Buku “Dalih Pembunuhan Massal” (5)

Penulis buku ini, Roosa, bukannya pro komunisme atau hendak menunjukkan betapa sucinya PKI.

Buku “Pretext of Mass Murder” ini membahas kritikan Roosa sebagai sejarawan terhadap lemahnya bukti-bukti yang ditunjukkan oleh rezim Orde Baru untuk menuding PKI sebagai dalang G 30 S. Ketidaksetujuan Roosa atas pembantaian sekitar 1-3 juta orang yang dituduh berafiliasi dengan PKI pasca Gestapu. Tidak ada pengadilan sama sekali. Bidik-hardik-ciduk-bunuh!

Kita akan bahas ini lebih lanjut di bagian kesimpulan. Makanya, tahaaaaaan. Tahan dulu komentarnya . Dikira pula gue pro komunis. Widih, eike mah muslim. Percayanya pada Syariah Islam. Walaupun sering mengaku manis, saya bukan pro kapitalis, komunis, marxis dll. *BenerinKerudung* .

Bahkan, istilah pemberontakan atau kudeta pun sebenarnya tidak patut. Karena, gerakan ini tidak berusaha menjatuhkan pemerintahan yang tengah berjalan. Saat itu pemerintahannya kan masih ‘under’ Soekarno secara sah. Setelah peristiwa penculikan para jendral, terlihat Soekarno yang sudah diberitahu mengenai adanya G 30 S oleh Supardjo, tetap asyik berdiskusi dengan Supardjo dkk di Halim mengenai siapa kira-kira pengganti yang pantas untuk Ahmad Yani.

Pranoto yang ditunjuk Soekarno sempat diminta datang ke Halim. Tapi Soeharto menghalangi. Menurutnya, keadaan tidak cukup aman di sana. Walau Soekarno berkeras menjamin keamanan Pranoto, Pranoto tak pernah muncul menghadap Soekarno.

Halim akhirnya dikuasai Angkatan Darat dengan sedikit pertempuran. Sementara pemimpin-pemimpin G 30 S + Aidit sudah pada kabur.

Di Jawa Tengah, Aidit bersembunyi. Sebenarnya, menurut Roosa, Aidit ini bisa saja menurunkan perintah untuk pengerahan massa PKI. Seharusnya, tak semudah itu PKI bisa ditumpas oleh AD. Dengan massanya yang segambreng, PKI setidaknya bisa memicu Perang Saudara.

Tapi, Aidit mungkin berhitung. Walau Aidit yakin massanya akan melakukan apa saja untuk melawan begitu ada perintah, pertarungan antara sipil dan militer tetap tak akan berimbang. Massa PKI pasti akan dibantai oleh militer. Ini bukan hal yang positif. Saat itu, Aidit mungkin masih menggantungkan harapannya pada Soekarno. Aidit berpikir Soekarno tak akan mungkin membiarkan PKI dihabisi begitu saja.

Kalau saja Aidit punya penerawangan ke masa depan, bahwa tanpa melawan pun ternyata massanya akan terbunuh, mungkin dia akan berubah pikiran saat itu.

Sedikit pelajaran mengenai leadership bisa dilihat dari sikap Aidit ini. Ini pendapat saya pribadi, ya. Seorang pemimpin dalam keadaan terdesak sekali pun, tidak akan membiarkan pengikutnya mati konyol begitu saja hanya demi membela diri sendiri . Tidak banyak pemimpin masa kini yang bisa bersikap seperti itu dalam keadaan terdesak. Jangan lagi dibilang gue pro Aidit . Ini membahas khusus terhadap tindakannya yang memilih untuk diam dan tidak memprovokasi massa PKI untuk melawan.

Tak ada informasi yang bisa dikorek dari Aidit. Aidit langsung ditembak mati di sebuah tempat rahasia di Jawa Tengah di bulan November 1965 tanpa proses pengadilan.

Yang tidak diketahui Aidit adalah AD sudah semakin mengokohkan posisinya. Perkiraan Aidit tidak salah. Soekarno memang sangat marah dan mengkritik habis-habisan tindakan AD yang dianggapnya keterlaluan. Soekarno membanting koran, yang setiap hari berisi propaganda AD untuk memancing perang urat syaraf, “Gestapu, gestapu, gestapu, silet, silet, silet, dikiranya kita ini bodoh apa? 100 orang menyileti perwira! Kebohongan macam apa itu?”

Soekarno sudah berusaha mencegah tindakan brutal AD. Soekarno mengumpamakan, “Membunuh tikus dengan membakar seluruh rumah.” Namun, saat itu sang Pemimpin Besar ini pun tinggal menunggu nasib saja. Kemarahannya dan kritikannya tidak ada yang menggubris serius.

Perang urat syaraf ala AD memang cukup taktis. Visum jenazah jendral bisa dibilang dibuat selebay mungkin. Proses penculikan dan penembakan di Lubang Buaya direkayasa sedemikian rupa. Seluruh ormas pro PKI disebut-sebut mendukung dan tahu pasti tentang gerakan ini. Seluruhnya. Termasuk mereka yang berada nun jauh di tempat terpencil, para petani-petani yang kebanyakan tidak bisa baca tulis. Hajar semua. Tangkap dan bantai.

Perselisihan PKI dan golongan non komunis juga dimanfaatkan seoptimal mungkin. Isu agama digosok sedemikian rupa. Rezim Soeharto ingin agar pembasmian ini seolah adalah keinginan rakyat Indonesia secara keseluruhan. Orde Baru butuh legitimasi dari seluruh bangsa untuk mengokohkan pemerintahannya ke depan. Ingat, ya, tujuan utama AD adalah menyingkirkan Soekarno sesuai perintah ‘bos besar’ dan merebut kekuasaan yang mudah ditempuh dengan cara membabat habis kaum loyalis. Semuanya, tidak hanya PKI.

Sempat pernah membaca artikel di media cetak (lupa, euy) bahwa di masa-masa itu, orang-orang yang nonkomunis pun membakar atau membuang buku-buku tentang Soekarno. Karena waktu itu keadaan sangat chaos. Tidak ada standar khusus soal penangkapan. Kadang, hanya mendapat warga yang memasang poster Soekarno saja, penghuni rumah langsung diciduk dan tak pernah kembali lagi.

Menyanyikan lagu Genjer-genjer juga dilarang. Pernah juga mendengar, pencipta lagu ini juga diculik dan dibunuh. Walau mungkin memang benar PKI bersikap represif terhadap segolongan ulama muslim, tapi isu ini terus digosok-gosok dan dihembus-hembuskan. Pokoknya PKI digambarkan sebagai partai dengan moral sangat kejam.

Roosa juga mempertanyakan ini. Dengan dukungan suara sekitar 27% di tahun 1957, apakah benar bahwa puluhan persen masyarakat Indonesia ini bisa dibilang bermoral bejat? Kalau memang PKI sejahat itu, mengapa mereka bisa mendapat simpati sedemikian luas dari berbagai lapisan masyarakat? Apakah di masa itu, masyarakat Indonesia yang bersimpati pada PKI adalah atheis berdarah dingin semua?

Masih ingat dong film dokumenter “Pengkhianatan G30S/PKI” yang dibuat dii awal tahun 80 an. Adegan pertamanya saja sudah sangat cerdik. Alquran dicabik-cabik dengan clurit, senjata khas ala PKI. Orang lagi sembahyang diserang dan dibunuh dengan cara kejam. Ada yang dicungkil matanya. Pesan yang ingin disampaikan, “Inilah yang akan TERUS terjadi jika PKI dibiarkan merajalela.”

Apakah ada yang bisa membuktikan apakah benar saat PKI masih ada, seperti itu cerminan utama kelakuan mereka di daerah-daerah? Semua masjid pasti diserang. Kerjaan semua kader partai adalah mencabik-cabik alquran. Apa iya, puluhan persen yang mencoblos PKI di tahun segitu atheis semua? Hayoooo . Jangan pakai perasaan, buktikan! . Jangan hanya karena segelintir pengaduan dari kalangan ulama/pesantren membuat anda sengit tiada terkira pada PKI.

Karena sama saja kawan-kawanku. Anda mengadukan betapa sedihnya kalau kakek anda seorang ulama dulu dianiaya atau diculik oleh PKI. Nah, bayangkan perasaan yang sama dari sekitar 1-3 juta ibu-ibu dan anak-anak yang suaminya dijemput paksa untuk dibunuh! Sepadan? Atau jangan-jangan memang tempo itu ada ratusan ribu ulama yang dibantai PKI? Nah, kalau memang ada faktanya harusnya ada, tuh, yang meneliti hal ini juga.

Janganlah kebencian pada suatu kaum mendorong kita berlaku tidak adil pada mereka, gitu kali kira-kira pesan moral si Bang Roosa .

***

Di monumen Lubang Buaya, museumnya menampilkan diorama mengenai penyiksaan di Lubang Buaya di dini hari 1 Oktober 1945. Saya ingat ada perempuan bertelanjang dada menari hula-hula memakai karangan bunga di leher. Subuh-subuh kaleeeee, dingin atuh enggak pakai beha hihihi . Seolah-olah menari telanjang itu adalah tradisi khas PKI. Masa, sih? Ada yang bisa membuktikan?

Sepertinya belum pernah ketemu teori komunisme yang mendukung pornografi dan semacamnya hehe .

Tentu saja, ahli-ahli perang urat syaraf ada di belakang rezim Soeharto. Keberhasilannya tidak bisa diragukan. Hilang semua rasionalitas. Hayo pada ngaku, dulu kalau nonton film ini pasti pada berdoa dalam hati, “Semoga semua anggota PKI masuk neraka. Aamiin.” Hehehe. Ngerti kagak, ngutuk iye .

Dalam menghabisi nyawa seluruh partisipan, AD juga melibatkan peran serta masyarakat. Secara psikologis, sipil itu jelas berbeda dengan militer. Seorang prajurit sanggup menghabisi nyawa siapa saja hanya dengan bekal komando atasan. Didikannya memang disiplin begitu. Beda dengan sipil. Makanya, doktrin-doktrin agama dan propaganda ala perang urat syaraf tadi harus digalakkan di masyarakat luas.

Apalagi orang-orang yang harus dilenyapkan ini kan bagian dari masyarakat luas. Apa sebegitu mudah menyuruh masyarakat dengan perintah seperti ini, “Cuy, tetangga lo PKI. Bilang ke Pak RT kumpulin mereka terus bunuhin satu-satu, ya.”

Tentu tak segampang itu. Masyarakat pasti banyakan ragunya, “Tapi kan, dia itu tetangga saya. Saudara saya. Saya kenal sejak kecil.” Itulah pentingnya doktrin silet, menari telanjang, isu agama, perlu terus berulang-ulang dihembuskan ke seluruh penjuru nusantara. No problem. RRI dalam kendali penuh AD. Media-media cetak pun dikuasai.

Kedengarannya mustahil. Tapi sebenarnya keadaan sekarang kan juga sama saja hehe. Contoh nyatanya di era terkini apa coba? Siapa yang bisa menyebutkan perang urat syaraf di masa kini? . Selembar berita di koran atau sepucuk status di FB tiba-tiba sanggup mengobarkan kebencian yang begitu mengerikan? . Sumbernya entah dari mana, foto-fotonya pun kadang hoax.

Nah, sekarang mengerti kan bahayanya foto hoax . Remember peeps, a picture paints a thousand words. Diceritakan saja belum tentu cukup. Makanya dibuatkan filmnya secara serius, diputar wajib tiap tahun, dibikinkan monumen lengkap dengan museum dan miniatur kejadian yang dibuat se’drama’ mungkin. Itu ngaruh, lho. Ngaruh banget.

Setelah itu, AD juga melatih dan membekali kaum sipil dengan senjata. Tentu dengan jaminan, bahwa pembantaian ini semacam tugas suci dari negara (plus agama). Tidak perlu ada yang merasa takut-takut atau ragu-ragu. Jangan dikira masyarakat secara sukarela menawarkan diri untuk ikut membunuhi tetangga/saudara/kerabat mereka sendiri.

Salah satu bukti penelitian adalah daerah Bali. Sebelum AD mendaratkan militernya di sana, data yang didapatkan, pembantaian belum marak. Masyarakat hanya sebatas terdoktrin tapi belum melakukan tindakan masif. Barulah setelah beberapa lama, AD menempatkan tentaranya di sana, barulah ormas-ormas masyarakat beramai-ramai dibentuk dan ikut menciduk para kader/simpatisan PKI.

Kok doyan bawa-bawa agama, ya? Itu diaaaaaa. Level masyarakat kita kan sampai sekarang saja masih gampang ditakut-takutin dengan siksa api neraka . Asal sudah diancam-ancam pakai neraka, bodo amatlah rasionalitas dan semacamnya. Masih figur sentris, “Eh, ini kata Pak Ustaz anu, lho.”

Tidak percaya? Ya tengok saja Pilkada DKI tempo hari. Bertaburan ayat dan ancaman ala agama hahaha. Itu karena yang menghembus-hembuskan itu tahu pasti, hal-hal seperti ini masih bisa menjadi bahan dagangan yang laku. Lebih dari cukup untuk mempermainkan logika masyarakat.

Tunggu saja jelang-jelang Pemilu. Sekarang-sekarang saja sudah mulai kok . Perhatiin aja . Pilih partai A atau anda tidak tergolong muslim yang taat. Jangan-jangan besok-besok ada jaminan masuk surga .

***

Sebagian besar anggota Politbiro-CC PKI (yang bisa dibilang petinggi-petinggi PKI) langsung tembak mati di tempat atau dinyatakan hilang begitu saja tanpa proses pengadilan. Termasuk Aidit, Nyoto dll. Salah satu yang sempat lolos dan bersaksi di pengadilan adalah Suspendi.

Suspendi, salah satu anggota dari Committe Central, badan tertinggi PKI dalam kesaksiannya mengaku tidak tahu tentang gerakan ini. Namun dengan gagah beliau tetap berkeras di persidangan Juli 1967 pada keyakinannya terhadap kebesaran partai dan proletariat. Walau demikian, Suspendi juga tidak mengelak dari pertanggungjawaban selaku salah satu pucuk pimpinan partai. Suspendi dihukum mati. Siapa Suspendi? Rekam jejaknya monggo dicek di biografi yang bersangkutan. Google dewe, yo .

Sebaliknya sikap Syam justru jauh dari keteguhan yang ditunjukkan oleh petinggi-petinggi PKI. Tertangkap di tahun 1967, Syam malah santai-santai saja membocorkan berbagai rahasia partai di depan sidang Mahmilub? Karena in banyak sejarawan yang mencurigai Syam sebagai agen ganda.

Kalau dari saya pribadi, keanehan lain juga terlihat. Tokoh-tokoh kunci baru ditangkap dan diadili setelah pertengahan tahun 1966, sementara pembantaian membabi buta terhadap PKI telah dimulai sejak Oktober 1965. Tuding dulu, bunuh dulu, buktinya belakangan. Bukan kebenaran memang dicari, sih, ya.

Kembali lagi kepada Syam dan Biro Chusus-nya, BC. Biro ini, dalam penelitian Roosa, disimpulkan sebagai bentukan PKI untuk menelusup ke dalam ABRI. Sebenarnya, badan-badan seperti BC ini bukan hanya khas PKI saja. PSI pun dulunya punya organisasi ‘rahasia’ semacam ini. Dari situlah dahulu, PSI mengorganisasikan pemberontakan PRRI/Permesta dengan ‘simpatisan’ militernya.

Tak semua petinggi PKI tahu pasti tentang BC. Bahkan, tak semua kenal dengan anggota-anggota BC. Termasuk mengenali pimpinan BC sejak tahun 1964, Syam. Kerahasiaan yang terlalu dalam inilah kiranya yang mungkin membuat intelijen AD dalam PKI gagal mengindentifikasi dan menyelamatkan para petinggi-petinggi AD dari G-30-S. Zaman dulu, semuanya punya mata-mata di mana-mana . Khas ‘pertarungan’ ala Perang Dingin .

Buktinya, S.Parman selaku kepala intelijen AD juga ikut menjadi korban. Aneh sekali bila S.Parman tahu tapi membiarkan dirinya dan teman-temannya menjadi korban penculikan. Minimal dia pasti berusaha menyelamatkan dirinya sendiri.

Saat G-30-S meletus, Syam bukan perwira militer dengan pangkat tinggi dan bukan tokoh sipil yang luar biasa. Cukup mengagetkan juga bila Syam bisa dipercaya memimpin gerakan seambisius ini.

Salah seorang sumber terpercaya Roosa, yang diberi nama anonim Hasan, mengungkap sedikit soal Biro Chusus dan Syam. Menurut Hasan, anggota Biro Chusus Pusat (Syam, Pono, Bono, Wandi dan Hamim) tidak dikenal sebagai anggota partai.

Dalam kesehariannya mereka menyamar, sebisa mungkin yang membuat tetangga dan orang-orang lain tidak mencurigai mreka sebaga orang partai. Kelimanya memiliki usaha. Misalnya Syam memiliki usaha genteng. Hal lainnya, Syam ke mana-mana berjas dan berdasi dan mengendarai mobil mewah. Mengapa? Karena tokoh-tokoh komunis dikenal sangat benci kemewahan hidup dan mengawal ketat penghasilan para anggotanya, apalagi jajaran pimpinan.

Hm, tuh, ada juga kan sisi positifnya kaum komunis? . Sekali lagi tidak menganggap mereka dewa, tapi menyajikan info yang berimbang.

Kembali lagi ke Biro Chusus. Biro Chusus daerah juga dibuat seperti itu. Anggota-anggotanya kemungkinan besar tidak dikenali oleh kader partai yang lain. Mereka hidup dalam penyamaran dan lebih banyak melakukan operasi bawah tanah.

Hal inilah yang menyebabkan setelah G-30-S pecah, saat sebagian besar pimpinan PKI langsung ditembak mati begitu saja dan yang tidak tahu malah menyerahkan diri secara sukarela saat ada pemanggilan, kader-kader bawah seperti anak ayam kehilangan induk. Blank. Lagi blank begitu, AD pun leluasa menghabisi mereka secara massal, nyaris tanpa perlawanan. Itulah jawaban logis mengapa partai sebesar PKI musnah begitu saja dalam hitungan bulan. Sekali lagi, tanpa perlawanan berarti.

Bagian berikutnya masuk dalam pembahasan tentang Soeharto. Jeng…jeeeeengggg…

Gambar : republika.co.id

Gambar : republika.co.id

***

(Bersambung ke sini)

17 thoughts on “Buku “Dalih Pembunuhan Massal” (5)

  1. Wah ini :'(
    Dari abah, saya mendengarkan bagaimana kakek saya dulu di sebuah kota di bilangan Jawa Tengah– ba’da shalat subuh baru berani pulang ke rumah setelah matahari terbit karena takut di’clurit” PKI
    dan dari pihak umi saya, saya mendengar cerita pilu beliau bagaimana teman sekolah, tetangga, dan orang-orang polos di desanya nun jauh di pelosok Yogyakarta mendadak hilang tanpa jejak.
    Ironi abah-umi saya dari daerah dengen hegemoni “kekuasaan” yang berbeda :v

    Resensinya keren! ^_^

  2. kalo sama2 gada bukti kenapa anda menulis buku cerita ini, pada kenyataan dan fakta2 korban pki, memang pki itu kejam, dan selama masa itu pki tidak pernag memberikan kontribusi kpd para pengikutnya, yang ada hanyalah angan2 belaka. seolah2 pki pro rakyat kecil tapi kontribusi sebenarnya tidak ada. rakyat kecil hanyalah dijadikan alat dan dibohongi.

  3. saya juga pernah baca buku ini. dan bisa disimpulkan yang benar2 menjadi otak kudeta adalah pki, entah itu CC atau apalah, namanya PKI adalah organisasi dimana setiap tindakan yang dilakukan partai bisa merupakan persetujuan anggota, setidaknya semua memiliki pandangan yang setuju untuk melakukan kudeta. ini dibuktikan dari fakta persidangan para tersangka.

  4. Waspada sajalah sama Pki, 1 nyawa ulama, lagi berharga dari 100 ribu nyawa pki., ya ALLAH, lindungilah Indonesia dari Pki.sampai akhir zaman..

    • Ya Allah lindungilah Indonesia dari orang-orang yang berpikir sempit dan mengira 1 nyawa manusia bisa dipertaruhkan dengan nyawa manusia lain yang belum tentu bersalah :). Hingga akhir zaman. Amin, amin, ya rabbal alamin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *