Make That Change … YOU!

“Duh, supirnya suka ngetem. Ogah naik angkot. Mending nyetir sendiri,” respons seorang mahasiswi kece berambut panjang saat ditanya, mengapa enggan menggunakan fasilitas angkutan umum.

“Kan macet, Teh.”

“Biarin aja. Kan enak ada AC, bisa sambil dengerin lagu. Naik angkot juga macet.”

“Jadi?”

“Ya kalo enggak ngetem ya saya mah mau-mau aja. Lumayan hemat dan enggak telat nyampe kampus.”

Giliran supir angkot angkat bicara, “Ya harus ngetem atuh. Nyari penumpang. Kan ada setoran tiap hari.”

“Tapi kalau ngetem jadi lama, penumpang banyak yang protes.”

“La ya gimana? Penumpang sepi. Kalau banyak mah, langsung cusssss…”

Deadlock? 

Sama kayak Pemilu besok, nih, hehehe.

“Brengsek tuh anggota DPR. Halah, paling gitu-gitu lagi yang terpilih. Percumaaaaaa.. saya mah golput! Kalau anggota DPR sudah beres dan pemerintahan oke baru saya enggak golput.” Begitu rata-rata keluhan para pemilih yang memutuskan untuk golput.

Keluhan lain, “Lihat saja tuh calegnya. Ada yang modal bohay doang. Ada yang artis enggak jelas. Yang bener aja dong!”

Menarik, ya . Tapi lebih menarik saat menyaksikan tanggapan salah satu perwakilan partai di salah satu episode “Mata Najwa”. Najwa bertanya, apakah kualitas penting bagi pemilihan para caleg.

Perwakilan partai tersebut menjawab dengan jujur saya rasa hehehe, “Inginnya sih begitu. Tapi gimana ya, seringnya kualitas juga tidak menentukan keberhasilan. Justru yang terpilih adalah mereka yang dianggap kurang berkualitas. Buktinya, masyarakat tak peduli pada kualitas.”

Tentu saja jawaban perwakilan partai ini dibantah ramai-ramai oleh perwakilan partai lain yang tetap ngotot bahwa kualitas adahal hal utama dalam pemilihan caleg. Nanti dulu. Begitu dicek di kertas suara? Eng ing eng … hehehe. Tak cuma artis, ada juga caleg yang ternyata pernah/masih sedang mengikuti persidangan di pengadilan yang lolos menjadi caleg!

Partai pun sebenarnya ingin menyodorkan calon-calon yang mumpuni. Tapi hey, politik itu mahal. Idealisme mereka akan dibayar oleh kekalahan Menurut parpol sih gitu.

Dengan kata lain, partai menuduh pemilih masih banyak yang tidak cerdas. Dan pemilih menuduh partai yang menawarkan caleg asal-asalan. Partai mau ‘insaf’ kalau hasil pileg ternyata memang memenangkan ‘kualitas calon’. Sementara pemilih menuntut, pemenang calegnya ya mesti harus membuktikan kebersihan diri dulu.

Ayam dulu apa telor dulu? Hahahaha. Deadlock 😛.

***

Soal angkot saya paham. Maklum, mantan anak ‘pasar’ mendadak tinggal di lingkungan ‘gedongan’ hihihihi. Memang bingung. Kebetulan saja saya tidak bisa menyetir dan sayang ngeluarin duit buat naik taksi kalau hanya untuk ke mal yang jaraknya cuma 200 m dari jalanan depan rumah hehe. Antara kikir dan idealis memang beda tipis .

Saya tak pernah gengsi, ah, naik angkot. Siapa gue emang? Dari lahir sampai remaja rumah saya dekat dari pusat pangkalan angkot di Kota Makassar, kok . Hidup macam roda pedati ya, Kakaaaa. Walau sekarang sanggup naik Ferrari *plaaaakkk* (Ferrari hotwheels sih banyak tuh punya anak-anak hihihihi), tak perlu ada yang berubah . Harus siap-siap, mana tahu suatu hari kudu jadi anak ‘pasar’ lagi, tak pernah grogi kalau HARUS ngangkot lagi karena tak ada pilihan lain.

Walau saya akui, saya tengsin sembari nunggu angkot yang ngetem di pertigaan UNAS, saya sering disapa tetangga yang mau masuk ke kompleks sambil nyetir mobil sendiri, “Nunggu taksi, Mbak Jihan?”

Saya selalu bilang iya hahahaha. Sampai akhirnya pernah pas lagi berhentiin angkot, tetangga yang sama lewat lagi dengan mobilnya. Siyaaaall, hahahahaha.

Angkot memang pelik. Apalagi yang wara wiri di daerah yang mayoritas orang berpunya. Sepi penumpang . Untung masih ada kampus, jadi ada saja mahasiswa yang perlu angkot. Mereka ngetem di situ berlama-lama.

Belum lagi macetnya ruas jalan menuju mal itu. Mobil pribadi berjejalan dengan angkot. Angkot tak bisa dihapus karena sedihnya, di antara jejeran rumah-rumah bagus itu masih terselip juga pemukiman menengah ke bawah. Ah, ah, ah, Indonesiaku .

Kalau angkot dieliminasi, kudu subsidi mobil pribadi dong ke mereka? hehehe.

Masalah Pemilu pun begitu. Ruwet.

Enggak sadar, dalam kehidupan sehari-hari kita juga kayak gitu. Saya nih, ya, sempat kesulitan bergaul pas nyampe Jeddah dulu . Saya sibuuuuuk saja nunjuk sana sini. Si ini begini, si anu terlalu begitu, si ana ini itu. Pokoknya orang lain deh yang salah, saya mah paling suci dan pasti benar *benerinPoni*.

‘A slap in my face’ (dalam tanda kutip) datang dari suami. Ingat, tanda kutip! Hahahhaha.

“Lo dong yang berubah! Nyinyir lo dikurangin. Main sana sama mereka. Ngumpet di apartemen melulu. Sana, ikut jalan-jalan. Marah-marah melulu.”

“Mereka dulu dong yang harusnya sadar diri.”

“Lah, aneh. Terus elo ngapain?”

Langsung ngaca sambil tersipu malu. Eh beneran, saat pelan-pelan mendekat ke mereka, menimbun sedikit demi sedikit rasa egois … Masha Allah, teman-teman terbaikku tak sedikit yang datang saat masa-masa itu 🙂.

Apa mereka berubah? Sekilas rasanya begitu. Tapi kalau dirunut-runut, saya yang akhirnya memilih untuk mendekat. Mencoba memahami dari sudut pandang mereka. Saya yang palling malas tawaf di mal atau di pasar , sekali-sekali ikut tur bareng para madam. Eh, enak juga, ya .

Walau kantong belanjaan saya biasanya kosong hihihihi, tapi hati saya selalu full-tank dengan obrolan kami di taksi dan serunya melihat emak-emak berburu barang diskon hahaha. It’s totally fun. Kemane aje gue *toyorKepalaSendiri*.

Jadi belajar tips-tips masak dari mereka. Sampai sekarang, kalau panik di dapur, macam kemarin bikin bakso ayam kok lengket enggak ilang-ilang, ke grup WA ku langsung mengadu! Hahahahaha. Dasar dodol. Bikin bakso ya emang lengket kaleeeee *ngakakBodoh*.

Sama kayak Pemilu, teman-temanku . “Ah, saya sudah capek-capek ke TPS, panas-panas mengantre, hasilnya ya podo wae…”

Sementara partai juga gitu, “Apaan, tempo hari sudah dikasih caleg-caleg bagus, yang menang ternyata yang banyak duitnya atau yang terkenal.” ‪#‎Eh‬ .

Kita memang suka kayak gitu. Meributkan hal-hal yang berada di luar jangkauan kita. Sifat orang ya mana bisa kita ubah. Respons mereka terhadap sikap kita itu bukan urusan kita. Tak ada jaminan kalau sifat kita bagai malaikat, bahaya selamanya tak akan menghampiri 😉.

Kita kan bukan Tuhan yang bisa memprediksi semua hasil tindakan kita. Pegangannya apa? Ya prinsip-prinsip universal pastinya . Keikhlasan, kejujuran, kerja keras, kepercayaan diri, kesabaran, tanggung jawab dan sebagainya. Jadi, bukan pada partai apalagi orang, dong, ya 😉.

Daripada mencak-mencak membuat daftar hitam kebusukan partai politik, yang pasti hasilnya berlembar-lembar , ask your self … apa yang bisa kita sendiri lakukan untuk perubahan yang diinginkan? 🙂

Lebih lucu lagi, menolak demokrasi, tapi tidak tahu model sistem mana yang cocok. Ditanya tentang khilafah misalnya. Bingung sendiri dan ujung-ujungnya, “Balik kepada alquran.” Ditanya ayat berapa, malah marah-marah dituduh kita kurang paham agama. Hehehe 😛.

Be the change you wish to see in the world  -Gandhi-

Gambar : marketingforhippies.com

“I’m starting with a man in the mirror!” Gambar : marketingforhippies.com

 

 

It’s you, not them. Jangan dikira kebaikan kita yang tidak berbuah manis di masa depan akan sia-sia. Dunia masih akan diikuti oleh akhirat, toh . Parpol-parpol culas itu akan dapat balasannya sendiri-sendiri. Tanggung jawab kita untuk tidak mendiamkan hal-hal seperti itu PASTI akan berbuah manis. PASTI . Asal ukurannya tidak mentok di hal-hal duniawi saja .

God never requires us to succeed, He only requires that we try  -Bunda Theresa-

Fokus pada apa yang BISA kita lakukan. BUKAN pada apa yang AKAN mereka lakukan .

Berharap SELALU pada Tuhan saja. Kata Cak Nun, berdoa banyak-banyak, coblos dan pasrahkan . Kalau bisa kita kritik di kemudian hari, kita kritik pastinya. Tapi janganlah keburukan mereka membuat kita kapok. Mereka enggak rugi, eh kita yang rugi sendiri .

Remember, it’s you, not them! Pemilu besok, jangan golput!

Roma tidak dibangun dalam semalam. Perubahan tak akan datang seketika. Bear with us.

Make that change…YOU! 

***

9 thoughts on “Make That Change … YOU!

  1. Pendidikan politik di negeri ini masih begitu panjang perjalanan ya, mbak Jihan.
    Pendidikan politik di negeri ini lebih sering berupa penyampaian hasil survey yang tidak bisa dipertanggung-jawabkan, berita politik yang tidak seimbang, sedikitnya berita yang mengupas visi – misi partai & calegnya juga pencapaiannya. Masyarakat lebih dicekoki dengan berita-berita miring para konstituen, sehingga bersikap apatis terhadap semua konstituen. Padahal media adalah pilar demokrasi ke-empat, semestinya membantu mencerdaskan.

    Seandainya mekanisme pendidikan politik ini berada di jalur yang benar, dan rakyat dicerdaskan, maka Insya Allah, akan muncul pemimpin-pemimpin hebat yang dipilih dengan mekanisme yang benar, dan kemudian mengangkat martabat bangsa.

  2. Lucu juga kadang, kita disuruh (mati matian) jangan sampe golput, sementara para calegnya juga kurang sosialisasi ke warga2nya. Otomatis, boro2 kita tau visi misinya seperti apa, programnya kaya gimana, la wong mukanya aja kaga tau.. 🙂

  3. Neng, neng.. jadi kapan mau naik angkot? Dapat salam dari angkot jurusan yang ngetem di depan terminal leuwipanjang, noh! Dari luar nampak penuh, dan siap berangkat, eh begitu kita masuk, itu penumpangnya pada turun, ternyata calo semua. Haiiisshhhh…! 😆
    Btw, aku udah nyoblos ya bu duta KPU. Dan bolak balik ditanya sama Andro: Bu, tadi milih apa? Kasih tahu akuuuu…! Yo mbuh, wong Ibu juga lupa tadi nyoblos siapa. Muahahaha…..

  4. keren kak tulisannya, gimana mengharapkan orang lain berubah, la wong kita tidak mau/ malas memulai dari diri sendiri.
    yang bikin malas juga, media sekarang ini dikuasai sama elitenya parpol, jadi kadang 2 pemberitaannya kurang obyektif/ kurang seimbang

  5. sayaa, gak nyoblos… 🙁 bukannya gak mau, tapi karna hari pencoblosan itu pas tengah tengah minggu, gak memungkinkan untuk PP cuma sekedar nyoblos salah satunya karna kondisi kesehatan…tapi sangaaatt menyayangkan, kenapa gak dibuat mudah untuk yang ingin menyalurkan suaranya. Konon bisa nyoblos kok pake KTP selain DKI *KTP saya Bandung* tapi tiap TPS aturannya beda beda dan berakhir dengan gak bisa *cape deh*

    Semoga di Juni nanti bisa lebih bagus system dan lebih disosialisasikan untuk warga dengan KTP bukan DKI misalnya untuk yang bekerja di Jakarta selama hari kerja dan pulang ke Bandung saat weekend seperti saya 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *