Buku “Dalih Pembunuhan Massal” (3)

Kata resensinya sengaja tidak ada. Memang bukan resensi. Ini maksudnya bikin summary, semacam menceritakan kembali.

Sekaligus memberi penegasan bahwa John Roosa sama sekali tidak pro Soekarno hehe. Kalau pun dalam tulisannya, Roosa memang menekankan kalau AS sangat segan pada Soekarno, tapi Roosa tidak menyanjung Soekarno secara personal. Kalau dalam tulisan kemarin ada aura-aura ngefans terhadap Bung Karno. Itu datangnya dari saya hehehe .

Roosa juga tidak memihak komunis. Beliau sepertinya murni sejarawan. Buku ini dilengkapi dengan metode penelitian dan referensi sejarah yang cukup lengkap di akhir tiap bab. Jadi, ini bukan buku konspirasi hihihi. Murni buku sejarah . Sejarah yang dirangkum berdasarkan hasil penelitian sang penulis tentu saja.

Oiya, kalau tulisan belum kelar jangan buru-buru bikin kesimpulan, dong hahaha. Tahan dulu .

Btw, dari sekian banyak ‘teori konspirasi’ dalam peristiwa G-30-S, beberapa lliteratur yang terbit setelah tahun 1998 / masa reformasi menunjukkan bahwa Orde Baru gagal menunjukkan bukti bahwa PKI adalah dalang dari G 30 S.

Ingat, bukan dalang tidak berarti tidak terlibat. Faktanya, melalui koran-kora nnya di tahun 1965, PKI menunjukkan dukungan terhadap G 30 S. Tapi siapa dalangnya, bahkan buku “Dalih Pembunuhan Massal” karya John Roosa ini juga masih dibubuhi dengan asumsi berdasarkan pelacakan data sejarah yang dilakukan Roosa sejak tahun 2000 silam.

Dokumen baru yang dimiliki Roosa adalah pernyataan Brigjend Supardjo. Siapa Supardjo? Tahan dulu. Kita perlu mutar-mutar sedikit untuk melihat posisi AS, AD dan PKI sebelum G 30 S meletus.

Gambar : jakarta.panduanwisata.com

Gambar : jakarta.panduanwisata.com

***

Amerika Serikat ‘Terdesak’ di Indocina & Asia Tenggara

Perang di Vietnam di tahun 60 an sesungguhnya salah satu bentuk intervensi AS terhadap merangseknya komunisme di wilayah indocina. AS tak ingin kecolongan lagi seperti yang terjadi di Tiongkok.

Alasan utama lainnya adalah AS sebenarnya ingin ‘mengamankan’ Indonesia. AS sudah sangat meradang saat Perang Vietnam tengah hangat-hangatnya, Indonesia malah sudah menjadi basis komunisme yang makin kuat. Bermaksud melindungi ‘pintu gerbang’, ternyata dalam benteng sudah dikuasai.

Di mata AS, Indonesia adalah kekayaan tak ternilai. Tak hanya faktor demografisnya di mana saat itu penduduk Indonesia telah mencapai 103 juta orang. No.5 di dunia (saat itu masih ada Uni Soviet). Garis pantainya terpanjang di dunia menyuguhkan kekayaan maritim yang tak terbayangkan.

Daerah tropis membuat Indonesia adalah surga rempah-rempah dan sangat kuat secara agraris. Belum lagi tambang timah dan karet, bersama Malaya, adalah yang terbesar di dunia. Pesona minyak bumi dan tambang berharga lainnya yang belum digarap juga membuat pemerintah AS ngences-ngences.

Sesak di dada, ya. Kemiskinan di tanah air bagai pepatah, “anak ayam mati di lumbung padi.” Terngiang bait-bait lagu Koes Ploes tempo dulu, “Orang bilang tanah kita tanah surga … ” *hapusAirMata* –> ini dari gue bukan dari Roosa, ya. Hahahaha.

Bayangkan kalau Indonesia jatuh ke tangan komunisme? Padahal politik Soekarno waktu itu adalah netralis,non Blok. Walau terlihat condong ke kiri dengan makin mantapnya komunisme di tanah air.

Bisa dibilang, AS mengalami masa-masa sulit menangkal komunisme di wilayah indocina dan khususnya di Indonesia. Jadi, pertanyaan Neng Shanti, soal apakah G 30 S ini murni dari AS, dijawab oleh Roosa (bukan gue lho ya hihihi), “Bukan.”

Biro Chusus / BC – PKI

Di tahun 1965, beredar isu “Dewan Jendral”. Soekarno sudah memanggil petinggi-petinggi AD untuk mempertanyakan isu ini. Diskusi berakhir biasa-biasa saja.

PKI juga tahu mengenai isu ini. Kegiatan intelijen sudah aktif di masa itu. PKI punya intejelen di AD, AD juga begitu. Tapi, sejauh mana ‘kecanggihan’ masing-masing intelijen ini samar-samar dalam fakta sejarah.

Jelasin sedikit ya struktur organisasi PKI untuk memudahkan penyebutannya nanti. Ini cukup penting dalam buku Roosa, karena ternyata komando G 30 S datang dari “Biro Chusus/BC”. BC dibentuk terpisah dari Politbiro dan Central Committee (CC) yang merupakan kepemimpinan tertinggi dalam PKI.

BC, walaupun masuk dalam struktur formal, tapi termasuk gerakan bawah tanah. Rahasia. Tak semua anggota, bahkan anggota Politbiro maupun CC yang mengetahui apa saja yang dilakukan oleh BC. BC berjalan di bawah komando langsung DN Aidit.

Walau Aidit duduk dalam CC, tidak ada bukti bawah anggota CC lain mengetahui secara pasti sepak terjang BC. Termasuk G 30 S. Ini akan terbukti pada fakta berupa reaksi sebagian besar petinggi-petinggi PKI yang malah seperti orang bingung sesaat setelah peristiwa penculikan jendral terbongkar.

Kehadiran Syam (Kamaruzaman) dalam BC juga muncul dalam berbagai teori konspirasi. Ada sejarawan yang mengasumsikan Syam adalah agen ganda. Ada yang berasumsi Syam adalah susupan dari intelijen AD. Syam memang tokoh yang unik. Selaku salah satu pimpinan G 30 S, saat tertangkap di tahun 1967, Syam malah yang paling bocor. Semua rahasia mengalir deras dari mulutnya tanpa perlu disiksa atau dianiaya. Walau Syam akhirnya tetap dijatuhi hukuman mati yang tereksekusi paling lama. Tahun 1986 barulah Syam ditembak mati.

Tapi Roosa menunjukkan satu fakta penting bahwa Syam mengakui bahwa keahliannya adalah…berdusta. Hadeuuuh, itu mah standaaaar. senjata andalan politikus di partai-partai zaman sekarang hehe *ups*. Maka dari itu, Roosa punya kesimpulan lain tentang Syam ini .

Kisruh Internal Angkatan Darat

Menurut Roosa, Ahmad Yani sebenarnya tidak berniat melakukan kudeta. Tidak di tahun 1965. Angkatan Darat/AD tidak punya alasan kuat. Tapi, sesungguhnya berharap sesuatu terjadi. AD justru berharap PKI ‘maju duluan’ agar AD punya alasan menyerang. Ada kemungkinan saat itu, walau tak ada rencana apa pun, petinggi-petinggi AD membiarkan isu “Dewan Jendral” berkembang lebih luas. Sebagai ‘pancingan’ bagi PKI.

Sementara Aidit pun mulai ‘berhitung’. Inilah makanya tidak jelas fungsi masing-masing intelijen baik dari PKI dan AD. Aidit bepikir, lebih baik menyerang duluan atau menunggu “Dewan Jendral” beraksi? Karena Aidit pun berharap bahwa AD ‘maju duluan’ agar PKI bisa mendesak Soekarno dan membuktikan pengkhianatan AD. Tunggu-tungguan.

Sepertinya, Aidit yang masuk perangkap.

Di internal AD sendiri memang tengah berguncang. Perwira AD yang terlibat dalam G 30 S (Supardjo) mengakui di depan Soekarrno bahwa telah terjadi ketidakpuasan dari para bawahan terhadap gaya hidup sebagian atasan-atasan AD yang bermegah-megah. Sementara mereka dianggap tidak peduli pada bawahan yang megap-megap.

Beberapa petinggi-petinggi AD di Jakarta telah membiarkan/melindungi tindakan korupsi kaum-kaum elit. Saat itu Soekarno minta bukti. Supardjo menyanggupi. Namun, percakapan yang terjadi di tanggal 1 Oktober 1965 tersebut tidak pernah berlanjut. Tak pernah ada waktu lagi bagi Supardjo untuk membuktikan laporannya pada Soekarno.

Jangan lupa, ya, waktu itu Soekarno juga mengangkat dirinya sebagai semacam ‘Panglima Tertinggi ABRI’. Nah, kalau yang ini saya mengkritik juga. Soekarno terlalu rakus tempo itu. Tapi, ternyata ini ada alasannya juga walau tetap tak bisa menjadi pembenaran. Tidak akan dibahas di sini karena enggak nyambung sama isi buku hehe.

Nah, di sinilah teori-teori konspirasi banyak terperangkap. G 30 S ini apakah gerakan internal AD yang dibantu oleh sebagian petinggi PKI ATAU G 30 S adalah ide dasarnya Aidit yang dibantu oleh perwira-perwira AD yang ‘muak’ pada atasan-atasannya yang dianggap terjebak dalam hedonisme dan menentang Soekarno? Karena perwira-perwira AD yang terlibat dalam G 30 S, semuanya loyalis Soekarno.

Mari masuk ke peristiwa G 30 S tersebut. Langsung pada versi Roosa saja, ya . Kita gabung fakta di lapangan dan hasil pengamatan Roosa. Eng ing eng *duhKayakTrioMeong* hihihi. Bentar … *benerinPoni* dulu .

***

Siapa-siapa aktor dalam G 30 S

Pertanyaan mendasar pertama, mengapa serangan fajar yang terjadi di tanggal 1 Oktober 1965 malah disebut sebagai Gerakan 30 September?

Inilah bukti penting dokumen Supardjo yang mengungkapkan, seharusnya gerakan tersebut terjadi di tanggal 30 September. Tapi, karena keraguan menyergap hampir semua petinggi gerakan, operasinya mundur sehari. Sesuatu yang tidak beres sudah mulai tercium.

Rencana sebenarnya adalah menculik para jendral hidup-hidup dan membawa mereka ke Soekarno. Mereka akan dipaksa mengakui pengkhianatan. Harapan pelaku-pelaku G 30 S adalah Soekarno mendukung G 30 S dan mengambil alih kekuasaan di Angkatan Darat. PKI akan kecipratan untungnya.

Roosa menekankan peristiwa penculikan di masa lalu adalah sebuah kegiatan terhormat. Beliau mengaitkan penculikan-penculikan yang pernah dilakukan oleh sekelompok pemuda radikal kepada Soekarno-Hatta di Rengasdengklok sebelum kemerdekaan di tahun 1945.

Jadi, mereka seharusnya diculik dan dikonfrontasikan hidup-hidup dengan Soekarno. Mengapa gagal?

Pemimpin tertinggi G 30 S ada 5 orang. Kolonel Latief, Letkol Untung dan Soejono dari AD. Syam dan Pono dari Biro Chusus – PKI. Aidit dipastikan tahu tentang G 30 S karena Biro Chusus langsung di bawah komando Aidit. Tapi, jelas Biro Chusus dibentuk bukan untuk operasi G 30 S semata.

Keanehan lainnya, Supardjo yang berpangkat Brigjend ditempatkan di bawah Letkol Untung sebagai salah satu pimpinan gerakan. Asumsi Roosa, terkait dengan perselisihan anggota-anggota gerakan menjelang datangnya hari H. Supardjo dengan jelas menentang gerakan dan memastikan gerakan pasti gagal.

Tidak hanya Supardjo, ternyata rasa gentar juga sudah merasuki sebagian besar anggota. Kecuali Syam. Syam yang terus menggenjot kolega AD-nya untuk terus maju. Tak ada bukti bahwa saat-saat itu, petinggi-petinggi PKI sering bertemu dengan pemimpin gerakan dari sisi AD.

Jadi, perantara mereka adalah Syam. Kemungkinan saat itu mengapa mereka tetap nekat adalah … Untung, Latief dan Soejono meyakini PKI akan membantu mereka sepenuhnya. Sementara perwakilan PKI seperti Aidit dan Pono meyakini AD sudah punya rencana matang. Mengapa di tengah-tengah bayangan gerakan pasti gagal, mereka tetap bertindak? Syam sebagai penengah, satu-satunya pihak yang memungkinkan hal ini terjadi. Syam sukses membuai perwakilan AD bahwa PKI 100% siap dan secara gemilang meyakinkan perwakilan PKI bahwa AD tidak mungkin gagal.

Makanya, Syam memilih Untung sebagai salah satu pemimpin bukan Supardjo. Untung dikenal merangkak naik jabatannya karena keberaniannya bukan karena taktis dan cerdas. Sebaliknya, Supardjo dikenal lebih karena pemikirannya yang strategis dan cerdik.

Keraguan yang menyeruak dan rasa letih tak terkira karena ternyata gerakan malah mundur sehari, membuat komando terasa acak-acakan. Letkol Untung pontang panting 3 hari berturut-turut terkait masalah pengawalan Soekarno. Prajurit-prajurit yang dikirim ke rumah jendral penting seperti Ahmad Yani dan Nasution malah prajurit pemula yang tidak tahu apa-apa soal penculikan.

Itulah sebabnya, Nasution lolos, terjadi salah tembak dan Ahmad Yani malah terbunuh sebelum tiba di Lubang Buaya. Para prajurit hanya dibekali pesan singkat, “Tangkap. Jangan sampai lolos.”

Satu kegagalan besar telah terjadi. Kegagalan pertama diikuti oleh kegagalan lainnya.

***

(Bersambung ke sini)

2 thoughts on “Buku “Dalih Pembunuhan Massal” (3)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *