Resensi Novel Gadis Kretek

Pak Radja sakit keras. Igauannya tentang sebuah nama tak hanya membuat sang istri, Purwanti, gondok dan marah-marah. Nama yang sama juga membuat ketiga anak laki-lakinya juga ikut-ikutan heboh .

Jeng Yah, adalah nama yang disebut-sebut Pak Radja saat itu. Cerita bergulir dari sana. Sebuah flash back menarik tentang masa lalu seorang Soeradja, juragan rokok yang sukses yang kala itu tengah sekarat dan mungkin berada di ujung maut.

Masa muda Soeradja saat merintis usaha. Perkenalannya dengan seorang saudagar rokok kretek. Disusul dengan hatinya yang jatuh kepada anak si saudagar. Yang membuat sang saudagar memuluskan langkah Soeradja menapaki tangga karier yang lebih baik dalam tempo lebih cepat.

Hal ini bukannya tanpa masalah. Desas desus dari karyawan lain membuat Soeradja mendadak menjadi malu dan bertekad untuk melepaskan diri dari bayang-bayang calon bapak mertua, Idroes Moeria.

Setting ceritanya berlangsung di tahun 1960 an. Kasih tak sampai Soeradja kepada si anak saudagar tak lepas dari peristiwa besar yang pernah menjadi titik balik dalam sejarah perjalanan bangsa.

Saat Soeradja tengah merangkai usaha bisnis dengan memanfaatkan pinjaman dana dari partai besar yang tengah naik daun kala itu, kejadian penting terjadi di ibukota. Merembet hingga ke daerah-daerah. Termasuk Jawa Tengah dan Yogyakarta, dua wilayah yang menjadi setting tempat dari novel ini. Saya agak bingung sih ya, dengan nama kota-kotanya. Soalnya antara Yogya dan Jawa Tengah, saya enggak bisa bedain kadang-kadang hehehe. CMIIW ya.

Tiga minggu menjelang hari pernikahan, Soeradja yang sudah mencium akan bahaya yang mengancam dirinya lari dari rumahnya. Dia hendak menuju rumah Idroes Moeria. Dengan mata kepalanya sendiri, Soeradja menyaksikan penangkapan terhadap keluarga mertuanya, termasuk melihat sang pujaan hati yang sebentar lagi akan dipersunting digelandang oleh para tentara.

Pergolakan tengah terjadi saat itu. Penangkapan besar-besaran banyak yang berakhir dengan mayat-mayat bergelimpangan setelah dibunuh begitu saja di sebuah kali besar. Semua orang-orang yang dicurigai ditangkapi termasuk kerabat dan orang-orang terdekatnya.

Soeradja memutuskan untuk pergi demi keselamatan calon mertua dan calon istri yang tak kuasa menghindari penangkapan karena bukti nama yang tertera di surat undangan.

Soeradja tak pernah terlibat politik sama sekali. Untuk memulai usaha rokok kreteknya sendiri, Soeradja berusaha menggalang dana tanpa melibatkan bantuan calon mertua. Tekadnya sungguh bulat untuk membuktikan kemandiriannya dan mementahkan sindiran orang lain kepada dirinya. Akhirnya Soeradja terpikir untuk membuat rokok dengan nama dagang Tjap Arit Merah.

Siapa pun yang terlibat apa pun dengan PKI memang dikejar-kejar begitu rupa. Belakangan Idroes Moeria dan anak gadisnya bisa dibebaskan berkat kepiawaian sang gadis melinting rokok kretek.

Walau Idroes Moeria harus pasrah ketika salah satu merek dagangnya, Rokok Merdeka dilarang diproduksi lagi. Hanya karena Rokok Merdeka menggunakan bungkus warna merah. Kelihatannya sepele ya, tapi memang begitulah propaganda yang disebarkanluaskan saat itu untuk menghantam PKI hingga akar-akar terbawah pasca Gestapu.

Padahal, bungkus merah dari Rokok Merdeka yang diproduksi Idroes Moeria itu sudah ada sejak zaman kemerdekaan. Warna merah yang dimaksud berasal dari warna bendera tanah air, merah dan putih . Sial banget yang usahanya “berbau kemerah-merahan” hanya karena PKI identik dengan warna merah hehe .

Soeradja mulai melupakan sang pujaan hati dan kembali nyangkut di tempat saudagar rokok yang lain, Soedjagad. Kembali membangun mimpi dengan kerja keras. Berkat bantuan Soedjagad jugalah, Soeradja bisa ‘membersihkan’ namanya dari status OT (organisasi terlarang).

Nah, siapakah Jeng Yah tadi? Setelah bertahun-tahun berlalu, mengapa Soeradja masih menyebut-nyebut nama Jeng Yah? Atas dasar cintakah atau gimana? Yuk ah, dibaca novel seru ini .

Walau settingnya sekilas terasa ‘berat’ dan ‘serius’, isinya ternyata ringan dan menghibur kok. Endingnya lumayan mengejutkan .

***

Waktu novel ini baru terbit saya sudah tahu dari blog pribadi pengarangnya kalau gak salah. Apa dari mana gitu. Suka banget sama covernya yang super ciamik, jadul-jadul gimanaaaa gitu hehehe… Terus terang, saat melihat covernya jadi kepikiran terus sama novel ini. Sempat lupa saat lagi hobi-hobinya membaca non fiksi  😀.

gadis kretek

Nah, karena tahun lalu ikut lomba dan dapat hadiah voucher 750 ribu dari Gramedia, novel ini langsung masuk daftar paling atas! Kalau gratisan emang paling gak mikir-mikir mau beli buku apa saja hahahahaha.

Sebelumnya, sudah pernah beberapa kali membaca cerpen si penulis novel ini, Ratih Kumala. Cerpennya memang bukan cerita biasa-biasa . Melihat tahun kelahiran pengarang yang persis seperti tahun kelahiran saya kadang ada rasa iri euy, ini gue kemanaaaaa aja yah, si doi udah menulis banyak buku, yang di sini masih mentok di dunia fesbuk ajah hahahaahhahaha .

Bintang 3 (dari 5) bukan karena novelnya tidak cukup bagus . Lebih karena saya dengan mudah menebak jalan ceritanya hihihihi . Tapi membacanya seru banget. Terlebih karena si pengarang memang sangat detil hasil observasinya. Tak sadar jadi tahu seluk beluk rokok filter dari membaca sekitar 200 an halaman novel ini .

Selipan sejarah penting Indonesia yang terjadi di tahun 1965 silam juga satu daya tarik penting buat eike yang suka sok-sok baca sejarah ini . Sisi sejarah bisa dipahami dengan lebih mendalam dari rangkaian peristiwa-peristiwa dan gambaran langsung di situasi saat itu daripada sekadar opini-opini bertebaran dari para pelaku sejarah itu sendiri bukan? :).

Jangan malas-malas membaca sejarah . Mungkin buat sebagian orang melelahkan, tapi melihat dari sudut pandang fiksi seperti novel “Gadis Kretek” ini, mungkin akan terasa lebih menyenangkan .

Masa lalu tak selalu menghendaki kita untuk saling menyakiti atau membangkitkan luka lama. Tapi justru menjadi penawar penting untuk ditarik hikmahnya untuk melanjutkan hidup di masa kini dan memperbaiki masa depan 🙂.

“Life can only be understood backwards; but it must be lived forwards.”
― Søren Kierkegaard

Gitu, deh, resensi novel Gadis Kretek ala saya. Selamat membaca ^_^.

****

2 thoughts on “Resensi Novel Gadis Kretek

  1. Masa lalu tak selalu menghendaki kita untuk saling menyakiti atau membangkitkan luka lama. Tapi justru menjadi penawar penting untuk ditarik hikmahnya untuk melanjutkan hidup di masa kini dan memperbaiki masa depan :).

    MANTAP!!!

    *jempol buat mbak jihan 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *