Pemahaman vs Pengalaman?

Dari artikel di link paling bawah, saya kutip sedikit :

“Seorang yang pernah mengalamii hidup sebagai minoritas, akan memiliki sense toleransi yang jauh lebih tinggi dari pada orang yang selalu hidup sebagai mayoritas.

Seorang siswa yang punya teman dari berbagai suku, bangsa dan agama, akan lebih faham tentang makna menghargai. Pengalaman mengantarkan pada pemahaman yang lebih dalam.”

Benar juga. Jadi malu karena dulu dari TK sampai SD sekolah di sekolah Islam, begitu masuk SMP Negeri, kaget melihat teman-teman ada yang beragama non muslim. Ya abes, dulu tahunya di dunia ini hanya ada 2 : orang muslim dan orang kafir, surga vs neraka. Kalau melihat teman-teman kristiani berlatih menyanyi, saya sering kepikiran, “Ya ampyun, pada ngapain, sih? Enggak tahu apa kalau mereka nantinya bakal masuk neraka semua!” Astagfirullah .

Pindah ke Jawa setelah 18 tahun besar di Kota Makassar, bete banget mendapati lingkungan yang sarat basa basi hehehe. Kita orang bugis ini simpel. Iya artinya iya. Tidak artinya tidak. Mulut dan hati, biasanya kompak terus . Makanya, sering dijuluki ‘mulut silet’ hahaha. Entah berapa banyak itu korbannya dulu -_-. Astagfirullah.

Ternyata, diberi rezeki untuk mencicipi belahan bumi yang lain. Dulu, suka bingung, mengapa diantara sekian banyak negara-negara Tim Teng, kenapa nancepnya mesti di Teheran sama Jeddah, siiiiihhhhhhh . Luar biasa cara Allah mengajarkan umatnya, ya . Fabi ayyi a alaa irabbikumaa tukadzdziban.

Dulu suka merasa kagum berlebihan sama yang lebih fasih membaca alquran dan pandai berbahasa Arab. Semacam emejing begitulah. Tapi untungnya, sebelum ke Jeddah, saya tidak terlalu mendewa-dewakan lagi. Syukurlah. Karena kalau berpikir begitu, baru sebulan di Jeddah mungkin sudah kepikiran murtad, kali, melihat ‘kelakuan sehari-hari’ orang-orang yang mungkin jauh lebih lancar membaca alquran dan mungkin hafal lebih banyak ayat-ayat suci. Astagfirullah.

Tapi ingat jangan buru-buru main stereotip. Walau yang menjengkelkan jumlahnya tidak sedikit, yang baik juga masih ada :). Sudah baca buku saya yang “Memoar of Jeddah : How Can I not Love Jeddah” kan? Bab “People We Haven’t  Met” khusus membahas mereka yang baik-baik itu :).

Benarlah kiranya, satu-satunya cara bagi kita sesama manusia untuk mendeteksi iman dan takwa adalah melalui amal dan perbuatan . Sisanya, Allah Sang Mahatahu. Betapa muamalah jangan-jangan adalah setengah dari iman itu sendiri.

Dan kini, dilengkapi dengan merasakan sebagai minoritas muslim di belahan barat Eropa. Tak bisa membayangkan saya seandainya umat mayoritas non muslim di sini menyimpan pikiran yang sama seperti saya kepada rekan-rekan non muslim saya di masa abege dulu.

Pemahaman vs Pengalaman. Pilih yang mana? ;).

Semoga kita bisa memiliki pemahaman yang murni diimbangi dengan pengalaman yang mumpuni. Amin, amin ya rabbal aalamiin. Mampukan umatMu ya, Allah 🙂.

http://islamindonesia.co.id/index.php/opini/1864-menjadi-radikal-karena-pemahaman-menjadi-toleran-karena-pengalaman

Gambar : eportfolio.lagcc.cuny.edu

Gambar : eportfolio.lagcc.cuny.edu

6 thoughts on “Pemahaman vs Pengalaman?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *