Hidup Tanpa ART di Luar Negeri … Hebatkah?

Polemik baru di dunia ibu-ibu hihihi. Entah kenapa, seminggu dua minggu terakhir banyak yang membahas soal ART, yay or nay? hehehe. Tak sedikit yang nyinyir dan menganggap ketergantungan pada ART itu budaya ‘manja’ nan feodal.

Minggu lalu, salah satu grup ibu-ibu yang kebetulan anggotanya memang tinggal di luar negeri semua, lebih nyinyir lagi hahaha. Saling membanggakanbetapa mandirinya mereka yang tinggal di luar negeri enggak ada embak bla bla bla.

Misi  bentar, daripada cari-cari foto yang pas dari Google, eike numpang narsis dimari yak hihihihi.

Kilkenny Castle :D

Kilkenny Castle 😀

Saya sebenarnya kepengin bilang ke mereka, “Yo wis, pada pulang sana ke Jakarta. Tenteng anak sama suami dan tinggallah di Jakarta dan jalani hidup yang seperti kalian lakukan di luar negeri yang super mandiri dan tidak butuh siapa-siapa itu.” Tapi takut ah, anggota baru masa udah mau nyolot. Pan kite masuk sana mau promo buku pula hahahahaha.

Hidup tanpa ART di Luar Negeri … hmm?

Kalau untuk saya pribadi, ini tak melulu masalah manja atau mental . Karena di Arab Saudi pun, budaya ber-embak ini masih sangat lazim. Apakah ada hubungannya dengan agama? Ya pastinya enggak. Karena di Iran yang juga mayoritas muslim, kehidupannya sudah seperti negara maju, jarang yang pakai embak .

Masalah pertama, kesenjangan sosial-ekonomi. Bukan masalah budaya feodal juga, sih hehehe. Karena saya pernah senyum-senyum mendengar 2 orang ibu-ibu di sekolah Nabil yang berambut pirang yang mengeluh soal mereka capek habis pulang liburan. Mereka terpikir mengambil asisten rumah tangga tapi mereka marah-marah karena upahnya kegedean menurut mereka.

Iyalah, dengar-dengar jasa tukang bersih-bersih rumah bisa 20 euro per jam. 20 euro = 320 ribu rupiah, per jam!!!!

See? Orang-orang bule ini pun sebenarnya ada keinginan juga kok menggunakan jasa embak . Tapi mungkin enggak yang tiap hari gitu hehehe.

Kesenjangan sosial ekonomi yang tinggal di negara-negara berkembang membuat hadirnya tenaga-tenaga kerja murah meriah . Walau sudah mulai banyak yang kapok memakai jasa embak yang stay-at-home, orang-orang mulai melirik jasa tenaga pulang pergi. Atau spesialis nyetrika doang atau nyapu-ngepel doang. Mengapa? Ya karena jauh lebih murah timbang kita yang ngerjain sendiri .

Saya ingat, waktu ngontrak, saya ogah menggunakan jasa tukang bersih-bersih. Kakak saya butuh. Kakak saya juga tidak sempat mencuci bajunya sendiri. Mau beli mesin cuci, ogah juga, siapa yang ngurusin jemur dan nyetrikanya. Jadi, kakak saya punya bibik khusus. Honornya 300 ribu rupiah sebulan untuk mencuci dan menyetrika saja. Jauh lebih murah daripada gaji kakak saya sebulan di kantornya 🙂.

Tentu lain cerita bila si bibik menuntut gaji 3 juta sebulan. See? Kesenjangan ekonomi .

Masalah kedua, fasilitas dan kondisi. Di negara-negara maju macam Irlandia, yang namanya mesin cuci otomatis (pencet dan langsung kering istilahnya hihihi) dan dish washer (mesin pencuci piring) tidak tergolong barang mewah . Setiap apartemen ya standarnya begitu . Kegiatan berbelanja dan fasilitas umum lain dibuat senyaman mungkin.

Di kota-kota besar negara maju, angkutan umum lengkap dan asoy. Bawa stroller saja bisa banget tuh naik kereta atau naik bus umum. Nah, coba di Jakarta, dijitak gak tuh sama supir Kopaja atau transJ kalau sudah sesak begitu eh berani-beraninya mau masukin stroller hahaha.

Mental ibu-ibunya ya tentu terbangun dari lingkungan tempat mereka berada. Makanya, saya meyakini, ibu-ibu Indonesia yang tinggal di luar negeri dan ‘bawel’ itu (mungkin) sebagian besar tak punya pengalaman menjadi ibu rumah tangga di Jakarta. Mungkin, lho, ya. Soalnya kalau ditanya-tanya memang begitu. Begitu menikah langsung pindah ke luar negeri, melahirkan pun di luar negeri .

Saya juga yakin, ibu-ibu Indonesia yang terbiasa dengan embak jangan risau jika harus tinggal di luar negeri. Saya menjadi buktinya hihihi. Terbiasa hidup dengan orang ketiga (si embak) di Jakarta, saya nyaris tidak mengalami syok apa-apa kok dalam kerjaan rumah tangga begitu pindah ke Jeddah . Itu karena di Jeddah banyak jajanan hahaha. Tapiiii…dari Jeddah ke Athlone pun ya rasanya biasa-biasa saja alhamdulillah.

_MG_7249

Justru, saya bersyukur bisa mendapat kesempatan tinggal di luar negeri. Amit-amit kalau sampai menjadikan kesempatan indah ini untuk ‘nyinyir’ pada teman-teman sesama ibu RT di Jakarta yang masih banyak menggunakan asisten. Takut, ah. Takut rezekinya di luar negeri keburu abis hahahhahaha. Saya maunya pulang ke tanah air kalau tak punya balita lagi .

Kalau anak-anak sudah besar, sudah saya hitung-hitung, nih, insya Allah sanggup hidup tanpa ART sama sekali di Jakarta 😀. Baik yang pulang pergi sekali pun 😉.

Saya menyadari betul, saya sungguh diuntungkan oleh kondisi dan situasi lingkungan di negara-negara maju. Yang membuat ibu-ibu seperti saya tak perlu bertambah puyeng dengan drama asisten yang konon katanya lebih sakit daripada ditinggal pacar hahahahaha.

Dan di atas itu semua, memang tak baiklah menghina-hina orang lain yang kita anggap lebih ‘rendah’ daripada kita . Siapalah kita hehehe. Saya tentu mengagumi betul ibu-ibu RT di Jakarta yang sanggup hidup tanpa ART sama sekali. Tapi juga tak merasa heran dan memaklumi 100% jika ada yang memilih menggunakan jasa orang ketiga, baik yang menginap di rumah maupun yang pulang pergi .

Yang tinggal di luar negeri, mari bersyukur. Yang tinggal di Indonesia (especially Jakarta, karena saya tak punya pengalaman menjadi ibu RT di kota lain hehehe), juga harus bersyukur .

“At some point, you gotta let go, and sit still, and allow contentment to come to you.”
― Elizabeth Gilbert, Eat, Pray, Love

Semua ibu-ibu itu pasti keren, kok. Whether they’re using ART or not, saya jamin, keren semuaaaaaaaaaa . Mari saling menyemangati *melirikTumpukanSetrikaanSendiri* hahaha *ngakakStres*.

***

Ps : maafkan foto-fotonya yang sangat enggak nyambung dengan isi postingan. Kapan lagi ini kita bisa pamer-pamer foto? hihihihi :P.

***

19 thoughts on “Hidup Tanpa ART di Luar Negeri … Hebatkah?

  1. ahahaah Jihaaan Pas baca buku the Help waktu baca kalimat mamaknya Skeeter yang bilang good help is like a true love you only find it once un your life langsung mau mewek. Apa bagianku udah habis yaaaa, huhuhu dear God mau lagi dong the help kayak duo Wita-Meri waktu itu.
    Btw ya namapun perempuan ya mungkin seneng aja komptitif menunjukkan kuatnya diri gitu loh. Ihik kmrn ketemu temen bilang aku kok kurusan (ini kayak mau pamer ya) dan aku bilang “iya, aku gak pake art” dan dia jawab “ya kami juga gak pake art,” bow dia wanita bekerja dengan dua anak umur 2 tahun dan 1 tahun ihihihiy, sok pamer amat aye padahal ternyata ada yg lebih kuat.
    Btw itu alis dynamite duo nurun dari situ yah

    • Berarti dikau keren dong enggak pakai ART *jempolAtasBawah* hihihi. Penasaran deh pengin nonton The Help :D. Pernah dibahas di forum TUM dan banyak banget yang ngerekomendasiin filmnya. Btw soal alis, jadinya merhatiin foto-foto sendiri bagai orang narsis level 10 hahahahaha. Iya kah? Alis kita bertiga sama yaaaaa *benerinAlis* 😀

      • terpaksa itu maaah, dan pake laundry kiloan dooooong ahahahahaha. Ditinggal kawin dan ditinggal sakit, neng, hiks I miss them both so much much much. Aku juga penasaran pengen nonton the Help juga, pas baca bukunya terharu biru ijo nila ungu.
        SAma tuuuh alisnya, ngaca dooong . Alisnya kece tanpa bantuan the Famous Narsih ih

        • Kalau dah baca bukunya enggak usah nonton filmnya. Biasanya kan gitu. Filmnya enggak secetar bukunya hehehe :P. Btw, gak gitu-gitu paham soal dunia per-alis-an iniiiiiii hihihihi :P.

  2. ahhh mbak Jihaan.. like this banget lha akuuh. Beberapa ada yang bilang aku manja karna pengen tetap punya art meski suatu hari nanti jadi irt dengan 2 anak. Hiks. Padahal masih jauh juga rencananya :p.

  3. Aih, mbak Jihan, saya agak #jleb nih, karena saya termasuk yang belum pengalaman jadi ibu RT di Jakarta, begitu nikah langsung tinggal di LN, melahirkan juga di LN. Hehe. Semoga saya bukan termasuk yang ‘berbangga hati’ soal kemampuan saya survive tanpa si embak di sini. *aamiin* :)))
    Etapi, saya besar di Jakarta di keluarga yang memiliki embak. 😉

  4. kalau anak-anak sudah lepas balita mending anak-anak diberdayakan buat bantu-bantu sesuai tahapan usianya.. upah makai jasa embak bisa dialihkan buat acara jalan-jalan keluarga hihi

  5. mba , aku juga lagi galau nih .. mau resign atau engga … krna ya itu ga dapet2 mba ,, terakhir cuma 3 bulan , kayanya pada nyerah jaga jagoan kecil saya yg lagi superrrr duperrr aktif nya ( malik almost 5 ,arkan almost 2 ) … suami sudah mengijinkan tapi ortu takut dan ga yakin sm keadaan ekonomi kami sepertinya apabila saya sudah tdk bekerja lagi hehehe ..
    dari temen2 yg bekerja kebanyakan ngomong ” pikirin lagi ” krna katanya biasa bekerja eh skr d rmh aja pasti stress ,,, gt katanya … saya sih mau bismillah aja ,, dan minta petunjuk supaya dikasi yang terbaik 🙂 #dilemaibubekerja

  6. Salam kenal, selama ini silent reader dari Surabaya.
    ngalami sendiri gonta ganti ART, tiap tahun pasti ganti orang dengan berbagai alasan. tahun ini dapatnya yang ga nginep, dilakoni saja, disinilah letak pertualangannya.

  7. Semenjak nikah ga pake ART, terus eike ngapain duooong klo ada ART. Secara ga terbiasa duduk manis ala nyonya2 belanda hehehe. Sekalinya pake ART , pas mabok hamil muda…aduuh risiiih, ga enak aja bawaannya. Kita tidur”an dan ART mondar madir sibuk bekerja

  8. Jleb jleb jleb!!
    Aku pake ART, 2 orang. Yah, mau gimana lagi mbak, kerja di Jakarta rumah di Cibubur, anak 2 orang, usia 2 tahun dan 2 bulan. Kemarin pas cuti berasa emang nganggurnya ditungguin 2 ART gitu *eh, nggak nganggur amat sih, kan ngurusin bayi.
    Suka kaguuummm banget sama ibu-ibu yang bisa survive tanpa ART. Mereka kereeeennn sangat di pikiranku. Asli!!
    Kapan yah bisa kayak gitu? Mungkin kalo anak2 udah sedikit lebih besar, dan kalo aku resign kali 😀

  9. Wk,wkwk modus ya gabung grup baru..mau promo buku…jaim dulu Mak..nanti gak ada yang mo beli buku..
    Soal embak, tergantung kondisi masing-masing aja. Kerjaan rumahtangga yang gak ada habisnya juga bikin capek dan stres kalu gak kuat. Nah, jika sudah begini, silahkan saja yang mampu bayar bisa pakai jasa art.
    Kalau ada yang kuat berjibaku dengan pekerjaan yang itu-itu saja dan berbahagia, ya alhamdulilah. Pilihan bebas merdeka di tangan masing-masing bukan di kepala dan mulut orang lain. Monggo..

  10. Salam kenal ya..seru baca-baca made in mba Jihan. Soal ART *ngurut dada dlu ya….
    Pas lagi hamil 3 bulan, art nongol. Kesan bae, rapi, rajin. 4 bulan bekerja tau2 minta resign *plak…kondisi hamil dah 7 bulan. Apa mau dikata, ya sudah keluarlah engkau dari rumah saia.
    Sudah 2 bulan ini dengan kondisi hamil makin tua, bismillah semua bisa dikerjakan sendiri jg. Kerja kantor, kerja rumah, ngurus anak (back up mama). Bangun biasanya jam 5 teng, skrg jam 4 teng dah melek, dah ngrasak ngrusuk di dapur.

    Hidup tanpa bedinde…hidup tanpa art….

  11. Baca post ini jd semangat. Slama ni sering ngerasa gw ini emak abal2 yg ga bisa masak, ga pinter ngurus anak,ga displin n telaten, males beberes #banyakcacatpokoknya. Tp dilain pihak syukur Tuhan kasi berkat dan kerjaan yg enak jd bisa support byk untuk keluarga n kluarga besar. Pokoknya tlsan2 mbak jihan yg lainnya termasuk yg ngomongin ttg forum ibu2 asi (lagi2 saya emak gagal asi) nampol bgt tu dulu gw ngerasa jd emak plg terparah sedunia krn cm asi 3bln secara baca byk forum malah bikin down seakan2 sufor = racun. Huhu padahal racunnya jg mehong. Eniwei makasi ya, tulisan2nya menginspirasi bgt!

    • Lah ya makanya kubilang Mak, di Indonesia mah emang gak kebayang enggak punya ART hhihihi :p. Justru kalau di luar negeri emang wajar :p.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *