Jalan-jalan Turki, Istanbul, Dua Wajah, Multi Peradaban

Sebenarnya   Jalan-Jalan Turki  ini adalah tulisan ke-2 yang muncul di Majalah Garuda edisi September-Oktober 2013 lalu hehehe.

Saya sih belum berkesempatan jalan-jalan ke Turki *hiks*. Ini cerita jalan-jalannya suami yang kebeneran pas April-Mei dapat assignment selama sebulan ke sana. Waktu itu kan kita baru sebulanan pindah ke Athlone. Si Nabil masih adaptasi di sekolah. Masa iya sudah ribut mau liburan ke Istanbul hahaha :P.

Di tulisan yang ini mau share soal kawasan liburan yang paling ‘hot’ di ‘belahan Eropa’ si Kota Bermuka Dua ini :D. Apalagi kalau bukan Hagia Sophia dan sekitarnya. Sekalian memanfaatkan hasil-hasil jepretan suami ;).

fotografer Dani Rosyadi Istanbul

Hagia Sophia (pic by Dani Rosyadi)

***

Istanbul, kota terbesar di negara Turki walaupun berpredikat bukan ibukota negara. Selat Bosphorus membelah Istanbul menjadi 2 wilayah di 2 benua berbeda. Di sisi barat merupakan bagian dari wilayah Eropa, sementara bagian timur termasuk wilayah Asia. Tak hanya memiliki 2 wajah, Istanbul menjadi salah satu tujuan wisata kelas dunia karena masih menyimpan jejak dari beberapa peradaban di masa lampau.

Wajah Eropa : Kawasan Wisata Sultan Ahmed, Perpaduan 3 Dinasti Masa Lampau

Sultan Ahmed, selain nama resmi dari Blue Mosque, dikenal pula sebagai kawasan berkumpulnya berbagai macam situs masa lampau yang masih berdiri tegak. Tempat-tempat ini berasal  dari berbagai dinasti dunia yang pernah mengukir sejarahnya di sana. Kawasan ini pula telah ditasbihkan sebagai World Heritage Site oleh badan budaya dunia, UNESCO.

Hagia Sophia, atau disebut Aya Sofya dalam bahasa Turki, tempat paling pertama yang menarik perhatian. Dari jauh sudah terlihat 4 menara dan sebuah kubah yang membentuk bangunan yang konon dibangun sejak tahun 537 M oleh Kekaisaran Byzantium (Romawi Timur) sebagai bangunan gereja Orthodoks. Selama hampir satu milenium, Hagia Sophia pernah mendapat predikat sebagai gereja terbesar di dunia.

Sempat pula Hagia Sophia berubah menjadi gereja Katolik di bawah masa kepemimpinan Kekaisasaran Romawi/Latin.

Jalan-Jalan Turki

Hagia Sophia, Aula (pic by Dani Rosyadi)

Tak heran, begitu memasuki pintu utama, lukisan khas perjalanan Yesus menghiasi  atap selasar panjang menuju ruang utama. Namun, suasana mendadak berubah ketika kita memasuki pintu ke aula utama di lantai dasar. Dua buah lempengan bundar raksasa tergantung di atas pilar-pilar utama,  bertuliskan lafaz ‘Allah’ dan ‘Muhammad’. Aula utama inilah yang sempat dimanfaatkan menjadi ruang salat utama ketika di tahun 1435, kekaisaran Ottoman merebut wilayah ini dan mengubah Hagia Sophia menjadi tempat beribadah kaum muslim.

Tahun 1935, pemerintah Turki resmi menjadikan Hagia Sophia sebagai museum. Museum lengkap bisa dikunjungi di lantai 2. Begitu tiba di atas, kita biasanya diarahkan ke sisi kanan bangunan terlebih dahulu. Di sini ada peninggalan dari umat Nasrani. Lukisan-lukisan asli  masih menempel utuh  yang berasal dari periode awal Hagia Sophia. Semua lukisan ini tadinya ditutupi sejak bangunan difungsikan sebagai masjid. Tapi direstorasi kembali saat hendak dijadikan museum.

Setelah mengitari sisi peninggalan kristiani, kita berpindah ke sisi kiri bangunan yang memuat benda-benda khas umat muslim. Bentuknya bukan lukisan-lukisan. Tetapi lemari-lemari berdinding kaca dengan tirai merah yang isinya didominasi pigura-pigura bertuliskan kaligrafi ayat-ayat suci alquran.

Jalan-Jalan Turki

Hagia Sophia – Museum Lantai 2 – Christian Side (pic by Dani Rosyadi)

Hingga kini, di Hagia Sophia, jejak sejarah dari kedua agama besar ini masih terpelihara dan dipajang bersamaan dalam satu bangunan yang sama. Untuk menikmati koleksi benda-benda seni khas kristiani maupun islami ini, kita hanya perlu merogoh kocek sebesar 25 lira untuk memasuki Hagia Sophia.

Tepat di depan Hagia Sophia, hanya dipisahkan oleh sebuah taman, mari melangkahkan kaki menuju Blue Mosque (Masjid Sultan Ahmed). Tadinya sempat mengira, interior dalam masjid akan bernuansa biru sesuai namanya. Ternyata aksen kebiru-biruan hanya tampak di permukaan luar bangunan saja. Itu pun sangat samar.

Jalan-Jalan Turki

Blue Mosque (pic by Dani Rosyadi)

Jika masjid lain pada umumnya hanya memiliki 4 menara masjid yang biasanya digunakan untuk mengumandangkan azan, maka Masjid Biru ini memiliki 6 menara. Dengan kubah tinggi, dinding bangunan yang berwarna coklat keemasan dan kaca-kaca jendela yang berhias mozaik-mozaik berwarna-warni, membuat interior dalam masjid sungguh megah dan indah. Sebuah lampu dipasang terpasang cukup rendah menambah keunikan tata ruangnya.

Jalan-jalan Turki

Blue Mosque – Inside (pic by Dani Rosyadi)

Jangan terpaku terlalu lama dalam masjid. Kunjungi pula Basilica Cistern. Sebuah tempat penyimpanan air yang biasanya berasal dari tadahan air hujan. Tempat ini letaknya di bawah tanah. Jadi, dari pintu masuk, ada tangga untuk ke bawah. Pilar-pilar batu yang menopang bangunannya berasal dari susunan berbagai bongkahan batu yang konon berasal dari berbagai tempat.

Kini, di bawah tempat yang merupakan peninggalan kekaisaran Byzantium tersebut, masih tersimpan air dan dihuni oleh berbagai jenis ikan air tawar.

Jalan-Jalan Turki

Basilica Cistern (pic by Dani Rosyadi)

 

Masih  buanyaaaaak banget cerita tentang jalan-jalan Turki , Istanbul ini. Foto-fotonya juga segambreng hehehe. Kota ini mungkin termasuk salah satu kota yang paling ingin saya kunjungi. Suatu hari nanti. Duh, kapan nih si Papa dapat assignment ke sini lagi. Nyari akomodasi gratisan nih hihihhi :D.

Sementara ini lihat-lihat foto-fotonya dulu sambil dengerin  si Papa mendongeng ;). Kalau lagi mood, ditulis deh ke blog :D. Semoga cepat-cepat kesampaian keinginan jalan-jalanTurki  ini ^_^. Aamiin .

Btw, kumpulan foto-foto suami juga djadikan video. Videonya bisa diintip di sini ;).

***

7 thoughts on “Jalan-jalan Turki, Istanbul, Dua Wajah, Multi Peradaban

  1. Cantik yaaa, neng poniiiii! Fotonya ya! Kalo yg nulis blog sih… yaaahhh… yaahhh… yah gitu deh. Cantik juga! *takut di block* 😆
    Aku selalu takjub liat bangunan2 jaman duluuuuuu yg interiornya udah secakep ini, dan kuat, krn di umurnya yg udah uzur pun masih kokoh berdiri. Well, bangga juga sih sama candi2 di Indonesia. Itu kan bikinan asli orang Indo ya.. 🙂

  2. Istambul dulunya ibukota Khilafah Islamiyah. Konspirasi Inggris dengan Mustafa Kemal at Taturk sebagai eksekutornya, menyebabkan institusi Islam ini runtuh pada 3 Maret 1924. Seiring dengan itu, ibukota negara yang berubah sekuler pun dipindahkan ke Ankara..

    Assalamu ‘alaikum Bu Jihan. Saya dari Makassar juga, salam kenal yah… 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *