Buku “Dalih Pembunuhan Massal” (2)

Bagian 1-nya ada di sini, ya :).

1965 yang Revolusioner

Salah satu motivasi penulis, Roosa, menghabiskan waktu bertahun-tahun menyelidiki kejahatan kemanusiaan pasca Gestapu adalah rasa penasarannya terhadap PKI. Terlebih, mengingat saat itu PKI mengalami 2 kejadian yang sangat bertentangan dalam satu tahun terakhirnya berdiri. Menguatkan posisi sebagai partai terbesar namun runtuh begitu saja setelah Gestapu. Ada apa?

Fakta-fakta yang beredar yang mati-matian dibangun oleh Orde Baru dengan mudah dapat dipatahkan secara logika. Errr…logika penulis maksudnya. Kalau kita sih dulu-dulu tenang-tenang aja, ya. Hehehe. Pokoknya PKI itu komunis. Komunis itu atheis. Atheis itu paling benci sama umat Islam. As simple as it sounds.

Parahnya lagi, peristiwa ini sekaligus menjadi ambang kehancuran Soekarno. Soekarno seolah ikut bertanggung jawab. Secara beliau yang memberi dukungan penuh agar paham komunis tumbuh subur di tanah air. Padahal, Soekarno adalah seorang muslim yang taat. Serius. Anda boleh cek biografi perjuangan beliau di masa pergerakan. Aduh, ini kalau dibahas bisa melenceng dari isi buku. Di tulisan terpisah, ya 🙂.

Sebelum 1965, penulis meyakini pemerintah Indonesia belum pernah menerapkan perlawanan se’sadis’ ini. Menumpas satu organisasi secara keseluruhan (cukup ngeri ya booo, mengingat anggota PKI-nya saja mencapai 3 juta orang, belum lagi jumlah simpatisannya) karena peristiwa ‘sekecil’ G-30-S. Kecil?

Bandingannya ini, lho. Para pejuang kemerdekaan di tahun 1945-1949 tidak membunuh orang Belanda hanya karena dia Belanda. Catat. Orang zaman dulu lebih chaos situasinya tapi kewarasannya masih terjaga hehe. Integritas mereka tertuju penuh pada kemanusiaan .

Pemberontakan-pemberontakan di luar Jawa di masa Soekarno saat berhasil ditumpas juga hanya membuat Soekarno menangkapi pemimpin-pemimpinnya. Yang bawah-bawahnya lebih banyak yang diampuni.

Demikian pula ketika Soekarno berselisih dengan Syahrir dan PSInya. Hanya petinggi-petinggi PSI yang dipenjarakan dan diisolasi. Pengikutnya? Tidak ikut ditumpas yang pasti. Lebih banyak yang dibiarkan.

Soekarno terlalu percaya diri dengan Nasakomnya. Beliau sungguh percaya bahwa kaum nasionalis, komunis dan agamis (saat itu Islam mendominasi) bisa terjembatani. Jadi, beberapa kali beliau harus menghadapi ekstrimis dari kaum agama, nasionalis dan komunis sekaligus.

Di tahun 1965, setelah dalang G-30-S dipatahkan (dengan cukup mudah, tak sedrama yang di film hehehe), horor sebenarnya barulah dimulai. Era pembantaian manusia besar-besaran mulai digalakkan. Uniknya, pembantaian ini tidak membuat masyarakat secara umum didera rasa enggan.

Jangan dikira, pelaku pembantaian murni dari Angkatan Darat saja. AD lebih cerdik daripada itu. Soeharto sukses membuat PKI menjadi musuh nasional. Mengobarkan semangat perlawanan yang kalau dipikir sekilas tidak masuk akal dari hampir seluruh elemen masyarakat nonkomunis. Kalau pun ada yang tidak ikutan, minimal mereka tidak menghalangi.

Lebih jauh lagi, AD berhasil merintis ambisi utamanya : mahligai kekuasaan. Usai menggunakan Soekarno sebagai tameng pembasmian PKI, perlahan namun pasti, Soekarno pun dilengserkan. Jangan lupa, AD tahu betul kharisma beliau. Walau saat itu Soeharto sudah di atas angin, beliau sama sekali tidak berani menggugat ‘posisi’ Soekarno sebagai Presiden. ‘Presiden’nya tetap Soekarno, tapi yang menjalankan kekuasaan adalah AD. PKI remuk, barulah giliran Soekarno.

Jadi, saat itu pembantaian benar-benar terjadi tanpa perlawanan, kecuali dari keluarga korban. Yang kebanyakan hanya bisa menyimpan tangis dalam diam. Saat itu, membela siapa pun yang terciduk akan berakibat melayangnya nyawa tambahan. Ingat, masyarakat saat itu bisa dibilang ‘mendukung’ usaha Angkatan Darat.

Manalagi, Aidit secara ceroboh mengubah rencana. Membuat AD makin leluasa menuding PKI hendak menggulingkan Soekarno. Makin mudah meraih simpati masyarakat.

Dalih-dalih politik sekaligus agama digarap dengan sangat mantap. Masyarakat bisa lupa begitu saja bahwa mereka yang diseret dan bahkan harus mereka bantai adalah saudara atau tetangga mereka sendiri. Sentimen anti komunis sukses digalang secara menyeluruh. Sehingga tak ada ruang bagi keluarga korban untuk meminta keadilan selain mungkin nada-nada sinis seperti, “Siapa suruh pro komunis?”

Inilah yang ingin digali lebih lanjut oleh John Roosa. Bagaimana mungkin sebuah monumen besar dan megah dibangun untuk menghomati sekitar 7-10 orang nyawa jenderal yang melayang? Sementara (mungkin) jutaan orang yang terbunuh begitu saja (tanpa diberi kesempatan membela diri) nyaris terhapus oleh sejarah?

Mengapa mereka ikut dibasmi? Mereka, yang mungkin sebagian besar datang dari kalangan petani dan ‘orang bawah’ harus menanggung dosa segelintir pemimpinnya? Penulis tidak percaya begitu saja dengan klaim Angkatan Darat dan Pengadilan yang meyakini bahwa SELURUH anggota PKI dan simpatisannya ikut bertanggung jawab atas peristiwa G-30-S.

Klaim yang tidak didukung oleh bukti kuat. Kalau memang PKI terlibat secara utuh, siapa pemimpin pusatnya? Siapa saja yang tahu rencana ini? Apakah benar, 3 juta anggotanya tahu pasti dan mendukung bahkan ikut berkonspirasi? Jeng… Jeeeeeeeengggg … .

Gambar : en.wikipedia.org

Gambar : en.wikipedia.org

***

Cinta Bersemi diantara Angkatan Darat dan Amerika Serikat

Buku itu tebal banget, gilak *ngelapKeringat*. Bacanya sudah 2 tahun yang lalu hehehe. Ingat banget, baca buku ini waktu masih di Jeddah 😀. Jadi,maaf kalau kiranya ada yang ketelisut :D.

Dalam tulisannya, Roosa juga membahas hubungan Amerika Serikat dan Angkatan Darat yang tidak bisa dibilang sembunyi-sembunyi . Tidak sembunyi-sembunyi tapi juga tidak bisa dibilang rahasia umum. Apa dong? hehehe .

Soekarno yang terlalu condong ke sosialisme (yang kala itu berdiri tegak di bawah panji komunisme internasional) membuat pemerintah Amerika Serikat geregetan. Ketika PKI memenangkan suara 27% di Pemilu 1957, AS mulai berhalusinasi, PKI sudah menguasai Indonesia!

Taktik yang sebenarnya ingin ditempuh AS waktu itu adalah, memecah-mecah wilayah Indonesia. Sedikit rasa jumawa timbul seketika saat membaca bab yang membahas masalah kecemasan AS terhadap Indonesia. Wow, kita pun dulu, di bawah kepemimpinan Soekarno, pernah menjadi momok bagi negara sekeren AS hehehe.

AS ingin memisahkan wilayah di luar Jawa. Menurut AS, Jawa yang sudah dikuasai mutlak oleh PKI. Wilayah lain masih bisa diselamatkan. Daripada membiarkan komunisme merajalela di seluruh wilayah Nusantara, AS lebih memilih mengorbankan wilayah tertentu.

Saat itu, pemberontakan-pemberontakan di luar Jawa memang tengah marak. AS membaca dengan baik peluang ini. Walau tidak bisa dibilang sebagai pemicunya, AS menyokong usaha-usaha perjuangan mereka. Sebagai bukti, penulis menunjukkan dengan ditemukannya perlengkapan senapan AS di Sumatera. Juga ditembaknya seorang pilot hingga pesawatnya terjatuh di wilayah Manado. Pilot tersebut adalah warga negara AS yang ditangkap hidup-hidup.

Sulawesi bagian utara berdekatan dengan Filipina, salah satu pangkalan militer AS di Asia Tenggara.

Setelah AS mati langkah, “O..o..kamu ketahuan…” AS mundur teratur. Setelah itu, pemberontakan daerah otomatis lebih mudah dipatahkan.

Barulah AS menyadari sesuatu, dengan mendukung usaha pemberontak mereka telah mengadu domba pihak yang seharusnya bisa membantu ambisi AS. Tentu saja, saat menumpas pemberontakan, Angkatan Darat diturunkan oleh Soekarno untuk meredakan perlawanan.

Eng ing eng. Something’s wrong. Petinggi-petinggi AD sudah pernah diidentifikasi anti komunis. AS pun berubah pikiran. AD menjadi incaran baru. Dengan AD lah akhirnya AS menjalin kerja sama untuk meruntuhkan komunisme yang tentunya harus diikuti dengan menjegal Soekarno.

Dana mulai mengalir. Kekuatan secara serius mulai dibentuk. Kesabaran juga terus dipupuk. Karena AD tidak ingin gegabah. Menggulingkan Soekarno mungkin tak sulit. Tapi mereka tak hanya ingin membenamkan figurnya tapi sekaligus ingin merebut simpati rakyat sebagai modal utama untuk mengokohkan pemerintahan.

Soekarno sebenarnya sudah menunjukkan tanda-tanda ketidakberdayaan menghadapi Angkatan Darat. Beliau tidak pernah berkonfrontasi secara terbuka. Kurang dibahas di buku ini sejauh mana sebenarnya Soekarno bisa melacak kelihaian petinggi-petinggi AD yang beraliran kanan ini.

Yang jelas saat berseteru dengan Nasution dan hendak menggantinya, Soekarno menghabiskan waktu yang lama untuk berdiskusi dengan Nasution. Bahkan, membiarkan Nasution memilih penggantinya. Tentu saja, Nasution menunjuk yang ‘sealiran’ sebagai ‘penerus’nya di tampuk tertinggi Angkatan Darat, Ahmad Yani.

AD bermain di 2 kaki. Mereka berpura-pura mendukung kebijakan Soekarno memusuhi Malaysia. Tapi menjanjikan kepada AD dan sekutu bahwa mereka tidak akan serius memerangi Malaysia yang masih dikuasai Inggris saat itu.

Nah, saat inilah nama Soeharto mulai disebut-sebut. Setelah dipecat dari jabatan tertentu karena kasus korupsi (ups…sudah dari dulu toh? :P), Soeharto ditempatkan di perbatasan Malaysia. Saat inilah, Soeharto makin mengetahui mengenai hubungan ‘intim’ antara AD dan AS. Karena mau tak mau, Soeharto harus diberitahu bahwa sesungguhnya AD cuma pura-pura saja memerangi Malaysia. Pada kenyataannya, AD membatasi jumlah pasukan di perbatasan dan ogah-ogahan untuk menyerang.

***

(Bersambung ke sini)

One thought on “Buku “Dalih Pembunuhan Massal” (2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *