C’est La Vie

Seringkali teman-teman di Grup Hits 80/90 an membanggakan masa kecil kami dahulu dan mengatakan bahwa zaman kami kecil itu layak disebut “Golden Age”. Tak sedikit yang mengejek kehadiran internet dan menjadikannya penyebab rusuhnya kehidupan di era terkini.

Padahal saya selalu merasa internet adalah keajaiban abad ini! Tak jarang saya senyum-senyum dan berharap, andai dulu sudah ada internet di masa saya kecil hehehe.

Gambar : hongkiat.com

Gambar : hongkiat.com

Pernah bincang-bincang iseng dengan suami soal buku 100 orang paling berpengaruh di dunia. Suami saya bilang, harusnya buku ini disusun ulang dan orang-orang kayak Bill Gates dan penemu internet harusnya masuk dalam daftar. Di 10 besar kalau bisa. Saya jawab, “Tunggulah beberapa ratus tahun lagi.” HIhihihi.

Tapi saya setuju, jika internet memang nyatanya sudah sangat berhasil mengubah wajah dunia. Tak sedikit yang mengutuk, tapi saya pribadi, adalah pengagum kecanggihan teknologi satu ini :D.

Waktu kecil, karena tak ada dukungan dari sekitar, setengah mati saya berusaha mengirimkan cerita ke media cetak. Saya tidak mengerti. Harus bertanya ke siapa dan harus bagaimana. Ya saya ikuti saja cara-cara standar. Lari ke kantor pos dan menunggu jawaban hihihi. Asal tahu, kumpulan puisi-cerpen-novel waktu kecil dulu ada banyak, lho :p.

Mau rutin membeli majalahnya, duit dari mana ya, Ceu? Beli majalah ya sebulan sekali itu sudah istimewa.

Saya mengerti kalau ibu saya sepertinya kurang mendukung karena ya di masa-masa itu, dunia menulis bisa menjanjikan apa, sih? Mana ada yang namanya email? PC pun hanya dimiliki oleh kalangan ‘atas’. Mana ada lomba blog? Mana ada lomba-lomba ini itu via online? :D.

Melihat prestasi akademis saya, ya wajar kalau ibu lebih mendorong saya untuk meraih masa depan di bidang formal yang sudah pakem macam jadi insyinyur kek atau jadi dokter yang sangat dicita-citakannya.

Gak apa-apa juga, sih :D. Saya tidak menyesal mengikuti saran itu.

Impian lainnya saat sudah lulus kuliah adalah…sekolah ke luar negeri! Hehehe. Saya tunggu-tunggu saat tepat itu datang. Waktu itu juga enggak tahu harus cari informasi ke mana. Malu juga kalau koar-koar ke mana-mana. Banyakan gengsinya sih. Hihihi.

Tapi saya memang orangnya susah fokus, sih, ya. Mau sekolah di luar negerilah, mau kawin lah, mau anu lah, hahahahaha. Prinsip saya, apa yang ada di sekarang, jalani secara optimal.

Karena rezekinya jadi perempuan kantoran, saya selalu berusaha keras mengejar karier dan pindah-pindah perusahaan sampai dapat yang cocok :D. Ya sambil cari suami juga pastinya, ya, Kakaaaaa *maeninBuluMata*.

Kalau dulu saya ditanya, “Tidak menikah sama sekali atau menikah dengan orang yang salah?”

Jawaban saya pasti, “Menikah dengan orang yang salah!”

Hahahahaha. And indeed, jadi jomblo sekarang bebannya lebih berat sepertinya ketimbang jadi janda/duda :v :v :v.

Dulu, saya perkirakan, kalau adik saya lulus kuliah, “kewajiban” saya bisa terlepas, barulah saya akan mencoba peruntungan melanjutkan sekolah ke luar negeri. Ealah, malah diajak ke pelaminan sama yayang. Enggak mikir 2x, ya mending menikah sih ya hihihihi *ngikikCentil*. Sama sekali tidak punya jiwa Cosmo-Girl-Single ‘n Fabolous ini Mbak-nya :v :v :v.

Gambar : jaksflowergirldresses.com

Gambar : jaksflowergirldresses.com

Iya sih, waktu menjelang kelulusan, sahabat-sahabat saya asyik memikirkan karier dan macam-macam, saya malah merusak angan-angan mereka dengan tahu-tahu melontarkan kalimat, “Terus kawinnya kapan?” Hahahhahahha.

Sejak bekerja, sudah ada rencana cadangan. Bermimpi-mimpi biar bisa mendapat pekerjaan yang membuat saya harus traveling ke luar negeri. Enggak pernah kejadian. Enggak pernah hoki. Bahkan di tempat kerja terakhir saat ada proyek yang melibatkan 90% personel divisi dan ada training bolak balik ke beberapa tempat di luar negeri, takdir memilih saya menjadi yang 10% nya *nangisDiPojokan*.

Anak pertama lahir, ya sudah. Pikiran sudah terbagi. Saya memutuskan resign. Lupakan cita-cita tinggal di luar negeri (niatnya memang tidak untuk sekadar jalan-jalan).

Kalau jalan-jalan fokusnya ya pasti beda dan yang kita tangkap juga pasti terbatas karena minimnya waktu. Kecuali jalan-jalannya benar-benar diniatin dan direncanakan dan dijalani dalam waktu yang tidak sebentar. Misalnya 3 bulan keliling Eropa bla bla bla. Pasti seru juga tuh ^_^. Tapi paling enak memang beasiswa sekolah, deh. Dibayarin soalnya hahahaha :p.

Tapi untuk adik-adikku yang lain, yang mungkin kini baru lulus kuliah dan baru mulai kerja, cicipilah kesempatan untuk tinggal di luar negeri :). Bukan untuk adu keren-keren-an. Untuk menimba pengalaman dan memperluas wawasan. Soal kualitas pendidikan, saya sih tidak terlalu menyembah-nyembah kurikulum negara lain.

Tapi…pengalaman hidupnya itu, lho. There are things that money can’t buy.

Sekarang … sudah ada internet ^_^.

Tanpa perlu berkoar-koar pun, dengan mudah kita memperoleh info berbagai macam beasiswa via internet. Kan ada juga yang seperti saya, maluuuu kalau mau tanya-tanya. Sudah tanya-tanya entar enggak dapat, ribet (atau tengsin) pula nerangin sana sini hihihihi.

Beasiswa terbaru yang lagi hits adalah LPDP. Beasiswanya juga agak istimewa dibanding yang lain karena kesempatannya dibuka 4 x dalam setahun. SEmentara umumnya beasiswa yang lain hanya 1 x dalam setahun. Daya jangkau dan daya tampungnya juga banyak, lho ^_^. Ceki-ceki ya di http://www.beasiswalpdp.org

LPDP

Thanks to internet (again), kehadiran blogger dari berbagai kalangan juga memudahkan kita untuk mempelajari pengalaman dan cara/tips/trik orang lain untuk mendapatkan beasiswa. Semudah memainkan jemari tangan di atas papan ketik. Mainkan google-nya, Kakaaaaa ^_^.

Tapi untuk yang sudah lulus dan bekerja dan ternyata gajinya tidak hanya untuk membeli bedak untuk diri sendiri (hihihihi) tapi juga harus memegang peranan sebagai tulang punggung keluarga–> pilihan untuk sekolah ke luar negeri tentu bukan pilihan yang bijak, santai saja ….

“Bila kau tidak mendapatkan apa yang kau inginkan, mungkin saja itu keberuntunganmu” ^_^.

Seperti saya yang sudah memasrahkan mimpi tinggal di luar negeri. Tuhan menjawab doa-doa di masa lampau itu melalui orang lain. Rezekinya justru datang via suami hehehe. Dua minggu setelah saya menyerahkan surat pengunduran diri di kantor, suami mendapat kabar gembira pertama kalinya dari luar negeri.

When it’s time, it’s time ;).

Namun, kalian yang masih muda dan segar, yang pilihannya masih terbentang luas di hadapan … kejarlah selagi ada kesempatan ;). Itulah sebagian fungsi positif internet dan media sosial :).

Saat kita berpikir kenapa ya akhir-akhir ini kok banyak berita kejahatan, apa berarti dulu enggak ada? Belum cencuuuuu. Dulu ada bahkan mungkin sama banyaknya, tapi dulu enggak ada internet yang bisa dengan cepat menyebarkannya hahahaha.

Macam dulu ibu saya selalu bernostalgia dengan foto-fotonya di tahun 70an dan selalu berkata fashion di tahun 70 an jauh lebih baik daripada fashion tahun 80 dan 90 an.

Sebagian kita, generasi 80/90 an kini merasa tahun kita jauh lebih keren daripada generasi milenium. Sejarah berulang :p.

Dulu pun ibu saya bilang enak juga ya jadi saya. Banyak pilihan sekolah. Untuk sekolah lintas pulau, dari Sulawesi ke Jawa pun, tidak se’sangar’ zaman dulu. Dunia pendidikan terus berkembang.

Termasuk saya juga yang kini berpendapat, “Enaknyaaaa generasi muda yang hidup di masa-masa jayanya internet.”

Siapa bilang, generasi sekarang tidak seberuntung kita dulu. Tiap zaman punya pertaruhannya masing-masing lah :). Semua kemudahan yang datang tinggal difokuskan pada manfaat positifnya saja.

Untuk ibu-ibu rumahan seperti saya, kehadiran internet malah terasa lebih banyak positifnya :D. Pendapat pribadi, ya ;).

Gambar : va-mom.com

Gambar : va-mom.com

Dunia terus berputar dan berubah. Ada harapan yang tercapai, ada yang memudar, ada yang datang belakangan, ada yang mungkin masih terus dikejar. Termasuk jika sudah berstatus ibu-ibu dan sudah punya anak, masih boleh kok untuk terus menerbitkan harapan-harapan dan keinginan untuk diri sendiri. Asalkan tahu prioritasnya saja ;).

“There is no real ending. It’s just the place where you stop the story.”
― Frank Herbert

Whether you really think about this or not … C’est la vie :).

Gambar : etsy.com

Gambar : etsy.com

4 thoughts on “C’est La Vie

  1. kok kayaknya pikiran kita sama yah mbak jihan
    maunya ini itu, banyak yang dimau tapi jalanin aja yang ada sekarang
    kalau kata bahasa jawa mah gak ngoyo
    apalagi udah ada anak..segala cita-cita terpikirkan kayaknya emaknya ga bisa jauh2 dari anaknya (kalau anaknya mah bisa kali…heheheh)

  2. Ih, mak jihan ini made my day deh…
    kata-kata yang dipilih bisa bikin ngakak dan senyum senyum centil. Xixi
    Anyway, inet memang seperti mata pisau mak. Terutama buat anak-anak. Ya, beberapa kali mendengar & mengalami kejadian sendiri anak-anak akses situs yang ga2 dari tab-nya.
    Tapi, dari inet juga pengetahuan mereka berkembang pesat di banding saat saya seusia mereka di tempo dulu =))

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *