Have We Seen Our Childhood?

Hari minggu, siang bolong. Matahari lagi terik-teriknya. Saya dan sekumpulan besar teman-teman malah dipanggang di bawah sinar matahari Karebosi. Setelah selesai mempelajari not-not lagu, bermain di kelompok sendiri, lalu berkolaborasi dengan pemegang alat tiup lain. Lalu, alat tiup dan kelompok perkusi/percussion digabung.

Kalau kakak-kakak pelatih sudah enggak manyun lagi, berarti sudah lumayan oke, hahahaha. Barulah tim ColourGuard/penari akan ikut serta dalam alunan lagu.

Selesai? Beluuuuummmm :D.

Puncaknya digiring ke lapangan dan berlatih konfigurasi. Jadi, sebagai pemain marching band, skill-nya tidak hanya berhenti di kemampuan bermain alat musik atau menari bagi para ColourGuard. Tapi harus menghafalkan konfigurasi juga. Harus jalan ke mana berapa langkah di not yang mana. Pening? Jangan. Because for sure, it’s super fun! ^_^.

Contoh konfigurasi (gambar : huffingtonpost.com)

Contoh konfigurasi (gambar : huffingtonpost.com)

Mungkin salah satu tanda-tanda lemahnya kecerdasan natural saya (diantara 8 jenis kecerdasan, saya keok di 3 jenis : kinestetik-visual-natural hihihihi), waktu kecil paling ogah disuruh ikut pramuka. Seru katanya. Belajar mengenal alam. Aish, saya malas euy kalau disuruh berkemah segala macam hehehe. Enggak ada nikmat-nikmatnya kalau untuk saya.

Aslinya saya bukan traveler kok :p.

Saya traveling karena saya suka menulis. Sementara mungkin, banyaknya itu orang menulis karena suka traveling hihihihi.

Tapi waktu SD< saya ingiiiiiiin sekali ikut ekstrakurikuler. Karate ya sudahlah ya, udah takut duluan denger orang teriak-teriak, “Ciyaat, ciyaaat, ciyaaat”. Padahal ngefans sama film-film silat Cina yang pernah melegenda di tahun 80-an :D. Nonton mah doyan, kalau disuruh ciyat-ciyat sendiri, entar duluuuuuu :v :v :v.

Gambar : dreamstime.com

Gambar : dreamstime.com

Begitu ada pengumuman di sekolah bahwa SD saya akan membuka ekstrakurikuler drum band, langsung semangat mendaftar. Cheerleader saya nomor satu adalah … ibu saya! Ah, senangnya ^_^.

Ibu orangnya memang agak-agak anti mainstream :D. Waktu lagi aktif-aktifnya drum band, banyak teman bersitegang dengan orang tua karena kegiatan ini dianggap mengganggu aktifitas belajar, saya tetap mendapat dukungan penuh dari ibu ;).

Tahu kata ibu saya? “Biarinlah, nilai sekolah terganggu dikit paling. Main drum band itu kan juga belajar.” My mom rocks!! :v :v.

Umur 10 tahun, kelas 5 SD, resmi menjadi anggota tim inti Drum Band cilik pertama di sekolahan saya, Drum Band Athirah ^_^. Gratis lho. Gak pakai bayar-bayaran hihihi. Ini juga kali yang bikin emak eike semangat! Hahahaha.

Saya masuk tim alat tiup. Nama alat yang saya mainkan, flugelhorn. Sialnya, menjelang penampilan perdana kami, sang drum band cilik legendaris di Kota Daeng? lebay! (hahahahahaha), saya kena cacar air! Huhuhu.

Flugelhorn

Flugelhorn

Sudah pasrah, enggak boleh ikut main. Ternyata, 2 hari sebelum manggung, saya sembuh. Karena saya sudah menguasai semua lagu, pas konfigurasi tinggal dibantu oleh 2 teman sesama peniup flugelhorn yang lain.

Lagu-lagu yang kami mainkan di penampilan perdana itu kalau gak salah, “Semut-semut Kecil”, “Abang Tukang Bakso” dan “Oleh-oleh Bandung” hihihihi. Duh, sepertinya ada 4, deh. Lupa satunya. Diary SD gak kebawa ke sini, jadi gak ada contekan :p.

Namanya anggota drum band, harus belajar lagu-lagu mars. Mars PDBI itu yang paling wajib. Disusul Mars Gagah Perwira, Mars Harapan Bangsa dan favorit saya… Mars Colonel Bogey! ^_^. Banyak sih lagu Mars yang lain, cuma enggak ingat semuanya.

Umumnya, melodi lagu/suara 1 dimainkan oleh terompet/trumpet. Barisan alat tiup memang didominasi oleh pemain terompet. Suara 2 biasanya oleh tim flugelhorn, suara 3 oleh cornet horn, dan suara 4 oleh tim albert. Hihihihi. Albert adalah istilah khusus untuk alat-alat tiup berat (albert = alat berat :p) seperti : baritone horn, trombone horn, tuba horn yang segede gaban :D.

Jangan salah, makin gede ukurannya, justru makin gampang lho meniupnya. Terompet kelihatan langsing, tapi meniupnya paling susah ;). Baritone horn, sekali coba, biasanya langsung pada bisa, padahal gede lho.

Berat alat juga tidak tergantung volumenya. Terompet itu lumayan berat juga Kakaaaaa :D.

Jadi, pas lagu dimainkan, nanti suaranya sahut-sahutan. Itu yang bikin seru ^_^. Saat chorus/reffrain lagu, tidak selalu terompet yang memegang melodi utama. Tim fluegelhorn juga sering banget kebagian memainkan suara 1 di banyak lagu ;). Kalau tidak salah di lagu Mars PDBI, reffrain-nya adalah jatah pasukan Albert :D.

Proses latihan menghafal lagu, dipecah menjadi kelompok-kelompok kecil sesuai alat yang dimainkan. Nanti pelatihnya satu-satu. Setelah itu alat tiup digabung sama-sama untuk harmonisasi. Tiap pemain pastinya wajib memiliki partitur yang berisi not-not lagu yang harus kami mainkan. Satu partitur sudah komplit isinya dari suara 1 sampai suara 3 atau lebih :D.

Tim Perkusi/alat pukul gabungnya belakangan. Mereka latihan sendiri juga terlebih dahulu. Perkusi terdiri dari snare drum, trio drum solo, quarto drum solo, bass drum, cymbal dan apalagi, ya. Oiya ada juga tim belira, xylophone dll. Belira ini juga macam-macam. Ada yang dipegang di tangan, ada yang dicantolin di bahu. Kalau xylophone berdiri sendiri. Pemainnya tinggal berdiri dan memainkan sticknya di atas xylophone.

trio drum solo

Pemain xylophone ya pastinya enggak ikut konfigurasi, cuma berdiri paling depan. Gak mungkin lah mau geret-geret alat seberat itu hihihi. Tapi berat lho sebenarnya memainkan xylophone ini. Duh, kedua tangan harus super lincah.

Dari kegiatan drum band, saya pernah traveling sampai ke luar kota. Pertama, saat ikut lomba DB sekolah dasar di Jakarta tahun 1991. Pas liburan kenaikan sekolah. Beramai-ramai dengan teman-teman, naik kapal laut dari pelaburan Makassar :D.

Usai lomba, pulangnya kami tur keliling Jawa pakai bis. Mampir di Tangkuban Perahu, menginap di Malioboro Yogyakarta, jalan-jalan ke Candi Borobobudur hingga akhirnya transit di Surabaya menunggu kapal yang akan membawa kami pulang ke Kota Makassar :).

Bayangkan rempongnya kakak-kakak pelatih mengurus anak-anak SD yang jumlahnya sekitar 80 an orang itu hahahahaha. Belum dramanya, belum baku bombe’-bombe’nya, belum gosip-gosipnya hahahahaha. Tim pagosip mana tim pagosip? :p

Sebelum ke Jakarta, kami sudah terlebih dahulu mengikuti Training Center di wilayah Malino. Malino ini sudah masuk wilayah kabupaten Goa. Cukup jauh dari Makassar.

Kami menginap di suatu rumah yang cukup besar dan latihan intensif selama 10 hari di sana. Tanpa orang tua sama sekali. Orang dewasanya hanya ada kakak pelatih, tim konsumsi dan tim kesehatan saja.

Ruwetnya kalau diingat-ingat lagi hihihi. Gimana biar bisa bangun subuh-subuh, latihan sampai malam sambil ngantuk-ngantuk menahan dingin. Malino ini terkenal bersuhu sejuk cenderung dingin.

Timnya terdiri dari anak-anak kelas 3 sampai kelas 5 SD. Bayangkan ribetnya kalau malam-malam ada adik-adik kelas 3 yang mau pipis tapi takut hahahahahaha. Heboooohhhh. 10 hari yang tak terlupakan :).

Lulus SD, saya masuk sekolah negeri. Kelas 2 SMP, grup kakak pelatih pindah ke Pertamina. Sebagian kami diajak masuk tim sana. Saya ikut pastinya hihihihi. Banci drum band emang! :v :v.

Di Pertamina, nama timnya, Gema Patra Makassar Marching Band/ GPM. Pelatih lama tapi teman-temannya banyak yang baru.

Di Pertamina, kakak saya yang ke-4 juga ikut. Awalnya menjadi pemain baritone horn, lama-lama dia malah nyasar jadi pelatih ColourGuard. Selain tertarik pada dunia fashion, dari kecil, kakak yang ini juga suka menari :).

The Colour Guards :) (gambar : athletesarewarriors.com)

The Colour Guards 🙂 (gambar : athletesarewarriors.com)

Saya sih sampai pensiun dari dunia marching band, tetap setia pada flugelhorn :D.

Via GPM, sempat 2 x ikut ke luar kota. Ke Surabaya tahun 1993 dan manggung di Istana Negara Jakarta, Parade Senja Februari 1994.

Pertamina sih enaaaakk, duitnya kenceng. Uang saku terbilang lumayan waktu itu. Semua biaya akomodasi pastinya ditanggung 100%. Tinggal bawa badan sajah ;).

Di Surabaya, kami menginap di asrama haji. Di Jakarta menginap di Cibubur. Duh, macam-macam deh kejadian serunya. Sampai ada yang kemasukan segala. Hiiiiyyyy… *merinding*.

Tampil-tampil di acara lokal juga sering. Beberapa kali izin dari sekolah demi manggung bersama tim Marching Band hehehe.

Akhir-akhir ini ada tuduhan bahwa orang tua sering mengeksploitasi anak untuk aktif ini itu. Katanya, zaman dulu enggak gitu.

Ah, kata siapa? ;).

Saat menghadapi pertandingan, kami digojlok latihan tiap hari. Pulang sekolah kadang hanya sempat makan, kerjain peer, langsung cabut lagi ke tempat latihan. Sabtu-minggu ya itu tadi, dipanggang di bawah sinar matahari Lapangan Karebosi.

Stres? Enggaklah. Soalnya kan enjoy. Memang keinginan saya pribadi untuk aktif di Marching Band. Kegiatan ini juga memacu untuk tetap memperoleh nilai bagus di sekolah. Absen 2 minggu ke Surabaya di semester 3 pas SMP tidak membuat nilai saya mendadak anjlok di sekolah ;).

Alasan nilai saya menurun di semester 4 dan harus puas jadi rengking 2 dan merelakan gelar juara kelas kayaknya bukan semata-mata karena marching band aja, deh. Buktinya dari SD lancar-lancar saja :D. Ada faktor lain.

Via kegiatan drum band/marching band, tidak hanya sekadar belajar musik. Pergaulan juga diasah. Menghadapi banyak teman, banyak sifat. Karena interaksi tidak hanya di tempat latihan. Kalau lagi training center, harus umpel-umpelan dalam kamar selama berhari-hari tanpa kehadiran orang tua.

Apalagi kami beberapa kali harus ke luar kota. Lebih seru lagi, tuh hihihi. Belajar mandiri pastinya ^_^. Belajar mengelola emosi saat konflik. Karena namanya banyak manusia, pasti adaaaaa aja dramanya :p.

Sedari kecil, belajar hidup kan memang tidak hanya di rumah dan di sekolah saja. Saya rasa yang dulu aktif di Pramuka juga banyak kesan-kesannya, ya. Aktif di OSIS atau di kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler di sekolah dari SD sampai SMA, sedikit banyak memberi sumbangsih yang tidak sedikit :).’

Dari kecil memang sebaiknya sudah diajari disiplin. Saya sendiri kurang sepaham dengan metode pendidikan yang terlalu ‘santai’ hehehehe. Sesiap-nya anak, kalau gak salah, apa ya. Duh, anak kecil ya tahunya memang senang-senang hihihi. Justru karena itu mereka butuh pengarahan hehehe. Butuh kegiatan, butuh diayomi, butuh diajari, butuh ditunjukkan. Yang penting…jangan dipaksa! ^_^.

Gambar : www.os-trnsko-zg.skole.hr

Gambar : www.os-trnsko-zg.skole.hr

Teman saya cerita takut mengajari anaknya membaca dan menulis sebelum umur 5 tahun karena katanya anak bisa gila! Hahahhaahha. Ya kalau anaknya senang, anaknya tertarik, why not? Perkenalkan saja dulu ;). Respons selanjutnya ya terserah anaknya saja.

Ada yang mungkin lebih menikmati kesendirian dan terlihat enggak gaul ;). Tak berarti dia minder dan bodoh. Ada yang memang dari kecil gatal mau ini itu, hahahahaha. Memang enjoy tanpa perlu dipaksa-paksa. Tak berarti dia hiperaktif dan pasti hebat. Belum cencuuuuuu :p.

Ingat, kita tidak dilahirkan seragam ^_^. Jadi, mungkin memang ada yang demen kalau dimasukkan ke sekolah alam. Tapi yang tipe anak seperti saya ada juga stres kali tuh hahahaha.

Homeschooling is a good thing. Tapi pertimbangkan juga kalau anak-anaknya ternyata tipe yang memiliki kecerdasan interpersonal yang menonjol. Senang bergaul dan menikmati keberadaannya diantara banyak orang.

I believe the children are our future
Teach them well and let them lead the way
Show them all the beauty they posses inside
(The Greatest Love of All, Whitney Houston)

Provide the options, optimize our support, but always … let them choose ^_^.

Ish, dah macam ortu yang paling keren aja kauuuuu? Hehehehe. Sharing pengalaman aja sih, ya. Untuk info penyeimbang :p.

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *