Buku Dalih Pembunuhan Massal (4)

Astaga … langsung loncat saja. Lupa eike bagian pentingnya. Dokumen Supardjo! *tepokPoni*

Mundur sedikit, ya.

Dokumen Supardjo

Brigjen Supardjo, perwira AD dengan pangkat tertinggi dalam ‘panitia’ G-30-S sempat menjadi tertuduh utama. Bahwa Supardjo adalah dalang dan otak dari gerakan ini. Mengingat rekam jejaknya sebagai salah satu perwira yang bisa dibilang ahli siasat dan strategi.

Diperkirakan Supardjo menyusun dokumen yang dimaksud ini dalam pelariannya, “Sebab-sebab gagalnya G-30-S”. Tak ada tanggal di sana. Keaslian naskah nyaris tidak ada pihak yang meragukan.

Dokumen disusun dari kacamata seorang perwira militer yang punya pengalaman banyak. Dokumen ini entah ditujukan untuk siapa. Sepertinya sebagai bahan pelajaran dalam operasi-operasi militer kepada kawan-kawan perwiranya.

Dari dokumen inilah tersingkap 5 pimpinan G-30-S (Untung, Latief, Soejono, Sjam dan Pono).

Brigjen Supardjo+ istri (news.liputan6.com)

Sebenarnya, Supardjo mengatakan ada rencana awal yang lain. Gerakan akan dibagi 2. Gerakan pertama murni pembersihan Angkatan Darat dari petinggi-petinggi sayap kanan yang pro-Amerika, tanpa campur tangan partai. Barulah setelah itu, PKI bisa leluasa menyusun ‘pemerintahan’ yang baru dengan Soekarno.

Supardjo tak menyebutkan mengapa dan kapan rencana ini ditinggalkan. Supardjo yang jelas berusaha mengkritik lemahnya ide-ide G-30-S yang dikemukakan dalam diskusi-diskusi. Tapi Syam berkeras dan meledek siapa pun yang bertanya, “Kalau revolusi mau jalan tak banyak yang mau ikut, revolusi berhasil banyak yang mau turut.”

Dengan kemampuan militer yang ulung, Supardjo sedari awal sudah melihat banyak sekali celah-celah kelemahan. Salah satunya pucuk pimpinan yang tidak jelas. Dalam militer, komando tertinggi seharusnya hanya dipegang oleh 1 orang. Tapi tidak dengan operasi G-30-S. Supardjo sendiri sampai bertanya, saat para pemimpin yang terdiri dari perwira AD dan Biro Chusus berdebat kusir saat mereka panik setelah Soekarno menolak mendukung G-30-S, “Siapa pemimpin tertingginya?”

Menurut Supardjo, bahkan untuk bertanya detail saja, Syam sudah menghardik. Syam seolah memposisikan pemikirannya sebagai Napoleon,”Seseorang menerjunkan diri lalu melihat apa yang terjadi.” Nekatnya oke. Sayangnya tidak diimbangi dengan kecerdikan legenderis Sang Jendral dan pasukannya yang teroganisir dengan rapi dan teratur.

Supardjo menyesalkan dirinya membiarkan sebuah operasi militer yang tertatih-tatih dan tanpa plan B sama sekali digagas dan dikendalikan oleh seorang sipil.

Supardjo mengaku pernah berusaha meminta izin untuk memimpin sisa-sisa pasukan di tanggal 1 Oktober 1965, namun Syam dan Untung tidak memberikan sinyal yang jelas. Dangkalnya rencana makin membuat kalangan pimpinan panik kala Soekarno malah meminta G-30-S untuk dihentikan.

Soekarno menolak mendukung G-30-S setelah tahu adanya pertumpahan darah. Mungkin inilah bedanya sipil dan militer. Sebagai Panglima Tertinggi mereka, perintah Soekarno tak terbantahkan bagi Latief-Untung-Soejono + Supardjo. Disiplin militer sangat ketat. Gerakan ini pun tidak pernah dimaksudkan untuk merebut kepemimpinan Soekarno. Justru dilakukan oleh para loyalis sejatinya untuk melindung Panglima Tertinggi dari rongrongan petinggi-petinggi AD sayap kanan.

Setelah Soekarno tidak menunjukkan dukungan terhadap G-30-S dan secara khusus meminta Supardjo menghentikannya, Supardjo tak ragu sama sekali. Karena kesetiaannya pada G-30-S jelas untuk Soekarno bukan untuk PKI (dalam hal ini, Supardjo meyakini Syam mewakili PKI secara institusi).

Sebelum hari H-nya sendiri, mengapa Supardjo, bahkan Untung-Latief-Soejono ini tetap memutuskan untuk ikut bahkan setelah tahu betapa keras kepala dan congkaknya Syam serta rencana militer yang morat marit itu?

Karena Syam membawa-bawa PKI secara organisasi dalam hal ini. Supardjo jelas bukan kader PKI. Tapi ia tahu pasti kebesaran dan massa PKI yang sedemikian besar dan menjangkau berbagai lapisan. Dari petinggi kabinet hingga petani-petani kecil di desa-desa terpencil. PKI dikenal memiliki doktrin yang ketat, sekolah-sekolah sendiri, pertunjukan seni regular dan kedisiplinan yang teruji.

Dengan pegangan inilah, Supardjo dan rekan-rekan perwira ADnya yang lain manut ketika satu demi satu kritik mereka terhadap rencana G-30-S diabaikan oleh Syam. PKI dan ‘barisan sakit hati’ AD ini bersatu juga karena kesamaan ingin menyingkirkan Ahmad Yani and the gank.

***

Balik ke hari H G-30-S di tanggal 1 Oktober 1965.

Penculikan jendral tidak berlangsung mulus. Karena 3 sudah tewas dan tidak mungkin membawa tiga jasad berdarah ke hadapan Soekarno, sisanya dianggap tidak penting lagi. Mereka ikut dibunuh dan disembunyikan mayatnya.

Soal silet-silet-an, ludah-ludahan dan perempuan telanjang menari-nari saat jendral disiksa hanya propaganda Orde Baru. Hasil visum resmi telah dibuka dan sudah banyak beredar. Semua alat kelamin utuh tidak ada senjata-senjata lain yang digunakan selain senapan, bayonet dan pukulan benda tumpul.

Ini pula salah satu bentuk kegagalan operasi. Supardjo mengaku, karena merasa dikejar-kejar dan ‘segan’, laporan dari daerah-daerah banyak yang dipalsukan. Belum banyak yang siap tapi saat ditanya semua mengaku siap. Termasuk para relawan yang sedianya diambil dari masyarakat sipil.

Dapur umum untuk ibukota untuk memasok makanan bagi para pasukan dibubarkan. Kecerobohan dalam perbekalan makanan ini kesalahan yang sangat fatal dalam militer, menurut Supardjo.

Dini hari 1 Oktober 1965, di Lubang Buaya, hanya hadir 70 orang. Semuanya, sudah termasuk Gerwani dan istri-istri para sebagian prajurit yang ditugaskan untuk menculik yang ternyata ada yang diambil dari relawan sipil *gubrak*. Tentara kurang. Bahkan bantuan dari AURI terlambat datangnya.

Jadi, logikanya mana sempat perempuan-perempuan yang jumlahnya minim itu menari-nari telanjang. Mereka disibukkan dengan penjahitan lambang di seragam prajurit. Onde mande, sudah mau bertugas, seragam baru dijahit?????? Pantaslah Supardjo stres hehehe.

Kalau di filmnya berasa ada ribuan orang di Lubang Buaya malam itu. Menari-nari, menyanyi-nyanyi dan berpesta-pesta. Mungkin, mungkin juga mereka suka menari dan menyanyi tapi TIDAK di saat penculikan dini hari itu.

Lucunya lagi, setelah penculikan, Letkol Untung sampai tidak menyadari bahwa Soekarno tidak menginap di istana saat itu. Padahal tugasnya adalah mengawal Presiden! Saking groginya *ngelapKeringat*. Pasukan hanya mondar-mandir di depan istana yang kosong.

Soekarno menginap di salah satu rumah istrinya. Justru Soekarno dilarang mendekat ke istana karena adanya laporan bahwa ada sejumlah pasukan yang tidak dikenal mengepung istana.

Soekarno secara insting menuju Halim. Hampir semua kesaksian menunjukkan Soekarno bukan ke Halim karena ingin bergabung dengan para pemimpin G-30-S yang tengah berkumpul di sana. Sesuai protokoler, jika ada situasi tidak menentu, Presiden ingin dekat-dekat dengan pesawat terbang.

Supardjo kebagian tugas melapor kepada Soekarno. Bahkan, pertemuannya dengan Soekarno terjadi secara tidak disengaja. Oemar Dani yang mengusahakan pertemuan tersebut di Halim. Umar Dani telah mendengar mengenai penculikan perwira tinggi AD dan merasa gembira. Umar Dani merupakan salah satu loyalis Soekarno.

Dari kesaksian Supardjo juga ditemukan fakta bahwa sebenarnya di tanggal 3 Oktober, Umar Dani mengundangnya untuk berdiskusi dengan Soekarno mengenai isu “Dewan Jendral.” Namun upaya Umar Dani ini tidak ada kaitannya dengan G-30-S. Ini adalah rencana berbeda.

Di sinilah rencana gerakan makin kocar kacir. Sama sekali tidak ada skenario persiapan bagaimana bila Soekarno menolak! Untung dan Latief langsung berhenti seketika. Mereka sudah siap untuk menghentikan aksi dengan adanya perintah langsung dari Soekarno. Soekarno tak bertemu mereka. Supardjo yang bolak balik dari kediaman Soekarno dan tempat persembunyian para pemimpin gerakan. Maklum, ponsel belum ada. Belum bisa DM-DM an atau whatsapp-an hehehe.

Ini juga salah satu kelemahan gerakan. Tidak ada fasilitas walkie-talkie! Sampai bab ini saya jadi bingung sendiri. Ini gerakan kok kayak segerombolan orang tolol beginiย .

Perwira AD sudah menarik diri dan ibaratnya sudah ‘pasrah’, Syam ingin maju terus. Inilah yang menyebabkan pengumuman ke-2 di RRI justru menjadi bumerang mematikan untuk PKI!

Entah ide siapa mengumumkan adanya pen-demisioner-an kabinet Soekarno. Apakah Syam atau Aidit? Atau mereka berdua memutuskan dalam keadaan panik? Gerakan ini bisa dipandang sebagai kudeta kepada kepemimpinan Soekarno, hal yang TIDAK PERNAH ADA dalam rencana. Konon, pengumuman ini membuat Soekarno yang tadinya netral mulai berang.

Pen-demisioner-an kabinet Soekarno membuat Soeharto dan sisa-sisa petinggi AD lainnya seolah mendapat ‘restu’ untuk tampil sebagai pahlawan untuk membela Soekarno. Secepat kilat, Soeharto dkk menunjuk PKI sebagai dalang! Semuanya terjadi di 1 Oktober 1965. Hanya dalam hitungan jam setelah gerakan dimulai.

Soekarno terjebak di Halim. Setelah berdiskusi bersama Umar Dani dll, Soekarno memutuskan untuk mengangkat Pranoto sebagai pengganti Ahmad Yani. Sementara di Kostrad, petinggi-petinggi AD menyepakati Soeharto sebagai pengganti Ahmad Yani.

Apa yang terjadi dengan petinggi-petinggi PKI yang lain setelah berita pertama mengudara di RRI? Mereka ikut gembira tentu saja. Mereka tak tahu pasti tentang gerakan ini. Beberapa memberikan kesaksian bahwa mereka mengira G-30-S adalah kisruh internal Angkatan Darat.

Pengumuman ke-2 justru membuat pimpinan lain PKI dan segenap kader/simpatisan/relawan terbengong-bengong. Mengapa gerakan ini malah menjatuhkan kepemimpinan Soekarno? Siapa yang sebenarnya mereka lawan?

Inilah salah satu fakta bahwa sebenarnya keputusan pen-demisioner-an tersebut hanya langkah impulsif yang diambil (entah oleh Syam atau Aidit) untuk mengantisipasi penolakan Soekarno untuk mendukung gerakan. Sama sekali tak ada rencana semula.

PKI yang tadinya disuruh bersiap-siap mendengarkan siaran di radio untuk pembentukan Dewan Revolusi di daerah dan di ibukota seketika terbengong-bengong. Mereka yang tadinya memang hanya disuruh mendengar radio dan tidak mengerti apa-apa tentang G-30-S makin hilang arah.

Makanya, tak ada tindakan lanjutan dari PKI untuk mendukung gerakan ini secara sistematis dan serentak. Padahal massa mereka luar biasa banyaknya. Hirarki kepemimpinan partai dari atas ke bawah berlangsung dengan sangat disiplin. Ya kalau yang atas-atas saja bingung, piye bawah-bawahnya mau bergerak?

Soeharto sendiri entah mengapa luput dari daftar penculikan. Posisinya tergolong penting. Jika Ahmad Yani sedang ke luar negeri, Soeharto-lah yang sering menjadi penggantinya di tanah air.

Ada dugaan kedekatan Soeharto secara personal dengan Kolonel Latief dan Letkol Untung adalah penyebabnya. Dengan kedua orang tersebut, hubungan Soeharto tidak hanya sebatas pertemanan sesama perwira AD. Mereka akrab di luar urusan pekerjaan. Sayangnya, tak ada bukti yang bisa menyeret Soeharto ke dalam pusaran konspirasi.

Sebagai bukti dilema Soeharto, Kolonel Latief, satu-satunya dari 5 pemimpin gerakan yang lolos dari regu tembak. Ada perkiraan, rasa empati sebagai seorang sahabat yang mendorong Soeharto untuk ‘menyelamatkan’ Kolonel Latief.

Dalam pleidoinya di tahun 1978, Latief mengaku bahwa ia pernah memberitahu Soeharto mengenai G-30-S. Soeharto hanya mengaku bertemu Latief di rumah sakit pada tanggal 30 September malam. Tapi Latief menyatakan tidak hanya bertemu tapi mereka berbincang.

Latief bebas di tahun 1998. Latief menolak kesaksiannya saat baru tertangkap karena pernyataan dibuat dalam tekanan/penyiksaan. Hingga akhir hayatnya di tahun 2005, Latief menolak berbicara mengenai apa yang sebenarnya terjadi dalam G-30-S.

Keanehan lainnya, mengapa dua batalyon yang bersiaga di Lapangan Merdeka tidak menyerang Kostrad yang jelas-jelas berada di hadapan mata mereka? Pasukan hanya berjaga dari pagi hingga sore. Soeharto meminta mereka menyerah di sore hari. Karena bingung dan kelaparan, satu batalyon memutuskan untuk kabur dan kembali ke Halim. Satu batalyon menyerah dan menyeberang ke Gedung Kostrad. Cari makan kali, ya hehe.

Inilah yang dimaksud Supardjo tadi. Militer seharusnya tidak bisa seceroboh itu dalam masalah sepenting perbekalan makanan. Iyalah, orang lapar mana bisa mikir!

Itu belum apa-apa. Saat menyerbu gedung RRI, Soeharto bahkan membawa sebagian pasukan dari batalyon yang menyerah tadi, yang seharusnya mendukung G-30-S. Saat dikepung pasukan Soeharto, relawan yang berada di RRI sempat bingung. Yang datang ini apakah kawan atau lawan? Tak ada perlawanan berarti dan mereka dibekuk dengan mudah. Sejak itu, RRI terus menerus menyiarkan propaganda pengkhianatan PKI di bawah kontrol Angkatan Darat.

Pengumuman pertama RRI dalam pengaruh AD saat itu seharusnya sudah menjadi akhir dari G-30-S.

Di Halim sendiri sudah kacau. Supardjo meminta Umar Dani menerbangkan Aidit. Kolonel Latief kabur ke Jawa Timur. Aidit DN memutuskan ke Jawa Tengah, ke basis terkuat PKI.

Begitulah. PKI-nya diterpa kebingungan. Aidit lari ke Jawa Tengah. Di sana pun dia tidak tahu harus menghubungi siapa. Sementara, Angkatan Darat leluasa memainkan rencana-rencana yang digadang-gadang setelah sekian lama. Tanpa perlawanan yang berarti.

G-30-S sempat merebak ke Yogyakarta dan Jawa Tengah. Tapi diredam dengan mudah. Tanggal 3 Oktober 1965, peristiwa ini sudah bisa dianggap selesai. Tidak ada lagi kegiatan-kegiatan lanjutan lain yang mengikutinya. Skala kecil saja sebenarnya. Tapi secara mengagumkan, Angkatan Darat bisa memoles peristiwa sedemikian rupa sehingga gugurnya (total 12 orang) perwira AD di Jakarta-Jawa Tengah menjadi alibi sakti untuk merobohkan organisasi kelas kakap seperti PKI.

Begitulah awal mula pembantaian ratusan ribu (bahkan banyak yang berani mengklaim angkanya jutaan) kader/simpatisan dari partai komunis terbesar di tanah air.

Ketika dari Oktober sampai Desember, para kader dan pimpinan PKI diminta melapor, mereka banyak yang datang secara sukarela. Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa kisruh internal Angkatan Darat ini adalah lubang kuburan bagi mereka. Mereka mengira, mereka hanya akan ditanya-tanyai dan langsung dibebaskan. Kenyataannya, banyak yang tak kembali lagi. Tak hanya nyawa yang melayang, anggota keluarga mereka pun hidup menanggung beban yang tak sedikit.

***

(Bersambung ke sini)

6 thoughts on “Buku Dalih Pembunuhan Massal (4)

  1. akhirnya saya mendapatkan cerita yg runut… terimakasih mba postingnya, ini sangat mencerahkan ^^. ditunggu cerita sambungannya yaa ๐Ÿ™‚

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *