Life Goes On Without You

“Ngapain sih ya pakai baju seksi-seksi, suaranya kan sudah bagus banget gini … ” Kata saya waktu menonton seorang penyanyi perempuan asal Indonesia yang memang terkenal dengan gelar diva-nya.

Sang penyanyi memakai gaun panjang tapi kepotong sampai bokong . Lengan panjang tapi bahunya bolong. Belahan dadanya … beuh! Bisa bikin keramaslah pokoknya, hahaha 😀.

Waktu itu saya duduk depan TV berdua dengan kakak laki-laki saya. Kebetulan si kakak yang ini kerjanya jadi fashion stylist dan menjadi salah satu ‘petinggi wardrobe’ di salah satu televisi swasta di Jakarta.

Kata kakak, “Aduuuh, saingan banyak kaleeee. Suara bagus ya harus diimbangi dengan penampilan, dong.”

“Penampilan yang seksi?”

“Ya, yang laku yang kayak gitu. Harus fashionable. Namanya dunia hiburan. Suara bagus doang mah banyak.”

Saya tetap berkeras, “She’s one the best. Kenapa harus takut?”

“Ya harus maintain penggemar, dong. Penyanyi itu satu paket dengan penampilan.”

“Namanya penyanyi, yang dijual ya suara dong!”

Eh, kakak saya pura-pura enggak dengar dan sibuk buka-buka tumpukan majalah fashion-nya. Hahahahha. Sudah tahu, ya, berdebat dengan adik kepo nan keras kepalanya ini nampak tak ada guna dipanjang-panjangin.

Semasa masih gadis dan bekerja saya mengontrak rumah berdua dengan kakak saya yang ini. Seru, ya. Yang satu tergila-gila dengan barang bermerek nan harga selangit, yang satu sibuk ngitung-ngitung harga saban jalan-jalan ke toko. Fashion nomor dua. Harganya dulu, ya, Ceu! *kekepinDompet*.

Saya, sih, tidak pernah masalah dengan perbedaan menyolok kami soal gini-ginian. Senang malah. Saya jadi tahu banyak teori fashion dari tumpukan majalah koleksinya. Walau awalnya pusing itu majalah isinya kok banyakan gambar daripada tulisan , tapi lama-lama jadi sering baca-baca. Hey, membaca tak berarti harus selalu setuju, kan? 😉

Kakak juga sering membagi cerita tentang dunia selebritis. Pekerjaannya sering bersentuhan dengan dunia mereka. Si Diva yang tadi misalnya. Di balik segepok kabar miring tentang kehidupan pribadinya, ternyata dia adalah pribadi yang sangat rendah hati dan ramah pada siapa saja 🙂.

Disiplin tinggi pada jadwal latihan untuk setiap performance. Tidak pilih-pilih dalam bergaul dan tak segan-segan menikmati nasi kotak bersama para kru ecek-ecek yang ikut mendukung pertunjukan-pertunjukannya.

Ah, beratnya jadi artis. Jauh lebih berat daripada sekadar *benerinPoni* di wall FB saban hari. Hahahhahaha *plaaaakkk!!*

Persaingan sangat ketat. Walau profesi utama penyanyi tapi harus ditunjang dengan macam-macam hal lainnya.

Penampilan misalnya. Sekadar modis saja tak cukup. Kudu jaga bodi, penampilan seksi-seksi, kalau bisa malah pas konser, pertunjukan pun harus didukung oleh penar-penari keren dan konsep panggung yang prima. Belum lagi harus unik dan beda daripada yang lain agar bisa memikat fans lebih banyak.

Padahal tahun-tahun dulu, penyanyi dunia sekelas Diana Ross kayaknya benar-benar ngandelin suara doang, ya. Barbra Streisand juga penampilannya jarang aneh-aneh di tahun 70-an. Belakangan muncul Madonna yang kayaknya lebih banyak jualan sensasi di luar dunia tarik suara.

Diana Ross & Jacko. gambar : thebiographychannel.co.uk

Diana Ross & Jacko. gambar : thebiographychannel.co.uk

Dunia terus berubah. Makin lama requirement makin berat. Tak hanya di dunia menyanyi yang makin dibikin pusing oleh munculnya selebritis seperti Miley Cyrus misalnya. Caranya mendaki ke puncak ketenaran penuh kontroversi. Saya enggak doyan sih sama jenis musik seperti itu. Apalagi lihat video klipnya yang banyakan melet-melet lidah daripada nyanyi hihihihi. Sisanya you know lah ya 😀.

Mariah Carey juga berubah drastis sejak cerai dari Tommy Motola. Mungkin dia juga menyadari, sudah enggak ada tangan besi sang promotor yang bisa membantu mendongkrak hasil penjualan albumnya. I really love her voice and her songs. Mariah mengarang sendiri hampir semua lagu hitsnya. Termasuk lirik-liriknya yang sangat inspiratif itu 🙂.

Dulu, saya ingat Mariah menyanyi lagu “Without You” dengan baju hitam tertutup di depan mike seorang diri di atas panggung. Udah, gitu doang. Tapi gemuruh tepuk tangan terus berderai bahkan setelah lirik terakhir selesai dinyanyikan. Belakangan, mulai operasi ini itu, gedein ana anu, bajunya mulai ngirit bahan , dsb.

Mariah Carey 'Masih Belum Aneh-Aneh' Version :D (gambar: vimeo.com)

Mariah Carey ‘Masih Belum Aneh-Aneh’ Version 😀 (gambar: vimeo.com)

Menulis juga sama saja. Belum lama saya mengikuti diskusi mengenai keluhan seorang editor terhadap penjualan buku yang terus merosot. Padahal jumlah orang makin banyak hehehe. Well, teknologi terus berkembang.

Saya juga tahu kalau sebagian penerbit itu menuntut penulis untuk punya massa yang ‘bagus’ bahkan sebelum naskah diterima. Kudu punya fans duluan *ngelapKeringat*. Enggak semuanya, lho, ya. Tapi pengalaman pribadi, saya pernah iseng menawarkan outline kepada penerbit. Editor menjawab kalem, “Twittermu enggak terlalu aktif ya, Mbak? Followernya cuma 200 an.”

Tanpa perlu keterangan tambahan ya saya sudah mengerti maksudnya hehehe.

Lomba-lomba menulis online macam lomba blog pun mulai ada syarat harus banyak LIKE, harus banyak komentar, dsb, untuk menaikkan rating penilaian.

Well, idealisme pasti terancam habis-habisan. Tapi ya, itu tuntutan ‘pasar’ dan perubahan zaman yang mau tak mau harus diikuti .

What to do???

Ya tentu pilihan ada di tangan kita. Apa sih yang dicari? Kalau saya pribadi, walau tahu kalau ada cara untuk meraup follower palsu dengan cara cepat, ogah amat ngelakuinnya hehehe. Biarin ajah 😀. Sedikit-sedikit jadi bukit hihihi.

Lomba yang mengharuskan syarat LIKE atau jempol atau jumlah komentar langsung saya skip . Saya mah gengsinya tinggi hahaha. Jangan harap deh bakal ngemis jempol atau like hanya untuk lomba hehe.

Bukan berarti saya tak sudi memberi bantuan jempol pada teman yang meminta. In shaa Allah, kalau diminta saya tak akan berpikir dua kali untk memberi . Bukan berarti juga saya menghina teman-teman yang senang berburu lomba yang mengandalkan jempol pemirsa ini, ya *senyumPalingManis*. Sungkemin dulu satu-satu. Simple. It’s just not me .

Tapi memang, kita itu harus kreatif membangun hubungan dan menempa personal brand kita. Benar kata Mbak Arin, salah satu blogger idola hehehe, “Menulis bagus itu perlu. Tapi membangun jaringan tak kalah pentingnya.”

Habis ini dijitak sama editor deh karena promo bukunya malas-malasan. Hehehe. Saya sudah pernah diprotes sama editor, profile pic disuruh ganti dengan cover buku. Di FB, untung ada cover photo ya hihihihi. Jadi profil tetap bisa narsis pakai muka sendiri .

Di Twitter saya ogah 😛. Di mana lagi harus kupamerkan wajah kece ini kalau bukan di profile akun sendiri, ya, Kakaaaaa. Hihihihihi *ngikikCentil*.

I know, untuk membangun personal brand harus serius. Tapi saya percaya, tidak ada yang instan 🙂. Dan selalu berusaha tidak menyiksa teman-teman di media sosial dengan terus-terusan promo buku. Ada juga entar jadi antipati, buku pun malah tak laku hahaha.

Dunia memang makin lama makin kejam huhuhu. Mungkin saking kejamnya, yang memaksa beberapa seleb untuk menempuh cara-cara gengges untuk mendaki cita-cita.

Seperti misalnya Kakak Agnes yang sebenarnya punya bakat fantastis . Saking sudah lamanya berjuang untuk go internesyel dan gak sukses-sukses, terpaksa kudu pakai pampers (hihihihi) dan celana sobek-sobek di video klip terbarunya yang akhirnya memang … go internesyenel, yak. Horeeeee ^_^.

Aduh, fansnya Kakak Agnes jangan marah, yaaaa. Sungkem lagi, sungkem lagi 😀.

Hm, ada banyak cara untuk mencapai ambisi. Teringat pepatah arab kuno satu ini, “Jika ingin terkenal kencingi air sumur zamzam.”

Tapi jangan sekali-sekali menyalahkan keadaan atau marah-marah pada lingkungan. Misalnya ada yang menuduh orang-orang Indonesia itu tidak cerdas dan tidak mau baca buku dan lebih memilih gadget-an. Hey, teknologi terus berkembang dong, ya. Mungkin mereka lebih senang baca e-book? .

Jangan gitu, ya .

Jangan pula kencingi sumur zam-zam nya. Walau cara itu mungkin lebih singkat dan mudah untuk membuat nama kita dikenang oleh dunia hihihihi . Gimana kalau kita bagi-bagikan air zam-zam paketan untuk orang-orang yang belum mampu ke tanah suci? Memang sih, belum tentu bakal terkenal dan mungkin butuh waktu untuk menarik perhatian orang lain. Tapi yang pasti, perhatian dari Allah itu sudah otomatis 😉.

Nah tinggal dipilih, yang dikejar itu dunia-nya atau akhirat-nya? 

Namun, tentunya kita harus terus menyesuaikan dengan perubahan 😀. Masa mau ngamuk-ngamuk di depan abege yang lagi asyik depan ponselnya, “Woooiii, baca buku dong! Henpon-an melulu. Kagak cerdas banget sih lo. Sana beli buku gue!” Hahahahhahaha.

Mungkin, sudah saatnya lebih serius menggarap pasar untuk e-book ;).

Tentunya dengan tidak mengabaikan prinsip-prinsip kebaikan dalam hidup. Macam paling suci saja kauuuuu hahahahaha . Enggaklah. Kita sama-sama belajar menaiki tangga impian dengan cara-cara yang mulia.

Time ask no questions, it goes on without you
Leaving you behind if you can’t stand the pace
The world keeps on spinning
You can’t stop it, if you try to
This time it’s danger staring you in the face

-Des’ree – You Gotta Be

Perubahan jangan dilawan. Stand the pace, my friends. Stand the pace 🙂.

Gambar : briantracy.com

Gambar : briantracy.com

***

20 thoughts on “Life Goes On Without You

  1. Mbak… aq penggemar miley cyrus dari jaman dia main hanna montana, dan penggemar Kakak Agnes.

    Dan rasanya sebagai fans dari kedua artis tersebut yg ‘gaya kehidupannya’ berubah itu sedih bangeet.

    Rasanya pengen nangis dech liat mereka berubah *agak lebay*.

    • Kalau Miley saya enggak gitu doyan euy :P. Kalau Kakak Agnez saya mah demeeeeennnn :D. Tapi ya, dihormati saja ya pilihannya, saya kenal juga enggak hihihihi. Walau saya ogah nonton video klipnya lagi. Cukup sekali :).

    • Aah, itu akuuu yang penggemar Miley Cyrus dari jaman Hannah Montana. Iyaa, sampe sekarang rasanya masih nagis di pojokan sembari menanti keajaiban yg gak mungkin terjadi :p

      • Hihihihi, memang berat perjuangan menuju ketenaran di masa kini yak. Apalagi di dunia artis. Beuhhh, bisa berdarah-darah hehe 😛

  2. Neng, aku kan nggak pernah mainan twitter, nih. Lah kok sekarang aku jadi ngerasa ikut andil di balik sedikitnya follower twittermu yak? Hahaha…
    Aahhhh, bener bangeett. Si mariah carey itu luar biasa di 15-20 tahun yg lalu, saat rambut keriting dan make up nya natural. Huhuhu, aku kangeennn dia yang alami ituuuu…
    Btw, jadi kapan bikin e book..? 🙂

    • Isssshh, eike pun jarang bener itu ngetweet. Isi tweet pun ya share link-link dari blog ini hahahaha. Dulu punya akun twitter gara-gara pengin ikut lomba blog yang kasih syarat peserta follow akun twitter mereka :D.

  3. duluuu waktu baru baru ada twitter, napsu banget dah pengen punya follower banyak, ampe ampe mo nge twit aja mikir dulu, kira kira bagus gak ya…twit kayak gimana yang bisa dapetin banyak follower, pokoknya capeee deh…hehehe, gak menjadi diri sendiri pastinya. Akhirnya makin lama makin jarang main twitter, follower segitu gitu…

    Sejak si Mariah Carey bajunya makin irit dan menonjol sana sini, aku langsung gak suka…sebel aja liatnya hehehhee *gakboleh gitu harusnya yaa 🙂 * Btw aku beli bukunya Jihan loh, belum tamat bacanya nih, buku pertama yang dibaca di bulan April ini 🙂 Bagus bukunya 🙂

  4. kakak…terus nulis ya, masuk jajaran penulis fav ku, tapi baru punya buku yang The Davincka Code (dulu sukanya cuma sama helvy tiana rosa & asma nadia, sekarang beliaunya jarang nulis, kalau pun ada buku baru, kebanyakan terbitan ulang edisi lama yang sudah punya)

  5. Saya juga langsung skip GA atau lomba yang nuntut like, comment dll. Kontes nulis ya sila di nilai tulisannya. Kali aja dia baru bikin blog karena tau ada lomba. ya mana ada yg comment.

    soal musik… saya sih tak segan bilang fals meskpun di depan penggemar berat mereka, apalagi kalau pas nonton live, keselip lip sing….

    saya masih mungkin terlalu idealis….

    • kadang lomba kan diadakan sponsor untuk ajang promosi mereka. Ya wajar dong kalau menuntut agar kita turut mempromosikan tulisan kita demi naiknya pamor mereka ehehehe. Kalau ogah ya enggak usah ikut jangan nyari pembenarann sendiri :P. Soal suara fals juga gitu. Ya kalau siap ‘berantem’ ya gak masalah hihihihi.

  6. Saya pernah nonton the ASEAN Divas, ada Krisdayanti, Titi DJ, penyanyi Thailand siapa gitu namanya susah beeng, dan Siti Nurhaliza. Hampir rata-rata pakai baju yg cihuy, antara belahan dadanya sampai perut, atau belahan roknya sampai pinggang (lho?) dan kayaknya bahannya kurang banyak jadi ketat banget! Plus dandanan rambutnya euy! Sampe kayak bawa sarang burung lima tingkat di kepalanya! Siti Nurhaliza pakai baju tangan panjang, rok panjangm menutup dari leher ke kaki, tidak ketat tapi bahan bajunya berat sehingga jatuh di badannya bagus, dengan warna emas mengilat, rambut dikonde cepol dgn hiasan kembang sepatu merah, dan menurut saya, justru dia yg paling kinclong di panggung dengan kesederhanaannya yg wah banget. Langsung jatuh cinta sama Siti Nurhaliza

  7. Hoho…persaingan memang sangat ketat, tapi yang pasti aku tidak suka dengna cara yang dilakukan banyak artis Indonesia saat ini, menjual privasy & kontrak “sensasi” dengan infotaiment untuk eksistensi, tobat dah, mending matiin TV & nonton drama Korea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *