Buku “Dalih Pembunuhan Massal” (1)

Panjang indang hehehe. Kita bagi-bagi, yak . Duduk manis dengerin Mbak Poni mendongeng tentang kejadian penting di tahun 1965 silam . Ish, topiknya berat tapi mudah-mudahan bisa ditulis dengan gaya centil *laaaaah* . Ringan, maksudnya hihi.

***

Kalau kita yang tumbuh dan besar dalam dekapan Orde Baru, pasti tak asing lagi, ya, dengan peristiwa G 30 S (Gestapu) di penghujung September 1965.

Buku “Pretext for Mass Murder” karangan John Roosa ini mengangkat sisi lain yang mulai marak diulas selepas Orde Baru bisa dianggap runtuh setelah hantaman krisis moneter di tahun 1997. Usai sudah 32 tahun kekuasaan Soeharto. Tak hanya pemerintahan yang terkena imbasnya. Lambat laun sejarah bangsa di masa lalu tergugat kembali.

Gambar : mrdfi.net

Gambar : mrdfi.net

Begitu hebatnya Orde Baru mendengung-dengungkan peristiwa Gestapu sebagai salah satu lembaran hitam sejarah nasional. Hingga sanggup membenamkan tragedi sesungguhnya, apa yang terjadi setelah setelahnya.

Angka resmi korban pembantaian pasca Gestapu diakui hanya sekitar 500 ribu orang (angka yang terlalu banyak untuk membayar nyawa para jenderal yang jumlahnya mungkin cuma belasan). Namun, tak sedikit penelitian yang mengumbar bahwa nyawa yang melayang begitu saja dalam tempo yang sangat singkat itu mencapai 1-3 juta. Orang semua lho, ya. Bukan domba atau ayam .

Orde Baru ‘banting tulang’ sedemikian keras ‘menghapus’ peranan kaum komunis bahkan sejak zaman perebutan kemerdekaan. Salah satu tokoh pergerakan yang terkena getahnya adalah Tan Malaka. Hayoooo, ngaku, masih ada yang belum pernah dengar nama Tan Malaka belon? . Mana pernah buku-buku PSPB masa sekolah dulu menyebut-nyebut nama beliau.

Dalih agama juga digali dalam-dalam. Komunis dipertentangkan dengan Islam, kepercayaan terbesar masyarakat kita. Padahal, kalau mau menilik sejarah organisasi ini, lahirnya dari organisasi Serikat Islam. Kala SI terpecah 2 menjadi Putih dan Merah, akhirnya diputuskan SI Merah melepaskan diri. Belakangan, terbentuklah PKI .

Tan Malaka yang saya sebut-sebut juga berasal dari ranah Minang. Urang awak, seorang muslim. Tapi adalah benar bila sebagian paham komunisme menuduh agama sebagai ‘candu’ yang membuat penganutnya terbuai dan mengesampingkan rasionalitas.

Jangan buru-buru beristighfar karena tuduhan (sebagian) kaum komunis ini. Hehehe. Tenaaaang, lain kali kita diskusikan latar belakang mengapa kaum komunis ini gengges sama umat beragama . Tahan dulu bencinya hehehe.

Eike pan juga bukan penganut komunisme. Tapi berusaha mencari tahu mengapa mereka keki sama kita-kita yang beragama juga tidak ada salahnya, lho . Dijamin enggak bakal jadi komunis, kok, hahaha.

Read as many as you can. Just read. You don’t have to believe them all. Pengetahuan, walau tak setokcer pengalaman, tak bisa dipandang remeh pengaruhnya dalam menyikapi hidup *tsaaaah*. Percaya, deh, not all those who wander are lost .

Kita bahas buku ini dulu, yak. Keburu lupa entar bikin resensinya hahaha.

***

Kekuasaan Segitiga 1959 – 1965

Di bulan Mei 1965, dua perhelatan besar dilakukan oleh PKI. Perayaan hari Buruh di 1 Mei dan ulang tahun partai merah tersebut beberapa minggu setelahnya.

Puluhan ribu simpatisan tak menyisakan ruang kosong di stadion Senayan. Ribuan lainnya berbaris rapi di luar stadion. Lautan manusia yang dijuluki “semut merah”, yang terkenal dengan kedisiplinan dan sifat militannya. Bendera-bendera merah berkibar di mana-mana.

PKI memamerkan kekuatannya. Kalau saja, PEMILU kembali diadakan, mungkin PKI akan menang telak. Sayangnya, sejak tahun 1959, Soekarno membubarkan Pemilu dan mengganti kebijakan negara ke arah “Demokrasi Terpimpin.”

Ironi bagi sang raksasa merah, kekuatannya di masyarakat tak akan bisa mereka menangkan tanpa Pemilu. Sementara, posisi di pemerintahan hanya sekadarnya saja. Soekarno memilih orang-orang dari nonkomunis untuk mengisi posisi-posisi yang lebih strategis.

Sebegitu keras usaha PKI mendukung kebijakan-kebijakan luar negeri Soekarno yang memang sejalan dengan partai, jalan menuju pemerintahan seperti menemui jalan buntu.

Sementara para nonkomunis semakin gelisah. Angkatan Darat, menjadi pusat bertumpu para kaum nonkomunis.

Keputusan Soekarno di tahun 1959 sesungguhnya melegakan Angkatan Darat. Menghapus Pemilu berarti mengurangi ‘kekuatan’ PKI sebagai partai yang bisa dibilang tengah mencapai puncaknya di tahun 1960 an tersebut.

Bagi PKI, Soekarno masih dibutuhkan untuk meraih popularitas di kalangan rakyat. Untuk Angkatan Darat, Soekarno menjadi rem bagi PKI untuk ngebut menuju kekuasaan . Karena pada dasarnya Soekarno juga enggak pro komunis banget-banget. Soekarno memanfaatkan PKI untuk mendukung kebijakan-kebijakannya sekaligus menghalau Angkatan Darat untuk mengkudeta dirinya.

Walau setelah PKI membesar, Soekarno makin condong ke kiri, sesungguhnya pemerintahan tengah terbagi 3. Angkatan Darat pun sudah makin tak sabar. Mulai berimajinasi akan kekuasaan tanpa Soekarno. PKI pun berusaha keras mengalihkan pemerintahan ke arah kiri.

Angkatan Darat telah menjadi sekutu utama Amerika Serikat. Sementara, pemerintah Amerika Serikat makin sebel. Tidak hanya karena paham komunismenya. Juga karena saat itu PKI bersama Soekarno mati-matian ingin menasionalisasi tambang-tambang minyak dan hasil bumi lainnya. Ujung-ujungnya duit ya, Ceu hehehe. Caltex termasuk yang disebut-sebut dalam buku ini.

Paman Sam mah dari dulu berburu minyaaaaak aja kerjanya .

Pesona Soekarno di mata rakyat tetap luar biasa kala itu. Rekam jejaknya di masa lalu membuat rakyat tak meragukan ketulusannya. Baik PKI dan Angkatan Darat sama-sama menyadari, mustahil menjatuhkan Soekarno tanpa melewati perang saudara yang berkepanjangan.

Soekarno yang tak segan berbagi keangkuhan kepada segenap masyarakat untuk menantang negara maju nan kaya seperti Amerika Serikat membuai masyarakat. Larut dalam rasa bangga sebagai bangsa yang baru merdeka. Tak sadar, sebagian besar telah mengkultuskan beliau. Hal inilah yang membuat baik PKI dan pihak nonkomunis sangat berhati-hati dalam ‘menghadapi’ kepemimpinan Soekarno.

Namun, kesehatan Soekarno sudah memburuk. Operasi ginjal di tahun 1964 seolah memberi isyarat kepada baik komunis dan nonkomunis untuk aktif meretas jalan. Merebut kekuasaan negara yang telah sekian lama diidamkan.

Angkatan darat menguasai sekitar 300 ribu pasukan bersenjata. PKI memiliki kader yang militan dan simpatisan yang jumlahnya diperkirakan jutaan orang. Soekarno, yang tadinya dianggap perisai bagi masing-masing pihak, mulai diragukan.

And that’s how the tragedy begins …

***

(Bersambung ke sini)

3 thoughts on “Buku “Dalih Pembunuhan Massal” (1)

  1. Jihaaaan aku ngobrol sm temenku yg pengen nulis buku (fiksi) dgn bekgron pki di tanah jawa dari sudut pandang cerita ibunya yg sempet ngalamin. Aku dengernya terkagum kagum, maksudku krn melihat sejarah dari pov yg beda dr yg kutau selama ini. Dan iti jd bikin terbuka mengenai banyak hal jg jadi mikir ‘oooh ternyata begitu, pantes org di jawa dan sumatera macam agak beda pandangannya ke pki* ya maksudku banyak baca dan banyak denger itu menyeimbangkan info dan bisa bikin kita memaklumi. Biar gak cupet gitu ye otakku. Ini lanjutinnya cepet doooong, aku suka baca beginian asal ringan. Kayak tau revolusi prancis dr komik rose of versailles ihik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *