Sekolah Anak di Irlandia

(Ini tulisan saya yang pernah dimuat di Tabloid Mom & Kiddie, edisi lama. Awal mei kemarin. Enggak ada kata terlambat untuk pamer ya, Kakaaaa hahhahhaha 😛.Ada sekitar 4 emak-emak Indonesia perantau lain yang juga diminta menceritakan pengalamannya tentang kurikulum sekolah di negara tinggal masing-masing. Sebagian dari mereka adalah kontributor di blog Mama Sejagat .
Di foto ini, yang atas tuh, ada Mama Bangalore-New Delhi, Mama Relda 😀. Saya kebagian sekolah anak di Irlandia.Dammit, ketauan deh umurnya hahaha.Ini naskah aslinya sih tentang sekolah anak di Irlandia. Enggak tahu hasil editannya kayak apa hihihi… Makanya rada ‘resmi’ dan enggak ada *benerinPoni* dkk pastinya :D) ***

Hari itu saya menghadiri salah satu seminar parenting yang cukup rutin dilaksanakan di sekolah anak saya. Seminar kecil sih biasanya. Peserta mungkin hanya 4-10 orang. Mungkin karena kesibukan di rumah, tak banyak ibu-ibu yang menghadiri seminar semacam ini di sekolah. Padahal gratis, lho. Maklum, di sini tak umum menggunakan jasa asisten rumah tangga 🙂.

Seminar berakhir sekitar pukul 11.30 siang. Pas dengan saat istirahat anak sekolah. Begitu keluar menuju pekarangan sekolah, ramainya anak-anak bermain di luar. Tak hanya ada anak-anak, ada sekitar 3-5 orang guru perempuan yang berjaga di sana. Semuanya bersiaga memperhatikan anak-anak yang berlarian di seluruh penjuru pekarangan sekolah yang memang luas banget itu.

Ada yang berdiri agak dekat ke pagar, untuk mencegah kalau ada yang keluar masuk mungkin, ya. Ada yang berdiri di tengah-tengah lapangan sambil sesekali memperingatkan kalau ada yang terlibat perselisihan. Lalu, terlihat seorang guru berambut panjang yang sepertinya sedang menemani beberapa murid yang masih nampak malu-malu ikut berbaur dengan yang lain. Mungkin anak baru.

Terkesan banget dengan pemandangan ini. Pengawasan penuh ternyata tidak hanya dalam kelas saja, saat di luar kelas pun, selama berada dalam jam sekolah, guru-guru tetap aktif memperhatikan murid-murid.

Anak saya bersekolah di St. Mary Primary School. Sebuah sekolah publik yang dibiayai oleh pemerintah di sebuah kota kecil, Athlone. Kota ini terletak sekitar 2 jam dari ibukota Republik Irlandia, Dublin. Sekolah tidak memungut bayaran sama sekali. Orang tua hanya diminta membeli beberapa buku dan iuran sekitar 20 euro per tahun. Seragam diwajibkan tapi tidak harus membeli model yang sama. Asal warnanya mirip tidak masalah mau membeli di mana.

Sekarang ini, putra sulung baru saja menyelesaikan selesai dari Senior Infant, selevel TK nol besar atau TK B kalau di Indonesia.

Kurikulum anak-anak setingkat TK di Irlandia enggak santai-santai banget ternyata. Ada pelajaran menulis, berhitung dan membaca juga sejak level junior infant (TK Nol kecil).

Tapi, metode pengajarannya sangat menyenangkan dan sama sekali tidak ada paksaan . Jadi, kemampuan membaca, berhitung dan menulis si kecil tidak pernah dijadikan patokan untuk naik kelas atau tidak. Murni untuk melatih keterampian saja.

Gurunya ada beberapa. Ada satu wali kelas yang menjaga penuh siswa selama di dalam kelas yang biasanya berlangsung dari pukul 09.20 pagi hingga 14.00 siang. Dinding kelas dipenuhi rak-rak berisi macam-macam mainan. Semuanya sudah disediakan oleh sekolah.

Ada guru khusus yang mengajar membaca, lho. Jadi, tiap hari sesuai jadwal anak-anak akan dipanggil satu persatu untuk mengecek perkembangan kemampuan membacanya. Ada semacam peer membaca tiap malam. Ringan, kok. Hanya satu halaman per hari. Isinya biasanya cuma 2-3 kalimat saja. Saat sang anak belajar membaca, anak-anak lain tetap bermain dalam kelas.

Saya senang karena anak saya jadi cepat bisa membaca-menulis-berhitung tanpa saya mesti repot-repot ini itu dan dia kelihatan riang dan tidak dipaksa-paksa .

Soal bullying selalu menjadi perhatian khusus di sekolah. Mungkin karena itulah, kamar kecil untuk anak-anak level junior dan senior infant hingga grade 1 diperhatikan betul. Kamar kecilnya terletak dalam kelas. Disediakan sebuah ruangan khusus di pojok ruangan.

Jorok tidak, ya? Saya beberapa kali pernah masuk dan memeriksa langsung. Bersih, lho. Saya tanyakan ke gurunya. Ternyata tiap hari memang ada petugas khusus yang membersihkan kelas beserta kamar kecil tadi.

St Mary Primary School terdiri atas 2 gedung dengan lokasi berseberangan. Pembagian kelasnya cukup unik. Anak-anak level junior infant, senior infant, grade 1 (kelas 1 SD) dan grade 6 (kelas 6 SD) ditaruh dalam lokasi yang sama. Sementara sisanya berada di gedung di seberang jalan. Menurut kepala sekolah, ini untuk mencegah senioritas berlebihan dari anak-anak kelas paling tinggi.

Justru anak-anak kelas 6 dilatih untuk menjaga adik-adiknya. Saya sering banget melihat sendiri, anak-anak kelas 6 ini diberi tugas mendampingi anak-anak level junior/senior infant dalam beberapa kegiatan. Seperti misalnya menemani mereka saat orang tua terlambat menjemput. Tentu saja, selalu ada guru yang mengawasi .

Anak saya juga cerita, kalau pelajaran olah raga, kadang ditemani oleh anak-anak kelas 6 ini. Katanya, “Big boys and big girls stay with us and teach me something while teachers are pretty busy with others.”

Kegiatan belajarnya tidak hanya dalam kelas atau olah raga. Ada kegiatan rutin tiap minggu yang namanya nature-walk activities. Kata anak saya, biasanya mereka dibawa berkeliling pekarangan sambil diajarin nama-nama pohon dan tumbuhan yang tumbuh subur di salah satu sudut pekarangan sekolah . Atau kadang dibawa naik bis ke taman dekat sekolah.

Hasil rapor anak saya sangat memuaskan. Keterampilan kognitif seperti membaca dan menulis bisa sejalan dengan keterampilan non-kognitifnya seperti communication skill dan kemampuan bersosialisasi.

Anak saya cerita, tiap minggu, posisi duduk diubah-ubah. Di kelas ada beberapa meja dengan berbagai warna : Red table, blue table, yellow table dan green table. Dia kadang berceloteh, “This week I’m in blue table with Tyrish, Kelly, Joseph and Tanvi.” Terus minggu depannya dia bilang lagi, “Mommy, I’m in red table now. You know, red is my favorite color. But I sit next to Hamzah. Last week, Hamzah was on green table.”

Tiap minggu juga ada pemilihan line-leader, student of the week, cushion-owner, yang biasanya digilir ke semua murid. Semua pasti mendapat giliran.

Oh ya, bagi anak-anak yang berkelahi, hukumannya berat. “They will stay at the big office for hours,” begitu kata anak saya. “Even if you forget to say thank you or sorry, teacher will be sad.”

Menurut pendapat saya, sekolah benar-benar berusaha memaksimalkan potensi si kecil dengan menyediakan berbagai macam ruang dan kegiatan untuk berekspresi. Sekaligus melatih sungguh-sungguh agar anak-anak memiliki tingkah laku yang baik. Dan semuanya tetap dalam pengawasan penuh untuk menjamin keamanan dan kenyamanan anak selama di sekolah. Semoga anak saya pun bisa mendapat manfaat optimal dari metode pendidikan yang tidak berat sebelah ini .

***

Btw, anak saya akan segera memasuki jenjang SD (grade 1) per tahun ajaran ini . Terima kasih buat Mrs. Gallagher yang sudah setahun penuh membimbing si Abil di kelas Senior Infant 🙂.

A teacher affects eternity: she can never know where her influence stops.
-Henry Brooks Adams

Thank you, Ibu Guru ^_^ …so very much 😉.

***

Note : intinya sih, pendidikan sekolah anak di Irlandia ini sangat menjunjung tinggi keutamaan tingkah laku :). Tapi tetap balance dengan ranah kognitif seperti membaca-menulis-berhitung, walau tidak dijadikan patokan utama penilaian ;). Yang paling penting sih … gratis ya Kakaaaa. Hahahahahahhaha 😛

True Story_Edisi 19_Tahun_VIII_Tabloid Mom&Kiddie_Sekolah Luar Negeri_Deppy (2)

6 thoughts on “Sekolah Anak di Irlandia

  1. Hi Mbak Jihan, ada satu fakta lagi yang buat aku temukan. Buku pelajaran matematika untuk anak SD di Irlandia gak ganti dari jaman suamiku. Oh betapa hematnya ini, gak perlu keluar biaya untuk bikin buku lagi.

  2. Mirip mirip nih stylenya ama sekolah tempat aku ngajar. Istilahnya “individual reading” kalo ditempatku. Bacanya cuma simple.nanti bawa pulang kerumah review sama ortunya trus besok pagi baca lagi.begitu terus.
    Anak2 seneng banget kalo dipilih jadi line leader dan student of the week.
    Pernah juga pas tema dalam 3 bulan itu ttg pet animals…aku beli turtle dan
    rumahnya, setiap hari digilir siapa yamg boleh bawa turtlenya pulang dan dibalikin besok paginya….

    Ini knp malah curcol disini

  3. Nah harusnya emang buat usia dini, kemampuan membaca, berhitung dan menulis gak dijadiin patokan untuk naik kelas atau tidak…. 🙂

    penasaran ama metode ngajar guru2nya…

  4. Menarik sekali ya pembelajaran di negara-negara orang. Ternyata banyak dan beragam cara orang mendidik anak-anak nya. Tinggal bagaimana kita sebagai orangtua memberikan pendidikan terbaik untuk mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *