Untuk Mereka, Untuk Mereka

Pada suka nonton stand up comedy, gak? Tahu Muhadkly Acho? Wah, asli deh, maraton di youtube gara-gara kocak dan seru. Enggak cuma kocak, si Bang Acho ini pinter banget menyelipkan pesan-pesan yang menohok dalam humornya 😀.

Salah satu yang berkesan ketika Bang Acho cerita tentang tema Santet. Juara banget, deh, penutupnya, “…dan mungkin kita lupa ya, teror yang paling menakutkan itu bukanlah teror dukun santet. Tapi teror kemiskinan, kebodohan, pemerkosaan dan semua yang lahir dari sana … itu yang seharusnya kita takuti dan kita berantas!”

Suka risih dengan orang-orang yang meributkan pelacuran. Hanya lantang berbicara soal fitnah dan dosa dan bla-bla lainnya. Sementara, kalau mungkin kita sanggup menghujam ke inti persoalan, akar permasalahan enggak jauh-jauh dari … kemiskinan 🙁.

Ada, laki-laki yang komentar kayak gini, “Ya, abis jadi pelacur enak. Kerjanya gampang. Cuma gesek-gesek vagina. Dapat duit. Daripada capek-capek kerja lain.”

Goblok kuadrat! Tanya kepada ibu sendiri, saudara perempuan sendiri. Ada ya orang yang punya cita-cita menjadi pelacur? . Ingat, perempuan itu bukan laki-laki. Laki-laki mungkin bisa berhubungan intim kepada siapa yang membuatnya nafsu. Tapi tidak dengan perempuan.

Makanya, perempuan tidak banyak yang protes kalau praktik poliandri itu dilarang. Iyalah, gilak. Satu saja kita repot nyari-nyari alasan hihihi. Lagi datang bulan, walaupun perut sakit, ada ‘rasa lega’ tersendiri. Ibu-ibu tahu maksud saya, kan? hehehe .

Pas mereka melacurkan diri, lantang benar kalian berbicara soal moral soal zinah soal dosa! Giliran mereka meratap untuk menghidupi anak-anak yang mungkin ditelantarkan oleh suami yang pergi entah ke mana atau kawin lagi dengan perempuan lain, anda ada di mana, ya?

***

Di sebagian negara maju, termasuk Irlandia ini, ada yang namanya semacam child benefit. Tunjangan beberapa ratus euro untuk tiap orang anak yang diberikan per bulan. Kepada siapa? Hanya kepada ibunya. Sang ibu yang berhak menerima child benefit ini. Dari si anak lahir sampai usia 18 tahun!

Jumlahnya tidak sedikit. Tapi pengalaman ditinggal suami sampai sebulan lebih, duit segitu cukup banget untuk biaya hidup sehari-hari saya bertiga dengan anak-anak. Pas 😀.

Pemerintah mungkin menyadari betul, anak-anak itu secara fitrah ya nempelnya ke ibunya . Child benefit juga sebagai salah satu bentuk perlindungan kepada sang anak sekaligus ibunya. Tidak membuat seorang ibu dilanda kegelisahan atau terpaksa melakukan hal-hal ‘terlarang’ hanya untuk sekadar bertahan hidup dengan anak-anaknya.

Kalau di tanah air sekolah negeri pun mulai empot-empotan, di banyak negara maju, sekolah gratis! Biasanya dari pre school sampai lanjutan atas/SMA. Jadi, no drama jual diri demi biaya sekolah anak.

Memang, kita tidak boleh berprasangka buruk kepada orang yang kekurangan. Tapi ingat juga, mereka pun manusia biasa seperti kita. Punya kebutuhan, punya perasaan. Sebagai sesama ibu, kalau tidak terdesak, apa tidak terpikir untuk melakukan hal aneh-aneh? .

Sebuah negara dikatakan maju bukan dilihat dari berapa banyak merek mobil mahal yang beredar di jalanan. Bukan dari berapa harta kekayaan pejabatnya . Bukan dari berapa persentase orang kayanya. Bukan dari berapa banyaknya restoran mahal di negerinya.

Tapi sebagian besar karena sistem pemerintahan yang berpihak pada hampir semua lapisan masyarakat. Kesanggupan pemerintahan untuk melindungi mereka yang kurang mampu dan tidak malah berpesta pora di atas sebagian masyarakat yang masih menjerit kekurangan .

Salah satu contoh nyatanya adalah tingkat kesenjangan ekonomi. Misalnya, cek saja pendapatan perkapita negara yang bersangkutan .

Di sini, karena ada perpustakaan, jadi sering baca-baca sejarah masa lalu Inggris dan Irlandia. Dulu pun, negara sekeren Inggris, sebagian masyarakatnya pernah terpenjara dalam kemiskinan. Yang berimbas pada kelaparan, ketakutan, kejahatan dan rendahnya tingkat kesehatan yang berujung pada kematian.

Tahu novel terkenal “Oliver Twist” karya Charles Dickens di abad 19 silam . Itulah potret kehidupan masyarakat kelas bawah Kerajaan Inggris yang kala itu dipimpin oleh Ratu Victoria.

Masyarakat Inggris tak diam saja dan terus menyuarakan perubahan. Hingga akhirnya, kini Inggris Raya tegak berdiri sebagai salah satu negara yang paling bikin mupeng dari tingkat kesejahteraan sosial ekonominya.

Survey iseng-iseng dari lingkaran pertemanan saya membuat saya berkesimpulan, teman-teman yang tinggal di Eropa – Australia tingkat kebetahannya bisa dibilang lebih tinggi dibanding teman-teman yang tinggal di US atau belahan bumi lain. US itu pajaknya kecil, lho . Di Timur Tengah malah rata-rata enggak ada pajak hehehe.

Padahal di Eropa/Australia, pajaknya lumayan banget, ya . Sistem ekonomi Eropa dan Australia modelnya tidak 100% liberal. Malah cenderung sosialis. Sebagai gambaran, penghasilan tertentu di (sebagian besar) Eropa bebas pajak. Tapi makin tinggi penghasilan, pajak pun makin tinggi. Jadi, bikin gondok aje ye hahahaha. Sistem kesehatan biasanya di bawah wewenang pemerintah bukan swasta.

Yang gondok itu yang masih belum sadar . Toh, buktinya banyak sekali yang betah. Cari alasan ini itu agar bisa bertahan terus di Eropa. Sudah rahasia umum itu, lulus sekolah ini, daftar lagi sekolah anu kalau belum dapat kerja hehehe .

Tak sedikit yang akhirnya rela bertukar warna paspor.

Akhirnya kehidupan membuktikan, uang bukan segala-galanya. Perlu tapi bukan yang utama. Di Eropa sini, siapa yang peduli dengan uang banyak jika fasilitas dan kenyamanan yang kita terima sehari-hari cukup mumpuni?

Naik ferrari kalau jalanan macet kan juga bikin mutung, Cyin hehehe . Pakai tas hermes, mantel berlian, jam tangan emas, gigi pun bertabur mutiara kalau perlu hihihi, apa gunanya kalau masih kena banjir? Hahahaha. Sungkem dulu sama Pak Jokowi .

There are things that money can’t buy .

Dan apakah hati nyaman dan bahagia, kalau Anda makan dalam rumah makan mewah dan dalam perjalanan pulang mendapati seorang bapak-bapak tua, badannya kurus, tengah sibuk mengipasi sate-sate dagangannya di pinggir jalan kala sebagian besar orang malah tengah lelap dalam peraduannya .

Di Athlone sini, ya. Bapak-bapak yang tiap hari keliling kota mungutin sampah pakai rompi hijau gonjreng, sering juga terlihat sedang menikmati kopi hangat dan sepiring muffin di kafe dalam mal bersama teman-temannya . Yes, di kota kecil ini masih ada tukang sampah keliling.

Nah, di kota-kota di negara berkembang, ada gak tukang sampah yang di waktu luangnya ngopi-ngopi di starbucks sama teman-temannya? .

Untuk itulah, peraturan mesti ditegakkan. Kita mesti punya pemimpin yang bisa bertarung untuk kita. Seperti kata Najwa Shihab, “Pemimpin adalah mereka yang berani mendobrak keadaan, bukan mereka yang mengokohkan kemapanan.”

Bukan orang-orang yang bila sudah di atas, lupa memandang ke bawah . Bila sudah di atas, bukannya sibuk memikirkan perbaikan, isi kantongnya saja yang sibuk diisi. Bagus kalau cuma kantongnya doang, kantong kerabatnya juga digemukin .

Masalah banjir contohnya. Mau setengah mati Jokowi dan Ahok berkoar-koar agar semua kali dikeruk dan dibersihkan, kalau situ tetap buang sampah sembarangan, ya untuk apa? .

Tapi uniknya, mental masyarakat ya memang harus ditopang oleh pemimpin yang kuat. Orang-orang Eropa takut buang sampah tidak semata-mata karena kesadaran pribadi kaleeee. Ada undang-undangnya, Gan! Dendanya lumayan kalau buang sampah sembarangan. Bukan cuma hiasan, tapi ada penegak hukum yang siap beraksi tanpa kenal yang namanya uang damai hehehe.

Pemerintah berusaha keras membuat masyarakat aktif dalam masalah lingkungan. Soal penggunaan kantong plastik misalnya. Di sini kantong plastik kudu beli, harganya lumayan juga. Jadinya, saban belanja, kudu siapin kantong sendiri. Anak balita harus rela berbagi stroller dengan barang belanjaan hihihi.

Pemimpin-pemimpin yang bagus akan menjamin terlaksananya peraturan yang adil. Mereka tidak akan datang kalau masyarakat tidak memberi dukungan . Mereka tidak lahir dari sihir atau mukjizat. Tapi dari pilihan-pillihan yang Anda buat.

***

As Gandhi said, “Poverty is worst form of violence.”

‘Kejahatan’ ini yang harus kita lawan sama-sama. Bukan orang miskinnya yang jahat. Kemiskinannya yang kita perangi .

Kadang, bukan karena mereka tidak pernah berusaha melarikan diri dari kebodohan. Seringkali, bukan karena usaha mereka yang tidak cukup keras. Tapi, dinding kemiskinan itu terlalu tinggi untuk dipanjat seorang diri. Lintasannya terlalu jauh untuk dilalui. Sekeras apa pun mereka mencoba berlari, garis finishnya belum sanggup mereka capai sementara nafas sudah setengah-setengah.

Untuk merekalah, kita harus berjuang membuang rasa skeptis dan apatis dengan memilih jalan golput. Golput emang enak. Enggak perlu mikir, enggak perlu takut masuk neraka pula kalau sampai salah pilih hehehe .

untuk merekalah kita menguras otak dan ikut berperan aktif dalam setiap kesempatan untuk membenahi bangsa .

Kadang kita berpikir dengan golput kita tengah melakukan perlawanan. Hasilnya apa?

Toh, 80% yang memilih golput pun, sistem demokrasi kita tetap akan memilih pemerintahan berdasar 20% yang memilih. Lain halnya bila sistem demokrasi kita menganut sistem quota macam rapat-rapat DPR . Itu baru ngaruh kalau ngajak-ngajakin orang untuk walk-out. Karena makin sedikit yang hadir, quota tak akan terpenuhi, hasilnya harus dipending.

Kenapa sih orang tidak mau memilih? Ya biasanya karena mereka sudah tidak punya harapan bukan karena betah dengan pemerintahan yang sekarang hehe. Ironisnya, justru golput itu biasanya akan menguntungkan status quo .

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka.”

Bagaimana kalau salah pilih?

“God never requires us to succeed. He only requires that we try” .

Untuk mereka yang terkurung dalam dinding-dinding kemiskinan yang sedemikian sulit untuk dirontokkan itu, untuk mereka yang masih terus berlari dengan sisa-sisa napas menuju garis kemenangan, untuk mereka yang malah mungkin sudah kehilangan harapan, masihkah terpikir untuk golput?

Masihkah? 🙂

kemiskinan indonesia

***

13 thoughts on “Untuk Mereka, Untuk Mereka

  1. Inspiring. yg terakhir nohok banget karna aku hampir memutuskan utk golput. selalu suka baca tulisan mba Jihan. awalnya baca tulisan mba di TUM n ternyata comment2 mba sering nongol di wall FBku -di Fb mba Rini, kebetulan sempat tetanggaan di Ann Arbor, Mi, USA- jadi akhirnya blog walking kemari. Salam kenal ya

  2. Golput never occured to my mind, hanya karena mikirnya tetap lebih baik memilih yg menurutku terbaik dari yg jelek, daripada tidak memilih sama sekali dan yang terjelek dari yang jelek-jelek itu bisa jadi punya kesempatan menang kan. I love this writing. Bener deh, kalau mau cuek aja sih gampang ya. Tapi ya itu, bibit bibit apatis yang kayak begini menrutku malah bisa jadi akar buat apatis ke hal-hal lainnya.

  3. Setuju banget sama postingan ini. Mari say no to golput. Salah satu kontribusi yang bisa kita lakukan untuk mengubah keadaan yang semakin chaos ini ya dengan membantu memilih pemimpin yang kita rasa cocok untuk memperbaiki keadaan. Semoga 2014 ini membawa kebaikan bagi ibu pertiwi ya mbak, amin 🙂

  4. Seperti biasa… tulisan mbak Jihan mah panjang-panjang. Kalau orang nggak sabar, udah berhenti di tengah-tengah deh. Tapi pesan moral di bagian akhir postingan ini memang kerreen. Saya sih selalu memilih, dan mau dong ikut share tulisan ini ya, supaya makin banyak golput-ers yang terinspirasi untuk jadi berwarna 😉

  5. Bravooo…Jangan pernah golput…setujuuu…kita yang rugi sendiri…tentu saja sambil berharap ada calon yang lebih baik dari yang ada…Susah memang mba, saat hati ngg sreg dengan pilihan yang ada…doakan yang terbaik ya mbaa…nanti nyoblos di mana? ke KBRI London or via pos? sekalian jalan :D…cheers mbaaa et TFS

  6. siiippp mak,,bacaan yg baik untukku mak,,aku salah satu yg tdk punya harapan untuk pmimpin atau bahkan tidak ingin berharap apa2,,krn kekecewaanku yg mendalam pd pemerintah yg pakai sistem ini dn aku alami sendiri,,trlebih pmilihan kpala daerah langsung yg jg efeknya sangat2 tdk fair thd penilaian prestasi pegawai, dn krn itulah aku kehilangan harapan,,

  7. ” Makanya, perempuan tidak banyak yang protes kalau praktik poliandri itu dilarang. Iyalah, gilak. Satu saja kita repot nyari-nyari alasan hihihi. Lagi datang bulan, walaupun perut sakit, ada ‘rasa lega’ tersendiri. Ibu-ibu tahu maksud saya, kan? hehehe ”
    Saya bapak2, boleh tahu ga maksudnya apa? #jujurgangerti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *