Jalan-jalan Madinah, Ya Nabi Salam Alaika :)

Mengunjungi Kota Nabi adalah salah satu kenang-kenangan paling indah selama menjadi pemukim di Kota Jeddah.  Iyalah, mari kita jalan-jalan Madinah :D. Hanya menyetir selama 3 jam-an, dengan mengendarai mobil saja, kami sekeluarga bisa ziarah ke tanah suci, Madinah. Anytime we want :).

Berbeda dengan Mekkah yang berjarak hanya  70 km dari Jeddah, Madinah bisa dicapai setelah menempuh perjalanan sejauh 400 km. Rute sejauh ini tidak memungkinkan kami untuk pulang pergi dalam tempo semalam. Jadi, setiap ke Madinah, kami pasti menginap di hotel.

Nabawi sendiri dikelilingi oleh banyak sekali hotel-hotel kelas dunia. Mulai dari Hilton, Le Meridien, Shaza Hotel, Moevenpick hingga Radisson. Rasanya sih, setiap menginap di tanah suci, hotel mana pun pasti selalu menjadi favorit dan meninggalkan kesan indah :).

Umumnya, interior hotel, yang berbintang lima sekali pun, tidak terlalu mewah dan megah. Maklumlah, kebanyakan pengunjung jalan-jalan Madinah  konsentrasinya adalah ibadah ke Masjid Nabawi.

Jangan lupa juga, bawalah sendiri perlengkapan mandi. Hotel-hotel di Madinah biasanya hanya menyediakan sabun dan sampo saja. Sikat dan pasta gigi biasanya tidak ada, lho. Daripada membuang waktu ke mini market, lebih baik disiapkan sebelum tiba di tujuan.

Salah satu hotel yang pernah kami kunjungi adalah Radisson Blu Hotel. Di Madinah, namanya Al Muna Kareem. Tadinya, saya agak bingung jika melihat penampakan gedung hotel dari luar, “Kok kecil banget, ya?”

Ternyata, lahan hotel Radisson memang tidak seluas hotel-hotel yang lain. Ini nih yang bikin unik, interior dalam gedung dibuat melingkar. Di tengah-tengah bangunan dibiarkan kosong. Kamar-kamar dibuat mengelilingi lobi tiap lantai. Begitulah cara pengelola gedung memanfaatkan lahan yang tidak terlalu luas. Kreatif, ya :).

Jalan jalan Madinah

Interior gedung Radisson yang unik 🙂

Tidak hanya di Radisson, pada umumnya kamar-kamar hotel yang berada di pelataran kompleks Masjid Nabawi memang mungil-mungil. Mungkin karena padatnya pengguna sementara lahan tidak terlalu besar.

Interior dalam Radisson dibuat dengan dominasi biru. Warna biru yang bercampur emas mengingatkan saya pada istana-istana ala Negeri 1001 Malam. Untunglah warna dinding kamar tidak ikut-ikutan dibuat biru keemasan. Kamar tidur menggunakan warna-warna netral, jadi tidak meriah dan terasa jauh lebih nyaman untuk beristirahat.

Yang cukup mengganggu adalah jumlah lift yang kurang memadai di saat pengunjung sedang padat-padatnya. Kebetulan, kami menginap di Radisson saat menjenguk orang tua kami yang sedang umrah. Aduh, ramainya hotel kala itu. Untuk menggunakan lift, harus mengantre. Apalagi di jam-jam menjelang ibadah salat wajib dan waktu makan.

Mungkin karena inilah, di depan lift disediakan sofa-sofa panjang yang bisa digunakan sambil menunggu. Tapi karena lobi agak sempit, mau duduk juga rasanya kurang nyaman bila banyak orang lalu lalang.

Jalan Jalan Madinah

Interior kamar dan ruangan lain dalam Hotel Radisson

Kekecewaan dengan fasilitas lift lumayan tertutupi oleh menu-menu sarapan yang jauh lebih enak dibanding hotel-hotel lain di sana yang pernah kami tempati. Menunya sih mirip-mirip. Kebanyakan hotel di Saudi tidak menyediakan nasi dalam menu makan pagi. Menu utamanya roti-rotian arab dan kentang. Ah ya, soal kehalalan jangan khawatir. Di seluruh penjuru Saudi, pemerintah menjamin kehalalan makanan yang disajikan di tempat-tempat umum, termasuk di hotel-hotel.

Sebenarnya lauknya tidak jauh berbeda dengan di tanah air. Seperti misalnya : aneka sosis, daging-dagingan, telur, kornet, sup dsb. Tapi, umumnya bermasalah di rasa. Rasa-rasa masakan di Saudi agak hambar.  Nah, di Radisson ini tidak begitu. Lauknya rata-rata gurih dan asinnya pas dengan lidah Asia kita.

Untuk ukuran harga sewa kamar, Radisson relatif lebih murah daripada Hilton, Moevenpick dan Shaza. Lokasi Radisson Madinah juga cukup strategis. Dekat sekali dari pintu masuk Masjid Nabawi. Hanya perlu berjalan sekitar beberapa menit. Ada 3 pintu masuk terdekat menuju ke dalam masjid yang bisa diakses dari Hotel Radisson ini.

Tapi jangan salah, walau diganjar dengan harga agak tinggi, hotel Moevenpick Madinah menawarkan fasilitas yang lebih megah dan mewah. Kami juga pernah melewatkan sekitar 2 malam di Moevenpick yang di Madinah bernama Anwar Al Madinah Moevenpick Hotel.

Mewahnya Anwar Al Madinah Moevenpick Hotel

Mewahnya Anwar Al Madinah Moevenpick Hotel

Moevenpick Madinah jauh lebih besar dan luas dibanding Radisson. Interior dalam kamar juga lebih lega. Fasilitas lift ada di berbagai penjuru gedung. Enggak ada kejadian mesti menunggu dengan gelisah karena begitu lift terbuka, isinya penuh.

Tapi, untuk lidah kampung khas Indonesia seperti saya, menu sarapan yang disediakan cukup mengecewakan. Kurang cocok dengan yang hambar-hambar, nih. Untunglah ruang makannya sangat nyaman dan luas, jadi lumayan terobati rasa kecewa akan jenis masakannya.

Enaknya lagi, lobi di ruang tunggu Moevenpick dilengkapi dengan cukup banyak sofa set yang empuk. Saat itu, hotel lagi padat. Kami harus menunggu agak lama dari waktu check in yang dijanjikan. Beberapa pengunjung juga mengalami hal yang sama. Tapi, fasilitas ruang tunggunya nyaman banget. Belum lagi pelayan hotel hilir mudik menawarkan teh hangat, makanan kecil seperti kurma dan mammoul (makanan ringan khas Arab Saudi, semacam kue kering yang diisi dengan selai kurma).

Walau cukup jauh dari Radisson Madinah, lokasi Moevenpick dari Nabawi malah lebih dekat. Maklum saja, masjid Nabawi ini punya banyak pintu masuk. Salah satu pintu masuknya terletak tepat di samping lokasi hotel Moevenpick.

Moevenpick sudah yang paling mewah? Nah, masih ada satu, nih. Namanya Shaza Al Madinah. Dari luar hingga tempat resepsionis, Shaza masih kalah dibanding Moevenpick.

Kami belum pernah menginap di sini. Tapi, pernah mengunjungi teman yang sedang menginap di Shaza. Wah,  kamarnya model suite. Ada 3 ruangan dalam kamar tersebut. Kamar tidur terpisah sendiri. Ada ruang tengah yang dilengkapi dengan televisi, satu set sofa bed dan satu set meja makan. Terakhir, ada ruang dapur segala.

Jalan Jalan Madinah

Shaza Al Madinah

Saat jalan-jalan Madinah, tak banyak waktu untuk menikmati fasilitas hotel yang lain. Rata-rata pengunjung memang datang untuk menghabiskan waktu lebih banyak di luar hotel. Lebih sering mengunjungi areal masjid atau sibuk menyambangi tempat-tempat berbelanja di luar hotel untuk membeli buah tangan.

Madinah termasuk kota yang selalu sibuk hampir di sepanjang tahun. Jangan lupa untuk melakukan proses booking hotel jauh-jauh hari sebelum ziarah ke Kota Nabi ini. Untunglah, di era digital internet terkini, kegiatan booking hotel bisa dilakukan secara online.

***

Walau sudah delapan bulan berlalu sejak kami melakukan proses final exit di Bandara Internasional King Abdul Aziz, rasa rindu pada tanah suci belum terkikis sedikit pun. Hampir 3 tahun bermukim di Kota Jeddah, membuat saya sering merasa Jeddah sebagai rumah kedua saya :). Now that we are very far from there, I always wanna go  home :). Semoga suatu hari, diizinkan kembali untuk mengunjungi tanah suci kembali. Termasuk kesempatan jalan-jalan Madinah ini. Amin :).

32 thoughts on “Jalan-jalan Madinah, Ya Nabi Salam Alaika :)

  1. Di paragraf terakhir, maksudnya sudah delapan BULAN berlalu…. ya, mbak? 🙂
    Btw, hotel2 disana sedia kolam renang nggak sih? Ah, nginep di salah 1 hotel itu sih masih jauuuhhhh sekali dari impian, mbak… *sadar diri* 😆

    • Kayaknya enggak ada, deh. Siapa pula mau berenang ya booo? Hihihihihi. Iya bener Fit, kurang kata BULANnya :D. Kalau tinggal di Jeddah, bisa booking dari jauh-jauh hari dengan harga murmer. Manalagi kalau pas visa umrah ditutup, sepinya Madinah. Harga hotel bisa menurun tajam. Mari deh, serbu Madinah rame-rame. Bisa diskon sampe 70% :D. Saking sepinya hahaha.

    • Iyap, interior dalam juga, hotel-hotel di Bali masih jauh lebih ciamik lah hehehe. Maklum, kota ini kan kota sarat pendatang :D. Rata2 tujuan untuk ibadah. Jadi, interior hotel dibuat seminimalis mungkin 🙂

    • Emang gitu Mak, justrun hotel di Madinah memang cuma untuk numpang tidur aja hehehe. Soalnya hotelnya juga enggak yang mewah-mewah amat seperti hotel bintang 5 di Bali misalnya ;). Minimalis, euy hehehe.

  2. iya ya mak, minimalis banget mungkin karena waktunya habis di mesjid jadi cuman jadi tempat tidur aja (kata ibuku sih jarang di hotel hehe). Mudah-mudahan tahun depan bisa kesana, aminn. Sukses ya makk ngontesnya ^^

    • Iya, Mak. Masih jauh dibanding hotel-hotel di Bali. Dulu, sering ke hotel-hotel keren di Bali karena acara kantor hihihihi

    • Iya, Bu :). Untuk booking hotel yang dituju. So far belum pernah menginap di hotel lagi dan belum ada rencana sejauh ini hehe. Tapi ini situsnya berbahasa Indonesia dan lumayan gampang menggunakannya, kok ;).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *