Not All Those Who Wander are Lost

Salah satu daya tarik Irlandia di mata saya sebelum pindah ke sini adalah fakta bahwa Irlandia tetanggaan sama Inggris Raya hihihi. Harapannya, gampang mau nemplok ke sono. Idiiiiih, ternyata paspor hijau tua tetaplah paspor hijau tua *langsungLemes* hahahaha.

O'Connell Street, Dublin

O’Connell Street, Dublin

Baik Inggris Raya maupun Irlandia, keduanya tidak masuk wilayah Schengen. Ho-oh, untuk ke Schengen pun, kudu adu urat di imigrasi ngurus visa dengan harga visa yang enggak murah. Inilah ribetnya kedua negara yang berada di ujung barat Benua Putih ini.

Konon, Irlandia juga menolak masuk wilayah Schengen sebagai bentuk solidaritas kepada Inggris Raya. Karena pemegang paspor Irlandia bebas lalu lalang ke Inggris tanpa visa. Berbeda dengan pemegang visa Schengen yang tetap kudu apply visa untuk masuk Inggris. Kalau Irlandia masuk Schengen, Inggris Raya yang selama ini tidak terlalu pusing dengan pendatang dari Irlandia harus memperketat imigrasinya. Pusing gak lo? Hahhahaha.

Inggris Raya, negeri paling kece di Eropa ini (di mata eike :P) juga menetapkan biaya visa yang cukup tinggi untuk pemegang paspor hijau tua. Ya nasib, ya nasib. Pas apply-nya pun rese’. Pakai agen, boooo. Tinggal di desa memaksa kami sekeluarga kudu datang beramai-ramai ke kantor agen di Dublin. Dokumen segambreng, pakai difoto-foto langsung dan cap jari lengkap, kap, kap!

Seluruh energi liburan sudah tersita untuk ngurus visanya doang yang itu pun belum tahu bakal di-approve apa enggak *pingsanDulu*. Padahal hanya butuh kurang dari sejam untuk mendarat di London via Dublin.

Irinya dengan pemegang paspor Malaysia. Mereka bebas melenggang kangkung ke Inggris Raya tanpa visa sama sekali! Juga bebas melanglang buana ke seluruh wilayah Schengen tanpa mesti mengemis-ngemis permit ke kantor imigrasi mana pun :P.

Saya sampai bosan disangka orang Malaysia di Irlandia. Saking enggak tenarnya Indonesia kali, ya hahaha. Kata teman India saya, “Maybe because Malaysia is a big country. Much bigger than Indonesia?”

Nah, saya jelaskan panjang lebar jumlah penduduk Indonesia dan luas wilayahnya, dia pun bengong. “Wow, how come I’ve never heard about Indonesia.”

Teman saya yang dari Suriname (tapi sejak remaja pindah ke Eropa) juga minim sekali pengetahuannya tentang Indonesia. Matanya melotot begitu saya beritahu bahwa Indonesia adalah negara dengan penduduk terbanyak ke-4 di dunia! She said, “Oh wow, Indonesians are so happy that they don’t try to travel to everywhere.” Hahahhaha –> ngakakMiris :P.

Suami juga pas ke Chili dan ketemu teman dari Costarica punya pengalaman yang sama. Temannya langsung megap-megap begitu tahu jumlah penduduk di Indonesia. Dia bingung kali, negeri segitu gede kok gemanya enggak seheboh negera-negara semacam India, Cina, Pakistan, Bangladesh, Filipina, negara-negara sarat penduduk yang terkenal dengan perantaunya di berbagai belahan dunia.

Itulaaaaaah, cukup galau melihat pendatang asal Indonesia yang sangat minimalis di sini. Orang-orang Malaysia itu memang ada di mana-mana, ya, boooo. Saya dulu suka geer kalau ke Dublin ketemu cewe-cewek yang berkerudung dan bertampang ASEAN. Oalah, mahasiswi Malaysia memang cukup mudah ditemui di seantero Dublin :).

Di Saudi sih banyak tapi ya gitu deh, pendatang Indonesia di Saudi juga ceritanya unik-unik, if you know what I mean :P.

Geng abaya di Obhur, Jeddah

Geng abaya di Obhur, Jeddah

Ada apa ya dengan orang-orang Indonesia? :). Mungkin sudah saatnya kita mengubah pola pikir sebagian masyarakat. Negeri-negeri sarat penduduk memang tak mungkinlah menggantungkan hidup hanya pada pemerintah setempat. Semangat merantau harus dibikin bergelora, nih!

Orang Filipina tuh ya yang secara fisik dan budaya mirip Indonesia juga terkenal dengan eksistensinya di mana-mana. Di Irlandia sini enggak susah mencari pendatang asal Filipina. Di Jeddah, mbak-mbak suster Pinoy itu yang jadi lawan tangguh para madam kalau musim diskon tiba! Hahhahahaha.

Saya perhatikan teman-teman dari India, Cina, Pakistan dll itu ya, sekali merantau, mereka benar-benar fokus. Mereka siap sekali dengan segala konsekuensi dan mental sekuat baja. Komunitasnya kuat di mana-mana. Apalagi yang dari Pakistan-Bangladesh. Hampir semua pendatang asal kedua negeri itu di sini telah dan akan berniat menggenggam paspor Irlandia.

Mereka sih enak bisa dual nationality :D. Indonesia belum mengizinkan :(.

Tak sedikit yang datang dari kalangan kurang mampu. Di India, pendidikan itu penting banget. Jadi, yang miskin banget sekali pun kudu sekolah dan biaya sekolah dan buku memang tidak mahal di sana. Nanti begitu besar dan lulus, mereka-mereka ini yang banyak menyebar ke seluruh penjuru dunia.

Untuk mereka, hidup di luar negeri itu memang perjuangan. Agak beda ya dengan stereotip di tanah air yang masih memandang tinggal di luar negeri itu kudu enak, kudu anu, kudu itu. Maklumlah, jangan-jangan sebagian besar perantau asal Indonesia di luar negeri memang datang dari kalangan menengah ke atas. Isu pendidikan di dalam negeri masih sangat tajam :(. Kalau di Indonesia, ada kalangan kurang mampu yang sekolah/kerja ke luar negeri, bisa heboh sampai jadi novel dan film segala, tuh :P.

Beda dengan para Pinoy yang fasih banget berbahasa Inggris tanpa perlu capek-capek les bla bla bla. India juga gitu. Plus kepercayaan diri yang selangit untuk trio India-Pakistan-Bangladesh hihihihi :D.

Kepercayaan diri itu memang salah satu kelemahan kita kali, ya. Suami cerita, dia suka gemas dengan teman-temannya yang saat interview selalu ragu-ragu dalam menjawab. Kalau kata suami, pokoknya jawab saja dulu, “Ya, saya bisa belajar. Enggak masalah.”

Terus kadang juga terlalu banyak pertimbangan. Karena ya itu tadi, mikirnya kalau tinggal di luar negeri itu kudu enak gaya hidupnya dan segala macam. Padahal mah, di negara-negara Eropa, gaya hidupnya ya jelas beda atuh dengan di Jakarta hehehe. Saya cukup heran dengan teman-teman di Indonesia yang sering bertanya kok tinggal di Eropa enggak punya mobil? Gajinya kecil banget, ya? Hehehe.

Banyak yang memandang Eropa sebatas tempat liburan. Padahal ada perbedaan menyolok antara berlibur dan bermukim :P.

Mengapa pemerintah kita tidak melihat peluang ini dengan baik, ya? Di negara-negara berkembang, devisa dari pekerja di luar negeri biasanya menjadi pendapatan terbesar nomor dua setelah hasil tambang. Itu pun kalau negaranya seperti Indonesia yang sarat hasil bumi.

Makanya, jangan remehkan saudara-saudara TKW kita di Arab Saudi dan Malaysia, dua negara penyumbang remitansi tertinggi selama ini :). Bukannya disayang-sayang dan dieman-eman oleh pemerintah, eh malah dibiarkan terlunta-lunta dan terjajah :(.

Kesempatan untuk pekerja formal juga terbatas. Kenapa, ya? Kalau suami saya sendiri selalu getol nyari teman saban kerja di suatu tempat. Di Jeddah dulu, dia berani adu urat dengan bos-nya kalau bos-nya meragukan CV applicant asal Indonesia. Siapa pun dibelain lho ya sama suami saya, enggak kenal dekat sekali pun ;).

Alhamdulillah lumayan sukses. Si Bos di Jeddah itu saban ada lowongan suka nyolek suami, “Pssttt…ada stok dari Indonesia gak, nih?” Hihihihi :P.

Nah, di Irlandia juga gitu. Tapi belum ada yang beruntung :(. Faktor relasi memang penting banget untuk lowongan di posisi formal. Makanya, suami saya suka misuh-misuh, “Duh, India lagi, India lagi. Pakistan lagi, pakistan lagi” :(.

Saya ini saban dengar gosip ada engineer Indonesia yang lagi interview selalu diam-diam ikut berdoa, “Semoga lolos, semoga lolos. Semoga istrinya asyik, semoga bisa temenan. Kalau bisa jago masak. Amin, amin, ya rabbal aalamiin” Hihihihihihi :P.

Saking ngebetnya, kalau yang apply enggak lolos saya yang marah-marah ke suami, “Abang sih, enggak diajarin pas interview. Ini pasti karena abang kurang promosi ke obos-obos.” Hahaha. Jadi lo yang sewot, Neng? :P. Dikate suami itu agen penyalur PRT apa ya? :D.

Seringnya memang ekspektasi teman-teman suami itu uang, uang, uang :P. Semacam ada stereotip, “Ngapain kerja di luar negeri kalau gajinya kecil? Kalau hidupnya susah bla bla bla.”

Buat sebagian teman dan kerabat saya, hidup itu susah kalau enggak punya mobil hehehe :D.

Suka salah kaprah dengan omongan seperti, “Gajinya sih 2x lipat tapi biaya hidup juga 2x lipat. Sama juga bohong.”

Nah, bisa ngitung gak sih? :D.

Contoh iseng-iseng. Gaji di Jakarta 20 juta rupiah dengan biaya hidup 10 juta rupiah. Gaji di luar negeri 40 juta rupiah dengan biaya hidup 20 juta rupiah.” Sisanya banyakan yang mana hayooooooo :P.

Stereotip mahal di Eropa itu lebih karena tenaga kerja di sini dihargai lebih tinggi memang. Tenaga manusia mahal, bo :D. Makanya jangan harap bakal dapat embak atau supir atau tukang kebon segala macam hehehe. Tapi yang lainnya sama saja kok. Harga kebutuhan pokok seperti makanan juga standar saja. Mungkin biaya sewa rumah saja yang tinggi.

Oiya tanggapan kerabat juga ada yang gini dulu, “Ah, ngapain ke luar negeri. Kerja di Jakarta sudah enak. Kayak orang susah saja mesti cari uang jauh-jauh ke luar negeri.”

Hehehe :D.

Untuk memperkenalkan si Macan Asia ini pada dunia . Untuk mengurangi kepadatan penduduk di tanah air. Untuk menyumbangkan devisa bagi perekonomian negara. Maka … beranikanlah diri untuk merantau.

“Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman…
tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, ‘kan keruh menggenang

Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

Jika matahari diorbitnya tidak bergerak dan terus diam
tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan”

(Imam Syafii)

Bukan untuk adu keren-kerenan dong, ah. Bukan karena kita tak menemukan apa yang diinginkan maka kita terus mencari. Sama sekali bukan.

Pengalaman itu tak akan pernah terganti oleh uang. Bertemu berbagai macam orang, ragam budaya, berinteraksi dengan rupa-rupa manusia, perjuangan beradaptasi, adalah momen-momen yang sangat bisa mengubah persepsi kehidupan .

There are things that money can’t buy.

And because indeed … “Not all those who wander are lost (― J.R.R. Tolkien, The Fellowship of the Ring)” ).

Gambar : colourbox.com

Gambar : colourbox.com

***

 

12 thoughts on “Not All Those Who Wander are Lost

  1. Wah keren mbak Jihan artikelnya.
    Kemarin saya baru ikutan pre-departure training buat persiapan kuliah lagi di Oz, berkali-kali trainernya meyakinkan kalo nanti disana itu kita masih bisa belanja nasi sama lauk pauk terutama bumbu masakan indo. Kenapa soalnya orang kita masih suka menerawang apa di benua lain itu kita masih bisa nemu nasi sama sambel apa enggak… Biasalah, common problem yang dihadapi mahasiswa perantau adalah: homesick sama rindu masakan rumah 😀

  2. Untuk tinggal di Luar Negri itu memang butuh keberanian yang besar Mbak.
    Apa lagi sampai pisah dengan keluarga, dan menjalani hidup di negri asing. 🙂

    Kalo Indonesia orang memang ga tahu, tapi bilang dech tentang Bali, pasti mereka tahu. :p

  3. sebetulnya dulu juga punya kepengenan untuk kuliah dan tinggal di LN.. apa daya tangan tak sampai dan sayanya juga yang keburu melempem sebelum nyoba abis-abisan..

  4. Aku mau kalo dapet kesempatan kerja di LN, apalagi di Eropa..
    Aku cuma sebentar ngerasain tinggal di LN, 3 bulan, rasanya koq kangen aja gitu ya sama Indonesia haha..

  5. psssttt….suamiku engineer mbk xixixixi…..serunya melancong dan dapet suami yang kerjanya dipindah2 hehehe,mskipun masih antar pulau tapi banyak dapet ilmu baru 😀

  6. Terus apa hubungannya estri engineer Indo yang bisa diajak temenan sama bisa masak itu, sih neng poniiii…? Nggak sekalian, yang bisa jahitin baju! Lumayan kan buat duo N? Muahahaha..
    Kalo aku sih sebenernya nggak nolak kalo disuruh tinggal di luar negeri, demi untuk menambah pengalaman. Cuma… kalo di kementerian tersayang, utk level prajurit negara macem aku ini, yang umurnya aja udah mau 35 (uh7uk!) rasa2nya udah nggak ada kesempatan lagi, deh. Jadi.. konsen saja lah di bandung sini, konsen kerja, konsen bayar cicilan! Hahaha…

  7. Salah satu cita2 ku mbak bisa pergi merantau ke luar negwri…
    Suamiku engineer juga mbak dan istrinya (agak) pinter masak … *kedip2*

    Tapi sayang kondisi kesehatan suamiku kayaknya susah untuk cari kerja di tempat baru. Cost obat pertahunnya mahal cuma tempat kerja skrg yg masih mau cover dan kalaupun mau keluar ditahan2 hrdnya, demi Indonesia katanya. Hehehehe..

    Impian yang masih ada skrg sih mudah2an aku dpt kesempatan short course ke eropa ah buar ngerasain bermukim sebentar disana.

  8. Mbak, mau tanya. Kalau mau ke Irlandia dan apply visa turis multiple entry bisakah? Saya rencana mau ke Amsterdam tapi penerbangan pertama dari Jakarta mendarat di Dublin. terima kasih sebelumnya

  9. hi… Salam mbak Jihan,
    mostly agreed! and like ur statement in each aspects!
    well, yoke similar saat ini saya juga bekerja di Dublin sebagai senior consultant untuk Three.ie perusahaan telekomunikasi yg cukup ternama disini di daerah Cardiff Lane persis di depannya Liffey river. eventually mereka tidak tahu Indonesia tuh seperti apa, yang mereka yoke familiar with only word of “Bali island”… seems weird isn’t it? well ok lah, at least we know budaya kita jauh lebih besar dan mereka butuh seorang business process expert dari Indonesia :), at the meantime really though ‘tuff to find Indonesia people here, terkadang ingin sekali kumpul2 sesame one nation… well anyway! it was a great script and CHEERS!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *