What Really Matters

***

Tahun lalu, sebelum keputusan final untuk menerbitkan “Bunda of Arabia” secara indie, saya pernah mengirim naskahnya ke penerbit mayor (established publisher).

Sebenarnya sih, sang editor malah meminta saya menulis kisah-kisah perjuangan TKW. Katanya, kisah-kisah seperti itu lebih laku ketimbang kisah hepi-hepi para Bunda of Arabia versi kami. Hehehe.

Saya pribadi memang (merasa) punya perhatian khusus kepada para TKW di Saudi. Tapi, maaf-maaf saja, tak akan sudi ‘menjual’ kisah seperti ini. Beberapa kali saya menuliskan kisah tentang para TKW di Saudi, tapi ya tidak untuk kepentingan komersil. Sok idealis? Biarin :P. Justru, mimpi yang tidak diimbangi dengan idealisme itu hanya akan menuntun kita ke angan-angan kosong. Iya apa iya? 😀

Di sisi lain, jangan buru-buru pundung bila beberapa penerbit selektif memilih naskah yang akan diterbitkan. Salah satu tugas mereka adalah memilih naskah yang sesuai selera pasar dan menaikkan keuntungan perusahaan. Untuk itulah mereka digaji :D.

Sementara kita penulis, punya idealisme sendiri-sendiri. Jangan patah arang. Penerbit banyak dengan pertimbangan beragam :).

Jangan lantas gerabak gerubuk menuduh penerbit tidak memperhatikan kualitas bla bla bla. Aih, jangan sekali-sekali berani melakukan tindakan seperti ini. Selain akan membuat kita terlihat ‘kerdil’, para editor juga jadi alergi, kan? Padahal belum tentu naskah yang lain akan bernasib sama. Jadi, ‘menghina’ editor apalagi secara terbuka, saya rasa bukan tindakan terpuji. Btw, menghina siapa pun harusnya tidak boleh la yaow hahaha.

gambar : ivyleagueinsecurities.com

gambar : ivyleagueinsecurities.com

***

Setelah naskah terbit, masalah royalti menjadi kegelisahan tersendiri. Gara-gara tahun lalu ngebet menerbitkan buku, saya jadi mempelajari benar-benar soal penerbitan buku via penerbit mayor. Sungguh tidak menyangka kalau royaltinya tidak sebanyak yang saya kira. Pikir saya waktu itu, “Setahun menulis 10 buku pun belum tentu bakal tajir.” Hahaha. Matre lu ah :P.

Tapi, sekali lagi, jangan buru-buru menuduh penerbit culas. Saya bisa bilang begini, karena tahun lalu, saya sempat memilih bergerilya di ranah indie. Tidak lama setelah proses penjualan dimulai, segera saya SADAR, betapa proses menulis tidak ada apa-apanya dibanding MENJUAL!

Saya juga memilih jalur yang nekat. Mencetak langsung dalam jumlah besar untuk menekan harga. Buku-buku terbitan indie memang terkenal dengan harga jualnya yang lebih tinggi daripada buku-buku yang dipasarkan di toko buku resmi. Bayangkan, buku sudah terlanjur dicetak ratusan, kita menghadapi kenyataan betapa mahalnya ongkir ke tidak sedikit wilayah di tanah air.

Nah, itulah kelebihannya bila terbit via penerbit mayor :). Mereka sudah punya jaringan distribusi yang mantap dan rata-rata sudah berani menjual skala nasional. Mereka bisa mengupayakan agar harga buku di  berbagai daerah sama tanpa perlu membuat penulis nyut-nyutan melihat tabel ongkir hahaha.

Percaya deh, kalau anda sudah merasa jatuh bangun saat menyusun naskah, semuanya akan sirna begitu anda terjun langsung dalam proses penjualan. Jangan dikira kesuksesan sebuah buku hanya tergantung dari kualitas tulisan. Kenyataannya tidak begitu :).

Jadi, masih merasa royalti kekecilan? Silakan mencoba jalur indie dan rasakan sensasinya hehe.

***

Jangan mengira penulis best seller itu bisa mendapat keuntungan berlimpah semata-mata dari royalti menulis saja. Justru, kadang kegiatan off air lah yang mendatangkan penghasilan yang lebih besar :). Apalagi penulis-penulis buku yang ternyata bukunya gagal di pasaran. Buku pun dilelang dengan diskon sampai 70%.

Untuk menjadi penulis buku memang butuh idealisme yang tidak sedikit. Karena, penghasilannya memang tidak segemerlap yang dikira oleh publik hehe. Sudahlah menghabiskan waktu, mencurahkan pikiran, kadang mesti begadang untuk yang penulis model ibu-ibu yang di pagi dan siang hari mesti bertarung di ranah domestik, royalti per eksemplar pun cuma beberapa ribu rupiah.

Info ini banyak tersebar kok di internet, rata-rata royalti per buku itu sekitar 10% dari harga jual paling rendah. Jadi, dikira-kira saja sendiri buku seharga 25 ribu, didiskon pula 20%, ya royalti penulisnya hanya 2000 per buku. Itu pun dipotong pajak lagi. Hehehe. Apalagi penulis baru yang bukunya bisa jadi hanya laku di bawah 1000 eksemplar.

Ironisnya, menurut beberapa teman, buku laris pun tak lepas dari masalah. Ancaman pembajakan merajalela. Jadi, buku enggak laris, royalti anjlok. Buku laris, dibajak orang. Kapan kayanya? Hahaha.

Tapi untungnya, di era digital ini, dunia menulis menawarkan banyak cara untuk mencari penghasilan. Lomba blog misalnya. Pengalaman saya sendiri, menulis sebuah artikel dalam tempo 2 jam saja, menunggu pengumuman sekitar 5 hari, voila… juara 1 dan mendapat uang tunai 5 juta rupiah! Bayangkan, bahkan buku laku sampai 2000 eksemplar pun royaltinya belum bisa menyamai hadiah uang dari lomba blog tadi.

Lomba-lomba online di bidang kepenulisan juga kadang menawarkan hadiah gadget yang harganya tidak kira-kira, sebuah iphone keluaran terbaru misalnya. Hadiah uang 10 juta rupiah juga ada. Makanya, tidak sedikit para penulis buku yang juga mulai merambah lomba-lomba online. Saingan pun makin banyak huhuhu.

Ada juga profesi buzzer. Kurang tahu ini penghasilannya berapa. Konon, yang selevel Raditya Dika, bisa dibayar jutaan rupiah per tweet. Satu tweet sepanjang 140 karakter dihargai jutaan rupiah. Wew!!! 😀

Penulis konten media online juga mulai banyak. Dan juga, kesempatan untuk muncul di media-media cetak. Untuk majalah selevel Femina, honor satu tulisan bisa mencapai 1 juta rupiah. Tapi ya, saingannya juga banyak euy *ngelapKeringat*.

Pada akhirnya, dengan memahami kenyataan yang tidak begitu manis ini, apa yang membuat orang bisa bertahan untuk terus merangkai kata dari balik jari-jarinya? Ya itulah gunanya passion hehe. Sesuatu yang membuat kita bisa terus berkarya tanpa mesti membenturkan antara harapan dan kenyataan.

The answer to all writing, to any career for that matter, is love -Ray Bradbury-

Idealis boleh tapi realistis saja biar tidak terjebak dan putus asa. Iya gak? Hehehe. Santai saja. Begitu banyak pilihan untuk eksis di dunia menulis, kan? ;). Menulis-menulis status di FB juga okelah hihihi. Walau gratisan, syukur-syukur ada yang bisa mengambil hikmah. Amin :). 

Tapi memang penting untuk tetap menyematkan idealisme dalam mimpi. Agar selamanya, angan-angan tidak kehilangan arah :).

Lagipula, yang  menentukan kesuksesan dalam menulis itu hanya satu hal, kok :

You fail only if you stop writing -Ray Bradbury-

Tetap semangat teman-teman yang hobi menulis ^_^.

Muslim sejati selalu percaya,  kalau pun tak di dunia ‘keringat’ kita berbayar, masih ada akhirat, kan? Therefore, menulislah selalu untuk kebaikan :).

Gambar : positivewriter.com

Gambar : positivewriter.com

***

22 thoughts on “What Really Matters

  1. Tadinya udah rada curiga bakal ada pesan sponsor buku MOJ… ihik….
    Haha, benerrrr banget ya, mbak. Nulis itu kan hobby, cuma emang kalo ternyata hobby ini bisa menghasilkan duit, siapa yang bisa nolak? Haha..
    Trus ternyata bisnis ini nggak segampang yg dikira ya. Kirain tukisan udah ketje maksimal, eh ternyata masih kurang laku. Aaahh, aku jd pengen doain bukumu lakuuuuuuuu, mbak. Walopun mungkin royaltinya nggak segede gaji bulanan dari pak suami, sih.. hihi…

    • Hihihihihi bukan kok. Ini khusus ditulis untuk menanggapi banyaknya kehebohan gara-gara masalah royalti. Banyak yang masih awam dan marah-marah dengan royalti yang menyakitkan hati itu hahahahaha. Jadinya mau memberi semangat. Kalau menulis ngarepin banyak duit ya memang jalannya lebih berat daripada main sinetron yang satu episod bisa pul-pul jut-jut :P. Di grup-grup yang eike ikutin lagi banyak kasus soalnya hehe. Jadilah menulis ini untuk memberi semangat kepada teman-teman yang hobi menulis :D. Termasuk menyemangati diri sendiri juga sih hahaha.

      Kalau suami sebenarnya pas tahu royalti segitu malah menyuruh enggak usah nulis buku lagi. Katanya mending nulis2 ke majalah :D. Padahal kan nerbitin buku biar kelihatannya keren aja hahaha. Laku enggak laku kan yang penting kalau ditanya bisa gaya-gayaan bilang pernah nerbitin buku dan muncul di toko buku 😛

  2. Kalo gak salah Ika Natassa ya pake sistem cetak buku sendiri sesuai pesanan ya (lupa lupa inget soalnya gak beli buku dia) harganya jatuhnya mahal 80 rebu kalo gak salah. Tapi kalau pas dulu baca twit dia aku mikir gede loh penghasilan menjual buku ini.Atau itu kesan yang ingin dia berikan ya hahaha. Masuk akal sih kalo udah ngomongin ongkir ya. Soalnya buku yang kita beli online aja diskon 20-30 persen kalo udah pleus ongkir harganya hampir sama dengan di Gramedia. Btw ilmu marketing kepake banget kayaknya nih hihi kau jadi MBA mayor di marketing tanpa perlu kuliah gegara bisa ngejual, Jihan.

    • Iya. Kalau on demand itu mahal. Mungkin kalau penulis terkenal ok-ok aja kalau mau indie. Tapi yang model unyil-unyil kayak eike ya ndak usah gila-gila mau tenar lewat jalur indie :P.

  3. Hahahaaaa…. like suka artikelnya. Insya Allah aku berusaha mata duitan tapi idealis juga. Loh! Kalau nerbitin indie, misiku biasanya utk compile tulisan yg aku anggap penting saja. Syukur laku, nggak juga nggak dipikirin. Itupun gak mau indie yg mesti bayar paket2 jutaan gitu, biar nggak stress kalau nggak laku, paling yg print on demand. Design ada yg bantu gratis juga. Utk buku di penerbitan mayor, niat banget promonya, tapi ya bener susah mau tajir dari situ. Cuma sayang aja sama perjuangan approach major publisher, jd harus dirayakan dg promo besar2an. Halagh.
    Untuk lomba blog, aku juga mata duitan, ngejar yg gede2, e btw ada yg 2 bulan blm cair nih, mayan 3,5jt (2x lipat uang muka royalti salah satu bukuku yg nunggu terbit setahun :D). Tapi ada sisi idealisme juga, yaitu ogah nulis yg kelewat bombastis demi duit itu, apalagi yg mengada-ngada muji-muji sponsornya. Dimana harga diri sebagai penulis, meskipun kismin wkwkwkkk
    Suka keterus-teranganmu tanpa tampak nyinyir mak. Make sense kok.

  4. “The answer to all writing, to any career for that matter, is love” -Ray Bradbury-
    true story banget inih, hehehe. tanpa cinta dan passion yang tersalurkan apalah artinya harta kekayaan #tsaah *ocehansotoypagi2* xp

  5. Mata terbuka , hati juga makin dekat dengan tetap menulis. Menulis itu dilematis banget, tak ada uang bahkan untuk tembus pun sulitnya bukan main. Really I was touched with your quote “The answer to all writing, to any career for that matter, is love -Ray Bradbury-” Thanks Jihan.

  6. Membuka mata luasnya dunia penulisan, membuka hati ironinya dunia penulisan. “The answer to all writing…………, is love”- Ray Bradbury- That is life….you do love writing, you can’t expect too much in writing.

  7. Muslim sejati selalu percaya, kalau pun tak di dunia ‘keringat’ kita berbayar, masih ada akhirat, kan? Therefore, menulislah selalu untuk kebaikan

    Setujuuuuuuu… bingiiiiit, niatnya itu lho yang penting. Saya nulis di blog malah tulisan santai, sesekali ikutan lomba or GA, jeda dari draft naskah buku. Nulis buku juga baru mulai tahun 2010 pas udah resign ngajar, tahun 2011 buku pertama terbit. Royalti? ya gitu deh, seperti yang Mbak jabarkan di atas, terlebih pemula. Tapi niat untuk berbagi pengetahuan secara masif, sekaligus katarsis, dan ilmu juga nambah en biar otak nggak buntu, royalti or terkenal ituh anggap ajah bonus hehehe… walaupun terkadang perih inget kerja keras dan pengorbanannya *jiaaaah 😀

  8. Kasih jempolll. Suka (selalu) tulisannya mbak Jihan. Tetap semangatlah. Tulisan nongol di koran daerah, dihargai nggak nyampe setengah juta, tetap jadi energy booster. Tempo hari, tulisan pendek masuk di majalah nasional, dikasih merchandise kaos ‘imut’ yang nggak muat ke mana-mana, ya tetep seneng juga. Kalo nanti ‘dikasih berkah’ bisa punya buku sendiri, wah… bakalan segimana ya senengnya? 😉

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *