Buku “Dalih Pembunuhan Massal” (6)

Menyiapkan Panggung PemberontakanAidit mungkin merasa G-30-S sebagai rencana yang mantap. Jendral-jendral pembangkang bisa disingkirkan, Soekarno akan simpatik pada PKI. Sekali tepuk, partai dan posisi Soekarno bisa diselamatkan.

Yang tidak disadarinya, pihak AD maupun AS juga menunggu-nunggu saat ini datang. Mereka tahu, kudeta cara lama kepada Soekarno akan sia-sia. Soekarno masih terlalu popular di mata masyarakat. Mereka butuh dalih untuk menghajar PKI dengan alibi ingin menyelamatkan Soekarno. Setelah beres, barulah mereka bisa merongrong kekuasaan Soekarno.

Taktik khas AS yang masih dipakai sampai sekarang, “Hancurkan dulu teman-teman dekatnya!” Hint : bete sama Iran? Sikat dulu Suriah. Gampaaaang, tinggal gosok-gosok isu Sunni-Syiah saja untuk memancing reaksi masyarakat muslim internasional. Wow, it really works! Perbedaan yang sudah ada sekian abad itu tiba-tiba makin meruncing belakangan ini . Asyik, ya. Menghancurkan musuh dengan biaya dan effort yang sangat minimal secara materi. Angkat topi untuk AS .

Balik ke Indonesia tahun 1965, jangan salah, AS dan AD sudah bersiap-siap sejak lama . Tak hanya bantuan dana yang dikucurkan kepada sekutu mereka di Indonesia, AD dkk . Hal-hal lain yang berkaitan dengan pemerintahan telah mereka galang bertahun-tahun. Termasuk memberikan beasiswa kepada para lulusan ekonomi asal Indonesia. Familiar dengan istilah “Mafia Berkeley”? Nah, para ‘mafia’ itu lahirnya dari sini .

A.H Nasution yang memang telah menjadi ‘anak emas’ AS sedari awal meyakinkan ‘bos besar’ bahwa AD tidak akan membiarkan PKI mengambil alih kekuasaan. Dwifungsi ABRI adalah salah satu penetrasi yang dilakukan Nasution untuk menerabas ranah-ranah strategis dalam masyarakat sipil.

No wonder, zaman Orde Baru, yang menduduki jabatan-jabatan basah macam gubernur, walikota dll biasanya purnawirawan ABRI ya *menganggukAnggukSokPaham* . Belum lagi fungsional AD yang lain yang diwujudkan dalam “Golongan Karya” . Mantap. Sekarung jempol untuk AS, AD dkk .

Walau begitu, saya tetap sayang pada Ade Irma Suryani hehehehe *apaHubungannyaCoba* .

Makanya, AD dkk sudah sangat ‘siap’ bahkan sebelum G-30-S terjadi. Mereka hanya menunggu sebuah kejadian penting, semacam ‘keajaiban’.

Jangan dikata mereka banting tulang mati-matian secara mendadak nan tiba-tiba untuk ‘memperbaiki’ bangsa pasca Gestapu. Eit, persiapannya sudah bertahun-tahun, lho. Hehehe.

Jadi, peristiwa G-30-S ini bisa dibilang adalah jawaban dari doa AD & AS. Sejarawan tak menemukan bukti bahwa AS yang menjadi dalangnya. Lagi hoki aja hahaha.

Roosa pribadi meyakini G-30-S adalah ‘kesialan’ Aidit dan Biro Chusus-nya. Maksud hati hendak mempecundangi AD, ternyata mereka yang termakan perangkap. Namun, apakah Aidit yang dikerjai oleh Syam ataukah bagaimana-bagaimananya… masih tetap menjadi misteri yang sepertinya telah terkubur rapat-rapat bersama hampir semua dari mereka yang telah meninggal dunia.

Kudeta Suharto

Secara eksplisit, Roosa menempatkan kata-kata “Kudeta Suharto” sebagai bagian dari sub judul bukunya. Tepatnya, “Peristiwa G-30-S dan Kudeta Suharto”.

Salah satu sejarawan internasional mengemukakan teori konspirasi bahwa Suharto-lah dalang dari peristiwa ini. Dengan menempatkan dua sahabatnya (Kolonel Latief dan Letkol Untung) dalam tim inti dan ‘mempekerjakan’ Syam, Soeharto menyutradai semuanya dan belakangan mengkhianati kedua kolega perwira AD-nya tersebut. Inilah yang dijadikan alasan mengapa Soeharto lolos dari daftar penculikan.

Syam sendiri (konon) ditembak mati paling belakangan. Alibi rezim Orde Baru, karena Syam sudah banyak memberi informasi-informasi penting. Syam ditembak mati tahun 1986.

Tapi, Roosa menemukan fakta penting untuk tidak memercayai teori konspirasi ini. Soeharto tidak punya rekam jejak sebagai perwira yang cerdas dan memiliki strategi luar biasa. Bagaimana mungkin semua bisa berjalan sesempurna yang diinginkannya? Nope, Roosa menolak asumsi ini.

Mungkin maksudnya, masa iya ada orang yang sepanjang kehidupannya biasa-biasa saja tiba-tiba berubah jadi jenius dalam waktu setahun? Hehehe . Capek juga ya jadi sejarawan. Harus melihat rincian masa lampau satu persatu aktor dalam tiap peristiwa untuk menarik kesimpulan dan mengisi ruang-ruang kosong dengan asumsi akurat *ngelapKeringat*.

Kalau sekarang kan kagak perlu susah-susah mikir dan peduli setan sama rekam jejak, bukti dan sebagainya. Kalau terdesak, kan tinggal teriak-teriak dengan lantang, “Ini pasti ulah zionis!” Hahaha .

Suharto join di grup ‘penentang Soekarno’ setelah dijadikan sebagai komando nomor 2 oleh Ahmad Yani di perbatasan Malaysia saat Dwikora berkobar. Pura-pura saja AD mendukung Soekarno. Mereka sudah ‘main mata’ dengan AS dan sohibul karibnya, Inggris, yang menjadikan Malaysia sebagai negara federasi mereka. Inilah yang ditentang oleh Soekarno. Tidak merestui pihak sekutu yang ingin menjadikan Malaysia dan belakangan Singapura sebagai negara boneka mereka.

Di sinilah Suharto sudah mulai banyak tahu soal hal-hal ‘besar’ lainnya. Saat Ahmad Yani dinas ke luar negeri, jabatan Panglima Tertinggi AD sering disematkan pada Suharto.

Bagii Roosa, peristiwa G-30-S diyakini adalah kejutan bagi AD dan AS. Tentu mereka tidak akan segegabah itu membiarkan petinggi-petinggi AD seperti Ahmad Yani, S. Parman, Soeprapto dll menjadi korban begitu saja. Roosa yakin, AD pun kecolongan dalam hal ini.

Entah, ya, menurut Roosa, kebetulan saja Latief dan Untung itu adalah sahabat dekat Suharto secara personal. Tapi ada kecurigaan, Sueharto bermuka dua di hadapan mereka berdua. Latief pernah mengadukan masalah “Dewan Jendral” kepada Suharto dan Soeharto berjanji akan menyelidikinya. Kemungkinan, Latief tidak tahu kalau Suharto sudah join ke gank ‘sayap kanan’.

Sedari awal, Suharto sudah menyadari rencana AD dan hendak membangun kediktatorannya sendiri. Terlepas dari detil-detil yang dipegang oleh Nasution dkk yang tidak diketahuinya, begitu kesempatan itu datang di tahun 1965, Suharto menjalankan rencana-rencana yang sudah ada.

Mulailah Suharto carper ke AS. Suharto tahu AS sangat takut pada rencana nasionalisasi tambang minyak oleh Soekarno yang seharusnya sudah dibahas saat itu. Suharto turun tangan langsung di sidang kabinet pertengahan Desember 1965 saat Chairul Saleh membahas nasionalisasi Caltex. Sesaat setelah sidang berlangsung, Suharto tiba-tiba muncul, datang dengan helikopter. Suharto mengancam bahwa AS tidak akan tinggal diam menghadapi tindakan gegabah pada perusahaan-perusaahn minyak. Chairul Saleh menciut dan langsung membatalkan pembahasan sampai waktu yang tidak ditentukan.

Suharto tahu, dia harus menciptakan pertumbuhan ekonomi yang kuat untuk menjamin kediktatorannya nanti. Suharto ingin segera mengakhiri politik bebas aktif ala Soekarno dan merapat ke AS. Sedari awal, Suharto sudah sibuk ngutang ke Paman Sam .

Setelah G-30-S terjadi, AS sempat meragukan apakah AD bisa memutarbalikkan situasi sesuai rencana yang telah mereka gadang-gadang selama ini. Walau Ahmad Yani sudah tidak ada, masih ada Nasution. Namun, tewasnya sang putri tercinta merupakan pukulan yang sangat dalam bagi sang jendral. Sementara situasi segenting ini harus disikapi dengan cepat dan konsentrasi penuh.

Untunglah, sisa-sisa petinggi Angkatan Darat, Soeharto dkk, sigap membaca peluang ini. Tanpa ba-bi-bu, mereka langsung sepakat menunjuk PKI sebagai dalang hanya dengan modal pengumuman Dewan Revolusi via RRI. Ya, lagian, memang tidak bermaksud mencari bukti konkrit, kok hehehe .

Bukti-bukti telegram Duta Besar AS di Indonesia kepada atasannya di AS sudah banyak yang terbongkar dan dijadikan data oleh para sejarawan. Termasuk jaminan dari AS bahwa pasukan Malaysia tidak akan mengganggu Indonesia selama AD sibuk ‘membunuhi’ kader/simpatisan PKI. Pokoknya dibantu semampunya .

Organisasi massa dipersenjatai dan diprovokasi oleh AD untuk menyerang massa PKI yang segambreng itu. Ada yang berkilah, masyarakat memang sudah dendam pada PKI sejak lama. Belum cencuuuu hehehe. Sedendam-dendamnya penduduk sipil, apa sampai berani membunuhi sesama sipil? Kudu dikompor-komporin dulu. Ini ada kok penelitian secara psikologisnya . Baca dewe, yo hehe.

Di film dokumenter “The Act of Killing/Jagal” (ini cerita teman, sih), selain propaganda besar-besaran, para pembantai sipil juga diberi alkohol. Konon, efek alkohol bisa mengurangi rasa berdosa mereka dan mencegah mereka dihantui mimpi buruk karena membantai segitu banyak massa PKI. Sudah nonton filmnya? Saya mah takuuuut hehehe. Film ini mengangkat sudut pandang masyarakat sipil yang ikut membantu AD menangkapi dan mencabut nyawa kader/simpatisan partai komunis yang saat itu tengah jaya-jayanya.

AD sangat hati-hati dalam merebut kekuasaan. Suharto sadar betul cara mereka merebut kekuasaan adalah tonggak penting bagi keberlanjutan dinasti militer secara nasional. Mereka menciptakan suasana histeris, penuh krisis dan meyakinkan masyarakat bahwa mereka semua dalam bahaya maut.

Sesudah membasmi PKI, AS membantu membiayai demonstrasi-demonstrasi atas nama mahasiswa yang menunjukkan ketidakpuasan atas kepemimpinan Soekarno.

Gambar : hass.unsw.adfa. edu.au

Gambar : hass.unsw.adfa. edu.au

Untuk melegitimasi tindakannya, Suharto bahkan menyalahgunakan Supersemar dari Soekarno. Misteri Supersemar juga terkubur bersama tiga perwira yang katanya menjadi saksi surat sakti ini. Protes dari Soekarno tidak menghentikan Suharto saat itu. Suharto mencopot 15 menteri yang ditengarai loyalis Soekarno dan mengangkat menteri-menteri yang tentu saja pro AD.

Sejak itu, Suharto melaju terus dan membawa kediktatoran militer memulai kekuasaannya selama lebih dari 30 tahun di bumi Nusantara. Menyudahi masa-masa jaya Soekarno dalam kepahitan. Well, every hero becomes a bore at last ).

***

(Bersambung ke sini)

9 thoughts on “Buku “Dalih Pembunuhan Massal” (6)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *