How Islamic are Islamic Countries? (Bagian 2)

Ah ya,  bagi yang baru membaca  How Islamic are Islamic Countries? (Bagian 2) ini , bagian-1 dari tulisan dengan judul yang sama cek di sini, ya.

Beberapa waktu lalu, penelitiannya ternyata di-update. Kini, juara 1 nya coba tebak dari negara mana? Irlandia, Kakaaaaaa. Hihihi.

How Islamic are Islamic Countries ? (Bagian 2)

Dublin – Irlandia

Salah satu teman saya di sini, ibu-ibu asal India, kaget sewaktu saya ceritakan hasil penelitian ini. Islam dari mananya?

Nah, sebelum banyak orang mengamuk-ngamuk tentang definisi “islamic” yang digunakan oleh sang peneliti, mending kalian googling dulu paper aslinya dan lihat baik-baik indeks yang digunakan sang peneliti untuk menjabarkan hasilnya :).

Saya juga bingung sih kalau ditanya mengapa salat-puasanya tidak dinilai?
Umm…cara menilainya bagaimana, ya? Hehehe.

Perlukah kita pasang CCTV di tiap rumah untuk mengontrol salat masing-masing warga muslimnya? Atau mereka dibagi-bagikan buku absen satu persatu? Jaminan kalau mereka jujur? Perlu kita pasang dalam hati tiap warga “alat pengecek keikhlasan dan ketulusan”?

Itu baru salat. Kalau puasa? Lebih rempong lagi kan? Hehehe. Kita akan sulit mengetahui seseorang itu puasa atau tidak secara tampilan fisik dan kegiatan sehari-hari saja. Seringnya, kita hanya tahu orang lain berpuasa itu kalau orangnya yang mengaku.

Sepengetahuan saya pula, puasa juga masalah melawan hawa nafsu. Okelah dia bersikap manis sepanjang hari, tapi kalau dalam hatinya sibuk mengumpat, siapa yang bisa mengira? Wah, lagi-lagi kita perlu alat pengukur hati manusia, dong, ya ^_^.

Jadi …dengan cara apa kita menilai salat dan puasa seseorang sudah benar dan diterima Tuhan atau tidak? ;). Jangan-jangan ada Tuhan diantara kita, kah? hehehe :p.

Jadi pengin nyanyik … “What if God was one of us? Just a slob like one of us? Just a stranger on the bus. Trying to make His way home?”

How Islamic are Islamic Countries ? (Bagian 2)

***

Balik ke hasil penelitian. Mayoritas 10 besar diduduki oleh negara-negara Eropa. What’s so special sih dengan negara-negara Eropa ini?

Sebelum mulai membayangkan gambar-gambar cantik mengenai Eropa, let’s reveal some inconvenient truth about living in Europe hehehe. Mudah-mudahan enggak sotoy :D.

Irlandia mahal? Well, secara umum iya dibandingkan negara-negara di Asia. Bensin 1 liter saja mencapai 27 – 30 ribu rupiah per liter (di Irlandia/Inggris Raya). Kami, pendatang yang sebelumnya tinggal di Kota Jeddah di mana bensin seliter dibandrol seribu perak sajah, tentu cukup syok! :p.

Pajaknya juga tinggi. Walau dibanding negara-negara Eropa umumnya, Irlandia termasuk negara yang ramah pajak :D. Secara umum, pajak di Eropa/Australia lebih tinggi daripada di Amerika Serikat. Sepertinya, Uni Eropa dan Australia ini condong ke sistem “sosialis” ketimbang Paman Sam yang sangat kental “kapitalis” nya hehehe.

Di US, banyak uang gampang hidup senang. Di Eropa, penghasilan besar harus diganjar dengan pajak yang makin luar biasa ;).

Apakah ini berarti warga Eropa pada ikhlas semua bayar pajak segitu? Belum cencuuuuuu.

Tahu M* S*, pembalap terkenal asal Jerman? Denger-denger, si doi bela-belain ganti kewarganegaraan untuk menghindari jeratan pajak di negeri asalnya. CMIIW.

Yup, Jerman dan Belanda terkenal sebagai pemalak pajak paling sangar hahahaha. Tapi kedua negara ini sekaligus terkenal sebagai negara dengan fasilitas paling maju dan keren.

Sistem kesehatan di Jerman is one the best (katanya). Transportasi umum jangan ditanya. Disiplin, nyaman dan menyeluruh :). Menjangkau hampir semua pelosok negeri dan bisa dinikmati oleh siapa pun enggak peduli kaya-miskin-kece enggaknya hihihhi. Ini kata suami sih, saya belum pernah ke mainland hihihihi. Sementara si pacarku tercinta inih sudah 3x bolak balik Jerman. Enaknyoooo yang sering traveling gratis ;).

How islamic are islamic countries  ? (bagian 2)

Transportasi publik di Jerman (gambar : internations.org)

Saya juga pernah berdiskusi kecil-kecilan di grup orang-orang Indonesia yang tinggal di Irlandia. Ada saja orang-orang yang merasa kena ‘rampok’ gara-gara beban pajak yang dianggap terlalu besar dan tidak adil. Di mata mereka, masa kita yang capek-capek kerja, kita juga yang membayar paling banyak.

Nah, mari kita tengok kembali seperti apa pemahaman kita tentang Islam dalam hal ini. Ini sih saya cocok-cocokkan versi saya saja.. Saya ini ustazah bukan, lulusan pesantren bukan. Emak-emak sotoy mungkin tepatnya hihihi. So, feel free for further discussion ;).

Sependek yang saya tahu, kehidupan di dunia ini untuk persinggahan saja. Sebagai bekal untuk menabung di kehidupan kekal pasca hari akhir nanti. Kalau sudah tahu tidak kekal terus ngapain mau habis-habisan mengejar yang sifatnya duniawi? ;).

Sebagian kita sering menganggap harta yang banyak sebagai hasil kerja keras semata. Ini dengan anggapan semuanya diperoleh dengan halal ya. Kalau enggak halal ya itu lain cerita :p.

Wajar dong jika kita merasa berhak atas harta tersebut. Kan gue yang kerja, gue juga dong yang harusnya menikmati. Suka-suka mau beli apaan, yang penting sudah sedekah, salat, zakat, puasa. Begitu ya kira-kira sifat alamiah kita sebagai manusia.

Katanya, harta adalah anugerah. Betulkah?

Saya pernah sekilas mendapati hadis soal rasulullah yang mengharap kepada Allah agar terus didekatkan dengan orang miskin. Malah meminta jadi orang miskin saja. Mohon dicek sahih apa tidak ya hadisnya?

Aneh, deh. Enakan jadi orang kaya bukan? hehehe.

Padahal jelas-jelas memang dalam alquran disebutkan harta itu adalah cobaan. Sebagian kita sudah terlanjur mencap yang kudu sabar dalam menghadapi hidup ya orang miskin saja. Yang kaya cukup banyak-banyak sedekah :p.

Justru kesabaran yang harus kita jalani saat memiliki harta lebih itu jauuuuuhhh lebih sulit. Ingat dong ya, bergaya hidup mewah itu bukan anjuran agama. Kalau miskin ya gampil. Mau gimana? Wong duitnya enggak ada. Anak-anak minta ini itu, ya tinggal bilang, enggak ada duit.. Terus bisa apa? Tidak perlu payah-payah mencari alasan hehehehe –> pengalaman waktu kecil! Hahahaha.

Begitu banyak duit, ketebak kan apa yang terjadi. Padahal dulunya biasa-biasa saja, begitu ada duit jadi rewel dan mau beli ini itu hehehe. Hati kecil ikut membenarkan, “Kan hartanya halal, hasil kerja keras gue ini. Boleh dong dipakai bermewah-mewah.”

Kalau ada yang iri karena tidak mampu? Lah, emang urusan gue. Harta-harta gue, siapa suruh lu miskin? :p.

Seolah sabar hanya wajib bagi mereka yang tidak mampu :D.

Satu lagi, pemberi rezeki itu Allah semata. Tidak selalu mereka yang bekerja keras pasti akan diberkahi harta yang banyak. Sebaliknya, tidak selalu pula, mereka yang ongkang-ongkang kaki akan selalu menjadi golongan tidak mampu. Manusia wajib berikhtiar tapi ingat, hasil akhir 100% Allah yang punya kuasa ;).

Nah, terlihat tidak ‘cerdas’nya pemerintah Eropa? ;). Heran, padahal mereka mungkin enggak pernah belajar ekonomi Islam dan aturan-aturan muamalah dalam alquran. Iya gitu, pemerintah Eropa membagi-bagikan brosur kepada warganya, “Wahai wargaku yang tajir, bayar pajak banyak-banyak, yuk. Ingat, harta itu cobaan lho according to surah X ayat Y.” Hihihihihi.

Pemerintah di semua negara seharusnya sudah tahu kemampuan seluruh warga negeri pasti tidak akan sama. Dari segi ekonomi dan lain-lain. Tapi tetap saja, tugas pemerintah adalah memastikan SEMUA warganya hidup layak. Jangan pernah coba-coba marah-marah sama Tuhan. Seluruh lingkungan pendukung sudah diciptakan dari sananya tanpa perlu campur tangan manusia mana pun. Tinggal pengelolaan saja yang diserahkan kepada manusia.

Ketidakmampuan menjaga kesenjangan ekonomi sosial agar tidak menganga terlalu lebar itu akan dibayar mahal kelak. Tak sedikit masalah-masalah dalam bermasyarakat yang lahir akibat kelalaian dalam hal ini :(.

Lucunya, negeri-negeri sarat sumber daya alam yang malah agak kesulitan mencapai kehidupan ekonomi ideal bagi seluruh jajaran masyarakat. Tengok negara-negara Timur Tengah :). Indonesia, walau sudah keluar dari OPEC dari kapan tauk, tetap kaya sumber daya alam non migas.

Justru, yang tinggal di Eropa harus terima kasih pada aturan pajak ini. Kita kan tahu pasti, pajak yang kita bayarkan adalah untuk membayar semua kenyamanan yang bisa dinikmati oleh segenap anak negeri. Kaya miskin, semua punya kesempatan untuk mencicipi hidup layak.

Layak tak selalu berarti harus mewah toh, ya? ;). Tapi … tinggal di kolong jembatan dan membayar sekolah saja megap-megap, jelas… itu tidak layak!!!!!! Pentungnya banyak bener hahahahahaha.

Makin banyak penghasilan makin besar sumbangsih kita untuk menyejahterahkan orang banyak di negeri tempat kita tinggal. Bayangkan, pemerintah Eropa sudah membantu kita untuk menyicil tabungan akhirat. Kebermanfaatan bagi orang banyak itu adalah amal yang tidak kecil, lho ;).

Punya banyak uang enggak perlu capek-capek nan mumet mau ke panti asuhan mana, mau memprioritaskan untuk bantu siapa. Dengan sendirinya, kita telah menyumbang untuk kemaslahatan orang banyak tanpa perlu banyak mikir ;).

Senang kan, pajak yang kita bayar dipakai untuk membangun sekolah-sekolah yang nantinya akan dinikmati tidak hanya oleh anak-anak kita saja tapi oleh anak-anak dari mereka yang kurang mampu? Apa tidak geer jika makin besar pajak yang kita bayar makin banyak sumbangsih kita untuk orang banyak?

The key to the real happiness is to make others happy.

Jangan marah-marah ke pemerintah kalau disuruh bayar pajak gede-gede? hehehe. Keuntungannya berlipat ganda ^_^. Mencegah kita dari hawa nafsu pribadi (makin banyak uang biasanya makin banyak aja tuh keinginan hihihi) dan ‘memaksa’ kita ‘rajin’ menabung sebagai bekal di kehidupan akhirat yang jelas-jelas lebih kekal daripada dunia yang fana ini.

Tentu jauh lebih berat melawan keinginan untuk membeli tas mahal saat uangnya ada ketimbang saat dananya cekak hahahahha. Dana cekak ya bisa apa. Paling ngelap iler dan berlalu dari toko secepat mungkin. Kalau uangnya ada? Seringnya sih, hawa nafsu yang akan menang ;). Sementara rumusnya sudah begitu, tak akan habis harta dunia dikejar. Makin dibeli, makin dikoleksi, makin tidak ada puasnya. Itu hukum alam, bukan karangan yang nulis hehehehe.

No hard feeling, ya. Saya pun sering mengalami hal yang seperti itu kok hihihi. Makanya, belajar dari pengalaman pribadi itulah, ada baiknya kita saling mengingatkan dan menguatkan.

How Islamic are Islamic Countries ? (Bagian 2)

The Bling-Bling 😀 (gambar : lapsplash.com)

Hukum juga lebih fair di negara-negara maju pada umumnya. Mungkin karena di negara-negara berkembang ya balik lagi ke sikonnya. Banyak orang berduit luar biasa yang gampang nyogok sana sini. Banyak orang bisa disogok karena kesenjangan ekonomi yang tinggi.

Belum lagi sirik-sirikan karena pamer-pamer kekayaan. Banyak yang tidak kuat godaan akhirnya…nyicil!! hihihih. Kredit ini itu walau sudah tidak cocok dengan kemampuan kantong hanya demi biar bisa menikmati kelayakan hidup yang dianggap umum. Merasa tenang hidup yang penting kartu kredit masih bisa digesek :p. Bayarnya pikir bulan depan.

See? Gaya hidup mewah tidak hanya akan ‘membunuh’ si pelakunya tapi pelan-pelan juga akan ‘menyakiti’ sekitarnya :). Kecuali kita yakin semua orang yang kita kenal dan akan kita temui bisa mengadopsi gaya hidup yang sama ;). Nah, mungkin gak tuh ada kejadian kayak gitu? Mungkin saja. Tapi bukan di dunia ini tempatnya. Menurut gosip yang berkembang, dengar-dengar sih … di surga enggak ada orang susah hehehe ;).

Coba kayak di Eropa pada umumnya. Tukang sampah saja bisa leyeh-leyeh di kedai kopi yang sama yang juga didatangi oleh para engineer/mahasiswa/eksekutif muda/pegawai toko/dll. Hampir semua orang hidup dalam tingkat kesejahteraan yang tidak terlalu mencolok bedanya.

Penghasilan besar mengimbangi penghasilan pas-pasan. Orang dengan gaji cekak dibebaskan dari pajak. Tapi tetap bisa menikmati semua fasilitas umum dari pemerintah, misalnya sekolah dan rumah sakit ^_^.

Ada kalanya kejahatan sosial hadir karena paksaan keadaan. Terpaksa nyolong biar anak bisa makan. Terpaksa merampok biar anak bisa sekolah. Terpaksa kerja-kerja serabutan yang sebenarnya sudah tidak cocok dengan kondisi fisik dengan gaji pas-pasan karena tidak punya hak meminta gaji lebih. Karena capek dan tidak kuat, akhirnya memilih menjadi pengemis :(.

Banyak juga sih orang-orang Eropa yang stres dengan pajak tinggi begitu :D. Tapi kalau pegangannya ‘benar’, insya Allah, hati tak akan segitu terguncangnya.

***

Saya kutipkan sedikit penggalan kalimat dari papernya (versi 2010) …

“But we must be careful how we assessed Islam? By the behavior of those that are labeled as Muslim or by Muslim teachings?

To what extent do self-declared Islamic countries actually behave as Islamic countries i.e. following Islamic teachings from the Quran and the life and sayings of the Prophet? In other words, are these countries truly Islamic or are they Islamic in name only?

We believe that only once this question is addressed can one begin to measure and/or claim empirically that Islam either deters or enhances human development, human solidarity and economic performance.”

Dan ini penggalan yang menunjukkan berdasarkan apa indeks penelitian ini dibuat :

“Moreover, our examination of Islamic teachings shows that Islam’s guidelines for economic, social, legal, and political practices are in line with today’s best practices and recommended institutional structures.”

How Islamic are Islamic Countries ? (Bagian 2)

Moslem Countries (gambar : muslim-academy.com)

Kalau ditelaah dengan hati terbuka, penelitian ini justru mengangkat betapa idealnya ajaran Islam dari sisi ekonomi/sosial/hukum/politik jika diterapkan dalam kehidupan bermuamalah setiap manusia. Setiap manusia, bukan muslim doang ;). Ring a bell, yes? Rahmatan lil aalamiin ;).

Siapa pun yang melaksanakan aturan bermuamalah ini insya Allah hidupnya akan sejahtera. Soal bermuamalah kan enggak mandang akidah. Enggak ada cerita kalau dia kafir terus dia menjalankan ekonomi kerakyatan ala Islam maka negaranya tetap akan celaka :p.

Ada pun jika ternyata aturan-aturan ini justru tidak kejadian di negara-negara yang mayoritas muslim (according to the result from this research) itu adalah peer umat muslim bukan? :).

Oh well, saya tak hendak memaksakan siapa pun untuk bisa merenungi hasil penelitian ini. Sebagian memang memilih untuk menganggap penelitian ini sebagai penghinaan kepada umat muslim. Hasil penelitiannya untuk saya malah positif dan menjadi pemacu untuk terus berIslam dengan baik dan benar. Insya Allah.

If you feel offended then be it :). Saya minta maaf karena jelas-jelas itu bukan maksud saya mengangkat hasil penelitian ini dan membagikannya kepada teman-teman semua ^_^.

Ya pokoknya untuk bahan renungan sajalah ya kalau lagi bengong hehehe.

Saya tutup tulisan ini dengan penggalan kalimat yang di-copas dari tulisan bagian 1-nya. Sebuah kritikan dari Buya Syafii Maarif dalam salah satu tulisannya :

” …Bagi saya penggunaan perkataan ringkih terasa lebih puitis dan tajam, dibandingkan padanannya dalam istilah bahasa Indonesia.

Itulah sebabnya dalam tulisan ini perkataan ringkih digunakan. Benarkah Dunia Islam itu ringkih? Tanpa memerlukan data hasil riset yang mendalam, berdasarkan pengamatan umum saja, pasti jawabannya: benar! Kesenjangan sosial-ekonomi hampir merata di seluruh dunia Islam. Keadilan yang demikian keras diperintahkan Alquran tidak digubris oleh penguasa yang mungkin sudah menunaikan ibabah haji berkali-kali…”

***

Kebenaran mutlak milik Allah, kalau ada pernyataan-pernyataan yang kurang tepat/sotoy/gak penting/gak jelas/galau/enggak enak dibaca/dll itu pasti 100% tanggung jawab yang nulis ;).

13 thoughts on “How Islamic are Islamic Countries? (Bagian 2)

  1. Mbak Jihan galau dengan keadaan umat islam sekarang. Itu sama seperti kegundahan Syekh Muhammad Abduh ketika melihat masyarakat prancis ternyata lebih “islami” daripada umat islam sendiri. Beliau khan pernah mengasingkan diri ke prancis ( lih : wikipedia). Sehingga muncul ungkapan “Limaza taakhkhara Islam wa taqaddama ghairuhum”. Terjemahan bebasnya adalah ” Mengapa Islam menjadi terbelakang dan Eropa ( baca : kristen) lebih maju daripada kita (Islam)”. Ini dikutip,oleh Syakib Arsalan.

    “Kesalehan Sosial” umat Islam memang jatuh di titik nadir di abad 19 sampai sekarang. Makanya, Syeh Muh Abduh membuat gerakan Pan Islamisne bersama Jamaluddin Al-Afghani. Di zaman beliau, gerakan mereka adalah gerakan anti penjajahan.

    Intinya harus ada gerakan nyata untuk mengangkat “kesalehan sosial” umat Islam. Mbak Jihan juga bisa “aksi langsung’ melalui tulisan. Mbak bisa nulis secara lugas dan renyah tentang “kesalehan sosial” bangsa eropa. Kisah-kisah nyata tentang “akhlak ” bangsa eropa yang sesuai dengan ajaran Islam. Sehingga kita mudah memahami dan mengaplikasikan.

    Kita sering “miskomunikasi” dengan eropa. Katanya Eropa itu tidak berakhlak karena cara berpakaian mereka yang tidak lengkap dan diskrimatif dengan Islam seperti berita tentang muslimin prancis. But, Syeh Muh Abduh dan Mbak Jihan menyampaikan jika Orang Eropa lebih Islami daripada Muslimin. Kita jadi bingung. mbak, 🙂

    Apalagi buat saya yang belum pernah sama sekali menjejakkan kaki di eropa. Wong ke luar negeri aja lum pernah. hahahaha…!!! Kita tidak tahu mana yang harus ditelan atau dimuntahkan. Maka, berhenti dimulut saja. hehehehe….!!!!!

    Ini lebih terasa manfaat bagi kita semua ( muslimin) misal : kedisplinan, komitmen, tanggungjawab, dsb. Norma/Etika yang bisa direnungkan/dilakukan oleh umat islam , Saya kira tulisan yang bergenre seperti itu menarik dan bermanfaat. Paling tidak, untuk saya pribadi.

    Saya tidak harus ke eropa untuk belajar tentang “akhlak” orang eropa. hehehehehehe…!!!! Saya tunggu “aksi langsung” mbak Jihan.

    Nuwun.

    Salam dari Solo Jawa Tengah

  2. Semoga yg baca tulisan mbak ini bs jd tambah cinta sama islam (diakui inline loh dg best practice), dan makin semangat mempraktekan islamic teachings dengan baik dan benarr.. Seperti saya 🙂 thanks mba’ e
    Cmangaaattt

  3. Saya memang beruntung;
    Konsist “mencari” seperti Yahudi
    Menikmati hidup “senang” ala Nasrani
    Menjauhi larangan seperti IslamI.

  4. tidak sedikit memang dengan orang-orang yang mayoritas mukim di negeri dengan penduduk Muslim terbanyak menjadi Galau alias syndrome dengan ke”musliman” nya mereka (red. Eropa). banyak faktor, mungkin salah satunya karena tidak memahami Islam itu sendiri. dan saya pribadi sudah tidak aneh dgn orang Indonesia yg suka galau alias syndrome sperti ini. hanya bisa tersenyum. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *