[Fiksi] Langit Tak Lagi Biru di Laut Merah (1)

Ini genrenya dewasa. Selain untuk mempopulerkan suku bugis dan ingin  berbagi cerita tentang kehidupan pendatang asal  Indonesia di Jeddah serta membagi kisah mengenai ruwetnya periode amnesti pekerja ilegal di Saudi di tahun 2013 ini. Tentunya ada asmara-asmaranya dong yaow biar semangat bacanya hahaha.

Selamat membaca :). Doakan biar tidak malas :P.

Chapter 1

***

Ka kalo gara-gara perempuan ji mau ko pergi luar negeri, tidak ada ji guna-gunanya. Banyaknya ji perempuan.” (Kalau hanya gara-gara perempuan, kau mau ke luar negeri, tidak ada gunanya. Perempuan lain banyak.)

Aku diam saja. Aku tahu ini akan menjadi perdebatan yang sulit.

“Kenapaka sanging ituji yang dipikir. Karena Andi’ ka bapa’na. Degaga iyoro Andi-andi’e ko degaga di na.” (Kenapa selalu itu yang dipikirkan. Apa karena bapaknya punya gelar Andi? Buat apa gelar bangsawan kalau uang pun tak ada.)

Mengapa ibu malah berpikir sejauh itu. Yang ini tak mungkin kudiamkan, “Tauwa. Jangki’ bilang begitu. Kan kita’ tau ji Ma’, alasannya.” (Sudahlah. Jangan bilang begitu, Ma. Kan Mama tahu alasannya.)

Ibu naik pitam, “Alasannya? Alasan na tinggalkanko? Pastimi dikasi kawinki sama itu orang Bone ka sama-sama ada Andi’na. Masa begitu saja ko mau ajar-ajarka’, Nak.” (Alasannya? Alasan dia pergi meninggalkanmu? Pasti karena dia dijodohkan dengan orang Bone karena sesama keluarga bangsawan. Masa alasan semudah itu saja kau mau mengajariku?)

Kalau kujawab, ibu akan semakin menyala-nyala. Kalau kudiamkan, aku toh tak ingin perdebatan ini akan kembali membahas tentang Hasnah.

Tetap kutanggapi dengan suara lembut, “Lamanya mi itu dia kawin. Bukanji tentang itu. Sa sudah lamami memang mau coba kerja di luar negeri.” (Dia sudah lama menikah. Bukan tentang dia. Saya sudah lama ingin mencoba kerja ke luar negeri.)

Ibu terdiam. Sekarang, dia membelakangiku. Bahunya masih turun naik. Tak ada suara.

Kucoba terus meyakinkannya, “Ini kesempatan bagus. Besarnya gajinya.”

Ibu membalikkan badannya dengan cepat, “Jadi, karena uang? Seperti tong ndak ada uang di sini? Bosan mako ka kerja di Jakarta? Kubilang memang, pulang ko sini. Jagakanka’ tokoku. Tidak pernako mau dengar…” (Jadi, karena uang? Apa di sini tidak ada uang? Apa kau sudah bosan kerja di Jakarta? Sudah kubilang, kembalilah ke sini. Bantu menjaga toko. Kau tidak pernah mau mendengar.)

Aku memijat-mijat keningku. Sekarang, ibu makin punya kesempatan untuk kembali membujukku meninggalkan pekerjaanku. Kami terdiam lama.

Lalu, ibu tiba-tiba melangkah mendekat. Ibu duduk di sampingku, “Iyo pade’. Tapi…tida’ ada ka tempat lain, Nak? Kalo pi sana…” (Iyalah. Tapi…apa tidak ada tempat lain, Nak?)

Aku mengangkat wajahku. Tersenyum memandangi wajah perempuan yang paling kusayangi itu, “Nanti kubawaki pergi umrah…”

Ibu tertawa, “Edede. Kalau umrahji, jammoko pi sana. Adaji uang.” (Ya ampun. Kalau hanya untuk umrah, tidak usahlah kerja ke sana. Ibu punya uang).

Aku ikut tertawa. Setelah wajah ibu kembali serius, barulah kujawab lagi, “Kesempatannya ada di sana. Bateku’ mo kodong wawancara. Baru yang ini lolos. Kontraknya besar, Ma’. (Saya sudah susah payah interview. Baru yang ini yang lolos).

Ibu tetap berkeras, “Agana tu na pau tauwe Nak? Mancaji sopiri’ ko okkoro? Sekarang saja, stenga matiku kasi tau orang-orang apa ko bikin di Jakarta.” (Dikira jadi supir kau nanti di sana. Sekarang saja, setengah mati kuberi tahu apa pekerjaan di Jakarta pada orang-orang. Kalau pergi ke sana, apa nanti kata orang?”

Aku kembali tertawa, “Bilang saja insyinyur.”

Ibu tidak ikut tertawa. Wajahnya begitu muram, “Kenapa mesti Arab Saudi?”

***

Tiga bulan lalu, aku pulang ke Makassar. Sudah kubulatkan tekad akan kuyakinkan ibu secara langsung. Sebelum pulang, sudah kukabarkan lewat telepon. Seperti yang kuduga, ibu menentang keras.

Setahun sebelumnya, aku tak sengaja bertemu Pak Arman. Pak Arman dulu teman kantorku di Jakarta. Kudengar, sejak resign dia sudah melanglang buana sampai ke Afrika.

Kami bertemu saat makan siang. Ternyata, Pak Arman yang mengundang kami semua untuk makan siang bersama di sebuah restoran yang tidak bisa dibilang murah. Kukira, kami hanya akan merayakan perpisahan Haryo, rekanku yang lain yang akan segera pindah ke Singapura.

Pak Arman menggodaku, “Rul, mumpung masih muda. Jadi kontraktor aja. Duitnya gede. Ngumpulin ongkos kawin.”

Aku membalas santai, “Ada lowongan gak, Pak?”

Tak kuduga, wajahnya mendadak serius, “Beneran, Rul? Ada nih lowongan. Kalau berminat, kurekomendasiin langsung. Aku kenal bosnya. Aku dulu tiga tahun pegang customer sana.”

Aku kaget sendiri, spontan saja kujawab, “Boleh, boleh, Pak.”

Pak Arman menepuk bahuku saat rombongan kami akan kembali ke kantor, “Rul, ta’ tunggu CVmu yo… Email saja.” (Rul, kutunggu CVmu).

Kuanggap main-main saja ucapan Pak Arman tempo itu.

Padahal, di saat yang sama, pihak manajemen kantorku memberitahukan secara resmi mengenai dibubarkannya divisi tempatku bekerja sekarang ini. Tak banyak yang kaget.

Isunya sudah lama. Dan pengumuman itu disertai rencana dari pihak manajemen terhadap para karyawan yang masih bertahan di divisi ini. Sepertinya proses layoff akan dimulai bulan depan.

Di tengah-tengah kasak kusuk bersama rekan kerja yang lain mengenai masa depan kami di perusahaan ini, aku kembali dihubungi oleh Pak Arman. Lowongan yang dia tawarkan ada di Timur Tengah.

“Gimana Rul? Wis lah, terima saja Ini kesempatan bagus, lho.”

“Apa iya kualifikasinya cocok, Pak?” Aku menjawab ragu.

“Ya ndak masalah, dong. Mereka perlu OSS engineer. Pengalaman 2 tahun sudah oke. Sampeyan lagian masih single. Ndak usah takut-takut. Kerjaannya juga podo wae lah. Jadi orang support juga.”

“Apa tidak ada lowongan ke Amerika nih, Mas? Kalau Amerika, langsung berangkat nih!” Aku setengah bercanda menanggapi ucapannya barusan.

“Ya, coba dulu yang Saudi ini. Batu loncatan gitu. Sampeyan kan orang Bugis. Bangsa pelaut toh katanya. Jiwa petualangnya mesti tinggi itu hahahaha…”

Sebenarnya aku sudah mendapat tawaran untuk pindah ke divisi lain. Jadi tak khawatir soal proses layoff. Tapi aku tetap mencari file CV ku yang terakhir, memperbaharuinya sedikit, lalu ku-attach ke dalam email. Tanpa berpikir lama-lama, aku tekan tombol send. CVku terkirim ke Pak Arman hari itu juga.

Rasa lega mulai mengalir. Mungkin memang sudah saatnya mencoba peruntungan keluar negeri.

Teringat saat pertama pindah ke kota Bandung. Saat itu aku memang sangat kepengin merasakan yang namanya tinggal di kota lain. Dari kecil hingga belasan tahun terus-terusan tinggal di kota yang sama. Di tanah kelahiranku, kota Pangkajene. Sebuah kota di kabupaten Sidrap, di selatan pulau Sulawesi.

Aku bahkan bertekad kepergianku saat itu akan jadi awal petualanganku untuk melangkah lebih jauh. Suatu hari, aku pun ingin merantau ke luar negeri.

Setelah lulus kuliah, yang ternyata di Bandung juga, dan mulai beranjak ke Jakarta, dapat kerjaan dengan gaji yang lumayan mulai lupa deh cita-cita yang ini. Apa memang sekarang waktunya, ya?

Setelah itu, banyak sekali yang terjadi. Sembari menunggu proses interview, sudah kubangun rencana lain untuk Hasnah. Hubungan kami sudah terlalu lama dan ibu juga sudah terus mendesakku, “Apalagi ko tunggu? Lamarmi cepa’. Bawa pi Jakarta.” (Apalagi yang kau tunggu? Lamar secepatnya. Bawa ke Jakarta).

Kuatur sedemikian rupa. Selama beberapa bulan terakhir sengaja kubatasi komunikasi dengan Hasnah. Aku ingin ini menjadi kejutan. Pada akhirnya, kejutanlah yang memang terjadi. Untukku. Bukan untuknya.

Ibu sampai berteriak-teriak selama berhari-hari. Puang Rauf, kakak tertua ibuku, sampai menginap lama di rumah kami.

“Masirika’, masiri la’de’ka na taro…” Ibu meraung sambil menangis. (Malu, malu sekali rasanya).

Aku tidak tahu harus bilang apa. Adik-adikku kupanggil pulang semua. Padahal tadinya, aku tak ingin membuat menyusahkan mereka yang lagi kuliah di Kota Makassar.

Puang Rauf terus-terusan menenangkan ibu, “Sa’bara’ ko, Ndi’. Aga je’ melo i pigau’ ” (Sabarlah, Dik. Memangnya kita bisa apa).

Ibu tak berhenti menangis, “Meka’ nawunu kapang…” (Mungkin dia mau membunuhku).

“De na makkiro kesi’. Masara to tu nyawana ana’mu. Mala’de pa kapang sirina kesi’…” (Tidak begitu. Anakmu juga pasti menderita. Mungkin lebih sakit hatinya).

Maja kapang nyawana ko upodangngi aja mu lo Jeddah.” (Mungkin dia sakit hati karena saya larang dia ke Jeddah).

“De na makkiro, de na makkiro. Sa’bara’ko, Ndi’...” (Tidak begitu, tidak begitu. Sabarlah, Dik).

***

Jeddah

Jeddah

(Bersambung)

11 thoughts on “[Fiksi] Langit Tak Lagi Biru di Laut Merah (1)

  1. *Menyimak dan menikmati obrolan bahasa Bugis*

    Saya sering merasa terkecoh dengan klien saya di Kabupaten Sinjai, sering nada bicaranya itu berakhir dengan nada meninggi yang kesannya adalah bertanya, padahal sebenarnya kalimatnya sudah “titik” (selesai). 🙂

  2. ini…cowok ini….kamu kan kan kan. AKu selaluu suka sama cerita yang bawa bawa budaya daerah. Yang beda dari yg lain. Yang ini janji selesaikan di sini atau sekalian buku-kan yaaaak! *teringat Monika yang kukira akan jadi the darling in Satu Mimpi Seribu Wajah*

  3. Aih senangku bacaki. Sekalian belajar bahasa bugis (?). Selama ini sy selalu suka dgn tulisan2 yg kental bahasa daerahnya mba. Tp masih langka kayaknya yah kecuali bahasa jawa (apa sy yg kurang gaul?). Eh ada deng yg bhs melayu, andrea hirata. Di makassar pernah ada komunitas stand up comedy perform di tv lokal tp ngomongnya pake lo-gue (loh?), hehe jd ilfil deh 😀 Semangat nulisnya ya mba, ga sabar nunggu lanjutanny a;)

  4. hampir 2,5 tahun saya di makassar, tapi tetep nggak ngerti bahasa makassar / bugis.
    “mi”, “ji”, “ki” buseettt kaga tau kapan pake kata2 itu. Taunya cuman “kita'” sama “kodong” ^^v
    saya lebih paham omongannya pak arman dengan bahasa jawanya 😀

  5. ini cara bacanya intonasinya gimana sih, kok saya bacanya jadi kayak intonasi bahasa melayu yak? hahaha. bener ga nih? hah, pusing baca dialog, saya langsung baca arti yg dalem kurung aja. 😀 ini ceritanya ditamatin di sini yaaaaa! awas kalo enggak. hahahaha.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *