In Her Shoes

Seorang teman pernah bertanya kepada saya, “Kok hak talak itu hanya ada sama laki-laki, ya?”

Pertanyaan itu diungkapkan sebelum saya menikah jadi ya mending mingkem hehehe. Jawabannya tentu ada cuma waktu itu saya aja yang belum tahu .

Lalu, di suatu pengajian ibu-ibu waktu masih tinggal di Jeddah dulu entah Ibu Ustazah awalnya membahas apa, tahu-tahu membahas soal kehidupan perkawinan. Dan melontarkan suatu pertanyaan, “Kalau seandainya hak talak juga diberikan kepada istri, ibu-ibu di sini jawab jujur, ya. Sudah berapa kali mengajukan cerai ke suami kalau lagi berantem?”

Langsung yang dibalas dengan seisi ruangan terkikik-kikik hihihihi . Saya sih bukan ngikik lagi tapi langsung ngakak hahahaha. Tersindir luar biasa .

Kalau kata sebuah pepatah kuno, “9 perasaan dan 1 akal pada perempuan.”

Karena itulah katanya konon, perempuan itu makhluk yang lemah, gampang diboongin, kalau berdiskusi kadang gampang meledak, nonton film sedih gampang galau terus pakai nangis segala, hidupnya pun penuh drama.

Eh, ini lagi mendeskripsikan perempuan secara umum atau lagi menceritakan diri sendiri? Hahahahhahahaha 😛.

in her shoes

Gambar : paradise4women.com

***

Waktu masih gadis kalau melihat adegan orang melahirkan di televisi saya suka bilang, “Lebay amat, ampe itu urat keluar semua. Sesakit apa sih?”

Eh, enggak lama dikiriman teman sebuah artikel yang menerangkan secara fisiologis dan biologis tentang proses dalam tubuh saat melahirkan. Habis baca sampai rasanya mau pingsan, hahahaha. Konon, saat melahirkan, rasa sakit yang ditanggung oleh seorang perempuan bisa sampai ribuan kali lipat daripada rasa sakit normal yang sanggup ditanggung oleh manusia biasa secara umum.

Eike yang penakut ini apa sanggup melahirkan?

Yaela, baru sebulan setelah menikah saja sudah lupa semuanya dan sibuk berdoa minta diberi kesempatan untuk hamil! Hahahaha. And the rest is history. I’m a mom of 2 now ^_^.

Benar tidak isi artikel itu? Enggak pakai pikir panjang, BENAR BANGET! Hahahahaha. Walau berjuang susah payah mempraktikkan hypnobirthing dan terlihat tenang (cuma merem melek doang) sampai bikin susternya yang panik hihihihi, sumpah ya Maaak, masa-masa kontraksi itu benar-benar ‘penuh perjuangan’.

Sama saja saya rasa dengan yang melahirkan via SC. Bayangin itu perut disobek terus dijahit lagi. Hiiiiyyyy *bergidik*.

Setelah melahirkan apa duduk manis dan tidur-tiduran saja. Entar duluuuuu…dilanjut dengan drama ASI . Yang ibu kantoran kekhawatirannya nambah karena harus prepare perasan ASI di kulkas. Sampai kurang tidur karena ngejar target. Subuh-subuh bangun mompa. Bisa 2x semalam.

Selesai ASI ya masih panjang perjuangan. Jam kantornya enggak ada. Semacam 24 jam gitu kali, ya. Apalagi kalau anak sakit, rasanya dada, pikiran dan sekujur tubuh ikut berdentum-dentum . Kalau anak sakit, dijabanin begadang sampai beberapa malam juga kuat. Padahal dari pagi sampai siang kan banyak juga ya rutinitas lain yang enggak mungkin ditinggal.

Ffiiuuuhhh *ngelapKeringat*. Logikanya, kalau kita pakai akal doang nih, ya, bagaimana cara seorang perempuan yang sudah mejadi seorang ibu bisa melewati semua itu? Coba gimana? Pikir sana pakai otak 😛.

In Her Shoes

Gambar : sextonfitness.com

Baru-baru ini beredar sebuah video. Di grup WA ada yang upload, di timeline juga bertebaran. Kalimat pembukanya : “We created a fake job.”

Beberapa applicant mulai melamar. Deskripsinya sungguh berat. 24 jam sehari. Kerjanya malah katanya banyakan berdiri bukan duduk di kursi. Harus selalu stand by. Para pelamar mulai bingung, ragu dan skeptis. Pekerjaan apaan, nih? Mereka bertanya soal gajinya. Sang pewawancara mengatakan, “The position gonna pay absolutely nothing.”

Ha? Pekerjaan seperti itu dengan penghasilan 0 rupiah. Siapa pula yang mau? Akal mana akal? 😀.

This world’s toughest job requires us to stand by for 24 hours per day (mostly standing), to have an excellent skill in finance-communication-interpersonal-negotiation etc, and to be able to get nothing in nominal. As it’s said before, the positiion gonna pay absolutely nothing.

Becoming a mom, is the world’s toughest job according to the video. Menilik kembali deskripsi kerjanya, siapa yang sanggup atau siapa yang mau berada di posisi itu? Logikanya macam mana tuh 😀.

Karena begitulah ya teman-teman, sang Pencipta Yang Mahatahu dan Mahasempurna menciptakan sosok perempuan 🙂. Cikal bakal para ibu ini mungkin terlihat rapuh, cengeng, labil, ya maklumlah perasaan-nya sering berperan lebih besar.

Karena kalau perempuan diciptakan seperti laki-laki yang katanya lebih mudah berpikir logis, apakah ada yang mau bertarung di kamar bersalin knowing the fact that they’re going to bet their life for doing that? :).

Setelah melahirkan, ‘pekerjaan’ masih terus berlanjut tanpa job desc yang jelas dan menyita sebagian besar waktu tanpa ada jaminan penghasilan tertentu. Kalau hanya akal dan logika yang digunakan, akan banyak perempuan yang akan ogah jadi emak-emak hehehe.

“9 perasaan dan 1 akal” ini pula yang seharusnya kita gunakan untuk memahami banyak polemik di dunia perempuan yang seringnya tak mudah ditakar pakai nalar doang? Misalnya … mengapa ada perempuan yang sampai mau melacurkan diri untuk menghidupi anak-anaknya?

Adalah sangat tolol kalau ada ibu-ibu yang berani bilang, “Ya itu karena dia malas saja. Maunya kerja enak-enak terus dapat uang?” KERJA ENAK-ENAK???? :'(.

Waktu masih gadis saya memang suka merasa aneh dengan isi ceramah yang menasihatkan perempuan untuk selalu melayani permintaan suami kalau mau ‘itu’. Katanya, pelayanan ‘itu’ termasuk salah satu hal penting untuk menjaga keharmonisann keluarga. Otak gadis saya berpikir, ya masa mau nolak. Kan enak ‘itu’. Hahahhahahahaha .

Ibu-ibu yang sudah menikah pasti paham ya maksud eike? 😛.

Kalau sekadar melayani suami sendiri saja kadang butuh ‘perjuangan’ berat, maka mengapa sampai bisa berpikir ada perempuan yang bercita-cita untuk menghabiskan malam-malamnya berbagi ranjang dengan pria-pria yang mungkin tahu namanya saja tidak  Bayarannya kadang cuma goceng pula.

Berzina itu dosa besar. Pasti masuk neraka. Ya bodoh kalau sampai tetap mau. Otaknya di mana?

Karena kadang keputusan seberat ini diambil bukan pakai akal saja 🙂. Perasaan ibu-ibu mana sih yang bisa tahan kalau anak-anaknya hidup susah, butuh makan, butuh ini itu.

Kita kan tak diciptakan dengan kondisi sama dengan kekuatan batin yang kuatnya merata. Tak sedikit yang diterpa kesulitan ekonomi, demi anak-anak, akhirnya menyingkirkan akal sehat dan memutuskan untuk berlari di lintasan yang sungguh tak mudah itu.

Jadi ya ibu-ibu, hati-hati dalam menanggapi berita soal ‘pekerja Dolly’ yang menolak jika Dolly ditutup. Bijaksanalah . Kalau tak sanggup memberi solusi setidaknya jangan menyakiti dan nyinyir macam-macam . Sama-sama perempuan kita ya . Put ourself in their shoes. In her shoes :). Kita dibentuk dari jalan hidup berbeda-beda, sikon yang tidak sama dan ujian yang tak sama beratnya.

Kita semua tahu kok kalau itu dosa. Tapi kata pepatah lagi nih ya, knowledge knows what to say, but wisdom defines when to say it 🙂. Sumpah, ini bukan kata saya hehehe.

Mari kita fokus kepada peran pemerintah. Bagaimana mencegah kaum perempuan terjerumus kepada hal-hal seperti ini. Kalau pun ada yang memilih dengan sadar setidaknya bisa kita kurangi mereka yang terpaksa membenamkan diri pada jalan hidup seperti ini.

Itulah tugas berat pemerintah untuk menjamin kesejahteraan mereka yang kurang berpunya khususnya anak-anak yatim dan terlantar yang ditinggal oleh pemberi nafkah di keluarganya. Percayalah, tak sedikit ayat dalam alquran yang memerintahkan kita mengasihani anak yatim 🙂. Beban si ibu seharusnya tidak dipikulnya sendiri. Be in her shoes :).

“Perhaps it takes courage to raise children..”
― John Steinbeck, East of Eden Hazard

In Her Shoes

Gambar : women2.com

Despite all the drama, sifat yang seringnya terlihat moody banget, susah pula dimengerti kadang apa maunya 😛, dengan “9 perasaan dan 1 akal” yang katanya ada pada kami, masih merasa kaum perempuan adalah makhluk yang lemah?  *benerinDaster*   😀 😀 😀.

Kepada seluruh pejuang-pejuang cinta di mana pun pemberani-pemberani ini berada yang seringnya bertarung tidak dengan otot saja, logika pun sering dterabas tapi dengan cinta sejati yang lahir dari perasaan … Happy (belated) International Mother’s Day ^_^.

-Salam Perjuangan dari Athlone-

In Her Shoes

***

19 thoughts on “In Her Shoes

  1. Salut ya mba.. buat para ibu. Aku emang masih sendiri… tapi aku melihat dan tau bagaimana ibuku membesarkan kami… salut buat ibuku… dan rasanya aku mungkin ngga akan sekuat beliau jika nantinya sudah menikah dan menjadi seorang ibu….

  2. Ish! Ternyataaaa di athlone sukak pake daster jugaaakk…! 😆
    Aduh, baca jurnal ini aku jadi inget ibuku, betapa berat perjuangan beliau dulu. Bok, gedein 16 anak gituuu, tanpa suami…. :'(
    Dan perasaanku soal pekerja seks persis sama dgn yg kau tulis ini, neng poni. Lah, ngelayanin suami sendiri juga kalo mood lagi jelek (kerjaan rumah belon beres, anak2 belon mandi, kepikiran pula kerjaan kantor yg mau deadline, tanggal tua pulak! >>> curcol! ) 😆 rasanya males pisaaaaann! Kalo nggak inget bakal dilaknat semaleman sama malaikat kali udah langsung molor aja, deh. Hahaha…

  3. “Kalau tak sanggup memberi solusi setidaknya jangan menyakiti dan nyinyir macam-macam . Sama-sama perempuan kita ya . Put ourself in their shoes. Kita dibentuk dari jalan hidup berbeda-beda, sikon yang tidak sama dan ujian yang tak sama beratnya.”, setujah mbak eyke…..

  4. Aih… di Athlone pake daster gak kedinginan tuh? 😀
    Happy -belated- mother day Jihan… makasih sudah membuatku seneng, siang2 lg laper baca tulisan ini jd lupa lapernya hahaha….

  5. ah, selalu mbak Jihan menulis dengan perspektif yang berbeda. kalo dulu mikirnya wanita lemah karena menggunakan perasaan daripa logika. tapi ngelihat dari sudut pandang mbak, bener banget bahwa itulah yang membuat wanita kuat. dan itu sebabnya Alloh SWT “memilih” wanitalah yang harus melalui perjuangan hamil-melahirkan-menyusi. aku ngefaaans berat sama tulisan2 mbak 🙂

  6. Iya ya mbak, alih alih nyinyirin, semoga kita bisa sama-sama setulus hati mendoakan biar para pekerja di Dolly segera mendapatkan jalan. Jadi inget video bu Risma, nangis liat betapa prostisusi dampaknya begitu “sistemik” *apa pula dikira century*. Semoga penutupan Dolly ini hanya berat diawal bagi yang terimbas, tapi menghasilkan efek positif yang lebih banyak dan jangka panjang. Amin 🙂

    Btw, sukaaaaaaaa banget sama tulisan tulisan Mbak Jihan :*

  7. Mbak Jihan, tulisan ini cakep. I’m a mother of 4, kalikan dua brarti dengan perasaanmu wkwkwk… Kadang saya pikir terlalu banyak berperasaan itu salah, tapi belakangan saya belajar di situ letak kekuatan dan kelebihan perempuan. Pun tentang perempuan-perempuan yang tak seberuntung kita di luar sana, orang-orang sebenarnya harus mengerti setiap pilihan sebagaimanapun buruknya, tetap harus dipertimbangkan alasan-alasan yang mendasari diputuskannya pilihan itu. May they’ll find a light to make their lifes brighter. Salam emak-emak 😀

  8. salam kenal mbak jihan, saya suka baca tulisan mbak. baru sebulan tahu baca status fb mbak dr share tmn langsung jatuh cinta. saya juga lahir di keluarga besar, saya sulung dr 8 bersaudara, tp nasib saya tak seberuntung mbak. ibu saya membesarkan anak2nya sendiri tanpa asisten disamping membantu bapak bertani di ladang.

  9. membaca ini..and realized that we’re..women..is strong and tough..and we’re not alone..even we’re always complaining but it just our way to relaxing our mood..hahha…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *