Diam, Belum Tentu Emas :)

Saya sudah menandatangani petisi ini sejak beberapa hari lalu. Enggak ngerti sih acaranya apaan. Tapi, mencermati keluhan teman-teman, kayaknya bisa ‘menangkap’ acara macam apa ini.

Tapi saya jadi tertarik ikutan share karena adanya tanggapan-tanggapan seperti :

1. Matiin aja sih TV lo! Repot amat! What’s wrong with you people?
2. Ya jangan salahin produsernya. Dibalik dong, mengapa bisa acara-acara kayak gitu sampai mengisi 4 slot prime time! –> mungkin maksudnya : pemirsanya yang masih banyak yang ‘bodoh’, mau-maunya nonton acara gituan.
3. Makanya gue sih pilih tayangan yang berbayar! Drpd nonton acara gituan.

Yang makin menarik, ungkapan di atas datang dari kalangan kampus. Yoi, ketiga tanggapan berbeda tersebut ditulis oleh adik-adik kelas saya sendiri hehehe. Bukan orang ‘sembarangan’ lah istilahnya. Maklum, ya, ratu kepo kalau lagi iseng beredar di news feed nyari-nyari bahan untuk ngisi-ngisi wall :P.

Jawaban saya untuk ketiga tanggapan di atas, “Broh dan Sist, kalian itu punya empati enggak, sih?” Hehehe. Lebih detail lagi :

1. Saya yakin sekali orang yang membuat petisi di bawah ini dan orang-orang yang ikut menandatanganinya BUKANLAH pemirsa acara ini. Logika saja ya boooo, ngapain mereka ikut protes kalau mereka doyan? ;). Mereka bukannya tidak bisa mematikan televisi. They can ‘see’ something beyond than sekadar matiin tombol televisi :).

2. Kalau mau ngomongin orang ‘bodoh’, itu parameternya bisa sangat banyak. Sikon juga macam-macam. Karena pertanyaan pertama yang harus kita lempar adalah, “Mengapa mereka bodoh?” –> bisa jawabnya? :).

3. Situ punya duit. Yang lain?

***

Waktu masih tinggal di Jakarta, saya punya embak. Namanya Mbak Sri (bukan nama sebenarnya). Mbak Sri doyan banget nonton acara “Awas, ada Sule.” Karena saya enggak suka nonton TV, ya saya biarin saja dia pegang remote :D.

Saya sih sibuk di depan laptop hehehe. Anak saya jam segitu sudah molor hehehe.

Nah, saya penasaran. Itu acara apaan, ya. Saya mencoba ikut menonton. Selama beberapa hari tuh saya coba. Setelah semingguan, saya tetap bingung. Menariknya apa, ya? Lucu enggak, pesan moral tidak terlihat, pemain-pemainnya juga enggak ganteng-ganteng amat hihihihi. Tapi si embak tiap malam mesti banget nonton sinetron itu hehe.

Saya sedikit coba-coba. Saya meminjam beberapa buah DVD. Film-film kartun, untuk jaga-jaga kalau saja anak saya ikut nonton walau dia pasti belum mengerti ya hehe. Malam itu, saya tawarkan si embak nonton DVD itu. Saya pikir dia bakal marah atau menolak. Sudah saya siapkan bujukan. Tapi anehnya, dia mau-mau saja.

Beberapa hari saya putarkan film berbeda-beda. Dia senang, lhooooo ^_^. Film-nya yang ada subtitle-nya ya, Kakaaaa. Karena kalau dese sudah sanggup mengerti film bule tanpa subtitle, tak mungkinlah dia mau nyapu ngepel di rumah saya hahaha.

Bahkan, pas judul-judul sudah kelar semua. Si embak mau nonton ulang. “Bu, yang perempuan Cina itu dong, Bu. Yang naik kuda itu. Bagus, ya. Ulang dong, Bu.”

Lama-lama bosan juga, barulah kami beralih ke DVD semacam Dora, Thomas n His Friends dll. Si embak malah mulai bertanya berapa harga DVD player. Dan langsung senyum kecut begitu saya beritahu hehehe. Katanya, “Bagus ya. Mau buat anak saya di kampung. Tapi mahal ya, Bu.”

Jadi, kalau melihat pengalaman saya pribadi, si embak itu lebih karena ‘terpaksa’ saja menikmati sinetron-sinetron di TV swasta gratisan. Istilahnya, “Lah, mau gimana lagi. Hiburan yang murah dan gratis adanya itu.”

Dia ikut ketawa-ketawa, sih, ikut cekikikan pada adegan-adegan yang menurut saya sama sekali tidak ada lucu-lucunya hehehe :P. Etapi, daku pun sempat suka menggunakan istilah Kanjeng Mami gara-gara si Sule ini hahaha.

Tentu saja, embak saya termasuk istimewa, ya :). Jarang-jaranglah yang model kayak dia bisa ngefans sama film-film Disney hihihi. Tapi intinya, mereka hanya perlu KESEMPATAN :). Kesempatan yang tidak mereka punya ya karena salah satunya alasan ekonomi. Sekolah saja paling mentok sampai SMP. Embak Sri kelihatan kan punya daya nalar yang bagus, I really like her dan sempat saya bujukin untuk ikut Kejar Paket B atau C :D.

Dia menolak katanya malu sudah tua. Itu saja dia sudah bangga sekali bisa sekolah sampai SMP. Konon, kerabatnya umumnya mentok sampai ijazah SD saja :'(.

Sementara, stasiun televisi serakah tidak mau tahu. Yang ada di pikiran mereka adalah rating rating dan rating. Ketidaktahuan orang-orang seperti Mbak Sri, kurangnya kesempatan/sarana/kemampuan bagi mereka untuk mengakses jenis hiburan lain, malah dimanfaatkan oleh para pengusaha hiburan untuk mengais keuntungan materi setinggi mungkin.

Lantas, kita bisa apa? Ya kalau kita tak sanggup membagi-bagikan DVD pendidikan atau film-film yang lebih layak untuk ditonton, setidaknya kita bisa MENCEGAH stasiun-stasiun televisi ini untuk terus menerus membodohi ‘mereka’.

Karena teman-temanku tercinta, kalau boleh saya ubah sedikit kalimat-kalimat ini, “Rusaknya sebuah bangsa bukan hanya karena banyaknya pengusaha televisi lokal yang ‘bandel’ :P, tapi karena diamnya orang-orang yang tahu.”

Diamnya orang-orang seperti kita disebabkan karena kita kan punya pillihan. Heloooo…duit gue akeh, tinggal langganan TV berbayar yang tayangannya lebih mendidik ;). Ribet amat mesti ikut mikirin acara-acara di stasiun-stasiun televisi gratisan. Bukan urusan ane!

Coba, teguklah ini segelas empati hehehe.

Jadi, kalau masih terasa berat bagi kita untuk mengubah sistem yang membuat ‘mereka’ terjebak dalam ‘kekurangan’, setidaknya kita masih mampu berbuat sesuatu lho. Gampang saja. Tanda tangani petisi ini :). Tidak semata-mata untuk diri sendiri. Sebagai bentuk kepedulian dan perlindungan kepada mereka. Dan untuk memberi isyarat bagi pengusaha televisi untuk tidak seenaknya memutar acara-acara ‘tidak jelas’ macam ini.

Ingat, kadang-kadang orang jahat itu bukan karena niat, tapi karena ada kesempatan. Apaagi, tidak ada pengawasan dan tidak ada perlawanan. Apalagi karena urusannya sudah uang, uang dan uang. Jangankan moral, harga diri saja sangat mudah tergadai kalau diri sudah menyandarkan kehormatan pada materi :).

Kalau pun enggak mendukung, setidaknya jangan menghalangi orang-orang yang mencoba melakukan perubahan :). Cukup diam saja lho Kakaaaa. Enggak usah nyinyir, yaaaaa :D. Hihihi. Udah mau ngomong itu doang. Doang? hahahaha. Ampuuunn, malah jadi panjang :P.

Silakan, yang berkenan, tanda tanganinya petisinya di sini –>ย http://www.change.org/id/petisi/transtv-corp-segera-hentikan-penayangan-yks

yks

***

27 thoughts on “Diam, Belum Tentu Emas :)

  1. Saya juga udah tandatangan kakaa…
    Share di fb dan twitter lumayan dapet 20 ttd hari itu. Di retweet banyak follower juga, ampun dah udah pada eneg sama tayangan ini dan sejenisnya seperti pesbuker dan lain lain -.-!!

  2. Ko’ aq g bs kirim form-nya ya ๐Ÿ™
    Mw bngt nih tanda tangan…g suka bnget sm acara ni sejak pertama kali tayang di acara sahur…super duper aneh ๐Ÿ™

  3. He em. Bener itu terpaksa. Lah yang nonton YKS kan kebanyakan masyarakat kelas menengah ke bawah. Jadi yang ikutan petisi ini harus bisa mengalahkan masyarakat kelas itu. Harus lebih banyak.

  4. Aku sendiri heran, mengapa tayangan spt itu bisa bertahan sekian lama di televisi. Padahal emang gak mendidik sama sekali.
    Aku sendiri memilih gak menonton dan beralih ke yang berbayar. Memang… bagi yang gratisan sptnya tak banyak pilihan yang ditawarkan. Yang ada yg gak mendidik spt itu atau malah yg kelas berat (spt masalah2 politik). Jadinya banyak yg milih yg ringan2 spt itu… meski gak mendidik.

    Aku sudah ikutan petisinya juga ๐Ÿ™‚

  5. Saya juga sudah tandatangani lho Kakaaaa. ๐Ÿ™‚ dan juga sudah bikin postingan, tapi scheduled for tomorrow, 5 Jan 2014. ๐Ÿ™‚ *aih, siapa yang tanya yak? Hehe

  6. Mbak Jihan, saya belum pernah nonton acara ini.. tapi penasaran, sepertinya besok akan saya coba tonton acaranya secara keseluruhan. Tadi coba cari videonya di youtube tapi gambarnya nggak begitu jelas dan loadingnya ampun-ampunan menguji kesabaran, hehehe~

    Saya setuju sama Mbak dengan komentar di atas. Sebetulnya sasaran atau target viewers yang jadi korban sinetron kebanyakan ibu rumah tangga dan pembantu atau asisten rumah tangga. Karena mereka yang paling banyak menghabiskan waktu di rumah dan mudah larut dalam jalan cerita suatu acara di televisi..

    Bener banget, mereka nggak punya kesempatan buat menikmati acara TV yang gratis dan bermutu. Tayangan TV kabel bukan untuk semua kalangan. Dan kalaupun ada, memangnya siapa yang sanggup bayar kalau bukan majikan? Itu juga kalau majikan berbaik hati ngasih mereka waktu dan kesempatan nonton. Nggak semua majikan sebaik Mbak Jihan ngajak nonton bareng ๐Ÿ™‚

    Besok coba saya cari dulu tayangannya ya.. kalau memang menurut saya perlu petisi, akan saya tandatangani petisinya dan bantu sebarkan di Facebook juga.. Sementara ini, laman blog mbak saya bookmark dulu supaya nggak lupa.. keep on writing, Mbak ๐Ÿ™‚

  7. Udah ditdt ya neng. Aku pengen komen tapi panjang beut jd nanti ditulis aja lah *nambah-nambah utang ke diri sendiri buat nulis* Aku sama hubby pernah liat ini sepintas doang, dan mungkin krn sepintas ya, ngeliatnya biasa aja. Hubby malah sempet komen “oh, ini yg heboh itu ya, masih lebih sopan dari gangnam style ya” eh ternyata kalo baca link yg di atas (lg gak bisa youtube nih lambat) serem dan vulgar, gitu ya. Dan buset, durasinya selama itu???
    Btw aku lupaaa baca di mana, klimat yg bilang “rusaknya suatu bangsa bukan hanya karena ada orang-orang yang jahat, tapi karena banyak orang-orang yang baik memilih diam saat diperlukan bersuara” something like that lah. Setidaknya kita bisa melakukan sesuatu ya Neng Jihan, sekecil apapun. Nggak ada hal yg terlalu kecil if you do it out of love kan. Beuh ini panjang jg jadinya komennya.
    Nice post as always madaaaaam

  8. Setuju banget, semakin banyak dari kalangan yang paham tentang tidak mutunya suatu acara yang menandatangani dan menyebarkan, akan semakin terinformasikan dengan baik.
    Duh, komenku ribet ya :))

  9. Kalo gak ditegur, Acara YKS benar-benar akan makin kebablasan. Mempopulerkan dangdut pantura, dan menghadirkan goyangan yang mudah ditiru anak-anak untuk menampilkan pornoaksi.

    Tentang Sitkom spt “Awas Ada Sule” memang lebih merendahkan kecerdasan pemirsanya, karena gak masuk akal banget ada orang oon banget tapi kaya raya, oon nya para pembesar di situ mirip banget kayak orang gunung yang jauh dari peradaban dan teknologi.
    Dan rata-rata sitkom di Indonesia seperti itu. Gak ada lucunya sama sekali.

  10. tayangan yg gratisan tapi bermutu ada gak ya? kalo sinetron tukang bubur naik haji gimana tuh? kayaknya pernah lihat sinetron tsb sempat menyisipkan beberapa nilai2 agama. tapi gak tahu pasti sih krn sy jarang nonton tv ๐Ÿ˜€ apalagi YKS ini mulai tahu ya sejak diributkan ini. kalo dulu2 nggak tahu ๐Ÿ˜€

  11. Setuju banget, ya gitu deh, pemilik PH, dan orang-orang di balik layar televisi yang sekarang ini makin ngga mau repot-repot mikir. Tayangan yang idealis dianggap ngga komersil. Anehnya televisi kita penuh acara sampah yang didominasi sekelompok pelwak yang banjir job di semua stasiun televisi dengan acara yang serupa semua. Guyonan alay bin sadis (komedi slapstick) tambah jogedan ngga karuan, cewek-cewek cantik di lecehkan cowok-cowok bencong, haduuh…. ancur deh moral bangsa kalo gini terus.

    Maka setelah menandatangai petisi, ayo kita serbu televisi dengan acara2 bermutu gagasan kita

  12. Hai jeng Jihan,
    sebelum baca ulasan diatas, saya udah tanda tangan petisi.
    rasanya ini tanda tangan petisi ke3, utk acara tv yg berbeda judulnya, tapi intinya sama.
    Makasih ya, ulasan jeng Jihan membantu sekali. Belajar menyampaikan pendapat dengan baik dan enak bacanya.

    sukses ya.

  13. Kalo kanjeng mami aku maish lumayan suka, tapi cuma di awas ada sule yang pertama yang kedua udah ga lucu. Kalo YKS ini emang bikin eneg, selain itu juga fesbukers, dahsyat, dan yang sjenisnya lah

  14. Aku juga udah ttd petisinya mbak Jihan.. Dan miris ya kalo lihat tayangan televisi sekarang makin banyak acara-acara ga penting kayak gitu. Aku sih lebih milih untuk ga nonton dan mendingan blogwalking ajah ๐Ÿ˜€

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *