Seribu Wajah Presiden Indonesia

Akhir-akhir ini, entah hanya untuk sekadar mengolok-olok kepemimpinan Jokowi yang dianggap hanya sekadar boneka dan ‘lemah’ … atau memang mendadak pada ngefans sama Bung Karno –> banyak beredar tulisan-tulisan atau video-video yang menggambarkan sepak terjang presiden pertama Indonesia yang memang bikin semangat selalu sontak membuncah-buncah itu ^_^.

Lucu juga, sih, orang-orang yang dulu menyerang Bung Karno yang ‘tidak islami’, istrinya banyak bla bla bla, sekarang juga ikut-ikutan memuja hihihi. Apa pun demi menjatuhkan Jokowi la yawww :v :v :v. Kalau dulu menyerang dari sisi ‘keislaman’ sekarang ganti konsep lagi ni yeeee :p.

jokowi seribu pemimpin

For sure, i’m one of Bung Karno’s biggest fans. Ngefans sama Bung Karno, terpesona sama Pakde Jokowi dan tentu saja … Fendy Pradana adalah aktor idolaku sepanjang masa #eh hahahahhahahahaha :v :v :v. Inget Nyai Kembang nih gara-gara Mak Fardelyn posting-posting soal Sembara hihihihi :p.

Bung Karno memang bukan orang biasa. Entah sudah berapa buku biografinya yang pernah saya baca. Tapi makin dibaca kita jadi makin sadar, segitu besar keistimewaan beliau, toh Bung Karno itu juga manusia biasa ;).

Cara yang cukup tepat (menurut saya) untuk menunjukkan ‘kelemahan’ Bung Karno adalah dengan membaca lebih banyak soal Bung Hatta :). Mungkin terpikir dengan ‘mundur’nya Bung Hatta dari tampuk kekuasaan duet maut tokoh proklamator ini, otomatis menunjukkan Bung Karno lebih jawara daripada beliau :).

Untuk saya, lebih cocok jika dibilang … tiada satu yang melampaui yang lain. Bukan masalah siapa yang lebih keren siapa yang lebih bersifat ‘pemimpin’. Karena keduanya … BEDA! :). Baik Bung Karno dan Bung Hatta, sama-sama mencita-citakan kesejahteraan dan kemakmuran bagi bangsa yang mereka kawal sejak remaja, tampil berdua di podium di 17 Agustus 1945 hingga akhirnya terus memimpin bersama sampai akhir 50 an. Sebelum pecah kongsi hehehe :p.

bung karno pidato

Justru kalau saya bilang, dengan tidak mengurangi kekaguman kepada Bung Karno, Bung Hatta juga mengajarkan hal yang tidak kalah pentingnya. Mengalah untuk kedamaian. Bung Hatta, yang belakangan sudah tidak merasa cocok dengan Bung Karno yang dari dulu memang rada-rada ‘narsis’ (perhatikan ada tanda kutipnya ya Kakaaaa :p), memilih untuk mundur dan berlalu begitu saja. Tidak berusaha menggalang kekuatan untuk melawan.

Di masa-masa pra kemerdekaan dan pergerakan era sebelum 1945, Bung Hatta tak pernah berusaha merecoki sepak terjang Bung Karno yang memang lebih suka “tampil sendiri”. Gaya orasinya yang bak singa mengaum di atas podium memang dirasa cocok untuk membakar semangat perjuangan kaum muda yang butuh disatukan untuk melawan penjajah.

Tapi apa yang terjadi setelah kemerdekaan sudah direbut? Bung Karno tidak berubah. Sementara Bung Hatta sudah mulai melihat ‘something was wrong’.

Bung Hatta lebih menginginkan agar kepemimpinan yang dibina bisa menularkan semangat yang sama hebatnya. Bisa menciptakan”Soekarno-soekarno” baru dan tidak terfokus pada satu orang. But again… Bung Karno tidak berubah :).

Melihat Bung Karno vs Bung Hatta seperti melihat dua sosok sanguinis-koleris vs melankolis-phlegmatis, gak, sih? Hehehe. Dimana secara psikologis, konon dunia tak akan mungkin berputar dengan sempurna tanpa kehadiran keempat tipe ini ;).

Pasca beberapa lama setelah merdeka, Bung Hatta sudah merasa ini saatnya mereka berpikir “Ayo kita lakukan ini bersama-sama” dan mengajak rakyat sebagai ‘rekan’. Kita, kita, kita. Bukan lagi mencocok hidung mereka dengan berdiri sendirian di garis terdepan. Sementara sepetinya Bung Karno tetap berpikir, “Saya sanggup melindungi kalian. Kalian aman bersama saya. Sayalah penyelamat kalian. Percayakan pada saya.” Saya, saya, saya.

Hmm…Sounds familiar, no? 😉

Untuk alasan yang sama dengan Bung Hatta (idih, siapa emang lo? nyama-nyamain diri sama bung Hatta, ngaca woi ngacaaaaaa hehehe), di Pilpres kemarin saya lebih condong kepada sosok Jokowi :).

Gambar : fototokoh.com

Gambar : fototokoh.com

Bung Karno masih terpikir soal harga diri bangsa di mata negara lain dengan sibuk nyinyirin Malaysia dan ribut-ribut menantang si Negeri Jantung Dunia, Bung Hatta lebih ingin agar pemerintahan terfokus dengan ekonomi kerakyatan via konsep Koperasi-nya :).

Kira-kira mungkin Bung Hatta bilang gini, “Rakyat lapar, No. Orang lapar kok disuruh nyolot, No. Kenyangin dulu perutnya, No. Kasihan pada enggak sekolah. Sekolahin yuk, No. Biar pinter. Biar nanti mereka bisa bantu kita.”

Sementara Bung Karno menampik, “Cuy, harga ini, Cuy. Harga diri! Buat apa mereka kenyang kalau mereka terjajah.”

“Lah, sekarang penjajahnya ada di dalam, No.”

“Nope. Pokoknya kita harus lawan Amerika!”

Bung Karno mungkin masih terbuai dengan cara-cara di masa-masa pergerakan sebelum kemerdekaan melawan penjajah dan siapa saja di luar sana. Tapi Bung Hatta sudah ingin berpusat pada kondisi di dalam negeri.

Saya kutipkan pengantar dari tulisan saya tentang Bung Hatta tempo hari,

Sebuah tulisan Bung Hatta di tahun 1962, hanya perlu dicetak ulang untuk menggambarkan situasi negeri ini sekarang :

“Dimana-mana orang merasa tidak puas. Pembangunan tak berjalan sebagaimana mestinya. Kemakmuran rakyat masih jauh dari cita-cita. Sementara nilai uang makin merosot.

Perkembangan demokrasi pun terlantar karena percekcokan politik. Pelaksanaan ekonomi daerah terlalu lamban sehingga memicu pergolakan daerah. Tak banyak yang puas dengan jalannya pemerintahan di tangan partai-partai.”

Kita nyaris tak perlu mengubah satu kata pun :(.

—–

Benarlah bila salah satu buku biografi Bung Hatta itu berbunyi, “Hatta, Jejak Melampaui Zaman.” Daya analitisnya yang tajam dan mendalam sudah sanggup menembus problema masa depan :D. Jiaaaah, dah lama gak denger kata “Problema” hihihihi.

Sebenarnya ya, kalau membaca beberapa buku sejarah tentang akhir kepemimpinan Bung Karno, sang pemimpin pertama ini pun sudah ‘mencium’ gelagat tidak beres. Keputusan Bung Karno untuk menghapus Pileg justru untuk ‘membatasi’ ruang gerak PKI yang makin membesar.

Bung Karno sudah paham jika telah beliau terjebak diantara ‘cinta segitiga’ antara kepemimpinannya, rongrongan PKI, dan terjangan ‘Geng Motor’ eh ‘Geng Angkatan Darat’ maksudnya hihihi.  Nasakom yang diusung Bung Karno saat itu tengah menggali kuburannya sendiri.

Inilah bedanya orang Sanguinis sama Melankolis, ya. Sanguinis itu cenderung optimis. Mereka seolah selalu melihat jalan cerah di depan sana. Impulsif dan sering kurang pertimbangan. Sementara Melankolis seakan selalu bisa menemukan masalah di setiap tikungan yang diambil. Penuh pertimbangan dan biasanya sangat hati-hati dalam bersikap.

Bung Karno itu yakin sekali kepemimpinannya sanggup menjembatani kaum nasionalis, agama dan komunis. Cita-cita yang mulia. Sayang sekali, hingga tulisan ini dipublish, ketiganya hampir tak mungkin untuk hidup rukun bareng-bareng :(.

Soal ilmu agama, keduanya sama patennya. Jangan karena cap ‘genit’ yang  menempel padanya lantas kalian mengira Bung  Karno tak paham agama ;). Saya pribadi sangat kagum dengan buah pikiran Bung  Karno yang cocok dengan kesislaman yang saya tahu. Sebagian besar, tentu tak semuanya :D. Banyak yang sering mempertentangkan Buya Hamka dan Bung Karno. Padahal perselisihan mereka bukan di ranah akidah ;).

Walau hubungan politik Bung Karno tidak begitu harmonis dengan baik Bung Hatta maupun Buya Hamka, tapi personally … mereka selalu bersahabat karib :). Ibarat kata kalau dulu ada Facebook, mereka nyolot-nyolot-an di wall tapi enggak pernah sampai unfriend atau unfollow. Hahahahaha.

Sutan Syahrir pun, pasca dilumpuhkannya PRRI/Permesta, menolak untuk ikut bergosip soal Bung Karno dalam tahanan bersama petinggi-petinggi PSI yang lain saat dijebloskan ke penjara oleh Bung Karno. PSI ditengarai terlibat dalam pemberontakan. Sutan Syahrir tidak mau menjelek-jelekkan atau ikut mengkritisi Bung Karno. Mungkin sadar diri juga dan demi nostalgia masa lalu dimana mereka bersatu padu dalam perjuangan meraih kemerdekaan.

sutan-sahrir

Kalau Bung Hatta yang asli Bukittingi, sih, dari kecil sudah dibesarkan dengan didikan keislaman yang kental khas Ranah Minang di daerah asalnya. Anak pesantren beneran hehehe. Bung Karno sendiri belajar agama dari buku-buku dan pergaulan luas dengan hampir semua kalangan agamis di masa itu :).

Dari Bung Karno kita belajar menumbuhkan harga diri bangsa di kancah internasional. Bung Hatta menyempurnakannya dengan menegaskan bahwa harga diri adalah sesuatu yang intrinsik. Dari dalam ke luar. You never shine if you don’t glow ;).

Kedua bapak bangsa ini punya ‘wajah’ masing-masing untuk  memperbaiki  bangsa. And so do the other Indonesian leaders :).

Soeharto menyadari kesalahan kepemimpinan Bung Karno dan berusaha memperbaikinya. Sayangnya, nafsu duniawi tak terelakkan. Bertahun-tahun berkuasa, pembangunan bertopang pada utang luar negeri yang mungkin sebagian masuk kantong sendiri :p. Asyik menumpuk utang mungkin dikiranya dolar bakal dua ribu perak terus hhihihi.

pak harto

Lalu duaaarrrr!!! Tahun 1998, pembangunan yang berdiri di atas pondasi yang rapuh lebur berkeping-keping tak kuasa melawan krisis ekonomi dunia. Ambruk begitu saja akibat beban utang yang membludak.

Dan kalian asyik saja menyalahkan pemerintahan Megawati yang jual sana sini :p. Apa tahu kondisi ekonomi Indonesia saat itu? :). Macam aset itu punya Megawati pribadi aje. Yuk ah, keputusan jual sana sini itu adalah keputusan bersama antara legislatif dan eksekutif demi mengatasi retaknya perekonomian di masa itu. Bisa saja memang itu bukan keputusan yang tepat. Tapi situ punya solusi apa emangnya? :p.

megawati

Begitu pun dengan almarhum Gus Dur yang begitu gigih mempertahankan kemajemukan bangsa dalam satu ikatan yang kuat. Tidak banyak negara di dunia yang punya keragaman budaya/agama seperti Indonesia dan tidak larut dalam perang saudara.

Myanmar saja yang keragaman sukunya cuma seuprit dengan 2 agama yang menonjol masih terus berkutat dalam urusan ginian. Berbangga hatilah jadi orang Indonesia 🙂.

gus dur

Pak Habibie yang berjuang sama ribetnya walau cuma punya waktu kurang dari setahun untuk mengembalikan dolar sempat ke angka 6500 perak ya waktu itu :). Tapi di akhir masanya, orang-orang malah lebih ingat soal Timor Timur yang akhirnya lepas pasca referendum di era Pak Habibie.

Tapi habis muncul di Mata Najwa di awal tahun 2014 ini, orang-orang ngefans lagi sama beliau. Labil amat sih jadi orang hihihi :p.

Gambar : tempo.co

Gambar : tempo.co

And then here comes SBY dan JK. Salah satu duet terbaik mungkin pasca Soekarno-Hatta :). Walau di tahun 2009, SBY mentalak JK hehehe :p.

Di akhir kepemimpinan Pak SBY, jangan nyinyir aja kauuuu. 😀 Akuilah, perekonomian negara kita tidak lebih buruk dalam 10 tahun pemerintahan beliau ;). Mungkin, suatu hari pun kita bakal bikin kaos bergambar SBY lagi nyengir dengan tulisan “Piye kabare, sing penak jamanku toh?” Hahahahahahhaha.

JK seribu wajah

Macam meme gambar Soeharto yang beberapa tahun terakhir ini sedang hits dengan tulisan bernada sama :D. Padahal di tahun 1998, Pak Harto jadi musuh bersama gitu :p.

Siapa pun mereka, diantara sekian banyak pro dan kontra, pasti pernah terselip dalam hati masing-masing untuk memperjuangkan cita-cita yang sama, mimpi yang sama untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Mari berprasangka baik :D.

“Respect was invented to cover the empty place where love should be.”
― Leo Tolstoy

If it’s almost impossible to love them, at least … show some respect ;).

Jadi, terima kasih atas 10 tahun yang memang tidak indah-indah banget ini ya, Pak SBY. Semoga jasa-jasa Bapak bagi pembangunan bangsa ini bisa terus dikenang dan mendapat balasan terbaik dari Allah SWT :). Lebih dan kurangnya semoga bisa menjadi pembelajaran untuk presiden Indonesia berikutnya.

Walau tidak mengapa kalau  kita mengkritisi asal tujuannya memang untuk perbaikan.

Thanks for everything, ya, Pak SBY. Salah satu vote untuk Bapak di tahun 2009 itu datang dari saya yang bela-belain tetap nyoblos ke KBRI Tehran waktu itu :D.

Dengan penuh hormat, terima kasih ^_^.

SBY

***

 

10 thoughts on “Seribu Wajah Presiden Indonesia

  1. Pertamax yah 😀 Orang Indonesia itu (termasuk saya) emang hobi heboh ya, plin plan, suka drama dan hobi nyinyir. Angin berhembus ke kiri semua condong kiri, angin ke kanan semua condong kanan, hihi *makjleb*

  2. Aaak… aku gak pernah labil sama Pak Habibiee…. selalu ngefans walau dia disalahkan akan masalah Timor Timur 🙁 *lho

    Mbak, coba waktu belajar sejarah dulu aku kenal mbak Jihan yak, kayanya bakal minjem catetannya nih kalo ceritanya seasik ini, hehehe 😀

  3. Quote paragraph yang ini, jleb be’eng bo !

    “Dimana-mana orang merasa tidak puas. Pembangunan tak berjalan sebagaimana mestinya. Kemakmuran rakyat masih jauh dari cita-cita. Sementara nilai uang makin merosot”

    *tos_sesama_EID*
    #callsign
    🙂

  4. Aish… and again, mbak Jihan punya quotes yg ngepas sama tulisannya. Bagus bingits, tp saya takjubnya sama si ‘no’ dan si ‘cuy’ euy. Dapet drmn pulak nicknames ituh, wahahaha!

  5. Ngga pernah labil pandangan saya terhadap para pemimpin kita ini, apalagi ekstrim.. Adalah gregetan ketika kita tau ada yg salah dalam kepemimpinan atau kebijakan yg mereka (presiden) ambil, namun dibiarkan berlarut larut dan ‘there is nothing we can do about’ sementara the ship is sinking down…. So, wajar saja banyak yg bersikap demikian, dikarenakan itu tadi….

  6. Alam dunia termasuk didalamnya bumi, semuanya menuju ketidakstabilan kurun yang terbaik adalah kurun sebelumnya kemudian setelahnya dan setelahnya so that, nikmatilah setiap pemerintahan yang ada couse’ belum tentu pemerintahan setelahnya lebih bagus dari sebelumnya.Berikan kesempatan….walaupun sudah letih hati ini memperhatikannya….sabar ok

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *