[Cerpen] Jalan Lain

Cerpen lama. Bikinnya setahun kemarin. Ini kok belum pernah dikirim ke mana-mana ya hihihihi. Tapi ceritanya terlalu sendu. Manalagi ini diilhami dari kisah nyata. Sedih euy pas bikinnya .

Ya udah buat teman-teman di blog saja . Setelah sekian lama posting fiksi enggak pernah kelar-kelar. Hahahahha.

Silakan .

JALAN LAIN (oleh : Jihan Davincka)

***

“Perempuan gila! Perempuan sinting!”

Suara-suara bersahutan di sekitarku. Pikirku cuma imajinasi. Tapi ketika aku membuka mata, suaranya bergema di sekeliling. Kuurungkan niat mengangkat muka. Kembali kubenamkan wajah dan kututup lagi mataku rapat-rapat.

Makin lama ruangnya terasa sesak. Tapi beberapa orang yang ikut turun bersamaku dari mobil, masih setia menghardik orang-orang dan membiarkan langkahku tetap terjaga. Kemudian sunyi kembali.

Hatiku kosong. Bergantian suara bergema dalam ruangan yang menempatkanku dalam kursi besar di tengah-tengah ruangan. Mereka mungkin membicarakan aku tanpa merasa perlu mengajakku berbicara.

***

Tiga hari berlalu. Gelisah tak kunjung pergi. Adakah semuanya cuma kesia-siaan belaka? Hatiku ciut. Setiap malam aku mendengar gema suara anak-anak di sekitarku. Saat gelap pergi, tak ada orang lain dalam ruangan sempit ini.

“Bangun! Ada yang datang.” Sebuah hardikan membuat tatapanku yang terpaku pada dinding berputar cepat ke arah pintu.

Langkah gontai mendadak menegakkanku. Orang yang kutunggu-tunggu datang. Ibu. Bersusah payah aku menyembunyikan semuanya. Jangan meremehkan perempuan khas dusun di usia senja ini. Dia sanggup melihat yang tak terlihat, mendengar yang tak terucap.

Aku tak berani menatap wajah Ibu. Mati-matian berusaha tenang. Tapi mataku langsung hangat begitu melihat anak-anakku menghambur ke arahku.

Kupeluk satu-satu. Kuciumi kepalanya sambil berbisik, “Nurut sama nenek, ya.”

Ibu akhirnya bersuara, “Siapa dia?”

“Dia siapa, Ibu?”

“Perempuan itu. Siapa dia? Kau kenal dimana? Pak Said tak mau cerita apa-apa padaku.”

“Pak Said? Dia bilang apa?” Suaraku bergetar dengan gelisah mendengar nama itu. Selain Ibu dan anak-anak, wajahnya yang paling ingin kulihat saat ini.

“Memangnya kenapa? Sudah kuduga. Pak Said pasti tahu sesuatu.” Ibu memicingkan matanya. Berbicara dengan suara pelan dan dingin. Bahunya bergerak maju dengan gelisah.

Aku terjebak. Tapi tak seorang pun boleh tahu. Termasuk Ibu. Aku menunduk. Percuma berkilah di hadapannya. Aku memilih mengunci mulut rapat-rapat. Tetap membungkam ketika Ibu menarik tangan anak-anakku, mengajak mereka pulang. Padahal aku masih ingin memeluk mereka. Ketiadaan mereka benar-benar nyaris melumpuhkanku.

***

Saat cahaya sudah menghilang dari balik terali dinding ruangan, mataku tak kunjung terpejam. Harapan mulai goyah, tapi aku tahu, tak ada gunanya melihat ke belakang lagi.
Rasanya belum lama waktu berlalu ketika aku menggenggam ijazah SMA dengan menggebu-gebu. Ibu tak menjanjikan apa-apa untuk melanjutkan ke jenjang lebih tinggi. Malah akhirnya aku takluk kepada seorang pria. Yang menjanjikan banyak hal padaku, yang berhasil mengubur mimpi besarku untuk melanjutkan kuliah ke kota besar.

Sebenarnya dia pria yang baik. Seorang pekerja keras. Tapi semangatnya langsung runtuh ketika usaha yang dirintisnya lebur menuju kebangkrutan.

Dia yang tadinya begitu gigih untuk keluarga kecil kami, perlahan mulai kehilangan arah. Usaha niaganya ditutup begitu saja. Dia mulai sering keluar rumah. Pulang tengah malam dengan mata merah, meracau tidak jelas.

Aku berusaha menghidupkan semangatnya. Mengajaknya memulai dari awal lagi. Ditepiskannya semua ucapanku. Namun lama kelamaan dia membangkitkan dirinya sendiri. Bukan dengan memulai perniagaan baru, melainkan dengan menghabiskan seluruh sisa tabungan membeli sebuah motor baru.

Entah apa tepatnya usaha barunya. Dia mulai sering mondar mandir di kampung dengan membonceng perempuan-perempuan. Sebagian besar mereka memakai baju-baju ketat dengan bibir bergincu merah menyala.

Tetangga mulai bisik-bisik. Anak-anak tak luput dari cibiran mereka. Tapi dia tak menggubris keresahanku. Tak pernah menjelaskan apa-apa. Sampai di suatu hari, dia membawa koper besar, melaju dengan motornya, menghilang di separuh senja. Tak pernah kembali lagi.

Aku membawa anak-anak kembali ke rumah Ibu. Dalam cemas dan marahku, Ibu membujuk, “Kalau kau mau, Ibu akan mengajarimu membuat kue. Kalau cuma melatih, Ibu masih bisa.”

Aku tertunduk, memandangi ujung jari-jari kakiku yang bergerak-gerak gelisah, “Aku tak suka memasak, Bu. Pinjami aku uang. Aku mau berdagang kain saja.”

“Kalau uang Ibu tak punya. Ingat anak-anakmu. Kekuatan itu akan datang sendiri. Kau toh tak punya pilihan lain.”

Betul kata Ibu. Pilihan apa yang aku punya?

Ibu pun tak asal bicara soal kekuatan. Mengingat bahwa hanya akulah kini tempat anak-anak bergantung, membuat kekuatan itu terbangun dengan sendirinya. Bertarung sendiri dalam dapur menyelesaikan pesanan kue. Biarpun tidak tiap hari, ada saja malam yang harus dilewati tanpa sempat merebahkan badan ke atas kasur.

Tapi kekuatan itu perlahan sirna. Aku merasa semuanya sia-sia. Mimpiku terlalu besar untuk dijangkau dengan usaha penganan kecil lini. Untungnya tak seberapa. Persaingan yang tidak mudah. Tidak sedikit orang yang mengaiz rezeki dengan cara yang sama. Aktifitas fisik yang kurasa sangat menyiksa. Lemahnya aku.

Sampai untuk mengadu kepada Ibu pun, aku merasa malu. Kepada Tuhan saja aku berani mengharap, “Tunjukkan jalan lain, Tuhan.”

Tuhan tak mengabulkan doaku. Tapi membawaku berkenalan dengan Pak Said. Seorang pria separuh baya yang tinggal seorang diri. Mengontrak rumah kecil persis di samping rumah Ibu.

Desas desus mengatakan dia pernah bekerja di Arab Saudi. Harapanku membubung tinggi. Aku pernah tahu beberapa orang dari kampung kami yang pergi ke sana dan seolah menabuh gendang kemenangan saat pulang kembali. Walau tak sedikit yang pergi dan tak pernah terdengar lagi kabarnya.

Ah, aku yakin, untuk mencapai yang besar-besar itu, aku harus membenamkan rasa takutku dalam-dalam. Untuk anak-anak, aku tak pernah ragu.

Anak-anak suka berlarian ke dalam rumah Pak Said. Dia tak pernah marah, “Tidak apa. Jadi ingat cucu sendiri.”

Sembari menunggu anak-anak puas bermain dan mau diajak pulang, aku suka duduk-duduk di teras rumahnya. Dia tak pernah canggung mengajakku mengobrol.

Ternyata, kini Pak Said bekerja paruh waktu di rumah seorang pejabat. Kadang menggantikan tugas supir. Kadang membersihkan kebun belakang. Dia berharap bisa bekerja penuh di sana. Mendapat penginapan gratis di rumah majikan. Bahkan dia memperkenalkanku pada seorang bapak pejabat yang akhirnya menjadi pelanggan besarku.

“Maaf Pak, anak-anak saya bikin ribut di sini. Mereka berontak kalau saya paksa pulang.”

“Tidak apa-apa.”

“Mereka kesepian. Saya sering di dapur. Neneknya sudah tak kuat menemani mereka bermain.”

“Oh, apa punya katering kue juga?”

Aku tersipu malu. “Cuma kecil-kecilan, Pak. Saingan di sini banyak. Saya juga baru belajar.”

“Nanti saya kenalkan pada majikan saya. Dia pejabat yang sering bikin acara. Rumahnya tidak jauh.”

Pak Said tak banyak bicara. Tak suka bertanya macam-macam. Dia pendengar yang baik. Aku cukup sering mencurahkan harapanku padanya. Aku berharap dia mau menunjukkan jalan untuk bekerja ke tanah Arab.

“Rasanya tak mungkin bisa terus merawat anak-anak hanya dengan berdagang kue.”

“Sabar. Mana ada usaha yang sia-sia.”

“Ibu tak membolehkan saya merantau. Saya ingin mencoba peruntungan lain di kota.”

“Tunggulah. Mungkin nanti ada jalannya.”

Suatu hari, kuutarakan niatku, “Apa Bapak bisa memperkenalkan saya kepada teman Bapak di Arab?”

“Ha? Di Arab Saudi? Mau ke sana, Mbak?”

Nada suaranya yang mendadak meninggi membuatku ciut. “Um…apa ada jalannya, ya? Saya dengar kalau ke sana…”

Pak Said mendadak tertawa-tawa kecil, “Ya, ya, ya, saya akui. Di sana, kesempatan cukup banyak. Begitulah yang diketahui orang-orang di sini.”

Aku ikut tertawa malu-malu, “Saya tahu pasti di sana berat. Tapi kan…”

Pak Said langsung mengangguk-anggukan kepalanya, “Anak-anak di sini bagaimana? Neneknya apa bisa? Tapi ya, nanti kalau misalnya ada cara, akan saya beritahu. Sementara … kumpulkan uang dulu yang banyak. Untuk ke sana, biayanya tidak sedikit.”

Aku mendengar dengan seksama. Harapan mulai membuncah.

“Tapi ya, saya inginnya Mbak di sini dengan anak-anak. Berat itu terpisah dari mereka.” Mata Pak Said menerawang jauh.

“Iya, Pak. Mudah-mudahan suatu hari saya diberi jalan lain.”

***

Hari-hari berlalu dengan lambat. Hingga di suatu pagi, suara gemerincing kunci yang beradu dengan pintu sel membuat jantungku berdegup cepat.

“Ayo.” Perempuan berseragam memberi isyarat agar aku keluar mengikutinya.

Siapa tamu kali ini? Ibukah? Tapi aku lebih ingin itu Pak Said. Harapanku mulai mengambang. Lagi-lagi ketakutan akankah ini mengarah ke kesia-siaan menghantuiku.

Dari jarak beberapa meter, biarpun masih terhalang sebuah tembok, aku sudah mendengar suara anak-anak. Ternyata Ibu.

Anak-anak merapat padaku. Ada yang memeluk lengan, ada yang merebahkan kepala di pangkuan begitu aku duduk. Aku hapus beberapa butir airmata dengan cepat. Mendadak lupa dengan Pak Said, kupeluk sepuasnya ketiga tubuh kecil mereka.

“Pak Said sudah pindah.” Suara ibu yang dingin dan pelan menghentakku seketika.

“Ha? Apa?” Aku tak bisa menyembunyikan cemasku.

“Iya, dia tidak tinggal di sebelah lagi. Tapi kemarin dia datang bersama majikannya.”

Ibu berhenti berbicara, matanya sedikit menyipit, nampak penasaran menunggu responsku. Aku menggigit bibir gelisah. Menahan diri untuk menjawab setenang mungkin, “Oh ya? Mau apa mereka?”

“Mereka kasihan dengan anak-anakmu. Katanya Pak Said yang cerita.” Suara Ibu tertahan lagi.

Aku mendesak tak sabar, “Itu saja?”

“Mereka memberi uang. Banyak uang. Katanya buat anak-anak. Tapi Ibu tak mau.”

Mataku membelalak, “Apa? Uangnya tak Ibu ambil?”

Ibu bangkit dan mendekatkan wajahnya padaku. “Awalnya Ibu tak mau. Kalian menyembunyikan sesuatu. Katakan padaku! Aku tidak…”

“Tapi Ibu ambil kan uangnya?” potongku cepat.

“Itu untuk anak-anak. Dengan kondisimu seperti sekarang, mana mungkin aku menolaknya? Aku tak percaya mereka mengaku tak mengenal perempuan itu. Mati-matian bersumpah tak tahu kenapa kalian ada di rumah mereka.” Suara ibu berapi-api. Tapi ditahannya sekuat tenaga agar hanya kami yang mendengar pembicaraan ini.

Aku tidak terpancing. Aku sudah mendengar yang aku mau. “Ibu ambil saja uangnya. Itu untuk anak-anak. Mereka cuma ingin membantu. Ibu jangan lupa. Mereka pelanggan tetap kita. Cuma kasihan. Memangnya tidak boleh, Bu?”

Ibu terduduk kembali. Wajahnya penuh kekecewaan. Dia membuang muka. Matanya mulai basah. Aku tidak tahan.

Aku lepaskan pelukan anak-anak. Pipiku mulai memanas. Butiran airmata dengan cepat membasahi pipiku. Aku tak tahu harus bilang apa kepada mereka. Kembali… kucium dan kupeluk lagi satu per satu.

Aku berdiri dengan pipi basah. Aku berlalu dari hadapan mereka setelah memandangi Ibu dan berbisik, “Maafkan aku, Bu.”

***

Sebulan sebelumnya…

Di suatu subuh, aku masih terjaga setelah semalaman berkutat di dapur. Pesanan jajanan pasar sebanyak ratusan biji berhasil diselesaikan meskipun lelahnya luar biasa.

Pak Said menjemputku tak lama setelah azan subuh berkumandang. Sembari mengantarkan pesanan ke rumah majikannya, kami lagi-lagi mengobrol banyak.

“Saya capek sekali, Pak. Apa sudah ada kabar tentang yang saya tanyakan tempo hari?”

Pak Said mendengarkan dengan sabar. “Masih memikirkan tentang Arab Saudi itu?”

“Iyalah, Pak. Pesanan kue tidak tiap hari ada. Mengerjakannya butuh tenaga tidak sedikit. Saya kan cuma sendirian. Untungnya tak seberapa. Anak saya 3, Pak.” Aku buru-buru menyeka butiran airmata yang jatuh tak tertahan.

Rumah majikan Pak Said, seorang pejabat kaya raya di kampung kami, jauh dari pemukiman penduduk. Halamannya saja mungkin bisa seluas sebuah sawah.

Lampu depan nampak terang benderang ketika kami berdua sibuk menurunkan tampah-tampah kue. Kami melangkah masuk melalui garasi. Segera kami tercekat oleh pemandangan luar biasa di tengah ruangan garasi yang besar yang kini kosong melompong.

Biasanya ada beberapa mobil yang berjajar di sana. Tapi di saat fajar belum sepenuhnya menyingsing di pagi itu, Bapak pejabat beserta istrinya nampak berdiri tegang di tengah-tengah ruangan. Seorang perempuan tergeletak di hadapan mereka. Sang istri terisak-isak dengan suara tertahan.

Sementara suaminya nampak pucat melihat ke arah kami dan bersuara dengan nada panik, “Perempuan itu mau memeras kami.”

Pak Said bergegas mendekati mereka. Meninggalkanku yang hanya mampu berdiri mematung di dekat pintu. Tak lama berbincang dengan suara rendah, Pak Said kembali menghampiriku.

“Irni, kau bantu Bapak, ya.”

Bibirku terasa bergetar, “Membantu apa, Pak?”

“Bantu Bapak membereskan ini.” Pak Said mengarahkan pandangannya ke arah tubuh perempuan yang terbujur kaku itu.

Dengan gemetar, aku mengekor langkah Pak Said mendekati sosok yang sepertinya sudah tak bernyawa itu. Saat kami sudah mendekat, tiba-tiba langkahku terhenti.

Aku berbisik takut-takut ke arah Pak Said, “Pak, aku kenal perempuan itu.”

“Masa? Kenal dimana?”

“Dulu aku sering lihat suamiku memboncengnya.”

Pak Said memandangiku sesaat. Lalu dia mengalihkan ujung matanya ke arah Bapak pejabat dan istrinya yang belum beranjak sedikit pun dari tempat mereka semula. Pak Said tercenung sebentar, lalu buru-buru mendekati bapak pejabat kembali. Dia berbisik-bisik cukup lama.

Sempat kulihat si Bapak Pejabat sesekali memandang ke arahku. Mereka bicara apa, sih? Cukup lama mereka berbincang hingga sempat beberapa kali suara mereka agak meninggi.

Hingga akhirnya, Pak Said menghampiriku dan berujar pelan, “Irni, apa kau masih memikirkan tentang jalan lain itu?” Suaranya sangat hati-hati.

Aku menatapnya kebingungan. Lalu Pak Said mengambil tempat di sebelahku yang berjongkok mematung sejak tadi. Dia mengatakan banyak hal. Banyak sekali.

Dan ketika akhirnya sirene suara mobil polisi meraung-raung memecah suasana pagi yang senyap itu, hanya ada aku di garasi besar itu. Duduk meringkuk di samping mayat perempuan bergincu tebal dengan pakaian minim itu. Sebilah pisau bersimbah darah tergenggam erat di tanganku.

Pagi itu, telah selesai resahku. Kutemukan jalan lain itu.

*Tamat*

Gambar : fanpop.com

Gambar : fanpop.com

9 thoughts on “[Cerpen] Jalan Lain

    • Terinspirasi dari kisah nyata maksudnya. Iya euy, pernah ada ibu-ibu yang masuk penjara gantiin bosnya dengan imbalan uang sekolah untuk anak-anaknya sampai SMA :'(. Bukan kasus pembunuhan tapi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *