Until Both Your Head and Your Heart Say “Yes”

***

“Ganteng ya, Je?”
“Iyeeee…”
“Orangnya juga baik…”
“Sip.”
“Tapi… gak sreg. Anak D3.”

Salah satu sahabat saya, penuh warna kisah cintanya.

Mantan kekasih rasanya sudah oke (hampir) secara keseluruhan. Pendidikan, materi bahkan konon, orangnya juga penyayang dan lucu banget. Sayang…posesif tingkat tinggi. Teman saya benar-benar tidak nyaman. Hubungan bubar.

Yang kedua, kurang asyik diajak mengobrol. Cuma sebentar, putus lagi.

Nah, ada satu yang sebenarnya sudah cocok. Secara fisik dan karakter juara lah. Kalau istilah dia, sudah ‘click’. The problem is … yang ini hanya lulusan D3, sudah bekerja, sih. Tapi penghasilannya di bawah penghasilan teman saya. Teman saya ini perempuan.

Karena dia bertanya kepada saya, ya saya jawab jujur, “Kalau gue, enggak akan gue lanjutin.”

“Siapa tau nanti dia pindah kerja dan menjadi konsultan kayak gue.”
“Apa kira-kira ada tanda-tanda ke arah itu?”
“Mmm…”

Saya dan teman saya sama-sama orang IT. Tahulah seluk beluk bekerja dan penghasilan kalangan profesional IT. Kami tahu pasti, tanpa keajaiban, pasangannya yang bikin gundah itu, kariernya tidak akan ke mana-mana. Secara orangnya juga enggak tertarik mengembangkan karier lebih jauh. Tidak ada plan untuk berganti pekerjaan. Tipe santai kayak di pantai.

Padahal teman saya, walau tak terlalu ambisius, punya karier yang bagus dengan penghasilan mumpuni.

Teman saya sering menuduh saya matre. Saya sih selalu tertawa kalau dia bilang begitu dan menjawab sok bijak, “Gue realistis.”

Untuk saya, kesetaraan dalam memilih calon pendamping sangat penting. Laki-laki egonya lebih tinggi. Sudahlah, jangan dilawan apa yang sudah menjadi ketetapan Sang PenciptaΒ .

Pernikahan itu bukan pertemuan sekali seminggu. Bukan janjian makan di resto mahal dengan masing-masing selalu berpenampilan ciamik. Hal-hal yang kita abaikan di masa kini suatu hari bisa menjadi hal besar.

Mungkin, orang lain punya prinsip yang berbeda. Monggo saja. Ini rule-nya masing-masing la yahΒ . Sederhana. Untuk saya, cinta tak pernah buta πŸ™‚.

***

Posisi kami berdua, saya dan teman saya tadi, agak mirip. Selepas kuliah, rasanya sudah cepat-cepat mau kawin saja. Kalau dia, tak tahan dengan desakan keluarga. Kalau saya, bercita-cita punya anak umur 17 tahun di usia 40. Hahaha.

Kalau urusan taksir-taksiran, tak ada kriteria tertentu. Yang mana yang nyaman dilihat, pasti masuk list hehehe. Tapi, untuk berinteraksi lebih jauh, biasanya patuh pada rule “suit for both logic and feeling.”

Ukuran logika kan luas, ya. Pendidikan hanya salah satu. Karakter juga penting. Walau sedih saat harus memutuskan hubungan dengan pacar pertama dulu di bangku kuliah (padahal sudah diplot, pertama dan terakhir, lulus langsung merit), belakangan saya sadar sendiri. Sifatnya yang terlalu introvert tapi bossy terlalu jauh bertentangan dengan saya yang ekstra extrovert dan sayangnya … juga pantang mengalahΒ .

Saya sih malas membuang waktu. Secara fisik cetarrrr, dan hati pun rasanya ‘click’ kalau logika saya melawan, tak akan saya lanjutkan. Begitu pula sebaliknya. Bertemu yang mantap tapi tak ada getaran dalam hati *tsaaahhh*, biasanya enggak lanjut.

Tak menjamin juga bila rasanya sudah cocok lahir batin, atas bawah, kiri kanan, masa-masa pernikahan bisa lancar jaya. Mitos banget itu mah πŸ˜›.

Untuk pernikahan saya sendiri, walau terbangun dari rasa saling meyakini yang nyaris 100%, tak lepas dari macam-macam prahara *astagaBahasanya*Β . Berantem dari model “Males ah ngomong sama elo” sampai taraf “Pulangkan saja aku pada ibuku” … semua sudah pernah. Hahaha.

***

Katanya, jodoh di tangan Tuhan. Benar. Tapi, tak sedikit yang teman-teman yang jomblo (apalagi kalau perempuan) yang gelisah justru karena lingkungan.

Saya sempat kaget, ketika salah satu teman akhirnya menikah. Feelingnya sudah gimana gitu. Benar kan, tak lama, dia bercerai. Sudah punya anak pulaΒ . Belakangan saya mendapat kabar (ocip-ocip dikit :P), dia menikah karena tidak tahan atas desakan orang tua.

“Don’t let marriage be your social alibi. Do it out of love.”

Aku menikah denganmu karena cinta pada Allah itu juga tidak salah. Tapi ya, kita ini manusia yang diciptakan dengan perangkat hati yang lengkap. Cinta pada Allah juga berarti menghargai diri sendiri dan masa depan kita sebagai salah satu satu ciptaan Allah dong, yaΒ .

Untuk saya, agama yang saya anut itu menyenangkan, kokΒ . Rasanya tidak ada aturan yang bilang, “Kalau kau perempuan dan usiamu sudah di atas 30 tahun, siapa pun yang melamarmu, sikat saja”Β .

Pernikahan tidak hanya akan menyangkut anda dan pasangan anda. Suatu hari akan lahir buah-buah cinta. Kalau akarnya dari awal sudah goyah, bagaimana mau melahirkan dan merawat tunas-tunas yang terbaikΒ .

Pertimbangkan matang-matang. Secara agama dengan tidak membuang jauh-jauh pertimbangan pribadiΒ .

***

Konon, sehabis lebaran haji disebut-sebut sebagai musim kawin. Hihihihi. Kalau masih sendiri dan akan mengakhiri kesendirian di musim kawin ini saya ucapkan selamat menempuh hidup baruΒ .

Namun, bila musim kawin tahun ini belum berhasil menjadi milik kalian, santaii saja. Bila diberi umur panjang, masih ada musim-musim kawin di tahun mendatang ;).

Hang on there, DearsΒ . Enggak usah serabutan, dengan syarat tunggal, “Yang penting laki-laki.” Hehehe. Kalau ada yang nyinyir, niatkan sebagai sarana ibadah. Kesabaran memang berat tapi pahalanya tidak main-main.

Kalau pun seseorang telah hadir. Setidaknya … tunggulah. Wait until both your head and your heart say “Yes” πŸ™‚.

wedding 1

***

49 thoughts on “Until Both Your Head and Your Heart Say “Yes”

  1. Ha ha ha… terima kasih buanget buat tulisannya yang muanttteeepppp!!!
    tak usah buru2 mengakhiri masa jomblo jika tak yakin..

    begitukah?

    sekali lagi makacihhhhh….

    πŸ˜€

    • Waduuuhh, jadi masih jomblo nih? :p :p :p Kok, kok, kok kalau baca postingan2nya, agak beda ya kesannya hihihihi. Tapi memang banyakan fiksinya sih ya :D.

  2. Dulu pas di kampus aku pernah nolak cowok gegara D1 (kampus awalku kan D3) dan pas kerja pernah gara-gara dr universitas yg namanya gak elite. *tutupmuka* Saat itu aku jg ngerasa aku ini shallow bgt, gitu. Cerita ke sohib aja malu, udah berasa bakal dijudge deh sok banget tampang seadanya begini belagu . Tapi kan tiap orang punya prioritas berbeda ya soal milih cowok. Menurutku klik itu kalo head and heart sama-sama bilang yes. Btw huahahahahaa aku juga pernah ‘ah males ngomong sama kamuh” tapi aku kan cereweeet susye deeeeh males ngomong ini diterapkan, kalo yang taraf pulangkan saja aku malah mintanya mamak atau mertua datang ihik ini modus sih, soalnya kalo kecapekan kerjaan domestik suka bikin berantem juga. Tapi ya gak terlaksana juga hiks

    • Wah, aku juga gitu, boooo :D. Iya kok sekarang kesannya jadi terasa sombong. Padahal dulu, ogah bener pacaran kalau bukan sama anak UI. Kalau enggak, ITB lah hihihihihi *ngikikSokKeren* πŸ˜›

  3. Sebentar, sebentar.. itu foto siapa sih, mbak..? Dirimu-kah…? *serius nanya* (lah, emang biasanya nggak serius…? πŸ˜† )
    Haha, Jihan Davincka ternyata matreeeee….! Huahaha.. bukan matre, yes? Realistis! πŸ™‚
    Benerrrrr banget ini postinganmu, mbak. *as usual*
    Cinta itu harus datang dari hati dan (isi) kepala. Jangan buta, apalagi sampe nabrak2. Ehemmm, by the way, segimana sih nggak mau ngalahan-nya dirimu….? πŸ˜†

    • Maklum dulu masih muda. Masih panasan hehehe. Sekarang sih sudah pengalah dan baik hati dan tidak sombong. Btw, itu emang foto kawinan eike. Pas pakai baju minang. Kan emang sering banget pasang foto itu :P. Di postingan “Places Called Home” juga dipasang foto yang ini :D.

  4. ah suka suka suka postingan ini. langsung angguk2 pas sampai di penghujung postingan > Kalau pun seseorang telah hadir. Setidaknya … tunggulah. Wait until both your head and your heart say β€œYes” πŸ™‚ .

  5. pilih-pilih calon suami memang harus realistis…kalau gak kaya harus terlihat punya potensi jadi orang kaya, kalau belum sukses harus keliatan punya potensi bakal sukses…sama donk mak Jihan maunya klo gak unpad lagi dapatin orang itb *matre* dapatnya anak ui hehehhe

  6. salam kenal mbak…nggak sengaja mampir di blog ini…. postingan ini sungguh sesuai sama kata hati saya deh mbak…. kadang suka ngrasa takut sendiri, bener nggak sih prinsip kesetaraan dalam memilih calon pendamping, karena saya juga punya prinsip begitu…. takutnya ya itu, dicap terlalu pemilih, apalagi dicapnya sama lingkungan sekitar…. sayangnya, musim kawin tahun ini belum jadi milik saya….semoga, bisa segera dipertemukan sama yang klik di hati dan kepala….

  7. bagus tak bacain ke kakakku neh artikel πŸ˜€

    Itu berantemnya mirip saya juga wakakkaka *deramaaah*.. milih pasangan tak semudah milih baju di bak SALE *ya eyalaaah*, saya ma suami itu putus nyambung tapi pada akhirnya setelah melewati beberapa lelaki (tak tepat), hati itu malah nyantol ma diaa, selalu dan semoga selamanya. Dia yang berinisiatif, merid yuuk *gak bangeat deh cara lamarnya*. Saya nikah juga di umur 27, sabodo laah kata orang udah telat, πŸ˜€ saya melakukan dulu apa yang ingin kulakukan sebelum saya mengucapkan janji yang menggetarkan Arsy’ itu πŸ™‚

    Mak, cantikkk ih potonyaaa ^.^

  8. hehehe…senyum2 sendiri baca postingan ini.
    iya sih, milih pasangan itu harus realistis, jika pun belom mapan bener,setidaknya pilih orang yang giat berusaha πŸ™‚ *sok iyes nih aku, padahal… :))

  9. hihihi kalau sudah waktu nya nikah, pasti ada jalan buat mempermudah pernikahan. Tahun depan 2014 banyak banget saudara, tetangga, temen, sepupu pada nikah, pasti pertanyaannya sama “Niar kapan nyusul?” dah kemudian hening, tarik nafas jawab “secepatnya, mohon doa nya” padahal pasangannya belum ada T.T

  10. *standing applause*

    ternyata saya termasuk dalam “menikah karena lingkungan”, maksudnya karena ingin merawat calon suami (kala itu) makanya menikah, bhihihik.

    Tulisan yang bagus, Mak.

    Yg jomblo wajib dibaca supaya nantinya menikah bukan karena tuntutan keluarga, hehe
    Yg sudah menikah juga wajib dibaca supaya bisa memaknai arti sebuah pernikahan dan bisa menjaganya sampai akhir hayat. Aamiin ^^

  11. Postingannya bagus banget mbak..
    Hehe.. kalo aku belum kepikiran buat nikah. Selain masih kuliah juga masih usia belasan tahun
    Tahun lalu mantan yang kebetulan usianya jauhhh lebih tua, udah mau kebelet nikah aja
    Tapi ya jelas ditolak, oleh hati, oleh keadaan dan mungkin oleh ortu.

  12. huaaaaaaaw, ga sengaja nemu tulisan ini, saya terharuuuuuuuuu. Dengan profesi sbg perias pengantin rasanya sampe eneg sendiri dikomentarin macem-macem dari “kok ngerias penganten mulu, kapan giliran kamu yg jadi penganten?” sampe “Buat apa punya muka cakep klo belum laku juga.” Yang sering berujung ingin nimpuk anak orang pake bedak. Tapi kebetulan saya tipe yang berperinsip “Beli sendal jepit yang bisa seenak jidatnya dibuang aja kudu dipikirin enak atau engga masa cari calon suami ga dipikirin.”
    Tararengkyuw banget loh atas tulisannya yang sukses bikin senyum-senyum sendiri sore ini.

  13. Saya sedang dalam fase ini, makk………,, risih rasanya liat pandangan orang-orang disekitar, desakan orang2 terdekat. tapi mo gmana lagi, belom dikasih jalan menuju kesana………..doain secepatnya, ya….maakk……..*curhat* hehheee……

    • Penulis sama suaminya lah hahahahahhaha… mau pasang foto orang kok ya sayang melewatkan kesempatan pamer-pamer foto sendiri πŸ˜› πŸ˜› πŸ˜›

  14. Bener, yang penting mah sama-sama say yes, dari hati dan kepala dua orang…
    Saya sempet minder karena lingkungan karena skarang ini (usia saya) lagi musim2nya pada kawin -_- (jadi maksa calon untuk cepet meresmikan) πŸ˜‰

    kalo masalah setara atau tidak, ya tergantung masing-masing sih… ada juga lulusan UI tapi niat kerjanya nol πŸ™‚ *maklum, saya alumni UI dan punya banyak teman yg seperti ini*

    kayaknya kalo calon suaminya tadinya belum “mapan” sesuai keinginan sang calon istri, bukan salah calonnya juga..tapi gimana si calon istri nerima dia apa adanya, dan juga calon istri bisa bantu support moral dll (karena emang cinta ga buta, tapi juga ga artifisial kan?)

    kalo nyari suami berdasarkan “materi”, istrinya bisa nerima gak kalo nanti ada terjadi sesuatu dengan keuangan suami? πŸ˜€ Saya lulusan S1 tapi sering kagum sama teman-teman D3 yang skarang bisa lebih sukses dari saya, rejeki kan yang ngatur yang di Atas, bukan ijazah ^_^

  15. hai kak Jihan salam kenal πŸ™‚
    bagus postingannya, cinta memang indah tapi harus pakai hati dan logika..meskipun ada beberapa kisah cinta yg berhasil dgn segala perbedaan (beda agama, status, pendidikan, penghasilan dll) tapi lbh byk contoh yg gagal daripada yg berhasil kalo memang dr awal udah ga sepadan.. thank u for sharing yaa ^^

  16. Tulisannya manteep kaak….
    Ini sama persis dengan yg aku alami sekarang….
    Dan sekarang aku udah nemu jawaban yang selama ini aku cari

  17. Hai mba salam kenal πŸ™‚

    Aku punya tuh mantan yang lulusan D3. Sebenernya sih nyambung2 aja yah cuma sayang aja dia kelewat matre dan orang tua juga gak ngijinin *curcol dikit*. Suka mbaa sm tulisannya hehe

    Salam,
    Aiko

  18. Kalau pun seseorang telah hadir. Setidaknya … tunggulah. Wait until both your head and your heart say β€œYes” ?.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *