And Who Can Tell Where The Road Goes …

Tahun 2009 kemarin pilih presiden siapa? Saya pilih SBY! No regret 😉.

Saya setuju dengan suami, di bawah kepemerintahan SBY, minimal kestabilan ekonomi enggak hancur kan? Kritik bahwa dia kurang berani mengambil risiko, ah, ya mana ada gading yang tak retak.

10 tahun setelah memimpin, bisa dibilang namanya makin meredup hingga kini. Jangankan SBY, masih ingat akhir kepemimpinan Soekarno, Soeharto, Megawati, Gusdur, bahkan Habibie? Nyaris tak ada yang lepas dari kontroversi.

Gambar : Indonesiamatters.com

Gambar : Indonesiamatters.com

Soekarno dengan isu PKI-nya, Soeharto digulingkan, Megawati dengan prestasinya yang dinilai orang lebih banyak minusnya, Gusdur “ditendang” oleh orang-orang yang dulu mengusungnya ke singgasana nomor 1 di tanah air, Habibie? Tergugat karena peristiwa Timor Timur.

Kini, SBY dikeluhkan sebagai presiden yang hanya fasih bertutur tapi kurang berwibawa. Baru kemarin mendengar orang-orang mengeluh dengan SBY yang bisanya hanya jago pidato saja. Bisanya cuma menyanyi. Penampilannnya saja yang oke. Tahan banting pidato berjam-jam tanpa kehilangan “charming”nya dan tetap santun, pokoknya secara kemasan, SBY is not that bad 😉.

Dan semalam…hasil debat malah memunculkan nama Hatta Rajasa dan Jusuf Kalla . Hihihihi. How ironic. HR yang selama ini namanya tak pernah bergaung di pemerintahan padahal kiprahnya bukan 4-5 tahun saja lho. Adakah yang bisa menyebutkan prestasinya tanpa kilik-kilik Om Google.

Banyak yang menghina orang-orang yang memilih SBY karena tertarik dengan pesona “jago pidato”nya dan … kegantengannya mungkin? hahahaha . And look at you now People *sodorinKaca*. 

Gambar : unlam.ac.id

Gambar : unlam.ac.id

Saya tidak bilang kecerdasan verbal tidak penting. Tapi saya menolak anggapan orang yang tak terlalu pandai berorasi tak layak mendapat gelar sebagai seorang leader.

Anda tak hanya mendustai diri sendiri, larut dalam euforia sesaat, tapi juga mencederai prinsip-prinsip pendidikan dasar. Bahwa sejatinya semua manusia itu cerdas . Kecerdasan verbal hanya salah satu diantara 8 kecerdasan pada teori pendidikan yang kini tengah tumbuh pesat.

Bersama verbal masih ada kecerdasan logika, interpersonal, intrapersonal. natural, kinestetik, visual dan musikal. Anda boleh cek, tak semua pemimpin dunia dianugerahi kemampuan verbal yang bagus . Tapi satu hal yang pantas, seorang leader itu PASTI membawa perubahan. Setidaknya orang-orang banyak mengetahui bahwa dia berjuang untuk itu 🙂.

Sungguh ceroboh jika kemampuannya bersilat lidah dijadikan satu-satunya alat untuk mengukur. Kemampuan verbal is a good thing. Bukannya narsis, hasil psikotes saya beberapa kali selalu menunjukkan bahwa saya memiliki kemampuan verbal yang terbaik diantara 7 kecerdasan lainnya hehehe. Makanya, waktu di bangku sekolah dan kuliah paling banci tampil kalau presentasi hahahahaha.

Walau mungkin posisi-posisi tertentu sering terkait dengan kecerdasan tertentu juga, tapi jangan lantas buru-buru menghakimi . Korban kekaguman kita yang berlebihan pada kecerdasan verbal dan logika yang secara umum memang masiih dianggap sebagai “level orang pintar” akan menyakiti generasi penerus yang ternyata tak ditakdirkan menguasai keduanya :(.

Kita akan terjebak dalam hal yang sekarang kita takutkan. Marah pada sistem pendidikan yang mengarah pada keseragaman, gak suka anak-anak dinilai hanya dari hasil UN, anak-anak dikasih banyak pelajaran menghitung dan membaca di usia dini, bla bla bla. And then… look at you last night. Shame on you, no? 

Cerdas secara verbal biasanya seiring sejalan dengan hobi membaca, makanya orang-orang verbal terkenal asyik sebagai teman mengobrol karena serapan informasinya cukup mumpuni. Walau mungkin didominasi oleh gosip-gosip artis doang misalnya hihihihi *ngikikRumpi* .

Einstein sedari dulu sudah bilang, “‘Everybody is a genius. But if you judge a fish by its ability to climb a tree, it will live its whole life believing that it is stupid.”

Terlepas dari semua itu, jangan menghina orang kenapa, sih? Hahahaha. Sungkem dulu sama Pak Moderator, saya sempat ikut membully, nih. Padahal beliau ini, Zaenal Arifin Mochtar itu kakak kelas dari zaman SMP sampai SMA :D.

Moh. Fauzil Adhim @kupinang
“Bahkan seorang profesor paling cerdas sekalipun, adalah orang awam dalam urusan lain. Maka jangan pernah merasa paling berilmu.”

Pendukung Jokowi, langsung berpesta pora melihat semalam Prabowo sepertinya tidak dalam performa terbaiknya. Rekam jejak, teman-teman, rekam jejak jangan lupa! Prabowo itu bukan orang sembarangan terlepas semalam dia grogi atau tidak. Dia masih manusia, lho. Apakah calon pemimpin harus selalu tampil sempurna?

Gambar : article.wn.com

Gambar : article.wn.com

Pendukung Prabowo, langsung nyinyir tiada tara pada Jokowi. Remember my friends : Thinking and doing are two very different things 😉.

Dan lucunya, banyak yang memuja Hatta Rajasa dan Jusuf Kalla. Langsung lupa deh kalau keduanya adalah “produk” dari “pemerintahan lama” yang sarat masalah. Nama mereka membubung tinggi karena di atas panggung, sanggup berceloteh bak penceramah ulung . Justru kudu curiga, omongannya besar, prestasinya gak terlalu menonjol, ada apakah? hehehe 😛

Gambar : jusufkalla.info

Gambar : jusufkalla.info

Ya beginilah kita. Asyik mencela pemimpin, lupa menaruh kaca di hadapan diri sendiri. Termasuk saya 😀 *nyengirPalingLebar*.

Mungkin … tak hanya mereka-mereka yang di atas yang butuh revolusi mental. Kita pun sebenarnya juga butuh hihihi. Oh well, samar-samar ingat dengan, “orang baik berjodoh dengan orang baik.” Jangan-jangan rakyat labil juga jodohnya pemimpin yang labil hahahaha. Becanda :P.

Sedikit pesan untuk menghadapi pilpres tahun ini. You choose whoever you like and forget the other option you have before. Iya, dong. Menyesali masa lalu itu sama sia-sianya dengan mengkhawatirkan masa depan.

Masa lalu apa lantas dibenamkan begitu saja. Kagak dong! Dipelajari biar enggak diulang lagi bukan? Mengkhawatirkan apakah pilihan kita akan sanggup menegakkan harapan kita? Sudah dibilang, itu juga tak ada gunanya! Berharapnya sama Tuhan saja ^_^.

Saya semalam wara wiri di Twitter ketemu kalimat bagus ini dari akun @gitasudjarwo : “Siapapun presidennya, punya kekurangan kelebihan. Tidak ada yang sempurna. Pilih dengan hati. Lalu doakan mereka. Biar Tuhan melengkapinya” 🙂.

Siapa sih yang bisa meramal masa depan? Dengan cara apa kita tahu apa-apa yang menanti di kemudian nanti sebelum ajal menjemput?

Enya punya jawabannya 

Who can say where the road goes
Where the day flows, only time
And who can say if your love grows
As your heart chose, only time

Who can say why your heart sighs
As your love flies, only time
And who can say why your heart cries
When your love lies, only time

Who knows? Only time

( Song “Only Time”)

Hanya waktu yang bisa menjawab. Itulah mengapa, selamanya kesetiaan kita harus berlabuh HANYA kepada Sang Pemilik Waktu 🙂

***

9 thoughts on “And Who Can Tell Where The Road Goes …

  1. Dan kau tau Enyaaaa???? eng ing eng. Hampir kunamai si Gaoqi dengan Enya tapi di-veto suami. Suka Anywhere is juga kaaaah ahahaha coba kita satu sekolah ya….kita pasti bikin dua gank karena kompetitip untuung ketemu di usia 30 an uhuuuy.
    Melihat pilihanku dulu aku mungkin menyesali kenapa mereka tidak seperti yg kuharapkan (SBY-Boediono), pernah pilih PKS sampe berdebat sama ortu, tapiii aku tak menyesali memilih mereka karena menurutku mereka tetap pilihan terbaikku saat itu, gitu. I choose the right side, at that moment dan the best choice between all the options given at that time. Jadi benerrrr, aku setuju, jangan skeptis gegara pilihan di masa lalu kita itu kita anggap ‘gagal’. Karena itu yg paling berhasil untuk masanya. Kan udah didoain ahahaha

  2. Pak SBY pernah curhat ke Pak Amien Rais, kata beliau saya ini tidak diterimakasihi rakyat. Kemudian beliau membeberkan beberapa hal yg berhasil diraih selama pemerintahan beliau. Kalau nggak salah saya nonton di satu jam lebih dekat bersama Pak Amien di TVOne.
    Penginnya paket komplit, Mbak. Orasi pinter, jujur, adil, amanah, dll. Hehehehe… Tapi yg paket komplit dan sempurna gitu hanya ada pada diri Rasulullah aja ya 🙂

  3. aku termasuk orang yang kadang2 ‘gosip’ sama temanku, ‘apa sih yg diliat orang dari sby? cakep, ganteng, teraniaya?’ xixixi… dulu kalo ga salah milihnya kalla…. 🙂

  4. Ahh….mbak Jihan ini selalu mantap postingnya…
    gak pernah terfikir olehku tentang multiple intelligences itu…

    kalo aku sih mikirnya, selama pemimpin itu memiliki niat yang tulus, ikhlas dalam berbuat, beliau pasti sangat meminimalisir keluhan dan “gak begitu” peduli dengan cap orang.
    dua postingan akhir-akhir menekankan kalo apapun kebijakan pemimpin pasti akan menghasilkan dua persepsi bertentangan.

  5. sy setuju banget mbak dengan kalimat @gitasudjarwo, siapapun presidennya pasti punya kekurangan kelebihan. Dan setiap kita pasti punya penilaian masing2 terhadap sepak terjang kedua capres cawapres. Menurut saya ga perlu jg berlebihan (bahkan mati matian) mencari kekurangan masing2. Jd benar, “pilihlah dengan hati, lalu doakan mereka. Biar Tuhan melengkapinya.” 🙂

  6. He, yang pasti, kalau salah satu dari kandidat sudah terpilih. Tak akan cukup apabila kita tidak ikut membantu mensukseskan program-program yang ada nantinya.

    Kalau bareng-bareng bisa kerja sama, bisa saling mendukung dan melengkapi satu sama lain, yang dipimpin dan yang memimpin, yang diberi kebijakan dan yang memberi kebijakan. Insya Allah, jadi baik juga negeri yang dicinta ini. 😀

  7. aduhhh selaen postingan mba jihan yg yahud, dan bikin + thinking, posting komen komen di atas juga keren2,, bikin ga jadi apatis, insya allah indonesia maju yaaaaaaa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *