Willing to be Little :)

***

Teman saya ini berasal dari keluarga cukup berada. Dari lahir, ke mana-mana sudah naik mobil :D. Tak cuma mobil, lengkap dengan supirnya :).

Keluarganya berasal dari Tanah Minang. Sang Ayah sukses meniti karier hingga akhirnya menjadi kepala cabang sebuah Bank Negara yang dulunya cukup popular. Ayah dan ibunya menghabiskan tahun-tahun penempatan pertama di Pulau Sulawesi. Dari Gorontalo, Manado hingga Bitung.

Teman saya sendiri lahir di Yogyakarta. 4 tahun masa awal kehidupannya dihabiskan di Muntilan. Lalu berpindah ke Pamekasan dan akhirnya ke Nganjuk sebelum pindah ke Jakarta di tahun 1994.

Selain fasih berbahasa Minang, dia juga cukup piawai berbahasa Jawa. Malah waktu kecil sampai bisa berbahasa Madura segala hehehe.

Di Pamekasan, dia cerita kalau dari arah jalan raya, rumahnya tidak kelihatan. Iya, tidak kelihatan, saking luasnya pekarangannya hehehe. Rumah dinas kepala cabang tempo dulu memang lumayan ‘wah’. Saking gedenya itu rumah, garasi mobil terletak di bangunan yang berbeda dari bangunan utama.

Di Nganjuk juga tinggal di rumah dinas yang serupa. Rata-rata bangunan lama yang memiliki atap tinggi dengan ukuran yang luas dan dibangun di atas tanah yang tak kalah gedenya (untuk ukuran rata-rata rumah sekarang).

Sebagai petinggi bank, pergaulan orang tuanya kala itu selevel dengan orang-orang Muspida (Musyawarah Pimpinan Daerah). Mulai dari bupati, kepala PLN dan pemimpin-pemimpin berbagai instansi di wilayah terkait. Semacam anak pejabat kecil-kecilan gitu kali, ya hihihihi.

Rumah selalu dijaga satpam bak orang kaya di sinetron-sinetron :P. Bantuan tak pernah kurang lah. Mulai dari supir pribadi sampai asisten rumah tangga.

Anak itu anak yang sama yang sekarang menjadi teman saya yang paling akrab. Yang suka ngeyel kalau saya bilang, “O ya ampun, warna baju udah pudar begitu. Beli baru napa? Terus ya, itu jam tangan yang talinya udah rusak apa enggak diganti yang baru aja? Duh, sepatumu itu, lho. Udah mau copot lem sampingnya, beli baru wooooiiiii…”

Dia selalu nyengir, “Ngapain pakai baju bagus-bagus? Sudah ganteng begini. Kalau pakai baju bagus nanti ada yang naksir gimana? Apa siap punya saingan? Siap dimadu?” Hahaha. Cubitin dulu sampai merah :P.

Terus, “Jam tangan ngapain? Lihat aja jam di hp. Sepatu tanggunglah, tunggu rusak sekalian.”

Seorang teman yang akhirnya menjadi sahabat dan terus melaju menjadi suami hihihi. Sang suami memang berbeda dengan eike. Kalau saya lahir dan besar dari keluarga biasa-biasa (gengsi bilang menengah ke bawah hahaha), beliau sudah tajir dari kecil :P.

Tapi, waktu kenal pertama di bangku kuliah, enggak kelihatan. Pernah, sih, dia sesekali ke kampus bawa mobil. Lebih sering enggaknya. Jadi maaf ya, waktu kuliah dikau tidak masuk dalam list! Hahahaha.

The Gober(s) :D -2007

The Gober(s) 😀 -2007

Saat masih bermukim di Jeddah, kita pernah ikut konvoi ke Al Hijr, mau jalan-jalan ke Madain Saleh. Waktu mengisi bensin, saya sudah peringatkan suami, “Sudahlah Bang, ngisi bensin 95 aja, yuk. Gue yakin semua pasti ngantri di sana. Jangan di 91. Diketawain lu ntar. Suwer.”

Bensin di Saudi itu level Pertamax semua, kalau enggak 91 ya 95. Harganya jelas 95 yang lebih mahal. Menurut suami, la di Jakarta saja kuat pakai oktan 88 (Premium), pakai oktan 91 enggak masalah pastinya. Lebih murah pula hihihihi.

Beneran, deh. Waktu itu hampir semua bapak-bapak ngakak kencang-kencang melihat suami yang tetap nekat mengantre di jalur 91 hahaha. Sementara semua mobil berbaris manis di jalur 95 :). Penjaga pompa bensinnya sampai ikut nyengir-nyengir. Kami pun tak protes kalau dilayani paling terakhir.

Suami saya sama sekali tidak merasa tengsin, Ikut ketawa-ketawa malah di belakang kemudi. Kalau orang biasanya kan irit ke orang lain tapi ke diri sendiri jor-joran. Nah, beliau ini ya memang dasarnya sederhana. Ke diri sendiri pun selalu berhemat sampai hal-hal kecil sekali pun.

Waktu tahu dia beli Toyota Yaris semasa di Jeddah juga saya sempat protes. “Kok malah beli Yaris? Semua pakai Civic. Beli Civic juga napa, sih?”

Suami menjawab tenang, “Ngapain beli yang mahal-mahal? Yaris juga harga jualnya bagus dan cepat laku. Kalau kita mau pindah nanti, enggak bakal ribet jual mobil.”

Benar banget, lho. Yaris biru muda yang sudah pernah menemani kami berpetualang sejauh 33 ribu km selama dua tahun terjual hanya dalam tempo 2 hari! Itu pun banyak banget yang menelepon ^_^. Malah, ada teman yang sempat mencibir suami yang disangka menjual dengan harga terlalu mahal. Voila, pembeli pertama membeli di harga penawaran pertama, kagak pakai nawar-nawar. Hidup Yaris! Hahahaha.

Hidup apa adanya memang lebih banyak manfaatnya. Ajaran agama mana pernah salah, sih? :D.

Saya tak suka makan di tempat-tempat mahal lebih karena bawaan lidah saya yang sepertinya sudah dipatok jadi lidah kampung. Sudah sampai Eropa, masih stres kalau enggak makan tahu-tempe hahaha.

Suami saya suka banget makan steak dan semacamnya. Tapi ya itu, dia tidak pernah menjadikannya gaya hidup :). Secukupnya saja. Dia pernah bilang, “Hidup ya masa dikendalikan sama perut?” ;).

Saya juga pernah tinggal bersama mertua. Wah, jadi tahu saya dari mana suami saya mendapatkan pendidikan seperti ini. Contoh langsung dari bapak dan ibu mertua :).

Bapak dan ibu mertua, bahkan hingga kini di masa pensiunnya, malah tinggal di rumah yang terbilang mewah. Lingkungannya juga cukup mentereng. Tetangga kiri kanan komplit. Mulai dari anggota DPR, petinggi Polri, petinggi BPK hingga promotor acara yang pernah sukses membawa Disney On Ice ke Jakarta ;). Rumahnya elit tapi sehari-harinya wah…jauh banget dari kata elit.

Perkakas rumah tangga seadanya. Lauk-lauk seadanya. Mertua juga tidak suka jajan. Makan di luar pun sangat pilih-pilih :). Penampilan juga tidak macam-macam.

Bapak mertua kadang suka memanfaatkan angkutan busway untuk kontrol ke rumah sakit. Kalau dipikir-pikir, apa susahnya beliau naik taksi? ;).

Papi (bapak mertua) pernah bilang, cita-citanya dari muda, tidak ingin menyusahkan anak-anak di masa tua nanti. Alhamdulillah, doa dan kerja keras beliau dijawab Allah :). Secara materi, mereka sangat berkecukupan. Ditambah pula dengan anak-anak yang mandiri dan juga diberkahi materi yang tidak sedikit. Alhamdulillah. Semoga menular ke kami nanti. Aamiin :D.

Rahasianya? Dari kecil suami saya selalu bilang tidak pernah dimanjakan. Dia cerita waktu kuliah boleh pinjam mobil (mobil tidak cuma satu lho di rumah :P) tapi bensinnya beli sendiri. Jangan harap dapat uang bensin khusus.

Dari kecil sudah diajarkan menabung. Sejak pertama kerja, fokusnya sudah menabung. Stabil banget pengeluarannya. Biasanya kan makin gede gaji makin gatal mau beli-beli untuk punya-punya.

Suami saya tidak pernah keranjingan gadget. Tapi kalau lihat properti, baru jelalatan matanya hahahaha. Senang fotografi, tapi tak pernah tergiur lensa-lensa mahal. Ada juga saya yang gemas maksa-maksa dia beli-beli lensa demi foto-foto ciamik. Toh, fotonya dipakai bininya untuk jualan gitu, lho :D.

Ya begitu deh si Paman Gober kita ini. Hahaha. Enggak di Tehran, di Jeddah, di Athlone, kesederhanaan selalu menjadi pilihan utamanya :). Sesuatu yang telah diajarkan dengan sungguh-sungguh oleh kedua orang tuanya sejak kecil. Ketika roda kehidupan memungkinkan mereka bergaya hidup kelas atas secara materi.

Tentu saja, tiap manusia punya kekurangannya masing-masing. Suami, bapak mertua dan ibu mertua juga manusia biasa yang punya sisi positif dan negatif masing-masing :).

Saya jadi malu kalau mau ikut-ikutan sok-sok beli ini itu. Malu sama suami terutama. Dia saja yang dari kecilnya secara materi berlimpah sanggup kok hidup sederhana kenapa gue yang ribut mau beli ini itu coba? hahaha *getokKepalaSendiri*.

Walau tentu saja hubungan dengan ibu mertua tak selalu mulus, saya selalu mempersembahkan rasa kagum terbesar saya atas ‘kesuksesan’ beliau mendidik para ananda tercinta dari segi yang ini. Ah, kita ini para menantu hanya memetik enaknya saja, ya, kalau dipikir-pikir hehehe. Seribu jempol untuk Mami tercinta, deh, untuk urusan ini. Doakan menantu-menantumu bisa mengikuti jejak yang sama ya, Mi. Amin :).

Bukan berarti tidak boleh kaya. Umat muslim justru harus tajir. Selain untuk melindungi diri sendiri dan keluarga agar bisa membantu sesama juga kan? ;). Tapi, ya diinvestasikan saja ke hal-hal yang tidak perlu orang tahu kalau tidak kita beritahu.

Kalau mobil mewah dan baju-baju mahal pasti akan terus mengikuti ke mana kita pergi, kan? Makin mewah makin pening. Keserempet di jalan mau mati gak tuh rasanya? Hahahahha. Baju-baju dan aksesoris mana ada habisnya? Makin banyak baju bukannya hidup tambah senang. Makin puyeng pilih-pilih kalau mau bepergian.

Dari segi materi sebenarnya pas-pasan, tapi ya mau bagaimana lagi bertahan di lingkungan, dicicillah itu sebuah mobil dan sebuah rumah sekaligus. Mobil caem, rumah keren, masa sekolah anak jelek? Lanjuuuuut.

Belum kalau akhir pekan pengin nge-mall. Masa iya tas mahal, baju bermerek, maennya ke mal ecek-ecek. Ke mal mentereng dong awwww hihihihi. Begitulah, tak akan ada habisnya :). Tak pernah datang usainya.

Saat itulah, setan mulai beraksi. Memangnya orang korupsi untuk apa? Untuk ditabung doang? Mana mungkiiiinnnnn. Untuk dipakai sedekah? :P. Ya untuk dipakai berfoya-foya :(. Beli rumah sana sini. Koleksi mobil-mobil mewah. Jalan-jalan ke luar negeri sekeluarga (eh, ini bisa gratis sih pakai uang negara hahahahaha). Kalau perlu…ya kawin lagi. Bini galak, gunakan plan B : nikah siri diam-diam atau selingkuh sekalian hehehe.

Sebagai muslim, punya banyak uang? Kudu. Gaya hidup mewah? Bukan tuntunan agama :). Lagian penting banget ya dibilang tajir? Enggak enak tauuuu. Disuruh nraktir melulu entar hahahahaha. “Baju lu mahal begitu. Masa bayarin makan di sono aja enggak ada duit, sih?” Nah lo nah lo, gimana tuh nolaknya? Hahahhahaha.

Memang, sih, tidak seharusnya ya rasa senang atau bangga disandarkan kepada materi. Karena balik lagi, enggak bakal ada habisnya. Puas habis beli tas LV  model terbaru, begitu di tangan rasa puas akan terbang dengan sendirinya. Karena … Hermes juga ngeluarin produk terbaru. Lemas lagi. Pengin lagi. Hehehe.

The best feeling in the world is realizing that you’re perfectly happy without the thing you thought you needed

– marxie

***

30 thoughts on “Willing to be Little :)

  1. Suka banget tulisan ini. *semoga ini kali pertama aku komen seperti ini ya mbak 🙂 *
    Aku banyak belajar dari tulisan ini. Sering-sering nulis kayak begini mbak hehehe

  2. mak jihannnn, my hubby waktu pacaran sihh iya2 aja kalo dihina hahaha, mau disuruh beli jeans baru, sepatu baru, malah beli parfum sekalian supaya wangi, malu kali ya sama eike. sekarang setelah kawin ketauan aslinya, podho karo suami yey, wkwkwkwk….tapi biar begitu kalo sama kebutuhan istri anak mah nomor satu. yang terbaik, yg terbagus, aduduhhhh…peyukhubby…
    sukaaa tulisannyaaaa…#sembah2

  3. * Jadi maaf ya, waktu kuliah dikau tidak masuk dalam list! * hahahaha ngakak banget baca iniii! Dan kukira aku udah shallow beut kalo liat cowok nanya kuliahnya di mana bahkan di kampus kampung kami dulu aja aku cuma mau lirik anak jurusan akuntansi huahahahahahhaa ish kalo anak itebe atau ui sih mau jalan kaki juga masuk list-ku, Jihan! Aku bisa melijat potensi mereka jadi kaya *dengan cara halal* I think I already told you before I adore your lifestyle yakh, sederhana karena terpaksa dan karena pilihan auranya beda bow. Selain soal tulisan dan tinggal di LN, soal ini kau inspirasiku. Soal kecantikan sih kita punya pakem masing-masing ya *bedakan dulu* Btw hubby itu sederhana bgt jg, tp emang gegara pas kicik hidup mendekati garis kemiskinan ihik, jd sampe skrg terbiasa gak ‘butuh’ macam-macam buat nikmati hidup. Cocoklah buat ngerem istrinya yng punya potensi hedon ini.

  4. Jadi.. kau punya berapa LV, Mbak? Hermes, berapa? Bagi doongg, kakaaaakkk… 😆
    Mbak, emang beda kan ya, orang yg dari sejak orok aja udah tajir, sama yg tajirnya telat, hahaha…
    Btw, soal belajar hidup sederhana (prihatin) itu, aku setujuuuu bgt. Kata tetangga yg ‘tega’ nyuruh 2 anaknya sekolah jalan kaki ke jalan raya utk selanjutnya naik angkot padahal di rumah ada mobil dan motor, hidup senang itu nggak perlu dilatih, yang berat itu MENGAJARI ANAK HIDUP SUSAH.
    Aku suka postingan ini (kayak biasanya dong, hihi) dan makin pengen ketemu denganmu, kapaaaann yaaaa? *menerawang ke masa depan* 🙂

  5. beruntung banget memiliki suami dan keluarganya yang sangat bersahaja, walaupun mantan pejabat. Saya pikir banyak pejabat jaman dulu yang hidupya memang begitu..sederhana dan biasa saja..karena mungkin menjabatnya juga dengan bersih ya Mbak..

  6. Kerenn bangett nih kisah hidupnyaa.. Belajar banget ut kedepannya klo dah bangun rumah tangga sendiri.. 😀 Salam kenal yah Mba, klik link dr blog nya Baginda Ratu 😀

  7. Amazing, Mbak….
    Sederhana itu memang lebih nyaman dan indah.
    Nurutin duniawi gak pernah ada habisnya….A katanya canggih, ternyata B lebih canggih, beli B eh lahir si C…mau ampe kapan?

  8. Klo nurutin dunia memang gak ada habisnya….manusia diberi harta 1 lembah, akn meminta 2 lembah dst sampai pd akhirnya yg dihuninya cm tanah yg ukurannya tdk lebih dari 1x2m sj…setuju dech mbak sama prinsip suami mbak,,,,

  9. Selalu terkagum2 baca tulisan Mbak Jihan.
    Tulisan sederhana namun sangat menginspirasi.

    Kesederhanaan suaminya mirip suamiku, untungnya org yang berbeda ya, Mak. Hehe

  10. Kalo penulis sampe dikata sama seseorang “Mungkin suami Mbak Jihan bukan dari kalangan berada, jadi sulit memahami gaya hidup orang-orang berada.” bagaimana dengan kita2 ini? yang jelas2 kalangan mayoritas rakyat indonesia….. ah enaknya jadi “rakyat biasa”… ga pusing…

  11. setuju intinya hemat bukan.berarti pelit tapi utama kenutuhan dari pada keinginan, benar sekali sebagai muslim kita wajib “perkaya diri” sebab fakir bisa memyebabkan kafir sudah banyak contoh yg akidahnya terjual.demi bbrp kg beras dan sembako, kalau dibilang ikuti trend fashion.emanh goda iman.tapi kalau gak cocok dikita makin gak nyaman dgn penampilan sendiri,

  12. Hidup sederhana emang the best ya mbak jihan,wong contohnya baginda mulia Rasul langsung…. Yaaa walopun suka gregetan liat org2 yg sombong pamer sana sini,suka tergoda juga pengen sombong ke mereka (ada yg bilang boleh lho…yeeyyyh!!)
    Tp d fikir2 tetep g baik juga…sifat sombong itu sendiri udh buruk….org yg udh kaya aja (kyk suaminya mbak) g mau pamer,masak iya saya yg biasa2 ini( gengsi jg nyebut menengah kebawah “̮ƗƗɪ̣̇ƗƗɪ̣̇ƗƗɪ̣̇ ๑ˆ⌣ˆ๑ “̮ƗƗɪ̣̇ƗƗɪ̣̇ƗƗɪ̣̇) mau pamer2….. Fiyuuhh…teteppp tulisan mbak jihan bikin melek….thanks ya mbak…. Eh btw seneng bgt liat foto mbak jihan ma suami….sehat selalu ya mbak buat kalian….semoga umurnya berkah……. *sorry kepanjangan* hihihiii

  13. Suaminya cakep amat yak *salah fokus * ntar dijitak deh sama mak Jihan. Ini type nya sama kayak suamiku. Baju kalau belum pudar belum beli, sepatu kalau belum jebol belum beli,jam tangan juga pakai. Bedanya adalah suami mak Jihan tajir, suamiku biasa aja. Tapi sederhananya sama.Nggak neko-neko. Ya iyalah duit dari mana buat neko-neko kalau kita mah.Mending buat jajan anaknya.hihi.. Kerja juga di Indonesia …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *