For All The Wrong That You Made Right

Saya pribadi suka merasa anak-anak orang kaya itu pasti manja dan menjengkelkan. Belum lagi senga’nya hehe.

Kadang, suka terbersit rasa sombong juga dalam hati saya kalau berhadapan dengan horang-horang kayah ini hihihi. Misalnya mikir gini, “Ah, lo tahu apa sih soal orang susah? Wong dari kecil hidupnya enak terus…”

Mentang-mentang masa kecilnya hidup susah suka merasa sok bijaksana enggak jelas hahaha. Pikiran-pikiran ini juga sering datang kalau berdiskusi dengan salah satu sahabat saya.

Sahabat yang akhirnya jadi suami hihihi 😛.

Maklum, sini dulunya enggak bagus-bagus amat ekonominya (bilang kere aja napa sih :P). Si doi masa kecilnya tinggal di rumah bagus-bagus, punya mobil + supir segala, etc, etc, etc.

Kalau ngobrol saya suka tahu-tahu sinis. Misalnya cari kami memandang beberapa kasus. Salah satunya saat kami menganggap ada teman/kenalan/kerabat misalnya yang dulunya ekonomi susah dan hidup biasa-biasa saja. Tapi begitu punya gaji besar mendadak jor-joran.

Menurut saya, itu hal yang kurang benar tapi wajar-wajar saja. Menurutnya, itu pemborosan. Saya kadang menanggapi dengan sinis, “Lo dari kecil kan udah tajir. Beda dong, hidup sederhana karena kesadaran versus hidup sederhana karena terpaksa.” Hahahaha. Iya, kan, kan, kan? 😀.

Namanya manusia. Sekali waktu pikiran buruk membersitkan dendam dalam hati kala masih berada di ‘bawah’ dan bersumpah, “Kalau gue entar tajir, gue beli kastil sendiri lengkap dengan pasukan berkudanya.” Hihihihi.

Tak sedikit kan yang seperti itu . Saya tak membenarkan, lho. Tapi kan itu … wajar . Sometimes we need to put ourself in another shoes for better understanding. Kita kan ditempa dari dunia yang berbeda-beda. Pengalamannya tidak sama. Makanya, pemahamannya kadang tidak sejalan.

2004, sepuluh tahun kemarin :D. Pose imut.

2004, sepuluh tahun kemarin :D. Pose imut.

Walau begitu, saya pun memang mengagumi kehidupannya yang bisa seperti itu. Willing to be little all the time. Sedikit diantara banyak orang-orang yang datang dari keluarga mapan sejak kecil yang sanggup untuk tidak mempertontonkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Percayalah, itu bukan hal yang mudah. Saya ini sering juga kalau anak-anak minta mainan atau gadget mahal yang umum dilihatnya di teman sepergaulan mendadak hampir runtuh imannya.

Maksud saya, uang kan ada. Mau bilang akeh entar kena sambit hahahaha. Mbok ya beli satu kan enggak dosa-dosa amat. Tapi suami saya tetap gagah berani dengan prinsipnya, “Mereka enggak akan mati atau menderita hanya gara-gara enggak punya ipad. Be strong, Hun. It’s for their own good, now and then.”

Dia yang mengajari cara-cara kreatif untuk menjawab rengekan anak-anak soal gini-ginian. Saya enggak pengalaman. Wong dulu masa kecilnya enggak punya banyak mainan aneh-aneh ya karena nyokap alasannya ringkas, “Enggak ada duit.” Hahahahha. End of dicussion 😛.

Hal ini juga merembet ke masalah lain-lain. Pokoknya suami selalu menekankan, yang paling penting itu contoh, contoh, contoh. Percuma banyak omong kalau orang tua tak mencontohkan langsung . Kita bisa menjejali telinga mereka dengan macam-macam nasihat, tapi mata mereka tidak buta 😉.

Sebelum menikah juga saya merasa si doi orangnya santai dan tak punya ambisi. Enggak terlalu punya keinginan untuk mandiri dan semacamnya lah. Wow, salah besar.

Kadang, saya merasa dia ini terlalu ngotot malah. Sering saya nasihatin, “Oh helloooooo, jangan ambisius banget kali, Cyin. What you have now, on this age, is something tremendous. Woles, woles ….”

Atau saya godain, “Duileeee, tunggu warisan aja napa Bang?” Hahaha –> dijitak mertua 😛.

Persistensinya luar biasa, euy. Keinginan belajarnya tinggi.

Biasanya, orang berada itu gengsinya tinggi. Tidak dengan dia. Saya ingat waktu menjual buku indie yang kalau dipikir-pikir untungnya tidak seberapa, eh malah dia yang lebih semangat. Hehehe. Apalah artinya hasil penjualan tu buku dibanding angka yang tertera di slip gajinya tiap bulan.

Dia yang selalu bilang, “Eh, gak boleh gitu. Uang banyak uang sedikit, harus tetap dihargai.”

Suami saya yang gencar mempromosikan buku-buku saya di milis-milis. Sampai-sampai saya ketawa waktu dia cerita di milis sekolahnya beredar rumor, “Duh, jangan invite si **** deh. Dia mah jualan buku bininya melulu.” Hahaha.

Saya saja malu lho hehehe. Saya hanya berani update sekali di grup-grup. Di wall saya pun, saya enggak enak kalau terlalu gimanaaa gitu. Makanya, saya imbangi promo buku dengan tulisan-tulisan lain. Promo pun biasanya berpikir keras menulis tulisan-tulisan yang sok-sok inspiratif biar kesannya enggak jualan banget. Walau ujung-ujungnya sama, “Dibeli ya, Kakaaaaa…” 😀 😀 😀 :D.

Hobi fotografinya biasa-biasa saja. Tapi karena saya malu sering-sering minta bantuan foto-foto ke suami teman yang memang rata-rata jagoan motret, dia akhirnya rela meluangkan waktu untuk belajar lebih intensif. Akhirnya, belakangan memang beneran jadi lebih senang sih kayaknya :).

Cerita traveling punya nilai jual yang lebih tinggi daripada tulisan fiksi. Kekuatannya ada di kualitas foto. Saya sukanya difoto, ogah kalau disuruh motret hahahahaha –> mental artis tiada tara 😀.

Dulu pun saya mengira dia punya kualitas beragama yang so-so saja. Wah, lagi-lagi saya salah menilai. Salah satu nasihatnya, “Eh, kalau mau lebih gampang baca dan hafal alquran, harus mau belajar bahasa Arab.”

Secara ‘bungkus’ memang kurang meyakinkan . Kecuali hobinya miara jenggot yang ditengarai sebagai salah satu sumber kegantengannya menurut orangnya sendiri hihihihi.

Yang hobi membaca itu suami saya. Apa saja dibaca. Dari sejarah sampai fiksi. Dari biografi tokoh-tokoh dunia, politik, status-status bermutu di FB sampai manga. Hahahaha.

Salah satu ciri fisiknya yang agak jarang dimiliki oleh kaum pribumi adalah bola matanya yang berwarna coklat . Tapi asli 100% urang awak, no other ingredients . Makanya, saya share link lagu “Brown Eyes” walau liriknya enggak nyambung blasssss 😀.

Enggak heran, waktu training ke Jerman disangka orang Turki. Waktu short assignment ke Kanada, disangka orang Spanyol. Dan semasa tinggal di Saudi, hampir tak ada yang tahu kalau dia 100% berdarah Indonesia. Saban ketemu dokter pertama kali, ketemu tukang parkir di parkiran mal Mekkah, sering diajak ngoceh panjang lebar pakai bahasa Arab. Lucunya, dia di Jeddah memang getol banget belajar bahasa Arab. Jadi, cucoklah yaaaaa .

Tentu saja, manusia itu ada saja kurangnya. Tak ada gading yang tak retak.

Tapi berhubung today is his birthday, I only reveal the good parts .

For all those times you stood by me
For all the truth that you made me see
For all the joy you brought to my life
For all the wrong that you made right
For every dream you made come true
For all the love I found in you
I’ll be forever thankful baby

(Hayooo, lirik lagu apa iniiii :D)

Cause you bring out the best in me like no one else can do … happy birthday, Pops!

Many happy returns, selalu dilindungi dan diberkahi Gusti Allah . Dunia dan akhirat.

Wish you nothing but the best, My Brown Eyes ;).

The last but not least…makan-makaaaaaaannnnn ^_^.

2004, sepuluh tahun kemarin :D. Pose sok lucuuuuu hihihi

2004, sepuluh tahun kemarin :D. Pose sok lucuuuuu hihihi

***

7 thoughts on “For All The Wrong That You Made Right

  1. Because you loved me ditutup sama the best of me nya blueeeeee itu si best of me lagu si edi buat akooh dr jaman doeloe.ihik. ciiiiiiieeee ish romantis juga dianyaaaa happy birthday buat sahabat slash suami ya ditambahkan segalaaaa yg baik dlm hidupnya.*pasang sontrek Lucky I’m in love with my bestfriend*

  2. curaaannnggg, kok foto yang ini ndak dipamer di FB, siiiihhh…? *lebih buka aib disini apa disono ya* 😆
    Ah, pokokna mah kalian ini salah 1 pasangan favoritku, daaaahhh….! 🙂

  3. eciyeeeee…. romantis nii yang ditutup dengan foto sambil menjulurkan lidah.. *sigh*
    tapi ikut ngucapin selamat deeeeh 🙂

    Many happy returns yaaaaa… salam kenal.. 🙂

  4. Percuma banyak omong kalau orang tua tak mencontohkan langsung . Kita bisa menjejali telinga mereka dengan macam-macam nasihat, tapi mata mereka tidak buta

    Saya suka banget ini.. tengs mba.. Your kids are who you are

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *