If Tomorrow Never Comes

“Sembarangan. Gue enggak pernah ya ngomong kayak gitu. Ibu-ibu Perkakas Dapur yang lain juga enggak pernah nuduh-nuduh gitu.” Suara saya meninggi saking sebalnya mendengar tudingan Dandang barusan.

“Lah, gue juga enggak pernah ngelakuin yang lo ceritain barusan. Kalian tuh yang suka fitnah gue.”

“Mana buktinya?”

“Ya pokoknya gue taulah. Kalian ini hobinya ngomong di belakang. Ketemu gue aja pada enggak mau bisanya cuma jelek-jelekin gue.”

Saya makin naik pitam, “Duh, enggak salah, tuh. Kita enggak ke sini ya karena katanya Mbak Dandang udah enggak mau ngomong sama kita lagi.”

“Enggak kebalik? Kalian kali yang suka suudzon. Katanya gue jutek lah, katanya gue suka marah-marah enggak jelas.”

Tuding-tudingan langsung berakhir saat Parutan Keju, yang memang saya minta khusus untuk menemani saya menemui Dandang, melerai kami.

Benarlah selama ini kalau kisruh diantara Ibu-ibu Perkakas Dapur vs Mbak Dandang dipicu oleh kesalahapahaman. Kesalahpahaman yang dibiarkan berlarut-larut karena tidak adanya pihak yang sudi untuk bertabayyun.

Sebelum ke rumah Dandang, kepada Parutan Keju sudah saya ceritakan semuanya. Sudah saya sebut-sebut nama Panci yang saya curigai sebagai ‘tukang kipas’ diantara kami.

Parutan Keju berusia jauh lebih tua diantara kami dan beliau berada di luar lingkaran pertemanan “Ibu-ibu Perkakas Dapur”.

Karena saya tahu pasti, baik saya maupun Dandang adalah sedikit diantara perkakas lain yang tidak takut berkonfrontasi langsung dengan tegangan tinggi sekali pun. Makanya biar enggak korslet, perlu ada Parutan Keju hehehe.

Perlu lebih dari sejam untuk meyakinkan Dandang kalau saya bisa membuktikan semua cuma salah paham. Pasti enggak gampang untuk Dandang karena ternyata selama ini hubungannya tetap rapat dengan Panci. Padahal Panci mengaku sudah tidak akrab lagi dengan Dandang .

Saya ajak langsung Dandang bertemu Panci.

Yang saya inginkan bukan menghukum Panci, kok. Suwer. Benar-benar hanya ingin mengakhiri ketegangan yang sebenarnya berawal dari perselisihan Dandang vs Wajan & Dandang vs Mangkok. Dengan Mangkok saya tidak begitu dekat. Tapi Wajan adalah sahabat karib saya.

Malah, sebelum pertengkaran ini terjadi, Wajan-Dandang-Panci-Saya bisa dibilang kuartet yang paling karib. Kalau mengaji duduknya berempat rapat-rapat, cekikikan sembunyi-sembunyi hihihi. Pernah kejadian listrik di gedung Dandang dan Panci mati, mereka ngibrit ke rumah Wajan.

Saya, yang sudah bisa mencium aroma makan-makan tentunya ikut absen di rumah Wajan. Hahaha *temanMacamApaaahhh* .

Saya tidak rela melihat hubungan yang dulunya harmonis bisa pecah berkeping-keping. Tak hanya antara Mangkok-Wajan vs Dandang.

Ketidakpedulian saya, Sendok, Piring, Gelas dll membuat semuanya terseret. Tiba-tiba saja, it’s us against Dandang!

Padahal mungkin maksud Sendok dan Piring itu baik. Diamkan saja. Yang penting kita tidak ikut-ikutan. Istilahnya, cari aman sendiri . Saya tahu setelah ribut-ribut, Sendok masih dekat dengan Dandang. Piring yang belakangan juga kena hasut.

Pengajian kami terpecah dua. Kelompok arisan bubar. Aroma permusuhan menyebar luas ke seantero ‘rumah’. Tak hanya di ‘dapur’, di ‘ruang tamu’ sampai ‘ruang tidur’ tahu perang dingin antara kami. Malu rasanya.

Singkat cerita, setelah Panci ‘terdesak’, saya usulkan semuanya bertemu. Saya-Panci-Wajan-Dandang dan Mangkok. Yang lainnya entar-entar saja dulu. Dandang menolak konfrontasi. Ya sudah. Saya bilang yang penting ketemu saja. Peluk-pelukan dan saling minta maaf, tidak usah membahas apa-apa lagi.

Saya pulang. Tanpa sepengetahuan saya, Dandang berbicara dengan Panci. Katanya, Panci menangis. Dandang tidak tega. Pertemuan batal. Konon, Wajan akhirnya menelepon Dandang, Mangkok juga. Anehnya, Wajan sempat marah pada saya. “Lu kenapa sih? Dasar gila urusan! Enggak ada kerjaan lain apa, ya?”

Inilah repotnya. Panci jauh lebih dekat kepada Wajan daripada saya. Manalagi, Wajan ini, walau gampang marah dia tidak terlalu suka berkonfrontasi langsung. Dia tidak mau berdiskusi langsung.

Pada kenyataannya, hubungan kami semua dan Dandang tidak membaik.

Gambar : bubblews.com

Gambar : bubblews.com

Awalnya, Dandang tidak sadar. Saya ingat lho sekitar seminggu setelah konfrontasi itu, Dandang membuat acara buka puasa di kediamannya. Harapannya, kami semua datang.

Entah hasutan apa yang dibuat Panci, perwakilan “Perkakas Dapur” hanya ada saya dan Serbet, yang memang sejak awal memilih tidak ikut-ikutan sama sekali.

Mellihat saya datang, Dandang berseri-seri, katanya, “Wajan mana?”

Aduh, saya tidak tega melihat mukanya yang penuh harapan. Saya bilang saja tidak tahu. Padahal Wajan sudah berdalih kalau dia enggak bisa datang karena suaminya kerja malam .

Sepanjang acara, saban ada yang datang, Dandang sontak menengok ke arah pintu. Tapi, yang ditunggu-tunggu tidak pernah datang . Sedih euy ingatnya.

Di situ saya jadi ketakutan sendiri. Pengecutnya langsung keluar. Saya mulai berhitung-hitung. Panci sepertinya ‘lawan’ yang ‘tangguh’. Tentu saja. Dia sudah lebih dahulu membentangkan sayap pertemenan di ‘dalam dapur’. Temannya banyak sekali. Dari ‘ruang tamu’ sampai ‘ruang tengah’, siapa yang tidak kenal Panci?

Saya waktu itu baru bergabung di ‘rumah’ itu. Siapalah saya. Sudahlah orangnya malas berbasa basi, malas datang ke acara ibu-ibu di luar acara ‘dapur’, saya juga terkenal bermulut silet huhuhu. Sementara Panci bersifat seperti malaikat. Kebaikannya sudah melegenda. Saya kagum kok kepadanya. Sifatnya yang ringan tangan kepada siapa saja tanpa pandang bulu memang patut kita acungi jempol .

Manusia … tidak ada yang sempurna 🙂.

Saya menyerah. Wajan sepertinya mulai menjauh. Mangkok memang terkenal pendiam. Jadi, ketika akhirnya Dandang malah bersikap dingin pada saya saat kami bertemu kembali, ya saya bisa bilang apa 🙁.

Walau sakit hati luar biasa, saya hanya berani mengamuk depan suami hahaha.

‘Dapur’ kami sudah mulai ramai. Saya pasrahkan bila memang Dandang yang memang harus terusir. Maaf ya, Mbak Dandang . Hiks. Enggak sanggup saya kalau harus berselisih dengan Mangkok, Wajan, Sendok, Piring, Gelas dan belakangan datanglah Tatakan Piring, Taplak, Toples dll.

Bersama teman-teman baru, ibarat kata, saya memilih menyembunyikan bangkai dalam lemari dan pura-pura tidak tahu saja. Seperti selama ini yang dilakukan oleh Sendok, Piring, Gelas dll.

Dan itu berlangsung terus selama bertahun-tahun. Yup, bertahun-tahun . Bahkan, Panci terus menyeret Tatakan Piring, Taplak dll ke dalam perang dingin. Sungguh lucu.. Mengingat Tatakan Piring, Taplak dll ini kan bahkan tidak kenal dan belum pernah bertemu dengan Dandang.

Sementara itu, hubungan Dandang dan Panci tetap bagai dua sejoli tak terpisahkan.

Gambar : infodapur.com

Gambar : infodapur.com

***

Beberapa hari lalu Dandang mengirimkan pesan kepada saya. Panjang sekali isinya. Sungguh tidak mengira. Akhirnya, sekali lagi, ada yang membongkar muslihat Panci. Kali ini, semuanya melibatkan diri dan konfrontasi kembali dilakukan terang-terangan langsung di rumah Dandang. Panci sengaja tidak diikutsertakan.

Alhamdulillah. Selesai urusan antara Dandang dan ‘seantero dapur’.

Tapi … masalah lain mulai datang. Ini yang sebenarnya ingin sekali saya hindari dulu . Kisruh dengan Dandang terurai, sekarang seperti terlihat Panci menjadi musuh bersama.

Bukannya sok baik. Kalau untuk saya pribadi, berlarut-larutnya masalah ini ya hasil dari kesalahan kita bersama. Dandang sudah diperingati tapi tetap takluk pada airmata Panci atas nama rasa kasihan.

Saya juga oon bin pengecut. Dulu, sudah melangkah sejauh itu tiba-tiba mundur sendiri. Termakan rasa takut karena enggak kehilangan lebih banyak teman. Istilahnya ya itu tadi cari aman sendiri .

Mangkok, Wajan, Sendok, Piring dan Gelas saya rasa juga sudah bisa membaca situasi. Tapi apa daya. Selama ini, tingkah laku Panci yang bak malaikat di hadapan mereka menimbulkan rasa tidak enak yang bermuara pada ketidakpedulian. Alasan klasik, enggak tega.

Belum lagi semangat bertabayyun masih sangat rendah. Telan saja Panci bilang apa. Dibumbu-bumbui kalau perlu.

Ignorance membawa perselisihan ke level yang lebih tinggi. Bertahun-tahun booo. Dan akhirnya melibatkan hampir seisi dapur.

Sebenarnya, ada apa sih antara Panci dan Dandang? Saya bukan psikolog atau psikiater sih hehe. Tapi, sekilas saya menangkap Panci ini tipe orang yang tidak bisa bilang tidak kepada siapa pun. Dia terobsesi untuk menyenangkan semua orang. Mustahil atuh.

Beberapa tahun pertama di ‘dapur’, Panci hanya ikut-ikut di acara ‘ruang tamu’, ‘ruang tidur’ dll. Panci ingin punya komunitas sendiri. Jadi, ketika akhirnya Wajan, Sendok, Piring, Gelas, saya dll datang mengisi ‘dapur’, dia ingin memegang komando. Maklum paling senior.

The problem is, ada Dandang. Secara leadership, Dandang memang juara banget . That’s why I admire her that much . Untuk menghadapi ibu-ibu yang “terserah kata lo” tapi di belakang doyan ngomel ini, memang perlu banget karakter seperti Dandang hahahahaha.

Singkatnya, ‘komando’ yang diidam-idamkan malah jatuh ke tangan Dandang. Mungkin karena itulah, tanpa sadar Panci ingin menjauhkan Dandang dari kami. Mungkin lho, ya hehehe. Sotoy aja nih eike.

Kalau dikatakan Panci jahat, ya tidak bisa begitu juga. Toh, selama ini, Panci sudah begitu rupa menjaga hubungan baik dengan Dandang sebaik dia mengakrabi “Perkakas Dapur” lainnya . Saya rasa, Panci terjebak dalam dustanya sendiri.

Saya pernah ada dalam situasi seperti itu. Waktu SD, saya ini dikenal sebagai Pabote’ alis Pembual hehehe. Saya bersekolah di sekolah swasta yang banyak dihuni oleh para siswa dari kalangan atas. Ada yang anak dokter, anak pengacara terkenal atau minimal anak dosen.

Saya takut kalau mereka tahu saya cuma anak penjual seprei dan gorden di kios kecil di Pasar Sentral, tidak ada yang mau akrab dengan saya. Hehehe. Padahal teman-teman saya tidak sekerdil itu . Saya saja yang lebay.

Akhirnya, saya suka membual tentang saya yang ikut les bahasa inggris seperti mereka, saya ikut les piano, saya punya tante kaya raya yang sering mengajak saya menginap di rumahnya, pokoknya macam-macamlah.

Sekali berbohong, memang dampaknya luar biasa . Lain kali deh kita cerita soal ini hehehe.

Satu kebohongan harus ditutupi oleh kebohongan yang lain. Seperti saya saat itu, saya rasa begitulah posisi Panci selama ini. Panci jelas bukan tipe yang sanggup ‘menyendiri’. Dia sangat tergantung kepada orang-orang di sekitarnya. Apa pun dia lakukan untuk ‘membeli’ kesetiaan semua orang. Termasuk jika harus bergunjing soal orang lain.

Seharusnya, itulah gunanya teman sejati. Sepatutnya … saya, Wajan, Mangkok, Sendok dll yang harus buru-buru mengembalikan Panci ke arah yang benar. Iya dong, namanya sahabat masa mendiamkan jika ada teman yang sedang terperosok? .

Lagian, jangan lupa kebaikan-kebaikan Panci selama ini . Siapa yang menjaga anak-anak kalian saat kalian naik haji? Siapa yang selalu membawakan makanan tambahan di setiap acara pengajian di berbagai rumah? Siapa yang menjaga anak-anak sulung kalian saat kalian melahirkan? Siapa yang paling sering mengorbankan waktu menemani kalian ke sana kemari? .

Memang. Kalau lagi emosi, yang terbayang yang jelek-jeleknya saja. Saya suka gitu soalnya hahaha. Nah, mumpung lagi waras (which is jarang-jarang hihihi), saya ingin mengingatkan kita semua .

Karena apa yang terjadi pada Panci kan tidak 100% kesalahan dia. Saat Dandang meminta maaf pada saya, saya bilang kepada Dandang kalau saya tak menjamin apa yang dikatakan oleh Panci salah semua. Bisa saja saya memang pernah khilaf mengatakan hal-hal yang kurang baik tentang Dandang kepada Panci.

Soal lidah, kita semua tak luput dari khilaf lah ya. Lidah siapa pun gampang keseleo . Jangan sekarang semuanya dipersalahkan kepada Panci . Tidak fair itu namanya hehehe.

Kalau Wajan dulu selalu menutup ruang diskusi dengan mengatakan, “Biarin aja. Biar waktu nanti menyelesaikan.”

Tapi Saudari-saudariku tercinta, kita bukan penguasa waktu. Waktu tak dikendalikan oleh kita. Kita sering pasrah dan berpikiran, “Lihat besok sajalah.” Bagaimana kalau besok itu ternyata tidak pernah terjadi. If tomorrow never comes, what will happen?

Sudah terlalu lama ya. 3 tahun. Kita tidak lagi muda. Waktu yang panjang yang sudah kita lewati seharusnya menjadi proses penting yang tidak boleh disia-siakan. Jangan ditunda-tunda hehe. Menunda-nunda hanya akan membuat syaitan masuk dari segala celah.

Memaafkan memang bukan sifat sembarangan. Kalau menurut Gandhi, hanya orang-orang besar yang sanggup memaafkan. Kalau orang kerdil, jangankan memaafkan, minta maaf saja tidak akan punya nyali. It’s your choice, kesempatan untuk membuktikan orang seperti apakah kita ini .

Kalau temannya berselisih, minimal jangan ditambah-tambahi atau berkumpul untuk membahas satu orang itu saja. Percaya deh, begitulah dulu awalnya perselisihan dengan Dandang muncul. Sudah cukup, kan? Masih kurang sakit? Masih perlu diulang lagi? .

Untuk yang lain yang tidak merasa terlibat masalah ya kesempatan beramal untuk mendamaikan yang lagi bersitegang. Amar ma’ruf nahi munkar kalau istilah kerennya hehe.

Waktu tak akan selalu berpihak pada kita. Bagaimana bila takdir tak mengizinkan kita bertemu besok? Sementara urusan sesama manusia harus selesai di dunia.

Saya tidak tahu ya perkembangannya seperti apa. Atau mungkin banyak kata-kata dari Panci tentang saya, mohon kebesaran hati dari saudari-saudariku yang cantik dan baik hatinya untuk memaafkan. Sekali lagi, saya enggak bilang Panci bohong. Ya siapa tahu ada yang benar. Maafkan saya. Maafkan Panci.

Panci tidak sempurna. Dandang juga tidak. Saya apalagi, mulut silet boooo hahahahaha. Dan kalau kalian menengok ke dalam kaca dan bercermin, kalian pun akan mendapati hal yang sama .

***

Satu musuh terlalu banyak. Sejuta teman takkan pernah cukup.

Saya tutup dengan lirik lagu favorit dari band jadul ini hehehe…

“Adakah waktu mendewasakan kita
Kuharap masih ada HATI BICARA
Mungkinkah saja terurai satu persatu
Pertikaian yang dulu bagai pintaku
Semoga 🙂

friends posting


2 thoughts on “If Tomorrow Never Comes

  1. Wah, pelajaran yang sangat berharga nih. Saya sendiri orangnya kurang bisa bergaul dalam kelompok. Entah kenapa, rasanya agak terasing. Mungkin karena saya pemalu (?) Padahal, kalau sudah kenal baik, saya ini tipe yang malu-maluin 😀
    Saya punya seorang sahabat. Kita sudah sahabatan hampir 20 tahun. Jarak jauh, jarang ketemuan, tapi herannya seperti gak pernah terpisah kalau sudah bertemu. Kuncinya adalah selalu jujur. Apapun itu. Walau menyakitkan, harus bilang. Jangan pernah ngerasa gak enak atau takut dia tersakiti karena kata-kata kita. Karena, kalau dia tahu belakangan dari orang lain, itu akan jauh lebih menyakitkan.
    Semoga masalahnya cepat selesai ya, mbak. Semoga bisa duduk bersama, membicarakannya dengan kepala dingin dan semua bisa menerima dengan lapang dada. Amin. 🙂

  2. panjang ya ceritanyaa…. dan rada mengerutkan kening, trus manggut2… ooo ini cerita tentang perkakas dapur di jedah ni kayanya… hihi nebak2 aja..
    tapi emang begitulah pertemanan dengan ibu2 eh perkakas dapur… seruu! rame. kalo senggolan gedombrengan, bahkan kadang ada yg pecah ya kaya piring ato gelas… kecuali piringnya piring kaleng 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *