“Manusia … Membenci Apa yang Tidak Diketahuinya”

Sampai bosan, euy, di-tag di status orang-orang yang suka menuduh saya benci sama Saudi :D. Don’t waste your time, jangankan tag ‘menjengkelkan’ macam itu, tag apa pun jarang banget saya approve di wall hehehe :P.

Hm…saya benci Saudi, ya? πŸ™‚

Bukan cuma menerbitkan buku tentang Kota Jeddah, lho, saya juga merintis blog komunitas semasa tinggal di Jeddah. Blog-nya masih ada sampai sekarang –> ceritajeddah dot wordpress dot com. Saya tulis gratis, tis, tis. Tidak ada harapan keuntungan materi sepeser pun. Tidak hanya tulisan dari saya. Seperti di mamasejagat, saya betul-betul meluangkan waktu mencari kontributor lain.

Teman di Jeddah tak banyak yang hobi menulis. Jadi, taktiknya sama. Saya biasanya kirim daftar pertanyaan di inbox. Mereka kan suka bingung, tuh, mau menulis apa. Kalau diberi question lists, kan tinggal tulis jawabannya :D.

Saya menentang keras seorang teman yang menyarankan saya menulis tentang TKW dengan berendeng derita orang-orang asal tanah air di Jeddah. Walah, justru saya ingin mengangkat ‘sisi lain’ Kota Jeddah :). Sudah cukuplah media menghajar drama-drama macam ini tentang Arab Saudi. Inginnya saya … menghadirkan informasi penyeimbang :).

covertimeline2ndprinting2.jpg

Lihat sendiri isi blog-nya ;). Mulai dari cerita jalan-jalan, kuliner di Jeddah, perkumpulan ibu-ibu dan bapak-bapak, kegiatan-kegiatan khas selama kami di sana dll, semuanya ada :D.

Lagian…saya sekeluarga apa, sih, deritanya tinggal di Jeddah? Paling saya dulu suka bete disangka TKW atau istri supir atau apalah hihihi.

Penghasilan suami super oke ditunjang dengan biaya hidup minim. Apa susahnya saya kalau mau beli mobil mahal + tinggal di compound + melahirkan di rumah sakit yang dari luar sudah kayak bangunan hotel itu + makan-makan di tempat mewah saban minggu –> langsung dicerai suami tapi! Hahaha.

Namun…siapa pula yang sanggup hidup seperti itu sementara tahu pasti betapa menganganya jurang kesenjangan sosial di sana. Saya sampai pernah memohon-mohon ke suami minta difoto di samping Ferrari Ungu yang mangkal di depan mobil kami di parkiran mal :D. Norak, Ceu, pertama kali ketemu mata sama mobil eM-eM an. Lama-lama, bosan euy lihat mobil mewah di sana :P.

Mobil mewah ada, pengemis juga bertebaran *pijatPijatKening*. Once again … what kind of world are we living in? πŸ™

Tapi… urusan politik terkait sikap pemerintahan / Kerajaan Saudi terhadap isu-isu politik memang saya sayangkan. Sebelum masuk ke isu politik, saya pun mengkritik pemerintahan Saudi yang tidak mengusahakan transportasi publik yang nyaman dan murah. Gilak, di sana banjir bensin, infrastruktur cakep-cakep, tapi ya… yang bisa menikmati hanya kaum tajirun :(.

Kata-kata tajir itu asalnya dari bahasa Arab ternyata.

Mana ada angkutan dalam kota yang nyaman dan bagus. Adanya bis-bis yang sedikit lagi bakal ambruk dan isinya laki-laki dengan berpakaian kumal semua :(. Bis antar kotanya lumayanlah.

Sungguh tak terperi rasanya kala menyaksikan dengan mata kepala sendiri sebuah pengilangan minyak raksasa di kiri kanan jalan sejauh puluhan km saat kita pertama kali memasuki wilayah Kota Yanbu.

Pengilangan minyak tersebut (mungkin) yang terbesar di Saudi. Kongsi besar-besaran antara pemerintah Arab Saudi dan… Amerika Serikat!

Makanya suka heran sama yang ‘nyinyir’ sama Iran. Thank God, I’ve ever been in Tehran. Dan menjadi saksi langsung atas embargo ekonomi Amerika Serikat terhadap Iran :). Katanya sih, ada kerja sama diam-diam. Mungkin saja. Saya tidak menampik. Tapi, itu yang terang-terangan di depan mata? *sodorinFakta*

Pihak kerajaan Saudi juga hobi banget memamerkan sumbangan-sumbangan materi ke Palestina. Ah, semua juga tahu. Bukan susu, roti, selimut yang mereka butuhkan? Kayak mereka enggak punya duit saja. Mereka punya, mereka bekerja kok tiap hari untuk menghidupi diri mereka.

Yang mereka butuhkan adalah tekanan politik kepada Israel dan sekutu utamanya, Amerika Serikat! Tekanan politik yang sebenarnya sangat mungkin dilakukan oleh sebagian negara Tim-Teng yang memiliki cadangan energi utama terbesar di dunia. Terutama si Trio Kwek-kwek eh…Trio Tajiirun πŸ˜› –> Qatar – Emirat – Saudi. Plus adik-adiknya yang enggak kalah tajirnya tapi ‘manja’nya minta ampun –> Kuwait dan Bahrain.

Kalau saya jadi Raja Saudi, saya ajak meeting negara Arab lainnya. Kami akan sepakat ‘mengancam’ Amerika Serikat, “Oi Amerika Serikat, gue kasih tahu, ye. Kalau lu enggak mendesak Israel, gue embargo minyak untuk lo ama temen-temen lo! Berani?”

Semua juga tahu, sumber energi utama dunia masih dipegang oleh minyak, bukan kertas! :P.

Ealah, boro-boro sengit-sengitan. Lihatlah ketiga negara yang saya sebut itu. Sekarang malah berlomba-lomba mempertontonkan hidup mewah. Sibuk sendiri membangun mal-mal besar dan peradaban modern nan megah di wilayahnya masing-masing.

Herannya, di sana berlimpah kekayaan alam, malah paling rusuh dari masa ke masa :'(. Entah perang saudara, perang aqidah, perang apa ajalah, you name it! Kagak pernah damai.

Tengoklah Masjidil Haram-Mekkah dan sekitarnya. Arahkan pandangan mata ke Masjid Nabawi dan sekelilingnya. Sudah dikepung hotel-hotel berbintang dan mal-mal besar :(.

Tanah suci sebentar lagi hanya akan terjamah oleh kaum elit. Itu yang diajarkan ISLAM? ITUUUUUU????
*siapSiapBantingKeyboard* etapi entar rusak, ngetik pakai apa…taruh lagi, ah hihihihi.

***

Jangan buru-buru menyangka para alumni Tim Teng yang mengeluhkan kehidupan sosial di sana sebagai ‘sekuler’, ‘liberal’, ‘anti Islam’ atau apa lagi sih istilahnya? Banyak amit -_-.

Justru…jadikan dong sebagai alat untuk berkaca. Sebegitu banyaknya ternyata materi duniawi yang ditakdirkan Allah bagi kaum muslim, tapi mengapa… mengapa dunia tak juga kita genggam? πŸ™

Umat muslim terkini, bagai buih di permukaan laut. Banyak tapi tumpul :(.

Yang tajir sibuk sendiri, “Pokoknya gue rajin kirimin bantuan materi, urusan lain, urusin dewe!” Yang miskin banyak tingkah :P. Iya kan, di negara-negara berkembang, menjadi sasaran para produsen. Penduduknya diarahkan konsumtif tiada terkira.

Ditambah lagi doyan amat berantem macam-macam.

Mengapa begitu sulit menerima perbedaan? Mau saja dibuai-buai oleh cerita betapa gemah ripah loh jenawinya para sahabat rasulullah generasi pertama setelah ditinggal Nabi Muhammad? Aduh, kata siapaaaaaa -_-.

Coba, coba, baca-baca sejarah lebih banyak. Pertentangan antara sahabat pun sudah terjadi di masa generasi pertama. Dari merekalah seharusnya kita banyak-banyak berkaca :).

Jangan emosi melihat hasil penelitian “How Islamic are Islamic Countries?” Mari berkaca, mari berpikir. Mengapa, mengapa, mengapa? Tanyanya di depan kaca yang memantulkan wajah sendiri. Bukan malah memandangi kaca jendela tetangga dan sibuk mengutuk ke luar, “Kita ini kena konspirasi!” Zzzzz -_-

Memang, paling mudah untuk tunjuk sana sini. Cara tergampang adalah menuduh ini semua adalah kesalahan pihak lain. Asyik kan, kita jadinya tidak punya beban apa-apa. Dengan menunjuk orang lain, seolah tanggung jawab ada di mereka, kita sih enggak salah apa-apa, mari ngemil kacang goreng :D. Tapi apa itu yang akan menyelesaikan masalah? πŸ™‚

***

Jadi yaaaa… tolong dibedakan. Jangan tag-tag lagi, ah. As I’ve always said, big piece of my heart belongs to Jeddah :). Tak pernah menyesal pernah tinggal di sana. Tapi … ada hal-hal yang tidak terbantahkan dan menurut saya memang perlu disuarakan, walau inginnya mengingkari :(.

Justru saya sebal dengan beberapa pihak di tanah air yang berat sebelah dengan menuduh orang Arab bebal-bebal. Tidak semuanya :). Cek dong di chapter “People We Haven’t Met Yet” di buku “Memoar of Jeddah : How Can I not Love Jeddah?” ;).

Diantara sekian banyak perlakuan kurang menyenangkan, toh yang berbekas yang baik-baik, tuh :). Sejak tinggal di Jeddah, saya yang tadinya agak-agak gimanaaa gitu dengan yang pakai cadar, sekarang sudah biasa-biasa saja ^_^. Jadi ingat dokterku sayang yang pakai cadar di RS Bugshan <3.

Daripada capek-capek beropini, padahal kenal saya saja tidak, monggo ya dibeli bukunya hihihi. Hanya 29 ribu rupiah, sudah lepas tuh dosa-dosa Anda memfitnah saya hahahaha. Tenang, enggak beli juga sudah saya maafkan ;).

Dasarnya manusia memang begitu. Ah, saya juga mungkin tak sadar sering berada di situasi yang sama. Kenal kagak, omongan udah ke mana-mana. Tapi maaf, untuk urusan korupsi, harga mati la yaowww ^_^.

Belum ke Iran, sudah kayak yang paling kenal sama Ahmadinejad :P. Belum pernah ke Saudi, sudah menganggap orang-orang Arab memiliki nilai ‘lebih’ dan pasti lebih saleh :D. Belum kenal Jihan Davincka, sudah woro-woro kalau saya ‘sekuler’ -_-. Saya puji-puji Tehran, dituduh penganut Syiah *ngantuk*.

Karena kenalan langsung kejauhan :D, kenalan sama bukunya dulu boleh ya, Kakaaaa. Hahahaha.

Seperti kata Ali bin Abi Thalib, “Manusia…membenci apa yang tidak diketahuinya” :).

Sila dibeli di toko-toko buku terdekat, buku kenang-kenangan saya tentang Kota Jeddah, “Memoar of Jeddah : How Can I not Love Jeddah” :). Mulai dari kehidupan khas, pengalaman-pengalaman unik, cerita jalan-jalan, sampai kisah-kisah inspiratif khas Jihan Davincka *benerinPoni*.

Pantai Thuwal, Saudi :)

Pantai Thuwal, Saudi πŸ™‚

***

8 thoughts on ““Manusia … Membenci Apa yang Tidak Diketahuinya”

  1. Saya dulu juga pernah tinggal di Saudi, dan saya setuju sekali dengan yang Mbak Jihan tulis disini!

    Btw, suka deh dengan gaya penulisan Mbak Jihan… jelas, lugas, dan… not apologetic! hihi (bener deh Mbak, salut! seandainya saya bisa menulis opini se-direct Mbak Jihan… tapi sayangnya, darah Jawa saya terlalu kental mungkin ya, jadi suka “ga enakan”). Hehe.

    More power to you, Mbak πŸ™‚

  2. aku belum pernah baca/denger, segimana banyak sih sebenernya cadangan minyak di timur tengah itu, mbak?
    maksudku, kalo sekarang udah dieksplore habis2an, akan ada sisanya nggak sih, buat anak cucu cicit mereka 50,100 tahun yang akan datang?
    CMIIW, tapi minyak itu kan SDA yg nggak bisa diperbarui, ya? *ada juga ilmu IPA SD yg nyantol* πŸ˜†

    • Masalahnya, cadangan minyak Saudi itu memang konon yang terbesar. Mungkin masih bisa bertahan ratusan tahun hehehe :P. Tapi tetep aja, suatu hari bakal habis :D. Mending konsen ke SDM la ya πŸ˜‰

  3. Baru “nyasar” ke blog ini. Tulisan-tulisannya menarik sekali. Salam kenal, ibu Jihan πŸ™‚
    Saya jadi teringat, seorang supir travel yang saya tumpangi bercerita tentang Arab Saudi karena dia pernah jadi TKI 2,5 tahun di sana. Kalimatnya menohok sekali. Dia bilang, “Arab mah jadi tanah suci karena ada Ka’bah aja, kang. Kalo urusan baik mah jauh lebih baik orang Jakarta.” Aduh. Saya kebayang dulu waktu dia di sana, pasti dia syok sekali sampai mengeluarkan pernyataan seperti itu.
    Bukan mau menebar isu anti ras manapun, tapi intinya, semua harus dipelajari dari semua sisi, baru diputuskan (mau suka atau nggak), ya kan?

  4. Justru…jadikan dong sebagai alat untuk berkaca. Sebegitu banyaknya ternyata materi duniawi yang ditakdirkan Allah bagi kaum muslim, tapi mengapa… mengapa dunia tak juga kita genggam? πŸ™ –> Paragraf ini mengena banget Mba, Bangsa Indonesia juga gak kalah kaya dari TimTeng tapi kita malah jadi bangsa paling konsumtif.

    Btw, itu pantai terbaik di Saudi? Gak ada setai-tainya pantai2 di Indonesia ya mbak hahaha.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *