Brighter Than Tomorrow

Martin Luther menggugat Gereja Katolik Roma di awal abad ke-16. Rasa tidak sukanya kepada kekuasaan Gereja Katolik tidak muncul serta merta. Tapi dari yang sedikit demi sedikit itu makin membuncah ketika Martin melawat langsung ke Roma dan menyaksikan sendiri kemewahan duniawi para pendeta Gereja Katolik kala itu.

Di bulan Oktober 1517, Martin menempelkan selebaran berisi 95 dalil yang berisi penegasan sikapnya. Utamanya terhadap kemewahan para penguasa Gereja Katolik dan kritik tajamnya terhadap mekanisme pengampunan dosa.

Kala itu, Gereja Katolik memperjualbelikan ‘surat penghapusan dosa’ kepada umat Katolik yang hendak memohon pengampunan. Martin menganggap, sejatinya dosa hanya akan terhapus dengan kesadaran pribadi dari sang pelaku. Sementara transaksi jual beli ‘pengakuan dosa’ oleh para pastur dianggap akan menyesatkan umat yang akan lupa pada pentingnya pertobatan sejati oleh pribadi yang bersangkutan.

Martin tidak hanya mengandalkan secarik kertas yang ditautkannya pada pintu gerbang Gereja Wittenberg, tapi beliau mencetak dan menyebarkan selebaran yang sama kepada orang banyak. Cara inilah yang membuatnya ajarannya merembet luas dengan cepat. Sekali pun sejarah menunjukkan, pembawa ajaran ‘Protestan’ di masa lampau sebenarnya sudah ada namun gemanya terlalu kecil.

Kecerdasannya dalam memilih metode penyebaran membuatnya lolos dari jeratan hukuman gantung bagi dirinya yang akhirnya ditetapkan sebagai penganut aliran sesat oleh petinggi Gereja Katolik di Jerman. Karena selebarannya ternyata sudah menyebar jauh dan mendapat dukungan yang tidak sedikit, pihak Gereja Katolik menjadi enggan dan hanya memerintahkan pembuangan kepada Martin Luther.

One thing we can learn from him. Sebaik apa pun maksud/tujuan yang kita ingin sebarluaskan kepada orang banyak, kalau caranya kurang tepat, efeknya akan kurang mumpuni. Zaman belum ada media sosial dan internet saja, seorang Martin Luther sudah kepikiran menyebarluaskan isi pikirannya dalam bentuk tulisan terstruktur. Bukan dengan ngamuk-ngamuk di jalan atau ngancam-ngancam demo ya, Kakaaa 😉.

Clonmacnoise, Irlandia

Clonmacnoise, Irlandia

***

Martin Luther lahir di Eisleben Jerman di tahun 1483. Sebenarnya, Martin tengah berusaha menuntaskan sekolah hukumnya ketika sebuah kejadian dramatis menimpanya. Martin lolos dari kematian ketika sebuah petir menyambar di sampingnya saat perjalanan pulang dari sekolah. Martin berseru dalam ketakutan dan berjanji akan menjadi biarawan.

Ditinggalkannya bangku sekolah hukum untuk memperdalam ilmu teologi. Saat inilah Martin memperdalam ilmu alkitabnya. Tak hanya sekadar mempelajari isi alkitab, Martin menerjemahkan isi alkitab ke dalam bahasa Jerman sesempurna mungkin sehingga memudahkan warga Jerman yang ingin mempelajari alkitab.

Tak berarti Martin Luther tak terlepas dari beberapa kesalahan penting. Diantaranya adalah sikapnya yang sangat ekstrim. Konon, karena sikap ekstrimnya inilah yang membuahkan terjebaknya Jerman dalam Perang 30 tahun (1618 – 1648) yang diwarnai perseteruan kental antara Protestan vs Katolik.

Perlawanan Martin Luther juga membawa angin segar bagi bangsawan Jerman yang ingin melepaskan diri dari Roma. Dan sikap anti semitnya yang berlebihan, kebenciannya yang amat sangat kepada kaum Yahudi, dianggap membuka jalan bagi Hitler untuk ‘memberantas Yahudi’ dengan NAZI-nya di masa Perang Dunia II.

Walaupun pemeluk kepercayaan Kristen Protestan bukanlah terbanyak di dunia, tapi sejarah tetap menempatkan Martin Luther sebagai salah satu dari 100 orang paling berpengaruh di dunia. Meskipun ironisnya, di daratan Eropa, wilayah kelahiran Martin Luther, kepercayaan terhadap agama makin menciut. Hadirnya bibit-bibit atheisme makin tak terbendung. Sekalipun Protestan dan Katolik bisa dikatakan telah saling berdamai secara universal .

Saya sudah bertemu satu diantaranya. Bertemu muka dan berdiskusi langsung secara tak sengaja di acara Morning Tea di rumah seorang teman beberapa bulan yang lalu. Teman saya, Clara, ini juga dari Indonesia, lho. Hanya ada 2 keluarga asal Indonesia di Athlone ini hihihi.

Di rumah Clara pagi itu, hadir 2 teman yang lain. Fatima yang berasal dari Arab Saudi dan Jean yang aslinya berasal dari daratan Cina tapi sudah berganti kewarganegaraan. Jean resmi memegang paspor Irlandia sejak tahun lalu. Maaf ya Mommie Clara, namanya disebut-sebut ini biar enggak disangka hoax hehe. Masih ingatkah dengan perbincangan kita di pagi itu?

Sebenarnya waktu itu saya lebih banyak diamnya. Clara juga. Sementara Fatima dan Jean berdebat soal agama, eike sibuk makan risoles dan bolu coklat buatan Mommie Clara hahaha. Mulut sibuk ngunyah tapi telinga saya siaga penuh mendengarkan mereka berdua asyik berdiskusi.

Uniknya, si Fatima dan Jean ini bersahabat karib, lho hihihi. Keren yah pertemanan mereka berdua. Saya sampai takjub, pas pulang, Jean yang mengantar Fatima pulang dan mereka cekikikan berdua lagi . Padahal di meja makan tadi, keadaan sempat memanas.

“I don’t believe in any religion. As long as you’re being nice to other. We don’t hurt each other, that would be perfect. Well, for me at least. Because I don’t mind if others think different.”

Secara tersirat, Jean mengeluhkan kalau biasanya, menurut dia pribadi sih, orang yang punya agama akan selalu rusuh melihat orang yang beragama lain. Jadi menurutnya, apa pentingnya punya agama kalau penganutnya selalu kesulitan berdamai dengan kepercayaan orang lain.

Sebenarnya, itu sinyal yang salah. Karena sejatinya, tiap agama itu mengajarkan kasih sayang mutlak. Jangan salahkan orang-orang seperti Jean, yang jumlahnya mungkin sudah banyak di mana-mana. Mari kita berkaca kepada diri sendiri, apa yang membuat mereka berpikir bahwa instead of membawa kedamaian, beragama hanya membuat penganutnya menjadi arogan dan sulit melihat kebaikan pada diri penganut agama lain.

Kata agama itu sendiri, secara harfiah artinya .. a = tidak, gama = kacau. Agama = tidak kacau. Justru pening kepala, hampir semua kekacauan besar yang melelahkan dan memakan korban jiwa tidak sedikit di berbagai belahan dunia justru karena perbedaan AGAMA .

Jean, dan mungkin teman-teman atheisnya yang lain luput berkaca pada sosok Mahatma Gandhi. Saya sengaja tidak membawa Rasulullah, manusia favorit saya nomor satu. Dikarenakan saya muslim dan nanti disangka narsis hahaha. Tapi, saya pun kagum pada sosok sang Mahatma .

Gandhi konon merupakan salah satu pihak yang berkeras jika India tidak harus terpecah. Dia yang meyakinkan umat Hindu bahwa Hindu dan Islam bisa hidup dalam satu pemerintahan. Tidak hanya gagal, Gandhi meregang nyawa di tangan umatnya sendiri. Umat fanatik yang menganggap Gandhi terlalu pilih kasih kepada umat muslim.

Gandhi yang Hindu, dengan gagah berani, datang ke Bengal, ikut menyelesaikan kerusuhan antar agama yang meledak di sana pasca kemerdekaan India dan Pakistan dari tangan Inggris.

Begitulah seharusnya cermin orang yang beragama dengan benar. Tak pernah merasa terusik terhadap kehadiran orang lain. Iman yang tinggi selalu akan disertai rasa kepercayaan diri yang tinggi. Tak pernah merasa susah dengan kepercayaan orang lain . Berdakwahnya tidak dengan cara,”Lo kafir, lo kafir, lo kafir” . Hehe.

Maka … sudah selayaknya kita kaum beragama mengembalikan kepercayaan Jean dan teman-temannya , bahwa agama tidak akan membuat penganutnya rusuh dan eyel-eyelan enggak jelas. Ibadah ritual kan memang urusan sendiri-sendiri. Asal urusan korupsi pastinya kompak dong, yaaaaa. Ihiiyyy…bagi-bagiin pentungan buat nabokin koruptor . Lah, malah ngajak rusuh! Hahaha.

Mengutip ucapan Gus Nuril dalam pidato kebangsaannya dalam perayaan Natal di Gereja Bithany Tayu beberapa waktu lalu, “Banyak orang mengira sedang mengabdi kepada Tuhan dan agama. Padahal sebenarnya, mereka hanya sedang melayani nafsunya sendiri.”

Saya pribadi tidak percaya semua agama sama. Karena kalau sama, ngapain pakai jilbab – salat 5 waktu – puasa belasan jam waktu ramadan kemarin? Kan mending milih ke gereja, cuma seminggu sekali, pakaian bebas, bisa pamer-pamer rambut Sunsilk-ku yang hitam lebat ini *pinjemSisirDong* hihihi.

Yang saya tidak percaya, keimanan saya terhadap Islam harus ditingkatkan dengan penolakan saya terhadap kepercayaan ritual orang lain. Kalau soal muamalah sih harusnya banyak sekali yang mirip-mirip. Prinsip-prinsip kebenaran universal macam kejujuran-kerja keras-kesederhanaan-keikhlasan-empati dsb – terukir jelas di kitab agama masing-masing. Tak terbantahkan. Absolut.

Damai terus bumi Indonesia tercinta. Tempat bersatunya berbagai macam agama dan kepercayaan, suku dan bangsa, bahasa dan ragam budaya.

Persatuan dalam keberagaman adalah kekuatan kita sebagai bangsa Indonesia. Kalau kita bersatu, pihak mana pun hanya akan menemui kesia-siaan jika ingin mencoba mengail di air keruh . Biarkan saja belahan dunia lain rusuh. Tugas kita mendoakan dan mendamaikan. Bukan ikut ribut ya, Cyiiiinnn. Bagi-bagiin handuk basah buat mendinginkan kepala .

“When there is no enemy within, the enemies outside cannot hurt you.”― Winston Churchill

Satu lagi dari Gus Nuril …

“Kalau sampeyan sudah mengakui Tuhan sebagai Yang Maha Kasih, menjadi anak-anak Tuhan, maka kewajiban anda semua mengaplikasikan makna Sang Pengasih itu dalam kehidupan sehari-hari.” -Gus Nuril-

Mari kita hadirkan Sang Maha Kasih, Ar Rahman Ar Rahiim, dalam kehidupan kita sehari-hari.

Selamat merayakan Natal 2013 kepada saudara-saudariku yang merayakan .

“There’s A Place InYour Heart
And I Know That It Is Love
And This Place Could
Be Much
Brighter Than Tomorrow…”

Heal The World – Michael Jackson

Museum di Clonmacnoise, Irlandia

Museum di Clonmacnoise, Irlandia

9 thoughts on “Brighter Than Tomorrow

  1. Makasih Jihan sayang *yakin termasuk yang diucapin selamat*.
    Nih untuk sekarang kukirim nastar virtual dulu. Tahun depan pas mudik nastar beneran deh, punya Tri kukasih 4 toples pun buatmu.
    Ah masa sih rambutmu hitam lebat sunsilk? TIDAK BOLEEEEEEH ahahahaa nanti apa dong kurangnya dirimuuuu?

    • Kurangnya sih banyak banget. Tapi kan yang ditampilkan hanya yang bagus-bagus aja dong ah hihihihi :D. Sudah ditangkap nastarnya 😛

  2. Huahaha… rambut sunsilk? Nggak percayaaaaa….! 😆
    Bingung mau komentar apaan. Intinya emang hidup dalam dalam keragaman itu kan bukannya nggak mungkin, ya? Dan… emang PR kita semua utk nunjukkin kelakuan yg beradab di tengah2 masyarakat itu adalah salah 1 ajaran dlm agama kita…

  3. sudah jelas sebenernya ya.. bagimu agamamu bagiku agamaku, ya sutralah ya orang lain kan punya hak mencari jati diri dan kepercayaannya masing-masing, yg penting urusan kita dengan sesama manusia dan makhluk2 ciptaan Allah saling terjaga kenyamanan, keamanan, dan ketentramannya. Nantinya keuntungan itu bakal mampir ke kehidupan kita kan?? Yuk ah Kakak.. mampir kakak… *berasa di Tanah Abang* 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *