Hate The Sin, Love The Sinner

Setiap tanggal 5 November, ada perayaan khusus untuk masyarakat Inggris. Mereka merayakan saat lolosnya sang Raja dari percobaan pembunuhan oleh sekelompok pemberontak.

Tahun 1605, rencana besar untuk meledakkan gedung tempat raja sedang berada gagal total. Salah satu tokoh pemberontak yang terkenal karena peristiwa tersebut adalah Guy Fawkes.

Namanya kembali samar-samar teringat saat mengunjungi Tower of London dalam rangka jalan-jalan London tempo hari.

Jalan-Jalan London

“The Bloody Tower” adalah salah satu spot yang paling menarik perhatian saat mengunjungi Tower of London. Tempatnya kecil saja tapi isinya horor abis hihihihi *ngikikTegang*. Di ruangan ini dipamerkan berbagai alat-alat penyiksaan zaman dulu kepada para tawanan dalam penjara.

Tower of London memang pernah berfungsi sebagai penjara bagi para penjahat di masa lampau. Makanya langsung ingat pada sosok Guy Fawkes.

Jalan-Jalan London

Dengar-dengar si Guy Fawkes ini termasuk salah satu tawanan yang pernah mencicipi ruang penyiksaan tadi. CMIIW sih hihihi. Secara menara yang paling menarik perhatian turis ini memang punya sejarah yang super panjang dan multi fungsi dari abad ke abad.

Guy Fawkes lahir sebagai seorang Katolik. Tumbuh besar di Kerajaan Inggris saat kerajaan di bawah kekuasaan Ratu Elizabeth I yang berpaham Protestan. Zaman itu, perseteruan antara Katolik dan Protestan lagi sengit-sengitnya.

Jika yang berkuasa adalah rezim Protestan maka kaum Katolik akan dilarang beribadah. Kalau melawan akan dibunuh. Begitu pula sebaliknya. Walau Kerajaan Inggris lebih kental Protestan-nya, namun pernah juga berada di bawah kekuasaan Katolik.

Guy Fawkes adalah penganut Katolik yang taat. Kesedihannya akan tertindasnya kaum Katolik di bawah kepemimpinan Sang Ratu membawanya terlibat dalam beberapa aksi kekerasan. Hingga akhirnya saat diburu, Guy Fawkes lari ke Spanyol.

Saat itu, Spanyol justru sebaliknya. Spanyol tengah berada dalam kekuasaan Katolik dan tengah menghadapi pemberontakan-pemberontakan dari daerah Holland dan Belgia yang hendak melepaskan diri.

Untuk mengobarkan semangat perjuangan, isu agama mulai dimainkan. Kebetulan pula, para pemberontak mayoritas Protestan. Pihak Kerajaan Spanyol mulai menyewa tentara bayaran untuk menumpas para pemberontak. Guy Fawkes tentu langsung setuju.

Bagi pihak Kerajaan Spanyol, pertempuran murni untuk mempertahankan wilayah mereka. Sementara di mata Guy Fawkes, ini adalah semacam jihad untuk membela ajaran Katolik yang dijunjungnya.

Pertempuran yang sebenarnya hanya masalah perebutan kekuasaan dan keinginan untuk merdeka dari penjajahan disulap menjadi perang agama. How ironic . Ironis tapi manjur untuk mengobarkan semangat juang masing-masing pihak. Hm, sounds familiar, no? 😉.

Jalan-Jalan London

Setelah cukup matang menimba pengalaman di Spanyol, Fawkes kembali ke Kerajaan Inggris. Di sinilah Fawkes mencoba mencari-cari kesempatan untuk membebaskan belenggu “penjajahan” dari rezim Protestan kepada para penganut Katolik. Bayangkan, mereka dilarang beribadah dan dipaksa menyembunyikan status “Katolik”nya di muka umum. Kalau ketahuan ya nyawa taruhannya.

Akhirnya Guy Fawkes dan kawan-kawannya terpikir untuk menyelundupkan bubuk mesiu ke ruang bawah tanah di Gedung Parlemen tempat raja dan tim penasihatnya berkumpul. Sayang sekali, rencana tersebut gagal total. Guy Fawkes ditangkap, dipenjara dan disiksa sampai mati.

Tapi…itu sejarah dulu . Pertumpahan darah luar biasa memang pernah mewarnai hampir seluruh penjuru Eropa kala ajaran Protestan yang dibawa oleh Marthin Luther di Jerman, mulai bersemi Sekarang sih, di Eropa sudah nyaris tak terdengar lagi indikasi pertikaian antar agama hehehe.

Buktinya adalah Kerajaan Inggris yang mayoritas Protestan dan Republik Irlandia yang mayoritas Katolik adem-adem saja. Malah hubungannya sudah seperti kakak adik . Saya sempat terpikir, maraknya Atheisme di Eropa jangan-jangan adalah buah trauma mereka dari sejarah di masa lampau. Di mana perbedaan agama bisa mengorbankan sebegitu banyak nyawa. Well, bisa jadi sotoy aja saya-nya, sih. Hahahaha.

Jalan-Jalan London

Bukan hanya itu, lho, agama dulu selalu dipertentangkan dengan ilmu pengetahuan modern. Gereja berhak menghukum mati orang-orang yang melanggar aturan yang sudah ditetapkan gereja. Kalau tidak salah, Copernicus si pencetus bahwa bumi itu bulat adalah salah satu korbannya. Karena dulu Gereja ngotot kalau bumi itu bentuknya kotak .

Penemuan-penemuan modern di Eropa kala itu malah menjadi momok bagi sang ilmuwan. Kalau ketahuan sama Gereja, tamatlah riwayat mereka. Tidak heran kalau sebagian masyarakat masih terbawa trauma kali ya dengan suasana ini maka memilih jadi atheis saja hihihihi.

Karena sudah sering melihat gereja-gereja di Irlandia, begitu ke London langsung terlihat jelas bedanya hehehe. Maaf kalau lagi-lagi sotoy nih. Sungkem dulu sama teman-teman Nasrani .

Gereja Katolik itu lebih ‘wah’, ya, sepertinya. Lebih banyak pernak pernik. Tapi kalau soal megah atau tidak kayaknya bangunan gereja zaman dulu memang keren-keren . Salah satu pembeda utama, di Gereja Katolik biasanya ada patung Bunda Maria yang menyolok. Sementara di gereja Protestan, patung Bunda Maria tidak begitu istimewa. Seringnya malah tidak ada hehehe.

Saat jalan-jalan London di akhir Mei kemarin, cuaca sangat tidak bersahabat huhuhu. Kami basah kuyup saat berjalan dari Buckingham ke Westminster Abbey via tepian St. James Park. Sampai berteduh dalam Gereja St.Margareth. Ragu mau masuk soalnya pakai kerudung gini hehehe. Tapi begitu melihat orang-orang India juga ramai berkerumun di dalam jadi ikutan masuk, deh, sambil lihat-lihat.

Jalan-Jalan London

Di Tower of London juga diguyur hujan. Apes banget. Anak saya lagi tidur dalam stroller saat hujan turun deras. Ini nih yang bikin kesal dari tempat-tempat wisata di London. Tangga melulu! Enggak bebas berkeliaran nenteng stroller . Tidak semua tempat kami kunjungi. Itu pun jadinya bagi tugas. Anak sulung saya semangat kan melihat baju-baju besi dan miniatur pasukan berkuda. Jadilah saya berteduh di bawah pohon menemani yang kecil tidur, suami yang berkelana bareng yang sulung. Huhuhuhu.

Jalan-Jalan London

Gagal total syahwat banci eksis-nya hahahahaha :D. Apa harus diulang lagi kah jalan-jalan London ini? :p :p :p

***

Kata orang, kita memang tak bisa mengubah masa lalu. Disesali pun tak ada gunanya. Sudah kejadian. Tapi, kita selalu bisa belajar dari masa lalu dong, ya .

Melihat kondisi umat muslim secara menyeluruh di situasi terkini memang kadang membuat bingung. Saya ingat pernah komen-komenan sama teman dan dia bilang begini, “Sori Je, lo ngomongin agama melulu. Padahal ini gue lagi ngomong masalah kemanusiaan.”

Lah? Kemanusiaan itu adalah bagian terpenting dari ajaran Islam keleussss hehehehe. Nama rasulullah bergema tidak hanya di kalangan muslim tapi diakui sebagai orang berpengaruh nomor 1 karena kehebatannya mengubah wajah kaum Arab di masa itu. Dalam tempo sekitar 23 tahun bisa menegakkan ajaran Islam di muka bumi dan terus ada hingga kini.

Salah satu keutamaan dari beliau adalah…akhlaknya. Akidah yang baik terpancar dari akhlak yang keren 😉.

Jalan-Jalan London

Saat abad kegelapan menguasai Eropa yang mempertentangkan ilmu modern vs ajaran agama, Islam sudah memunculkan banyak cendekiawan-cendekiawan modern sebelum abad ke-10.

Makanya suka heran sama yang nyinyir-nyinyir dengan kedokteran modern. Katanya enggak sesuai sunnah nabi. Gubrak dot com, deh. Coba cari tahu tentang salah satu Bapak Kedokteran Modern yang namanya masih disebut-sebut dalam literatur terkini, Avicenna. Avicenna itu ya Ibnu Sina . Muslim lho, Kakaaaaa ^_^.

Alquran malah jelas-jelas memberi poin plus bagi orang yang berilmu. Yang entah kenapa juga, ilmu tersebut disempitkan oleh sebagian orang menjadi ilmu ‘agama’ saja. Padahal jauh sebelum Eropa memasuki masa keemasannya dalam dunia sains, selain Ibnu Sina, dunia Islam sudah punya Al Farabi, Ibnu Khaldun, Ibnu Musa Al Khuwarizmi, dll.

Umat muslim kudu pinter-pinter . Mempelajari alquran itu kewajiban utama yang memang tidak bisa diganggu gugat. Namun tidak berarti menafikan ilmu-ilmu lainnya. Justru alquran mendorong kita untuk berilmu agar bermanfaat bagi orang banyak bukan hanya untuk bilang, “Kafir lo! Masuk neraka lo!” Hehehehe.

Akhlak, moral dan sebangsanya juga mengapa selalu dinomorduakan kan, ya? Hiks. Padahal biografi-biografi tentang Rasulullah yang ditulis oleh kalangan non muslim selalu memuji-muji moralitas Rasulullah. Kini, yang mencuri perhatian dunia soal akhlak malah Negeri Sakura! Memangnya ada berapa orang sono yang membaca alquran? *pijetPijetKening*.

Penindasan dan kesewenang-wenangan bukan ajaran Islam . Cukuplah perjalanan panjang masyarakat Eropa di masa lalu menjadi pelajaran berharga untuk kita semua .

“Hate the sin, love the Sinner” -Gandhi-

Dengan catatan di kalangan muslim syarat dan ketentuan berlaku, ya. Berani berbuat berani bertanggungjawab. Hukumnya ada aturan sendiri .

Pening abis ngomong copras capres, baca ginian juga enggak kalah peningnya hahahahahha. Biar enggak pening, nih dikasih foto-foto deh 😀.

Semoga menjadi bahan renungan kita bersama (termasuk saya) untuk penyemangat diri sendiri menjadi agen-agen perubahan positif dalam dunia Islam . Rahmatan lil aalamiin lho harusnya 🙂.

London memang keren tapi mahalnya itu gak nahan euy. Me, no likey! Hahahahahaha.

Jalan-Jalan London

 

8 thoughts on “Hate The Sin, Love The Sinner

  1. pertama tau tentang Guy Fawkes gegara baca seri Sapta Siaga-nya Enid Blyton.. walo ga dibahas secara detil siapa si Guy Fawkes ini.. tapi karena diceritain kalo pas Perayaan Guy Fawkes ini dibikin boneka si Guy buat ditaro di atas api unggun untuk dibakar disertai petasan-petasan, namanya nampol banget dan bikin guru les inggris yang asli sono heran kok waktu itu gw tau tentang si Guy Fawkes 🙂

    Jihaaaann.. cek imel dooong.. ikke mesti transfer berapa biar bukunya dikirim??

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *