelling adalah salah satu penganut teori “Broken Windows”. Beliau adalah seorang kriminolog yang mengemukakan bahwa kriminalitas adalah akibat tak terelakkan dari ketidakteraturan. Jika jendela sebuah rumah pecah namun dibiarkan saja, siapa pun yang lewat dan melihatnya cenderung akan berpikir pastilah di situ tidak ada yang peduli atau rumahnya tak berpenghuni.

Dalam waktu singkat, akan makin banyak jendela rumah yang pecah dan terus berkembang menjadi kejahatan lebih serius karena .. ketidakpedulian.

Awal yang remeh seperti corat coret dan naik kereta tanpa karcis, jika tidak ditindak tegas, hanya akan menjadi semacam ajakan bagi orang banyak untuk melakukan kejahatan yang lebih serius.

Inilah jawaban dari MISTERIUSnya kasus kejahatan di New York yang mencapai Tipping Point di tahun 1995. Secara mencengangkan, angka kejahatan dari tahun 70 an yang terus menukik naik, tiba-tiba menurun tajam. Dalam tempo 5 tahun saja, kasus pembunuhan berkurang sebanyak lebih dari 60%. Dan kejahatan-kejahatan serius lainnya terpangkas sampai kurang dari setengahnya. Fantastis!

Penerapan Teori “Broken Windows” ini yang akhirnya diakui sebagai pemicu utama “keajaiban” yang terjadi di kota New York yang menjelma menjadi kota ciamik setelah puluhan tahun bergulat dalam kemerosotan moral di seantero wilayahnya.

Gambar : newluxuryfeed.com

Gambar : newluxuryfeed.com

Saya kembali membaca lembar-lembar yang menceritakan tentang hal ini karena saya ingin membagikan harapan baru kepada teman-teman semua. Bahwa New York City yang keren itu dulunya tak lebih daripada sebuah kampung besar para penjahat dari segala kalangan.

Siapa tahu, ya siapa tahu… Jakarta bisa menjadi New York City hihihi. Dan lebih optimis lagi, Indonesia bisa berada di jalur yang sama ^_^.

Pemerintahan baru telah resmi dimulai. Kabinet sudah terbentuk. Diantara banyak pro dan kontra, mari terus kita awasi :).

Satu hal kecil telah membuat harapan tadi mulai bersemi dalam hati. Hati saya sih, ya, maksudnya .

Saat melihat sebuah foto di mana ada puluhan orang berkumpul dalam ruangan dalam istana. Orang-orang ini membelakangi kamera. Tapi semuanya seragam dengan memakai baju putih dan celana hitam. Saya sempat ngikik dalam hati, “Ya ampun, Jokowi sudah mulai kloningan neh!” Hahhahahaha.

Ternyata benar! Orang-orang yang berpakaian (cuma) sehelai kemeja putih dan celana hitam tadi adalah anggota-anggota kabinet yang akan segera diumumkan.

Kabinet Kerja 2014 - 2019 (gambar : beritasatu.com)

Kabinet Kerja 2014 – 2019 (gambar : beritasatu.com)

Jas-jas dan penampilan khas pejabat yang menurut saya kurang membumi itu ternyata sudah memperlihatkan sedikit cahaya perubahan. Kecil sih memang kalau dilihat dari banyaknya permasalahan. Teramat kecil dan mungkin dianggap tidak penting.

Btw, menurut saya beberapa tahun terakhir KPK sudah mulai menerapkan “Broken Windows” ini. Walau banyak suara-suara miring, “Dasar pengecut! Beraninya sama ikan teri! Tangkap kakapnya!”

Buktinya, dari penangkapan Nazaruddin tempo hari, sebuah persekongkolan besar di Hambalang ikut terbongkar . Mari kita semangati KPK untuk terus istiqamah dan mendapat dukungan penuh dari pemerintahan baru beserta seluruh jajaran kejaksaan-pengadilan dan kepolisian.

Muluk-muluk banget ih, hihihi. Tapi konon, harapan adalah satu-satunya hal yang membuat hidup terasa hidup .

“Never deprive someone of hope; it might be all they have.” H. Jackson Brown, Jr.

Let’s not kill THIS HOPE.

Setidaknya, sahih ya kalau saya bilang, “Sebuah perubahan telah terjadi.”

Walau di daratan Eropa musim gugur lagi ngamuk-ngamuk-nya, semoga perubahan kecil tadi adalah awal dari dimulainya “musim semi” di kawasan tanah air kita tercinta .

Selamat bekerja, Kabinet Kerja 2014 – 2019 . Doa terbaik kami (eh, minimal saya deh hehehehe) insya Allah akan terus mengiringi. For every little things that count .

Semoga suatu hari kita bisa kembali khusyuk menyanyikan bait-bait lagu ini,

“Indonesia sejak dulu kala, selalu dipuja-puja bangsa” 🙂.

Stand still, Pakde. Stand still.

cropped-tagline1.jpg

***

8 thoughts on “Little Things That Count

  1. Untuk saya yang paling kelihatan adalah ‘pembersihan’ di sekitar 42nd street. Dulunya kawasan yang ngak bagus. Sekarang malah jadi mesin pencari uang. Mayor Giuliani memang dianggap berjasah besar dalam segala macam pembersihan NYC tapi jangan lupa berapa budget yang dipakai untuk ini. Sepertinya, if money is no object, anything can happen.

    • Money is everything? Gak jugalah. Tengok saja negara-negara Timur Tengah yang tajir-tajir itu :p. Especially Arab Saudi yang cadangannya minyaknya paling besar :D.

  2. Bener mba harus dibenahi dari individu masing-masing dan dari hal kecil. Jika perkara buang sampah pada tempatnya dan tertib antri aja jadi sikap yang sulit dijalanin, gimana mau memberantas korupsi yang triliyunan.

    Mari saling meningatkan 🙂

    • Harusnya belum pernah karena ini baru ditulis ^_^. Mungkin karena Tipping Pointnya. Cerita NYC itu diringkas dari Buku Tipping Point dimana buku Tipping Point itu best seller internasional. Harusnya pembacanya buanyaaaakkkk banget ;).

  3. dah lama gak main ke blog mbak poni, tampilan blognya baru nih. 🙂 selalu suka dengan gaya menulis mbak satu ini. Tidak selalu sepakat dengan pandangan mbak, tapi sangat menghargai gaya tulisannya, yang mencerminkan kecerdasan berpikir orangnya. Dan..terutama suka dengan tulisannya yang kerap mengingatkan orang lain untuk tidak berpandangan sempit dan asal tuding.
    maaf nih, oot dari tulisan di atas 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *