Tumbuhan Cinta Yang di Ladang Kita

Sejak kecil, sudah kepengin go internesyenel macam Kakak AgnesMo gitu deh, hihihi :p. 

Waktu kecil, saya suka membaca buku-buku dongeng terjemahan. Ceritanya, sih, biasa-biasa saja. Tapi saya menikmati gambar-gambar yang menjadi latar dalam buku cerita tersebut. Rumah-rumah kecil bercerobong asap bercat warna-warni pastel. Halamannya luas berumput hijau dengan bunga-bunga aneka warga. Ikut membayangkan rasanya hidup di sana. 

Tak salah bila buku disebut-sebut sebagai “jendela dunia.” Dari serial anak-anak yang kebanyakan ditulis oleh Enid Blyton, saya ikut-ikutan menghafalkan mata-mata uang yang disebut-sebut dalam bukunya … penny, pounds, shilling, pence dsb. 

Salah satu serial favorit di bangku SD itu adalah masa-masa kecil dari Darrell Rivers saat mulai bersekolah. Keenam seri bukunya selalu membuat khayalan saya terbang nun jauh ke Malory Towers, tempat Darrell menghabiskan 6 tahun sekolah dasarnya.

Internet, Jendela Dunia Modern

Walau sekarang saya tetap menggenjot semangat anak-anak untuk membaca buku, tapi era digital memperkenalkan jendela dunia terkini … internet :).

Di rumah, kegiatan bersama anak-anak tidak hanya diisi dengan bermain lego atau membaca macam-macam literatur tentang Dinosaurus (kedua jagoan kecil saya ngefans banget sama binatang purba ini hehehe). Saya suka menemani anak-anak berselancar di dunia maya.

Bertiga, kami duduk, selonjoran atau nongkrong di depan notebook. Kadang, sambil menonton harus sibuk menjelaskan ini itu pada mereka. Saya senang menunjukkan hal-hal yang berkaitan dengan suku Minang dan Bugis. Anak-anak besar di Jakarta, mana mengerti daerah asal ayah dan ibunya kalau bukan kami yang getol mengajarkan kepada mereka ;).

Tak cuma ‘menjelajahi’ nusantara, sesekali mengintip dunia anak-anak dari negara-negara lain via video-video yang bisa diakses di beberapa situs.

Terima kasih kepada internet. Media pembelajaran lebih bervariasi, tidak hanya mengandalkan buku. Anak-anak pun tidak cepat bosan.

Kami menikmati internet via notebook dan bisa di mana saja. Kalau di atas meja agak saya hindari, suka keenakan dan jadinya susah mengalihkan perhatian mereka dari internet.

Punya 2 anak laki-laki, siap-siap saja dengan drama berantem hampir tiap hari. Kalau tak  mempan dilerai dengan bujukan biasa, internet kembali beraksi hehe. Dialihkan perhatiannya.

Biasanya kalau situasi begini, anak-anak mengambil kesempatan karena tahu mamanya lagi berusaha membujuk. Mereka kompak minta acara notebook-an di atas sofa. Hadeuh…anak-anak -_-.  Baru saja meributkan sebuah boneka dinasaurus, mendadak kompak ngerjain mamanya. Hahaha.

Kalau di atas sofa, seperti saya ceritakan di tulisan yang lalu, kaki pegal menahan notebook di atas paha. Belum lagi kalau mereka merengek minta pindah ke kamar. Di atas tempat tidur, jika notebook digeletakkan begitu saja, alamat bakal berantem lagi. Masing-masing berusaha menguasai keyboard.

Pertaruhan Setiap Ibu 

Saya beruntung bisa terus bersama anak-anak di hampir sepanjang hari. Bagaimana kalau seorang ibu yang harus jauh dari keluarga, ya?

Seperti beberapa teman saya yang melanjutkan sekolah ke luar negeri yang tidak bisa memboyong suami dan anak-anak. Juga teman-teman lain yang harus ke luar kota atau ke luar negeri untuk urusan kantor dan pekerjaan.

Seperti yang selalu saya yakini dan saya tuliskan di banyak kesempatan...every Mom has her own battle :). Hidup ini tidak hitam putih. Begitu banyak mimpi dan harapan serta cara tiap ibu untuk bahagia.

Bukan egois. Simpel saja. Bagaimana mau menumbuhkan cinta di ladang kita untuk suami dan anak-anak kalau tanah tempatnya tumbuh malah gersang?

Mustahil membahagiakan orang lain jika kebahagiaan diri sendiri tak dijaga. Warna-warni cara yang dipilih untuk terus merawat tanah tempat dimana cinta akan bertumbuh. Tanah yang subur akan membuat benih-benih tumbuh sempurna.

Makanya, kurang tepat jika ada istilah untuk sebagian ibu yang dinamakan “Full Time Mother.” Memangnya ada part time mother? Hehehe. Jika kita masih terusik dengan pilihan sendiri dan berusaha untuk memperoleh pengakuan dari orang lain, itu sama saja dengan mempertontonkan ketidakpercayaan diri kita atas pilihan yang telah diambil. Don’t! Berhenti saling merasa yang paling benar :).

Ketika seorang anak telah lahir ke dunia, seorang ibu pun resmi dilahirkan. Siap tidak siap, separuh hati ibu telah tersisih untuk mereka. Mau ibu bekerja di kantor, mau ibu yang memilih berbakti di rumah, mau ibu pelajar, semua keputusan yang lahir akan bermuara dengan pertimbangan si separuh hati tadi. Semuanya, tanpa kecuali.

When you are a mother, you are never really alone in your thoughts. A mother always has to think twice, once for herself and once for her child.
-Sophia Loren –

***

61 thoughts on “Tumbuhan Cinta Yang di Ladang Kita

      • Yuk-yuuuk… Makan2nya di Ireland. Ongkos pesawat ke Ireland, ditanggung siapa ya? *mikir-mikir* hehehe… Atau, kalo ada lomba blog yang brhadiah tiket pesawat PP ke Eropa, daku ikutan dah. Hehehhe… *ngayal jumat2* *semoga dikabulkan Allah* *aamiiiin….*

  1. aaah aku langsung nyanyi “…..tumbuhan cinta yang di ladang kita…akuuuu jauh di sini meraih cita… *kau seangkatan dikitlah sama aku, Jihan hahahaha*
    ish dari awal aku teriak sama sama sama. Sama-sama pembaca Enyd Blyton di Malory Towers (merasa diri ini Darrell dan benci bgt sama Gwendoline), ngapalin si shilling pence pound dkk di seri kumbang (yah dan semua karya enyd blyton sih), dan anak-anak pecinta dinosaurus. Tapi aku di Bandung kau di kampung Maeve Binchy skrg, bener bener buku jendela dunia yak.

    • Eeeehhh…Gwendoline Mary Sayang kan belakangan ada perubahan dikit hihihihi. Kalau sama Sally dan Alicia masih ingat tak? :D.

      • masiiiih ..errr…sebenernya selain suka sok merasa diri Darrell yg jadi the darling di situ, aku suka merasa diri Alicia sebenernya ihik menurutku dia keren. Ahaha iya Gwendoline berubah…di semester terakhir ihik

  2. Judulnya udah langsung gue banget hihihii…. toss dulu donk sesama Klanis.
    Bener makji, apapun pilihan yang kita ambil, akan selalu si separuh hati tadi lah yang menjadi prioritas kita. Bagi emak2 yg sudah ber’buntut’, how cud we fill our days without them. Mau nangis, ketawa, jejeritan, gedubrakan, tetap asoy geboy lah hari2 kita bersama mereka.
    ***bagus banget ih fotonya 😀 semoga sukses dapetin si tipis ini ya makjisay 😉

    • Hidup KLA Project ^_^ . Gara-gara dibahas di wall tempo hari itu Mak, keterusan nyanyi2 sampe kebawa jadi judul hihihi.

    • Kayaknya sih begitu, ya. Tapi ini sebenarnya enggak bisa dibilang kreatif, karena gaya menulis kayak gini ya memang dipake untuk menulis apa pun hihihihihi.

  3. selalu keren tulisannya…dan ditunjang foto2 yang “bercerita” makin asyik ngebacanya….Goodluck yaa Mak Jihan…smg jadi juara…:)

  4. wohooooo…toss untuk penggemar Mallory Towers :D…plus Enid Blyton et perhaps Laura Ingals Wilders :D….keren mak, gaya panggul dan nyender di tempat tidur tuh gaya andelanku juga hihi…maka butuh si super tipis yaaa…bon courage pour le concours :D…

    • Little House on The Prairie masih zaman TVRI yak hihihihi. Nonton gak sampe season mereka semua dewasa dan menikah? 😀

  5. Waaah…. waktu kecil aku baca Enid Blyton jugaa… yg Lima Sekawan doang tapi… :))
    Dan membayangkan cerobong asap, uang pounds, penny, pence… sarapan sandwich, makan tomat (aneh menurutku waktu itu, karena setahuku tomat cuma dipakai untuk masak bikin sambel :D), kue jahe yang digambarkan sangat lezat, eh kok makanan mulu yg diinget haha,,, maklum nginget2nya pas jam makan siang…
    Dan aku suka quotesnya yg di foto ituu…..

    • Waktu kita kecil dulu belum ada Harry Potter ya soalnya hihihihi. Manga juga baru Candy-candy doang :P. Enid Blyton as her best lah 😉

    • Sebenarnya ini lomba review produk lho hihihihihi. Cuma ya, entah kenapa malah jadi curhat emak hahahaha. Ini saingannya sekitar 110 blog emak-emak lain yang kalau baca review produk ala mereka aduuuhhhh…mental langsung tulisan-tulisan drama ala eike hahahahaha.

  6. nge-fan ^menuju berat^..sama mbak Jihan melalui tulisan2nya. Eh senior akiu yak ternyata, hahahaha *kampus deketan*…*sama2 ilkom..beda kepanjangan aja, huehehe* #GaPentingBangetKomenIni, wkwkkakakakkk

    • Hhehehehe… anak FISIP-komunikasi kah? :D. Eh, sini dulu langganan kantin Balsem lhoooo. Secara kantin Fasilkom mahal-mahal hihihi 😛

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *