All That Is Gold Does Not Glitter :)

Setelah harta kekayaan para capres dan cawapres diumumkan, saya heran dengan komentar-komentar yang bernada, “Eh, katanya Jokowi sederhana. Sederhana kok hartanya sampai milyaran? Dasar tukang bohong!” Yang dukung Jokowi ikut-ikutan pengin belain deh jadinya :p.

Sejak kapan sederhana = miskin? Apakah kemewahan selalu berarti kekayaan? Pan sekarang apa-apa bisa kredit, hayooooo :P.

Ya, ya, saya enggak bisa bohong. Semasa saya tinggal di Jeddah dulu, beberapa kali harus ‘sakit hati’ karena masalah penampilan.

_MG_2977 resize

Suatu hari pernah datang di acara makan-makan di wisma KJRI. Saya, yang kurang gaul, akhirnya bertemu dengan banyak ibu-ibu dari ‘dunia yang berbeda’.

Memang agak saltum waktu itu hihihi. Tapi ya mau gimana lagi, stok abayanya memang itu-itu saja.

Saya datang berempat dengan tiga ibu-ibu telco lainnya.

Teman saya yang pertama ya memang gaul banget dan langsung mendapat ‘sambutan’ begitu masuk. Sudah terkenal lah namanya sebagai ibu-ibu ‘kalangan atas’ :D. Teman saya yang ke-2, yang memang penampilannya selalu mentereng, juga langsung mendapat respons yang oke. Teman yang ke-3, penampilannya biasa-biasa saja tapi dia dikenal sangat akrab dengan teman saya yang pertama tadi.

Duduknya kan melantai gitu. Saya mendekat, maksudnya mau duduk bareng mereka bertiga, agak terlambat masuknya karena ngejar-ngejar bocah dulu -_-.

Ealah, ibu-ibu lain yang disitu hanya melihat sekilas, melengos dan ogah memberi tempat. Mau colek teman yang 3 orang tadi, mereka sudah asyik mengobrol dengan ibu-ibu lainnya.

Saya pundung dan langsung ke luar ruangan. Suami nanya, “Lho? Kok malah ke luar? Enggak bareng yang lain?”

Saya menjawab jutek, “Di dalam panas!”

Keki ni yeeeee :P. Hahaha.

Di sekolah anak saya juga begitu. Anak saya kan bersekolah di sekolah Indonesia. Murid-murid di sana berasal dari Indonesia semua, datang dari berbagai kalangan. Dari anak supir, anak TKW sampai anak ‘gedongan’ hihihi.

Saya coba-coba jajan di kantin sekolah. Kata teman-teman saya, gorengannya enak, satenya endang, baksonya maknyus, nasi kuningnya top, ya bolehlah dijajal sekali-sekali.

Pas mau bayar, saya angkat abaya dan nyari-nyari receh dalam celana jeans. Saya orangnya malas ribet. Tas dan dompet suka ditinggal di mobil. Turun dari mobil, uang biasanya saya taruh dalam kantong celana jeans. Dasar cuek, duit ditaruh seenaknya jadi repot pas harus dikeluarin satu-satu nyari pecahan yang pas.

Eh, yang jaga kantin tahu-tahu bilang, “Enggak apa-apa kalau enggak ada duit. Di sini biasa kok ngutang dulu.”

Saya belum ngeh, “Ada kok, Bu. Ada. Bentar, ya.”

Penjaga kantinnya tetap ngotot, “Sudah, sudah, ngutang saja dulu. Memangnya kamu kerja di mana?”

What?? Not again! Hahaha.

Cerita lucu (lucu atau menyakitkan nih? hahaha) lain saat berbelanja ke Singaparna.

Suatu waktu, saya bertanya kepada penjaga toko, “Mas, daun singkong itu yang kayak apa, sih?”

Mas-nya langsung mendekat dan membantu mencari di rak. Eh tahu-tahu ada ibu yang menyeletuk dari arah belakang saya, “Memangnya sudah bekerja berapa lama? Masa daun singkong saja tidak tahu, sih?”

Ya, kaget dong. Nyolot amat. Saya menengok dan melotot ke arah ibu-ibu tadi. Saya tidak menjawab sama sekali tapi memberi tatapan setajam silet, semacam ingin bilang, “Rempong aje lo! Gue kan enggak nanya ke elo!”

Ibu-ibu itu orang Indonesia juga. Tapi memang, penampilannya ‘wah’ ;).

Sebenarnya sudah ada yang pernah memperingatkan saya saat saya masih tergolong ‘pendatang baru’ di Jeddah, “Eh, kalau keluar-keluar agak rapi dikit. Entar disangka pembantu, lho!”

Saya dulu suka geer, sih. Saya pikir, “Helooo, masa iya tampang kece beginih disangka pembantu! No way!” Melet-melet sambil *benerinPoni*.

Juli 2012

Saya salah besar. Di Jeddah, perlakuan yang kita terima berbanding lurus dengan apa-apa yang menempel di badan ;). Begitulah ‘hukum alam’ yang harus kita terima.

Tapi pengalaman paling juara lucunya (masih ngotot lho pakai kata lucu hahahaha) adalah saat acara arisan di salah satu sudut di tepi pantai Corniche Road. Kami datangnya konvoi waktu itu. Parkirnya deket-deketan.

Turun dari mobil nyaris bersamaan. Ibu-ibu lain langsung sibuk mencari spot yang pas sambil berjalan ke arah lokasi yang hendak kami datangi. Anak saya yang kecil masih bayi waktu itu, jadi turun dari mobilnya suka telat sendiri.

Pas lagi jalan mengejar teman-teman lain, ada yang menegur. Seorang ibu-ibu asal Indonesia yang lagi menggendong balita arab yang lucu banget. Sepertinya pengasuh anak di keluarga Arab. Sapanya ramah, “Orang Indonesia juga, ya?”

“Iya.” Jawab saya sambil mengangguk.

Walau saya sudah beranjak pergi, dia tetap menanyakan sesuatu, “Majikanmu orang Indonesia juga apa, ya?”

Tidaaaaaaakkkkk. Berasa ingin menggaruk-garuk tembok Masjid Terapung saat itu juga! Hahahahaha.

Bisa jadi mbak-mbak pengasuh anak tadi memang berpapasan duluan dengan teman-teman saya. Kelihatan kan kalau saya berusaha mengejar mereka. Ya pastinya mendengar percakapan teman-teman, dia langsung tahu kalau mereka juga orang Indonesia.

The problem is, sebagian besar teman-teman ‘satu geng’ di sana ya penampilannya kece-kece. Tasnya bagus-bagus. Salah sendiri ya suka sok idealis gak jelas! :P.

Itu baru dari sesama orang Indonesia. Belum lagi yang dari orang-orang Arab lokal atau dari jemaah haji. Nah, bagian ini sudah saya ceritakan tuntas di Chapter 3 buku “Memoar of Jeddah” hihihi. Ada yang sudah baca? ;).

***

Sakit hati? Jangan ditanya. Perihnya itu di siniiiiiiiii –> tepuk-tepuk dada. *mulaiDrama* :P.

Tapi, saya menjadi belajar sesuatu :). Jika saya lantas ‘mengalah’ dan mengganti barang-barang yang saya pakai (abaya, tas dan sebagainya), saya merengek ke suami agar beli mobil bagus, saya memenuhi sudut rumah dengan berbagai perabotan mahal-mahal … itu artinya saya ‘kalah’.

Mana boleh begitu? ;).

Bukan salah saya kalau orang-orang lain memperlakukan saya dengan cara berbeda. Saya tidak bertanggungjawab apa pun kalau mereka tak memperlakukan dengan ‘layak’ karena (mungkin) abaya saya yang biasa-biasa saja dan kebiasaan saya wara wiri ke mana-mana tanpa nenteng tas atau semata-mata karena apa-apa yang menempel di badan.

Gambar : karacure.com

Gambar : karacure.com

Kalau ternyata ada sakit hati, anggap saja itu harga yang harus dibayar. Mahal memang. But hey, mana ada sih ‘ilmu’ yang ‘gratis’? ;).

Saya ini manusia biasa. Pasti ingin dihargai dan tidak suka dibeda-bedakan. Tapi enggak pernah kepikiran dari dulu untuk mengharap hal-hal seperti itu datang karena penampilan fisik atau materi yang saya punya.

Dijalani saja. Ngomel-ngomel (lebih tepatnya, ngamuk-ngamuk :D) ke suami paling hihihi.

Uniknya, setelah saya menerbitkan buku “Bunda of Arabia”, beberapa perubahan mulai terjadi. Sebelumnya juga sudah mulai terasa, nama saya mulai dikenal gara-gara blog “Cerita Jeddah” yang saya gagas dan mengajak teman-teman lain ikut menulis di sana :).

Setelah “Bunda of Arabia” diedarkan, saya ingat mengunjungi salah satu ‘teman dekat’ di suatu malam. Dia sedang kedatangan beberapa tamu lain. Dia memperkenalkan saya kepada tamu-tamunya. Semuanya ibu-ibu juga.

Salah satu dari mereka berkata (sambil menjabat erat tangan saya), “Oh, ini toh yang namanya Mbak Jihan. Jarang main-main sih. Baru ketemu sekarang. Yuk, kapan-kapan ke rumah, ya.”

Saya iya-iya saja tapi dalam hati senyum-senyum sendiri. Saya bukan tipe pelupa kalau urusan wajah orang :D. Maklum, tipe observer alias emak-emak KEMAL (kepo maksimal) hahaha. Ibu yang tadi berbicara sering kok bertemu muka atau berpapasan langsung dengan saya di Toko Singaparna atau di beberapa acara lainnya ;).

bnnerBoA

Sedikit terselip rasa belagu dalam hati hehehe. Semacam pembuktian kepada diri sendiri untuk prinsip yang selalu diyakini. Penghargaan dan pengakuan orang lain hendaknya datang karena hal-hal (positif) yang kita lakukan bukan karena materi yang kita miliki :).

Be recognized for the things that we’ve done, not for the things that we’ve had.

Don’t get me wrong. Saya enggak ada dendam sama sekali. Ish, ngapain dendam-dendam. Kayak saya enggak pernah punya salah saja hehe. Kesalahan saya sendiri sih jangan-jangan lebih besar daripada itu *istighfar*.

Faktor lingkungan dan pergaulan di sana memang seperti memaksa kita untuk terseret. Bermewah-mewah seperti menjadi pembenaran atas, “Ya mau gimana lagi, daripada diremehin orang ya mau gak mau harus ikut gaya hidup begini.”

Lawan!

Kita bagai terkurung dalam pikiran, “Orang yang berpunya ya hidupnya harus mewah. Wajar itu.”

Tanpa sadar pikiran lain otomatis terinstal, “Orang yang biasa-biasa saja penampilannya itu ya bukan orang berpunya.”

Terjebak dalam paradigma di atas tadi, sederhana = miskin, mewah = kaya. Mempengaruhi alam bawah sadar kita untuk memberikan penghargaan lebih kepada mereka yang hidup mewah. Orang kaya gitu lho hehehe. Semacam menganggap mereka lebih hebat.

Seperti memilih presiden. Mentang-mentang Jokowi penampilannya cenderung biasa-biasa (tidak seperti umumnya pejabat tinggi lain), langsung dicap hartanya tidak banyak. Begitu dibilangin hartanya bermilyar-milyar malah marah-marah sendiri dan menuduhnya pembohong.

Setahu saya, Jokowi tidak pernah mengaku miskin, tuh ;).

Pejabat tinggi hidup mewah, kita anggap standar. Tapi sering juga kita curigai hartanya hasil korupsi. Lucunya, saat ada yang tidak hidup mewah malah kita lecehkan dan kita curigai. Pasti pencitraan. Jadi, maunya apaaaaa??? Hahahahaha.

Teringat salah satu pepatah bijak dari orang-orang dulu, “Kalau engkau hanya menilai orang dari penampilannya saja, engkau akan kehilangan banyak kesempatan bertemu dengan orang-orang hebat.”

Kalau kita hanya sibuk mengukur badannya yang tipis, posturnya yang kurang menjanjikan sebagai pemimpin, gaya hidupnya yang menurut kalian hanya pencitraan saja, terjebak dalam pola pikir “pejabat biasanya pasti mentereng”, rasa curiga membuat kalian buta akan rekam jejaknya … jangan-jangan kita kehilangan kesempatan untuk punya pemimpin yang beneran hebat :).

All that is gold does not glitter -J.R.R Tolkien-

Dukung Jokowi. Revolusi mental, teman-teman ^_^. Salam dua jari ;).

***

 

11 thoughts on “All That Is Gold Does Not Glitter :)

  1. ha ha ha.. kisah Mbak Jihan itu juga hal yang sering aku alami. Tapi aku memutuskan untuk tetap cuek bebek dan tetap pada aku apa adanya. Menjalani hidup karena aku memilihnya begitu dan sepanjang itu baik, benar menurutku dan tidak mengganggu orang lain. Bukan karena demi orang lain menilai aku, bukan demi meng-create atau menjaga image . Pada akhirnya yg akan terjadi seleksi alam sendiri Mbak. Siapa yang mau berteman dengan kita seperti apa adanya diri kita, merekalah sesungguhnya teman sejati kita.

  2. Olala sering kejadian tuh kalo di mall mall mentereng di Jakarta :D. Mau masuk ke butik yang jual tas monogram ituh mana dilirik kalo cuma pake celana pendek sendal jepit (padahal di dompet kartunyan platinum ๐Ÿ˜› ). Tapi bener kata Mbak Jihan, seharusnya kita jangan menyerah kalah sama paradigma orang. Just be your self and be sincere ๐Ÿ™‚

  3. hahahaha… kocaaakk deh…

    Aku juga ngalamin sih. Sebagai seorang casual yang sudah dipatenkan, yang sukanya ngejins n pake baju kaos, pas pulang kampung, temanku komen, “lo tuh ya, kok ngga kaya orang yang tinggal di jakarta sih?” hehehe… emang tinggal di gayanya harus gimana?

    Ujung-ujungnya nih, salam 2 jarii…. ๐Ÿ™‚

    Kalo aku, Garuda Indonesia Raya… ๐Ÿ™‚

    Salam damai… pisssss ^^

  4. Ha ha ha ha ha…membayangkannya bikin ngakak.
    Jadi ikut keinget diri sendiri… seorang sahabat sering bilang dan berkomentar tentang penampilan saya yang lebih mirip anak kuliahan dengan duit cekak. “kamu itu mbok ya beli ini itu yg menunjang penampilan. Duit banyak buat apa… kamu itu…”
    He he he he… saya cm bisa ngakak dengarnya… yaaahhh… mo gimana… drpd buang duit percuma kan mending dijadikan tanah, rumah, atau apa gt .. betul ga mb?

    *nyari persetujuan :p

  5. hahaha, Mbak Jihan, di Taiwan juga gitu, padahal ke mana-mana pake tas ransel + celana jins + sepatu kets tampang-tampang anak kuliahan, tapi tetep kalo ketemu mbak-mbak/mas-mas BMI ditanya juga “libur mbak?” atau “kerja di mana?” :p

  6. “Be recognized for the things that weโ€™ve done, not for the things that weโ€™ve had”

    sedap banget mba Jihan, jd semangat buat tetep idealis ๐Ÿ˜€

  7. jadi ngebayangin mbak abaya yang kece itu yang gimana yah?
    kebayang abaya itu cuma jubah item aja hehehehe

    akupun ga nyaman dandan aneh2..enaknya sih yah pake jeans dan kaos aja ๐Ÿ™‚

  8. Ahahahahha! Ngakak, mbak! Saya sendiri slebooor banget. ‘Untungnya’ dikarunia muka jutek, jd sebelum dipandang sebelah mata krn pake sendal jepit pas jemput anak, pake daster, sweater, krudung kumel ke swalayan, pake muka asli alias ngga pernah make up an, dsbnya, ya saya pelototin duluan, muahahah! Jd ya boro2 direndahin, liat muka saya lgsg jiper n nunduk :v

    But as always, I learn a lot from your writing, apalagi soal : “lawan!” Jd kl kapan2 saya merasa benar (palagi sy jg idealis bingits), dan orang2 nge-cap salah, saya ngga bakalan tunduk begitu aja. Ini prinsip guwe, masbuloh? Gituh ๐Ÿ˜€

    Btw, aku nyontek quote nya yak, hihi :p Makasiiiy buat pencerahannya^^

  9. hehehehe…ini aku banget sekarang mbak Jihan, ttg dianggap pembantunya. Mana aku ga dandan dan….ya emang ga gaya hidupku juga. Dikaruniai muka Jawa, jadi sering banget dikira sesama pembantu …. ๐Ÿ™‚

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *