Tipping Point, Little Things for Big Differences

Saya dari dulu selalu bertanya-tanya, kenapa ya, diantara saya dan enam saudara kandung saya yang dibesarkan oleh orang tua yang sama dengan metode yang rasanya tidak berbeda bisa tumbuh menjadi pribadi yang berbeda-beda?

Kalau secara tampang, lumayan banyak yang mirip. Tapi tentu saja, gue dong yang paling kece! Hahahahaha *benerinLipa’Sabbe* ๐Ÿ˜€.

Secara akademis pun kami bisa dibilang banyak yang mirip, lho. Saya yakin sekali, salah satu kakak saya yang menolak melanjutkan pendidikan saat masih di bangku SMA itu punya daya nalar yang tidak jauh berbeda dengan yang lain. Bukti lain, adik saya yang suka dituduh “lemot” waktu kecil hihihi. Prestasi akademisnya dahsyat tuh waktu kuliah.

Tapi, cara kami memandang dan menyikapi beberapa hal itu benar-benar variatif. Yang ujung-ujungnya membawa kami menempuh jalan hidup yang berbeda-beda. Oh well, tentu ada unsur takdirnya. Tapi mengapa, sekali lagi mengapa … didikan orang tua yang sama tidak membuat kami tumbuh seragam?

Ini bukan masalah beda profesi atau semacamnya. Tapi benar-benar perbedaan dalam solving problem dan hal-hal mendasar lainnya. Kepercayaan secara spiritual dari sisi religius misalnya. Seriously, bisa beda-beda gitu euy hehehe. Bukan maksudnya banyak agama tapi gimana ya … ya balik lagi ke cara pandang tadi itu hehehe.

sodarakuuuuu

Padahal ya, hampir semua teori parenting yang saya tahu sepakat bahwa, “Keluarga ada cikal bakal yang paling penting dalam masa depan anak.”

Buku Tipping Point punya jawaban yang sangat memuaskan dari rasa tidak puas saya terhadap ‘tuntutan’ besar dari kebanyakan teori parenting terhadap para orang tua hehehehe . Sungkem dulu sama Ayah Edi dkk .

Bukannya saya menolak bahwa keluarga adalah unsur penting dalam pendidikan sang anak. Penting, dong. Pasti penting. Tapi ternyata adalah benar, beberapa penelitian yang dilakukan untuk menyelidiki hal ini membuktikan bahwa : peranan LINGKUNGAN ternyata jauuuuh lebih besar. Baca lebih lengkap dalam bukunya langsung ya.

Kesimpulannya, “Anak-anak dari keluarga broken home yang tumbuh di lingkungan baik-baik jauh lebih selamat daripada anak-anak dari keluarga baik-baik yang tumbuh di lingkungan buruk.”

Jadi … masih mau bersikap tidak peduli dan sok-sok buang muka pada lingkungan sosial dengan dalih, “Yang penting gue ngedidik anaknya bener. Bodo amat sama lo-lo pada.” Big NO-NO ya, Dear Parents .

Sesungguhnya, saat menjadi orang tua, adalah tugas kita bersama untuk saling melindungi. Termasuk memperhatikan lingkungan tempat si kecil tumbuh nanti. Jangan malah sibuk membangun dinding dalam rumah sendiri dan berjampi-jampi sendiri, “Asal gue bener, anak gue pasti bener. Udah, gitu aja udah cukup!” .

I’m not saying I’m a good Mom lho ya, Isssh, masih jauh dah pokoknya hahahaha. Mengingat keluhan-keluhan kerabat dan teman terhadap tingkah laku si duo N pas mudik tempo hari hihihihi *tutupMuka*. Mari terus belajar bareng-bareng .

Tanggung jawab kita semua untuk mempersembahkan lingkungan yang berkualitas untuk tumbuh kembang generasi penerus.

***

Buku ini memang membuka wawasan banget . Menerangkan banyak fenomena sosial yang terlihat luar biasa dari sudut pandang yang tak terpikirkan. Asal membacanya dengan pikiran rileks dan terbuka ๐Ÿ˜‰.

tippping point sampul

Salah satu bahasan yang paling menarik soal merokok. Sekian lama kampanye selalu mengarah kepada sugesti betapa berbahayanya merokok itu. Ajaibnya, justru nyaris tidak memberi pengaruh yang berarti, tuh! *pijetPijetKening* .

Tapi ternyata, banyak sekali hal-hal luar biasa yang terjadi yang oleh banyak orang sudah dianggap “mentok” ternyata bisa berbalik arah.

Contoh kasus yang diangkat antaralain menurunnya tingkat kejahatan di New York dalam tempo waktu sangat singkat.

Nah, titik balik inilah yang disebut sebagai tipping point, โ€œThe tipping point is that magic moment when an idea, trend, or social behavior crosses a threshold, tips, and spreads like wildfire.โ€

Kekuatan konsep, pembawa pesan dan isi pesannya sendiri adalah hal-hal yang sama pentingnya. Uniknya, justru pemecahan dari masalah-masalah tersebut berangkat dari hal-hal yang kelihatannya sepele, โ€œThat is the paradox of the epidemic: that in order to create one contagious movement, you often have to create many small movements first.โ€

Tingkat kejahatan di New York yang sudah sangat brutal (pembunuhan, perampokan, perkosaan, penjambretan sudah menjadi makanan sehari-hari kala itu) mendadak menurun tajam di tahun 1992 – 1994. Penurunannya benar-benar drastis yang membuat banyak pengamat bingung sendiri.

Hingga akhirnya penyelidikan mulai dilakukan. Dan terkuaklah sebuah hasil yang di luar dugaan. Bahwa pemberantasan kejahatan ternyata TIDAK dengan memperketat jam malam, menangkapi para penjahat secara besar-besaran (karena cara ini sudah dilakukan sejak belasan tahun sebelumnya), menambah hukuman dan bla-bla-bla standar lainnya.

Simpel sekali. Diawali dengan pergantian 2 posisi penting di pemerintahan New York. Para pejabat baru memutuskan untuk fokus pada kejahatan-kejahatan ‘remeh’.

Dengan rutin, terstruktur, masif dan sistematis #Eaaaaaaa, aparat menangkap siapa saja yang tertangkap hendak naik kereta tanpa tiket. Mereka bahkan menyiapkan bus khusus untuk memproses para pelanggar kejahatan dengan birokrasi yang cepat dan tidak bertele-tele.

Kepala Stasiun yang baru malah memerintahkan anak buahnya untuk rajin menghapus apa pun grafiti iseng yang sudah sering dilakukan para preman di badan-badan kereta. Tiap hari, badan kereta dibersihkan. Dicoret lagi, dibersihkan lagi, dicoret lagi dibersihkan lagi.

Unik kan? Sementara kota sedang terjerat dalam kejahatan-kejahatan massal tingkat tinggi macam perampokan-pembunuhan-perkosaan dll, mereka kok malah ngurusin coretan iseng di badan kereta dan orang yang ogah beli tiket!!!

Nah, inilah yang dinamakan “kekuatan konsep”. Para pejabat baru mencoba menerapkan apa yang disebut “Teori Jendela Pecah.” Ada titik-titik dasar yang menjadi pemicu akan terjadinya kejahatan yang lebih besar dan beruntun.

Sementara kita suka kebalik kan mikirnya . Misalnya kasus korupsi. Banyak bener tuh yang nyinyirin KPK karena beraninya sama yang cimik-cimik doang hihihi. Maunya ditangkap dulu yang kelas kakapnya. Tanpa mungkin kita sadari, si kakap-kakap ini tumbuhnya dari teri-teri kecil yang terus bermetamorfosis menjadi kakap karena dukungan lingkungan yang ‘asoy’ .

Kita sering menghabiskan energi untuk mengurus hal-hal besar yang kita tahu butuh effort yang tidak sedikit dengan harapan hasilnya lebih dahsyat.

Tapi ternyata … usaha keras macam itu ternyata sering tidak menghasilkan perubahan yang signifikan . Quote dari bukunya, โ€œThat is the paradox of the epidemic: that in order to create one contagious movement, you often have to create many small movements first.”

Ini masalah perubahan pola pikir saja sih, ya.

Misalnya dalam Pilpres tempo hari sering saya mendengar kampanye teman-teman yang mengajak kita untuk benci sama Amerika Serikat misalnya. Apa coba? hihihihi.

Kita sudah terlanjur terjebak bahwa untuk melepaskan diri dari sesuatu kita harus MEMBENCInya terlebih dahulu. Gampangnya kan gitu . Habis mau ngapain? Ayo kita lawan dengan permusuhan. Musuhin Amerika Serikat? Terus apa gitu yang dicari?

Kalau masih mentok di pola pikir seperti ini, kalau buku Tipping Point masih dirasa terlampau berat, tontonlah film “How to Train Your Dragon” baik yang edisi 1 maupun 2 . Film ringan dengan sarat pesan moral keren.

Adalah seorang Hiccup yang berhasil menawarkan solusi ‘lain’ kepada warga desa Berk terhadap keberadaan Naga yang sudah sekian lama dianggap menyengsarakan. Naga adalah musuh. Titik. Tidak ada cara lain selain melawan.

Seperti juga ketika Hiccup mencoba nekat membujuk Drago dengan jalan damai untuk berhenti menangkapi para naga. Instead of menuruti saran ayahnya untuk tetap bertahan di Berk, menunggu Drago datang untuk selanjutnya melawan habis-habisan. Mainstream sekali kan? .

Tapi tentu saja, hidup tidak sesederhana itu, ya. Seperti Hiccup pun yang harus menyaksikan kematian ayahnya sebagai harga yang harus dibayar untuk ‘solusi lain’ yang diyakininya. But it’s always worth a try .

Kepedulian adalah kunci utamanya. Peduli untuk membuat perubahan dan peduli untuk tidak membuat keadaan lebih buruk.

Termasuk…peduli sama calon pemimpin bangsa kita dong ya ๐Ÿ˜‰.

Mungkin, sudah saatnya kita mencari pendekatan yang lain. Apa sih untungnya menantang sang Negeri Jantung Dunia dengan bersikap songong? .

Dunia tidak berputar seperti itu. Globalisasi adalah hal yang tak terhindarkan. Kita ini makhluk sosial. Termasuk dalam bernegara dan bersosialisasi di kancah internasional. Jangan berusaha membangun simbiosis yang bersifat parasit atau dengan cara balas dendam. Masih ada pilihan simbiosis mutualisme kan?

Mengapa harus terus membenci pihak lain? Kita miskin karena kita kecurian melulu? Hidup kita begini-begini saja ini pasti ulah si anu-anu-anu? Kita ini sebenarnya punya sumber daya alam luar biasa bla bla bla. C’mon, pesan Anies Baswedan, “Kekuatan terbesar sebuah bangsa adalah sumber daya manusianya, bukan sumber daya alamnya!” Yes? ๐Ÿ˜‰.

Cara kita memandang seorang pemimpin juga perlu direvolusi, nih . Postur tegap, wajah berwibawa, bibit-bobot-bebet dari kalangan ‘atas’, tegas jadi dianggap bisa nakut-nakutin (entah siapa yang mau ditakut-takutin hihihihi) … situ mau cari majikan atau pemimpin sih? Hahahahahahhaha .

Pemimpin adalah mereka yang bisa membawa perubahan. Mereka yang sanggup menjadi ‘trend setter’ akan hal-hal yang selama ini sudah sedemikian langkanya dilakukan hingga sedikit-sedikit kita mencibir dengan menuduh “Pencitraan lo!”

Sudah sekian lama kita dijerat oleh keadaan bahwa pemimpin itu ya memang harus ‘arogan’, harus fokus sama hal-hal besar aja enggak boleh kepo sama yang remeh-remeh, visi misi harus pokok-pokoknya aja ngapain ngurusin detail-detail, harus berpenampilan dan bersikap ‘wah’ jangan terlalu suka berbaur sama rakyat nanti hilang wibawa endebre, endebre, endebre … nah balik lagi, nyari majikan atau nyari orang yang bisa membawa kita ke perubahan yang lebih baik nih?

Buktinya seseorang telah hadir dengan cara tak terduga ๐Ÿ˜€. Jokowi datang dengan model kepemimpinan yang eksentrik.

jokowi culun hehe

Disangka lembut dan lemah tapi di Solo dulu hobinya mecat-mecatin camat yang ogah-ogahan dengan peraturan yang ditetapkannya. Disangka boneka partai tapi semasa jadi walikota pernah melawan Pak Gubernur yang merupakan senior di partai yang sama tapi tetap mencium tangan beliau tatkala bertemu kembali di mana Jokowi sudah resmi menjabat posisi DKI-1 . Little things that count .

Kehadirannya membuat media ramai-ramai mulai menyoroti pemimpin-pemimpin daerah lain yang tak kalah eksentriknya. Dimulai dari Jokowi, datanglah Risma-Ridwan Kamil dll yang juga menjadi media darling, mengimbangi peningnya kepala dengan kasus-kasus korupsi yang bikin emosi jiwa gak abis-abis hahahahahahha :p.

Biarlah lebay, but who knows … beliau adalah Tipping Point bagi perubahan yang sudah kita tunggu-tunggu. Tidak ada memang jaminannya. Manusia bisa berubah, Jokowi pun bukan tak mungkin akan berbalik arah dari yang selama ini kita idam-idamkan. Memangnya kita bisa apa? Kita doakan saja , sambil kita kawal terus pastinya .

Dikawalnya mbok ya yang sabaaaarr. Jangan dikit-dikit protes, dikit-dikit kritik, dikit-dikit ngamuk hihihihi.

Dari halaman terakhir buku “Tipping Point” saya kutipkan sekali lagi, “Coba perhatikan dunia sekitar anda. Kelihatan seperti mustahil untuk diubah, mustahil digoyah. Sesungguhnya tidak demikian. Dengan dorongan seringan-ringannya – asal di tempat yang tepat – apa pun dapat kita ungkit.”

gambar : apex-leadership.co.uk

gambar : apex-leadership.co.uk

 

Pelihara terus harapan kita sama-sama. Untuk Indonesia yang lebih baik. Untuk lingkungan yang lebih berkualitas. Kalaupun tidak untuk kita (soalnya udah telat yak hihihi) setidaknya untuk tumbuh kembang anak cucu kita nantinya .

Selamat bertugas Pakde Jokowi dan Bapak Jusuf Kalla untuk periode 2014-2019. Sudah sah? Sah!!!

Salam 3 jari! (akhirnya publish juga hahahahahaha).

***

5 thoughts on “Tipping Point, Little Things for Big Differences

  1. sayangkuuuu kau udah nyampe sana lagi yaaaaa??? Ahahaha gegara kau blg di jurnal yg dulu buku ini kubeli eh ternyata buku lama ye, dan…..karena masih baca fiksi kukasih ini ke hubby. Abis dari dia kubaca deh nanti, secara gak tebel tebel amat.
    Ah bisa aja ngana ngasih analogi pelem yang gampang dcerna *wink* pelem anak-anak pulaaaa ahahaa
    Kurang lagu doang nih tulisan yang ini. Mana sontreknya kakaaak

  2. Akhirnya ada lagi postingannya heueueue..
    Aku baca si tipping point ini uda lama tp abis baca cuma bs berkeluh kesah.. Envy sana envy sini.. Lupa kalo semua itu mulainya dr diri sendiri, hehe thanks for reminder..
    Doa sama teriring utk pak jokowi pak jk, doa kenceng dehh, mulai gerah liat petinggi PDIP baik ibu dan anak tampil di tv.. Semacam entourage wanna be kali yaa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *