Makanan Halal di Eropa, Between Truth and Repose

“Liburan ke sono? Makanan halal denger-denger repot di sono. Makan apaan ntar?”

“Ya makan apa ajalah. Yang penting bukan babi. Baca bismillah saja.”

Sebagian muslim yang saat liburan bahkan bermukim di negara-negara mayoritas non muslim memilih jalan ini. Alasan yang paling sering dikemukakan adalah … darurat. Darurat sih seharusnya berarti tak ada yang lagi ALTERNATIF LAIN yang tidak bisa kita makan.

Negara Irlandia sendiri, walau tinggal di kota imut-imut seperti Athlone, masih menyediakan toko daging halal. Tempatnya memang tidak di ktengah-tengah kota. Jaraknya sekitar 2-3 km dari gedung apartemen saya. Soalnya saya malas ke sana naik bis sambil nenteng stroller 😛. Jadi seharusnya, no issue soal makanan halal di Eropa untuk wilayah Irlandia secara umum.

Kalau suami ada biasanya tugas beli daging adalah jatah beliau. Pulang pergi kantor, bisnya pasti lewat depan sana. Kalau suami lagi dinas ke luar negeri, misalnya tempo hari ke Istanbul selama sebulan penuh, mau enggak mau, si mama yang bolak balik beli daging ke sana hehe. Pijat-pijat paha 😀.

Dengan keadaan seperti ini pun, suami punya cerita unik. Suatu hari di masjid mendatangkan seorang Syekh dari Dublin. Lumayan punya nama dan termasuk jajaran ulama yang mengurusi sertifikasi halal untuk masyarakat muslim di Irlandia.

Beberapa jamaah mengaku lebih memilih membeli daging sapi/ayam/domba di supermarket daripada ke toko halal. Setelah ditanya, alasannya fantastis, “Harga di toko daging halal lebih mahal.” Hahaha.

Keluarga Gober saja sampai tepok jidat . Saya tahu, kok, harga daging di supermarket umum memang jauh lebih murah. Psstt…lebih murah daripada di tanah air .

Sebagian juga menganggap ini kondisi darurat. Which is sangat tidak tepat. Karena masih ada daging halal yang tergolong mudah ditemukan. Emak-emak mungil macam eike saja sanggup bolak balik ke toko sana, masa bapak-bapak kalah? Pada punya mobil semua pula *gubrak*. Stok daging halal juga selalu terjaga. Tergolong sangat cukup.

Kondisi darurat juga dipatahkan dengan fakta bahwa banyak alternatif makanan lain seperti ikan-ikanan dan aneka seafood lainnya. Alternatif lain adalah “any meal that’s suitable for vegetarian” is HALAL. Secara undang-undang, yang setahu saya berlaku umum di negara-negara maju, rumah makan/produsen makanan yang menyediakan makanan berlabel ‘vegetarian’ HARUS memisahkan proses penyajiannya. Kalau ada yang melanggar, mereka bisa dituntut secara HUKUM dan LEGAL.

Menurut si Syekh, “If you enter a restaurant that served some vegetarian meals. Close your eyes and eat them.”

See? Daruratnya sebelah mana hayooooo? 😛.

Gambar : 21food.com

Gambar : 21food.com

Di Athlone rumah makan yang menyediakan makanan halal (yang non veg) memang sangat minim. Lagian, harga makanan jadi di sini sangat menjulang. Padahal, harga barang-barang pokoknya enggak mahal-mahal banget, lho. Penggemar supermarket Aldi mana suaranya? *angkatTanganPalingTinggi* hahaha.

Asal jeli, bisa mendapatkan sayur mayur dan buah-buahan segar dengan harga sen-senan. Tiap 2 minggu, jenisnya berganti-ganti. Ada rak-rak khusus yang memajang jenis makanan yang lagi kena diskon. Diskonnya enggak becanda, Cyin. Dari harga 1.79 euro per bungkus bisa drop sampai 59 sen saja *nyengirSeratusCenti*. Ukuran kemasan dan tingkat kesegaran tidak berbeda .

Walau banyak swalayan lain yang jaraknya jauh lebih dekat, Bibi Gober tetap istiqomah bolak balik Aldi yang jaraknya sekitar 1.5 km dari apartemen. Hahaha. Apa pun demi devisa untuk negara tercinta  *tsaaaahhh*.

Si Syekh juga punya pesan bagus. Bahwa…hidup itu pilihan 🙂. Meninggalkan tanah air untuk datang merantau ke negeri lain adalah pilihan. Setiap pilihan yang diambil ya harus dipertimbangkan konsekuensinya. Kita bebas memilih tapi kita tidak leluasa mengatur konsekuensi yang setia mengikuti setiap pilihan yang kita ambil. Jika sebuah ujung tongkat kita angkat, ujung lainnya juga pasti ikut terangkat kan 😉. Termasuk pertimbangan soal makanan halal di Eropa ini.

Walau hati kecil rasanya berat, saya enggak bisa bohong. Tinggal di Athlone jauh lebih nyaman secara batin untuk saya pribadi. Dibandingkan Jeddah atau pun Jakarta, yang didominasi oleh orang-orang yang beriman kepada ajaran yang sama.

Jangan buru-buru menuduh saya ingin mendiskreditkan kaum muslim secara luas. Demi Allah, tidak ada sedikit pun rasa seperti itu.

Justru…pertanyaan besar untuk kita KAUM MUSLIM? Sederhana saja. Satu kalimat islami yang ini, “Kebersihan adalah sebagian daripada iman.” Tidak di Jeddah, tidak di Jakarta, saya selalu menderita kalau liburan ke tempat-tempat terpencil . Harus menahan pipis karena benar-benar tidak tahan kalau harus menggunakan toilet umum yang kondisinya … *pasang icon manyun seratus biji*.

Kebersihan dan kedisiplinan yang seharusnya menjadi AURA kehidupan muamalah kaum muslim terus tergerus dan justru menjadi ciri hidup kaum sekuler yang mungkin seumur hidupnya kenal alquran saja tidak . Selalu sedih kalau harus menulis tentang ini 🙁. Tidak semua umat muslim, sih.

Sudah pernah ke Teheran? Masya Allah bersihnya kota ini. Mereka juga punya selokan-selokan lho. Yang saking jernihnya itu selokan, pandangan mata bisa menembus ke dasar got eh…selokan 😛. Urusan kebersihan, saya angkat jempol satu juta untuk pemerintah kota Tehran . Oh ya, saya juga sering melihat orang-orang antri dengan tertib menunggu bis dan taksi atau dalam mal. Which is akan pemandangan langka kalau tinggal di Saudi hehehe.

Eh tapi, eh tapi … kalau balik lagi ke urusan makanan. Saudi adalah surga untuk kaum muslim . Jaminan halal datang dari pemerintah langsung untuk semua jenis makanan yang dijual di arena publik. Walau ada juga beberapa teman yang meragukan jaminan halal ini. Sekali lagi, hidup itu pilihan 😀.

Kalau di Jeddah, restoran papan atas berlabel internasional yang asalnya dari negara-negara mana pun terhitung HALAL. Cap cip cup kembang kuncup deh, mana saja boleh dimasuki. Gaya lu! HIhihihi.

Maksudnya kalau mau. Ya kebetulan saya dan suami semasa di Jeddah, walau berlimpah godaan kuliner, tetap setia dengan Warteg Mang Oedin dan Warteg Rindu Alam. Hahaha. Sesekali ‘hidup mewah’ dengan menyambangi Pattaya atau Mr.Sate *ngakakPalingPoooolll*.

Dengar-dengar, di masa amnesti, banyak warteg-warteg yang konon memang dijalankan oleh pekerja-pekerja ilegal asal tanah air yang terpaksa tutup .

Sebagai muslim di kota kecil yang berada di negeri yang memang bukan favorit pendatang muslim ini memang tidak selalu gampang. Susahnya jadi manusia. Suhu terbaik ada di tanah air. Sepanjang tahun bermandikan cahaya matahari. Namun…Jakarta macet, belum lagi pening saban baca berita isinya tentang korupsi semua. Masih ada pula pihak yang mati-matian membela para geng koruptor ini *pingsan*.

Mau hidup di kota kecil, suami apa bisa menjadi petani, ya? Hihihihi. Umur sudah ketuaan mau apply PNS. Dan yang lebih penting, belum sanggup meninggalkan pundi-pundi emas di negeri rantau siih hahahahahahaha.

Tinggal di Eropa ya sami mawon. Kangen keluarga, situasi pertemanan yang memang ‘berbeda’, belum kalau musim dingin melanda. Tetap ingat, bersama pilihan, selalu ada konsekuensi.

Bagaimana dengan Jeddah? Aduh sudah kepanjangan. Kalau mau, beli buku “Memoar of Jeddah, How Can I not Love Jeddah?” yang sudah beredar sejak september kemarin. Penulisnya sama dengan yang menulis note geje ini . Ujung-ujungnya ya boooooo hahahaha.

Baiklah, kita sudahi sampai di sini. Mengutip dan memodifikasi sedikit ucapan Cu Pat Kay (penggemar Kera Sakti mana suaranyaaaaa :D) … “Beginilah hidup, deritanya tiada akhir.” (Ada yang ingat kalimat aslinya bagaimana? Ada satu kata yang saya ubah :D).

Dimanakah semua kehidupan dunia ini akan bermuara? Kapan derita akan terhapus selamanya? Dimana tempat yang hanya menjanjikan kesenangan abadi …

“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa…” (Ali Imraan : 133)

Dan terkait dengan pilihan-pilihan dalam hidup :

Every mind must make its choice between truth and repose. It cannot have both. -Ralph W Emerson-

It cannot have BOTH 🙂. Demikian tausiyah soal seluk beluk makanan halal di Eropa :p.  Jangan lupa pesan sponsornya, yak. Hahahaha.

Selamat berakhir pekan ^_^.

13 thoughts on “Makanan Halal di Eropa, Between Truth and Repose

  1. Suka tulisnnya mb Jihan…… Cari makanan halal juga tantangan banget di sini mbak, terutama buat aku yg suka makan. Kalo pas lagi jalan ke taman trus bau semerbak sosis panggang atau hot dog kecium wanggiiii hehehhe 😀 Alhamdulillah di sini halal butcher sekitar 20 km aja dari rumah 🙁 tapi ada merek ayam halal di supermarket deket rumah… 🙂

    • Hehehe, suka duka jauh dari tanah air ya :D. Kecuali di Timur Tengah kali. Malah di mana-mana dijamin halal kalau di sana 😉

  2. Jadi penasaran sm supermarket aldi. Punya wong kito, mbak? Itu 1,5 km dari apartemen, dirimu jalan kaki, apa naik bis…? Btw, kalo pundi2 emasnya udah luber, kirim atuuuuhh, ke tanah air… hahaha..

    • Aldi punyanya Jerman hehehe. Jalan kaki :D, eike enggak bisa nyetir :P. Dari apartemen ke sana enggak ada bis. Memang di sini kulturnya begitu. Enggak punya mobil ya jalan kaki hihihihihi. Belum luber nih hahahaha, gimana dong? 😛

  3. ngga tau gimana, akhirnya bisa nyasar ke blognya jihan :D, seru bacanya! setuju banget, every mind must make its choice between truth and repose. It cannot have both :). salam kenal dari kami di negara asalnya aldi yaa 🙂

  4. eh tapi bener ya mak. temenku yang di Swedia juga merasa, masyarakat disana lebih ‘Islami’ walo mereka bukan muslim. Toleransi dan kebersihannya top banget. tapi tetap kangen negeri sendiri..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *