Revolusi Mental, Tal, Tal !!!

Sudah nonton Mata Najwa malam tadi. Edisi “Ahok dan Ibukota”.

I really want this guy to be the DKI 1!

Dari dulu sudah merasa Jokowi-Ahok ini benar-benar duet maut! “Jalan panjang” mereka berdua dipertemukan di Pilkada DKI. Sungguh berharap Jokowi dan Ahok bisa mengepung Monas dari utara dan selatan 😀.

Terungkap jelas kritikan Ahok kepada terhambatnya masalah ibukota disebabkan birokrasi pusat. Tak bermaksud menyalahkan, AHok  tak segan-segan mengakui Pemda Jakarta pun bukannya tak luput dari ‘dosa’ 😉.

Kalau saya bilang, Jokowi dan Ahok itu modelnya setipe, kok. Cuma, Ahok itu orang luar Jawa. Kebetulan saya sendiri kan aslinya dari Sulawesi. Belasan tahun hidup di tanah Jawa bergaul dengan macam-macam suku, saya jadi tahu betul tabiat orang Timur itu agak mirip dengan orang Sumatera. Sama-sama kagak doyan basa basi dan tak segan-segan menyuarakan isi hati langsung ke mulut! Hahahaha  😀.

Jokowi itu tegas, lho. Boleh dicek rekam jejaknya di Solo dan perseteruannya dengan Gubernur Jateng dulu semasa beliau masih menjabat jadi walkot Solo . Cuma Jokowi lebih tenang dan tidak grasak grusuk 😉. Ahok ya gitu, deh, hahahaha. Sehingga banyak orang salah kaprah menganggap Jokowi itu ‘boneka’ yang bisa dimainkan 🙂.

Fenomena Jokowi – Ahok dan berkali-kali mendengar ceramah-ceramah Anies Baswedan soal “Kita harus memberikan kesempatan orang-orang baik untuk memasuki arena politik”, saya sampai pernah bilang ke suami, “Pulang ke Jakarta, yuk. Gue mau jadi caleg jadi tahun 2019. Tahun 2024 deh kalau gagal!” Hahahahahahaha.

Suami saya ngakak dan melecehkan, “Model kayak elo. Entar pas rapat dibully dikit langsung nangis!”   😀.

Anies Baswedan bilang, “Berhenti mengeluh tidak cukup!”

Yes! Ayo turun tangan . Jangan cuma bisa urun angan. Berharap semua berubah dengan sendirinya sementara situ maunya ngomel-ngomel doang atau diam saja.

Turun tangan untuk merobohkan birokrasi dan politik yang selalu dikesankan sebagai hal kotor dan terlarang . Mendukung orang-orang baik dan kompeten untuk memasuki pemerintahan dengan cara terhormat. Suara rakyat harus bergema lebih kencang daripada suara partai!!!

Lihat tidak sih bedanya Jokowi, Ahok, Ridwan Kamil, Risma, Nurdin Abdullah, Suyoto, Andi Rudiyanto Asapa, dengan definisi pejabat yang sudah melotok dalam pikiran kita. Pejabat tinggi itu ya MAKRO. Mikir-mikir strategis. Enggak boleh berlagak bak manajer, pecicilan sana sini. Itu tugas anak buah. Tugas bos besar itu cuma mikir. Gimana mau mikir kalau bahan-bahan yang mau dipikirin enggak lengkap 🙂.

Tonton wawancara Ahok ini! Anda bisa lihat Ahok menawarkan tidak sedikit solusi strategis yang didukung oleh bukti-bukti detail yang tidak mungkin didapatkannya hanya dengan duduk manis di belakang meja . Semuanya memang harus dimulai dari pemimpin.

Kabar baiknya, pemimpin itu kita yang pilih, teman-teman . Mari berubah bersama. Buang jauh-jauh paradigma pemimpin itu tak boleh terlalu banyak bersentuhan dengan yang mikro-mikro. You never know if you don’t go! Percaya deh, pengalaman membuktikan.

Untuk jadi planner yang optimal, anda harus menguasai banyak detail terlebih dahulu. Untuk merancang strategi, kuasai dulu medannya!

Saya punya banyaaaaak sekali pengalaman di dunia IT tentang ini karena dulu saya pernah bertahun-tahun menjadi programmer sebelum akhirnya menjadi system analyst dan business analyst 😉.

Banyak kok teman-teman saya yang jadi BA sejak fresh graduate. Tapi segera saya mensyukuri betapa banyak keuntungan yang saya dapatkan karena saya punya pengalaman mengurusi hal-hal teknis nan mikro-mikro itu hihihi.

Emang gatal-gatal ini, tempo hari membaca diskusi teman-teman saya soal makro vs mikro, CEO vs manager, strategis vs taktis. Padahal, program “management trainee” itu lagi hits di banyak perusahaan-perusahaan besar. Banyak perusahaan berusaha “membentuk” pemimpin yang benar-benar dari “bawah” . “Mereka” tahu benar pentingnya menguasai hal-hal yang sifatnya mikro untuk membentuk pemikiran makro yang lebih komplit.

Anda tahu MT sales di Unilever tuh ya, benar-benar diterjunkan ke pasar-pasar untuk blusukan dari subuh sampai malam. Bukan hanya di ibukota. Tapi disebar ke berbagai kota. Dari para “blusuker” inilah nanti yang terus merangkak naik ke posisi strategis. Begitu juga di bank-bank besar. Ada teman saya yang lulusan teknik masuk bank kudu jadi kasir dulu dan belajar tata buku! 😛.

Bill Gates deh contohnya. Sebelum jadi CEO di Microsoft, pasti dulu kerjaannya “blusukan” melulu kan di dunia coding dan bermain-main dengan source code . Makanya, pas jadi CEO pun, bawahannya ya mana berani kali bokis-bokis depan Bill Gates hahahaha. Mereka tahu bos-nya sangat paham seluk beluk yang “mikro-mikro” itu . Jangan-jangan sampai sekarang pun, Bill Gates masih suka ngoding tuh hihihihi.

Saya kutip salah satu komentar di blog saya, “…semakin ke atas tingkat manajemennya, maka masalah yang perlu diketahui adalah masalah secara makro karena masalah mikro diselesaikan oleh manajemen yg level lebih bawah. cuma aku setuju, blusukan juga penting karena saking banyak tingkatannya, masalah sebenarnya yang mau disampaikan malah jadi bias. jadi aspirasi dan yang nyampe juga beda dan kadang masyarakat itu hanya butuh didengar kok (Vivi).”

Lucu juga melihat teman-teman saya berusaha membandingkan pemerintahan negara sekelas Amerika Serikat dengan Indonesia. Onde mande. Di US, masih ada yang tinggal di kolong jembatan gak? Anak putus sekolah banyak gak? Mau korupsi gampang gak? Level pendidikan orang-orangnya setinggi apa rata-ratanya?

Di negara-negara maju dengan sistem yang sudah sangat established memang mengedepankan pemimpin yang “dandy” dan “jago ngomong”. Kalau levelnya masih kayak Indonesia, jangan disama-samain atuh 😉.

Kalau mau bertarung ideologis, apalagi sampai mau gaya-gayaan di mata internasional, kenyang-in dulu perut rakyat, sejahterakan dulu hidup mereka. Kalau sekadar makan teratur saja masih banyak yang kesulitan ya jangan berani-berani berbicara lantang soal disiplin moral, integritas bla bla bla. Rakyat masih banyak yang empot-empotan sudah berkoar-koar mau menantang negara lain hahahaha.

Lawan dulu musuh dalam negeri kita. Beperanglah melawan kelaparan, keserakahan dari para koruptor dan sistem yang kocar kacir.

“When there is no enemy within, the enemies outside cannot hurt you.”

Dalam kitab suci agama saya makanya tidak bosan-bosannya Tuhan memperingatkan umatnya untuk peduli pada mereka yang kurang beruntung ekonominya . Jangan dikira Islam hanya pintar mengurai soal salat dan puasa saja. Islam pun sungguh keras memerintahkan yang namanya keadilan sosial. Suatu hal yang ironisnya sungguh sulit ditemukan di negara-negara yang mayoritas muslim .

Jangan bilang saya liberal! Tanyakan pada yang menurunkan ayat-ayat suci dalam alquran!

Gandhi pun sudah menegaskannya, “Poverty is worst form of violence.”

Jangan pula terus-terusan membicarakan sumber daya alam. Teruuuus saja menyebut-nyebut soal minyak, minyak, emas, emas. Lihatlah Negeri Jepang. Punya apa mereka???? Yang membuat nama mereka melesat di mata dunia itu karena SUMBER DAYA MANUSIANYA. Etos kerja, kreatifitas dan moral mereka yang sungguh membuat kita semua iri bukan? 😉.

anies soal SDM

Sampai-sampai di pertandingan bola pun, kita semua serasa ditampar melihat supporter Jepang sibuk memunguti sampah seusai pertandingan berlangsung. Timnya kalah pula lho. Supporter lain mungkin malah sibuk menghujat atau menangis, atau malah selfie-selfie .

Lihatlah etos kerja orang-orang Arab. Maaf nih, soalnya suami saya pernah bekerja di Arab Saudi. Semua juga tahu etos kerja orang Arab pada umumnya (tidak semuanya ya) itu sangat gimanaaaa gitu.

Arab Saudi kaya minyak tapi lihatlah begitu sulitnya pemerintah mereka sekarang menyalurkan tenaga kerja mereka. Begitu gencarnya pemerintah Saudi sekarang mengancam perusahaan-perusahaan asing di negaranya untuk memakai tenaga kerja lokal.

Sampai perlu diancam segala lho. Mengapa? Karena perusahaan-perusahaan asing ya ogah menggunakan SDM Saudi yang dikenal tidak terlalu cemerlang dan (maaf) agak malas/lamban pula. Rugi dong. Mending memakai tenaga pendatang yang memang jauh-jauh merantau untuk mengadu nasib sekuat tenaga, lahir dan batin .

Jangan salah, dengan memakai tenaga asing, perusahaan harus merogoh kocek dalam-dalam karena Saudi memang bukan magnet yang menarik buat pendatang. Kehidupan yang agak “terisolasi”, pergaulan sosial yang tidak mudah, mau tak mau membuat perusahaan harus memikat pendatang dengan gaji besar. Hahahahaha. Maaf, pengalaman pribadi enggak bisa bohong .

Saudi mungkin merasa dirinya kaya jadi ya kurang telaten mendidik generasi mudanya. Sekarang, baru deh pada panik . Abegenya dah pada dewasa dan butuh pekerjaan. Sementara posisi-posisi strategis yang butuh skill tinggi malah diisi oleh orang-orang asing. Biasa dimanjakan, anak-anak muda Saudi ini ya mana mau pekerjaan ecek-ecek macam jadi level admin. Gengsi cuuuyyyy hahahaha.

Ingat, sumber daya alam itu suatu hari akan habis dan tak mungkin kita perbaharui. Tapi sumber daya manusia akan terus lahir dan lahir sebelum hari akhir datang .

Indonesia perlunya pemimpin yang mau bekerja dan sudah teruji dengan pengalaman menduduki kursi kekuasaan! Ingat, berpikir besar tidak sama dengan berbicara besar . Dan ingat juga, seseorang itu bisa kelihatan “level”nya ada di mana saat sudah pernah bersentuhan dengan kekuasaan. Apakah dia yang membawa perubahan atau dia yang terbawa carut marutnya sistem birokrasi kita .

Sistem masih lemah, pengawasan masih porak poranda, malah terpikat pada yang yang jago berpidato . Situ kira kita ini macam Amerika Serikat? Acara debatnya dinanti-nanti dan menjadi acuan penting. Duh, yang nonton di US tuh udah pada kenyang, orang pinter-pinter pula, enggak gampang kena propaganda murahan yang makin santer di pilpres ini .

Mental bawahan dan birokrasi yang masih bersifat “feodal” dan “yang penting bapak senang” ini yang berusaha mati-matian diubah oleh Jokowi-Ahok di DKI. Mereka berdua tidak segan-segan berinteraksi langsung dan membuka hasilnya seluas-luasnya kepada publik.

Ahok tidak takut tuh serapan anggaran menurun tajam dan dituduh tidak efisien. Karena dengan tegas dia bisa menunjukkan SECARA DETAIL (mikro nih ya Kakaaaaa :P) serapan anggaran yang dibangga-banggakan selama ini hanya topeng saja. Kata Ahok, “Ngapain lo pamer-pamer bisa nyerap anggaran kalau nyatanya kalian maling semua!”

Ahok juga ingin membangun sistem. Sistem yang bisa memberdayakan orang banyak. Bukan lagi berpikir mengenai kontrol atasan tapi REVOLUSI MENTAL untuk warga Jakarta semuanya. Tidak lagi berpikir bahwa rakyat harus menggantungkan nasibnya kepada pemerintah. Tapi membangun logika bahwa pemerintah itu JUSTRU pelayan rakyat. Pejabat yang harusnya lebih repot daripada yang “bos”nya. Bos pejabat itu ya rakyat .

Ya masa bos hidupnya lebih susah daripada pelayannya. Logika dari mana cuy?.

Btw, dari isi wawancara ini, walau Ahok selalu mengaku netral, saya rasa terlihat “jelas” ya ke mana sebenarnya dukungan Ahok dilabuhkan . Tonton videonya sampai habis.


Ingat teman-teman, berhenti mengeluh saja tidak cukup. Make that change… YOU!

Salam damai. Salam revolusi mental. Salam dua jari ^_^.

jokowi salam 2 jari

***

19 thoughts on “Revolusi Mental, Tal, Tal !!!

  1. Selama ini iya suka2 aja ama Ahok, tapi tadi malem abis nonton mata najwa…langsung confirm ‘jatuh cinta’ ama beliau ini. Dan masuk kamar berdoa khusus buat Ahok, semoga Tuhan selalu beserta beliau. Karena liat gelagat gayanya begitu pasti udah banyak pihak yang ‘gerah’ dan ngeri aja kalo dia ampe dijebak or apalah supaya dia jatuh. GOD BLESS u
    Ahok!

  2. Nice post mbak,
    I’m also an IT guy, ngerti banget yang mbak sharingkan di atas mengenai tingkatan karir seorang system analyst, yang awalnya harus kudu ngerti masalah teknis, seperti ngoding.
    Benar2 harus ngerti yang mikro2 dulu baru deh ke arah yang makro.
    Perumpamaan yang bagus untuk orang2 yang mempermasalahkan bahwa: “seorang presiden masak harus blusukan kemana-mana, itu bukan kerjaan presiden…blablablblabla..”

    • Iya tadi sudah ada yang komen dengan quote yang cocok tuh, “A journey of a thousand miles begins with a single step.” -Lao-tzu-

  3. Reblogged this on Kesukaannya Maya and commented:
    Setuju mbak, perubahan di Indonesia emang bukan cuma butuh pemerintah yang bersih aja tapi kesediaan rakyatnya untuk mau berubah (mau diatur lebih tepatnya)jadi lebih baik.
    Mudah mudahan pemilu kali ini bisa membawa angin segar buat Indonesia ya.
    Demi Indonesia baru, salam dua jari 🙂 #semangatnyoblos #nogolput

    • Bener mbak. Jangan sampai koar-koarnya doang. Nyoblosnya jangan lupa. Our support doesn’t count, our vote does! Salam 2 jari, jangan lupa pilih Jokowi tanggal 9 Juli besok 😉

  4. In general, satu paham dengan dirimu.
    Amerika bisa seperti sekarang adalah kondisi setelah 4 abad. Indonesia ? Masih “baby” cuy. Ibarat bandingan Mercedes ma Bajaj hihihi
    And yes, poverty is the enemy within. Jadi kudu beresin perut rakyat dulu secara itu adalah basic needs. Abis itu baru yang lain-lainnya (hukum Maslow, bo !)
    Urusan perut kelar, lanjutkan diberesin otak orang2nya pake sistem pendidikan yang bener. Spt yang dibilang Mandela, education is most powerful weapon to change the world. Karena mental berakar dari otak, bukan ?
    Salam 2 jari jugak !
    ^_^

    • Justru saya mendukung beliau karena untuk saya, beliau sudah sukses membangun harapan itu ^_^. Malah dikhawatirkan harapan orang-orang terlalu tinggi kepadanya. Tapi kalau yang ditanya dari sisi hater ya mungkin jawaban bisa beda hahahhahahahaha 😀 :p.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *