Be The Change

“Ketika orang tertidur kau terbangun, itulah susahnya. Ketika orang merampas kau membagi, itulah peliknya. Ketika orang menikmati kau menciptakan, itulah rumitnya. Ketika orang mengadu kau bertanggung jawab, itulah repotnya. Oleh karena itu, tidak banyak orang bersamamu di sini, mendirikan imperium kebenaran” ~KH. Rahmat Abdulloh~

Pernyataan di atas saya kutip dari berita di sebuah situs online, semacam curhatnya Mardani Ali Sera yang dimuat 3 halaman di detik.com “Adakah yang Berubah dari PKS Saat Ini?”

Intinya, Mardani Ali Sera mengajak segenap kader PKS untuk kembali bercermin pada KH Rahmat Abdullah, yang disebut Pak Mardani sebagai “guru kita”, semasa hidupnya.

(Mungkin) curhatnya Pak Mardani (Kepala Bidang Humas PKS) terkait soal polemik dalam partai yang pernah membuat sebagian masyarakat, termasuk saya, bela-belain naik ojek dari Gang Kapuk – Margonda ke TPS tempat nama saya tercatat di kosan yang lama (Kukusan Kelurahan) demi sebuah harapan baru. Dulu membuat asa kembali melambung, kini … entahlah…

Jadi ingat status tentang mobil mewah LHI yang menjadi rekor di wall ini, sebanyak 248 komentar (sebagian entah kenapa dihapus oleh penulisnya sendiri belakangan :P) dan sekitar 8 orang tercatat memutuskan untuk ‘unfriend’. Kok tahu? Ya karena abis itu pada masang status dan komen di teman-temannya yang lain yang belum unfriend. Muncul semua di news feed eike .

Status FB

Belakangan saya lebih menghormati yang memilih jalan unfriend daripada gosipin eike di wall masing-masing. Statusnya pun tak dikunci, entah maksudnya biar saya baca apa bagaimana. Siapa suruh suka jalan-jalan news feed hehehe. Niatnya cari gosip, malah ketulah. Mendapati diri sendiri jadi bahan hujatan orang lain. Cucian deh looooo . Hahahaha. Rasain, rasain, rasain .

Intinya, mereka marah dengan tuduhan mobil mewah itu. Ada yang mengancam, akan ‘merekam’ status tersebut katanya biar jaga-jaga kalau nanti saya hapus. Monggo dicek, tak saya hapus hingga sekarang (lengkap dengan komen-komennya :D). Saya bantu, cari di arsip bulan Mei .

Mencermati bukti-bukti pengadilan yang terbaru … apa kabar orang-orang yang mau merekam itu ya? Sudah terkuak, tuh. Apa perlu disundul lagi statusnya? .

Terus ya jadi ingat dengan sebuah blog yang ini http://pkswatch.blogspot.com/ … Ternyata, sudah tutup lama.

Dulu, waktu blognya masih aktif, saya juga suka baca-baca disitu. Tapi waktu itu eike masih berjiwa “bersih, peduli, profesional” . Jadi, isi blognya saya anggap drama internal sajalah sesama mereka. Biasalah, dinamika organisasi.

Btw, isi blognya ternyata masih ada yang menyimpan, lho. Cari di google, banyak akun yang meng-copy kritikan-kritikan si PKSWatch tadi.

Salah satu yang pernah dibahas adalah maraknya masalah ‘mahar’. Jangan salah, soal ‘mahar’ ini sudah lama menjadi gunjingan juga. Eike bukan orang internal. Kalau penulis blog ngakunya kader. Jadi, baca aja langsung di sono.

Mulai ‘bersitegang’ dengan PKS ya karena Pilkada DKI kemarin. Putaran pertama belum terlalu panas. Karena si no.4 yang bersematkan warna Orens masih sibuk ‘menyerang’ Bang Kumis. Barulah di putaran ke-2, bentrokan Pakde-Lover vs ‘pendukung’ Foke di dunia maya tak terhindarkan *tsaaaahhh*.

Di putaran ke-2 ini pun, kembali santer isu ‘mahar’ berkumandang. Di forum underground, ada beberapa cerita mereka (kader PKS) yang ‘terbuang’ dari pencalonan karena tak sanggup menyetorkan sejumlah uang yang saya juga tak paham maksudnya apa. Tak ada bukti. Mending tidak usah ikut-ikutan membahas, pikir saya waktu itu.

Tapi akhirnya … pengakuan Ilham AR (salah satu cagub Sulsel 2012 lalu) di pengadilan dan tak ada sangkalan dari Anis Matta dan lain-lain, akhirnya menjawab berita-berita soal ‘mahar’ ini. Malah, kalau tidak salah AM menjawab hal itu sebagai hal yang wajar. CMIIW ya. Malas google neh .

Di tengah-tengah sengitnya sebagian mereka (kader/simpatisan PKS) meneriakkan slogan sebagai “Partai Paling Bersih”, petir pun menyambar. Kasus Gratifikasi terkait pengadaan daging sapi impor mulai merebak. Bukan main reaksi awal sebagian kader/simpatisan. Segala macam konspirasi dihajar hehehe. Belum lagi tuduhan agen pada Ahmad Fathanah. Di pengadilan, barulah DUARRRRR hehehe. Yang tadinya khilaf mengaku tidak kenal pelan-pelan mulai mengiyakan setelah dibombardir dengan foto dan rekaman pembicaraan.

Dari jalannya sidang selama ini, satu demi satu bukti terbuka. Yang mengingatkan lagi dengan sebagian kritikan dalam blog PKSWatch semasa masih aktif dulu (2005-2009).

Kalau dibuka lagi sekarang, hanya ada satu tulisan di sana yang menjelaskan mengapa sang pemilik akun akhirnya menutup blog tersebut.

Berikut kutipannya :

“Banyak ikhwah yang mengakui bahwa mereka tersadarkan oleh keberadaan blog ini, tapi juga banyak yang jengkel dan tidak setuju dengan blog ini, lalu meminta saya untuk menghentikan blog ini. Kepada mereka, saya menjawab bahwa saya akan menghentikan blog ini kalau ada satu dari dua kondisi sudah tercapai, yaitu:
– Pertama, PKS kembali lurus minimal seperti di masa awal-awal pendirian PK, atau
– Kedua, PKS sudah rusak parah, atau sudah bukan menjadi partai Islam lagi.”

Kondisi mana yang dimaksud? Pertama atau kedua?

Di tahun 2010, PKS memang sudah melepaskan jubah partai dakwahnya. Memulai langkah barunya sebagai “Partai Terbuka.” Munas yang waktu itu diadakan di hotel super mewah, seolah menegaskan ‘garis baru’ yang telah dipilih untuk mendampingi langkah-langkah baru mereka.

Kalau ada yang lantas menuduh, “Makanya gue bilang partai jangan bawa-bawa agama”, saya sih kurang sepaham. Jangan salahkan agamanya dong hehe. Seperti saya dan anda-anda yang (mungkin) tengah dirundung kecewa, mereka juga manusia. Tempat salah dan lupa. Jadi, apa yang terjadi pada partai yang dulu pernah mengusung keranda dakwah di masa sekarang, jangan sampai membuat kita terlampau jauh menghakimi prinsip yang katanya mereka perjuangkan. Jangan sampai nekat menyalahkan ajaranNya.

Kesalahan milik manusia. Kebenaran selamanya di sisi Allah .

Jadi, sudah tahu kan bersandarnya harus ke mana? 

Tapi jangan lantas dijadikan alasan untuk “Ah, aku sudah tak percaya politik lagi. Pembohong kalian semua.” –> mengutip dari sinetron mana, nih? Hahaha.

Berpolitik pun pasti jatuh bangun. Pasang surut, maju mundur, terbit dan terbenam. Masalahnya, kita semua harus bertanggung jawab. Kalau banyak yang lantas jadi golput, terus naon atuh kita mau memperbaiki negeri? 

Karena katanya :

“SESUNGGUHNYA ALLAH TIDAK AKAN MENGUBAH NASIB SUATU KAUM KECUALI KAUM ITU SENDIRI YANG MENGUBAH APA APA YANG ADA PADA DIRI MEREKA ” QS 13:11

Buka mata, buka telinga, banyak-banyak mencari tahu .

Untuk Indonesia Baru. Jangan berhenti berharap. Tetap semangat menghadapi 2014 .

Lama-lama berasa duta KPU gak sih? Hahaha.

Salam Musim Gugur dari tepian Sungai Shannon yang 3 hari belakangan ini didera angin kencang bergantian dengan guyuran hujan. Bikin kita-kita yang nemplok di sini enggak bisa keluar rumah dan kemudian gatal menulis sana sini hehehe.

Akhir kata, sebelum bercita-cita mengubah orang lain/masyarakat, ngaca kepada diri sendiri dulu lah :). Perubahan dimulai dari diri sendiri.

-Be the change you wish to see in the world- Gandhi

 

10 thoughts on “Be The Change

  1. Hanya berbeda masalah keyakinan akan suatu kebenaran informasi yang diterima kok sampe unfriend segala, sehingga menutup ruang diskusi 🙂
    Apapun kondisinya memang harus legowo menerimanya, dan kunci perubahan yang lebih baik tetap ada di tangan kita masing-masing.

    Betul, Untuk Indonesia Baru. Jangan berhenti berharap. Tetap semangat menghadapi 2014.
    Jangan Golput!

    *ikut jadi duta KPU*

      • Memang, golput bukanlah pilihan yang tepat. Sebab dalam pemilu, suara golput adalah suara yang terbuang. Contoh: 99% golput pun, pemilu tetap akan sah dan pemenangnya ditentukan oleh 1% yang memilih.

        Ini jelas berbeda dengan sidang parlemen, yang memiliki batas minimum partisipasi sehingga dinyatakan sah. Kalo dalam sidang tersebut tidak memenuhi kuorum (2/3 yg hadir), maka hasil sidang dinyatakan tidak sah.

        Lha kalo pemilu? gak ada batas minimum.

        Ada strategi yg mungkin tidak disadari oleh sebagian orang yaitu kelompok status quo melalui opini di medianya menghembuskan semangat apatis thd seluruh partai peserta, dan kemudian mendorong pembacanya untuk golput.
        Padahal dibalik semua itu, kampanye golput hanya menggembosi para simpatisan militan yg kecewa dg partainya, sehingga tidak milih lagi partainya. Militan tersebut tidak mungkin milih partai status quo. Jadinya ia golput.
        Kondisi inilah yg diinginkan partai2 status quo untuk tetap berkuasa.

  2. Kalau sebagai simpatisan saja begini rasanya dikecewakan, kebayang gimana rasa kecewanya kader2 yang berjuang di bawah ya, ketika ‘dikhianati’ oleh kader2 yang berada di atas, dekat dengan kekuasaan.
    Kader2 partai itu yg kukenal (yg di bawah2 laah..) orangnya santun2, hidupnya bersahaja, sederhana.. tapi semangat perjuangannya luar biasa.
    Mudah2an masih ada parpol yg amanah, yg bisa dipercaya, untuk dipilih di 2014 nanti. jangan golput… (ikut2an juga jd duta KPU hihi…)
    kalo golput ya jangan protes apa2 ketika pemerintahan berjalan tidak sebagai mana mestinya 😉

  3. jleb banget tulisannya mba, dan mengungkapkan apa yang aku rasain saat ini, kecewa itu pasti apalagi pernah menjadi bagian yang turut melakukan sosialisasi door to door tentang partai ini, dan ikut serta ketika ada aksi meski cuma simpatisan, dan ikut bangga ketika menang pemilu dan berharap bener2 akan terjadi perubahaan, namun yang terjadi sungguh jauh berbeda.

    Mudah2an memang masih ada parpol yang benar2 amanah dan terpecaya, sehingga tidak perlu ada golput tahun depan.

    Salam kenal mba Jihan 🙂

  4. Sebenarnya sudah rencana golput (asli nggak pernah kebayang dulu saya akan golput), karena memang pada kondisi saat ini benar-benar bingung harus mengambil langkah apa ya… Tapi kekuatan politik untuk rakyat jelata macam saya ini ya cuma di selembar kertas suara itu, walaupun bingung berat mau pilih siapa :p.
    Tapi saya ingat kata-kata Anis Baswedan di video nyapresnya, bahwa politik yang saat ini kotor itu adalah tempat di mana perubahan besar bisa dilakukan. Mudah-mudahan satu hari nanti kita bisa mengagumi anggota dewan seperti dulu kita mengagumi tokoh politik macam Bung Hatta atau Natsir (kapan ya… dududu).

  5. aduh, mbak.. tanggal tua, baca postingan serius begini.. makin nyureng nih, akuuuu… 😆
    Jadi gimana, 2014 besok, mau milih apa/siapa…?
    Aku lagi galau nih, bingung.. mau dibawa kemanaaa… hubungan kitaaaa… hahaha.. Dulu2, aku suka nyinyir sama orang2 yg golput, kenapaaaa… nggak berani ngambil sikap. Loh, iya kan? Pas pemilu, nggak mau nyoblos, eh giliran partai yang menang pemilu memimpin trus dinilai hasilnya nggak memuaskan, langsung ikutan sibuk mencela sana sini. Coba yaaaa.. kalo mau perubahan yang baik, ikut dong. Sumbang suara. Kalo mau diem, ya diema aja selamanya… *mati?* eh, ya nggak juga siiihhh… :mrgreen:
    Iya, itu dulu. Sekarang… err… mau nyinyir, udah nggak berani euy! Habis bingung juga nih, tahun depan mau millih apa/siapa.. hahahaha…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *