Orang Ketiga (The Help)

Hidup di kota-kota besar di Indonesia, kehadiran orang ketiga dalam rumah tangga sulit untuk ditampik. Kadang, tak cuma orang ketiga. Ada yang sampai punya orang ke-4, 5 dan seterusnya.

Selingkuhnya banyak amat? Hihihi. Orang ketiga dalam rumah tangga yang saya maksud adalah para embak/simbok/bibik dll yang saya pribadi lebih suka menyebutnya sebagai asisten RT. Yang sering dilengkapi dengan pengasuh anak, tukang kebun, supir pribadi, satpam pribadi dsb.

Film "The Help", ada yang sudah  nonton? :D

Film “The Help”, ada yang sudah nonton? 😀

Saya, sih, dari kecil sudah terbiasa dengan kehadiran si orang ketiga ini. Ibu saya, dari siang sampai sore ikut menjaga kios menemani bapak yang berprofesi sebagai penjual kelambu, seprei, gorden dll di pasar sentral 😀. Ibu juga punya usaha sendiri, usaha menjahit gorden.

Punya 7 anak, sementara mereka berdua pendidikannya pas-pasan (yang satu lulusan SD satunya mentok di kelas 3 SMP), memang kudu ekstra mencari nafkah . Semoga Allah membayar lunas segala kerja keras mereka berdua. Sayangi keduanya ya Allah, sebagaimana mereka menyayangi kami sewaktu kami kecil. Amin, amin ya rabbal aalamiin 🙂.

Macam-macam perangai para asisten RT yang pernah bekerja di Japan 70, jalan pajenekang no.70 😛. Mulai dari ratu drama yang punya pacar, rajin pula lho membawa pacarnya ke rumah. Sampai yang minta izin mau salat tarawih dengan dandanan menor dan … high heels! . Kata siapa, asisten zaman dulu enggak aneh-aneh hihihi.

Saya tak pernah sadar kalau ibu saya adalah ‘majikan’ yang istimewa. Sampai saya agak besar dan mengunjungi rumah teman-teman yang lain. Saya kaget, ada yang makan terpisah dengan asistennya. Bahkan, lauknya berbeda! Peralatan makan dipisahkan secara khusus.

Di rumah kami, kami selalu makan semeja dengan para asisten. Mana mungkin mau memilah-milah lauk? Peralatan makan tak pernah dipisah-pisah. Bahkan, para asisten juga leluasa menonton televisi. Nongkrong bareng depan televisi, berbaur dengan kami semua.

Gambar : poskota.co.id

Gambar : poskota.co.id

***

Saya sendiri, setelah tinggal di rumah sendiri, akhirnya memiliki asisten. Terlebih ketika suami merantau sendiri ke Jeddah. Hampir setahun saya tinggal bertiga bersama anak dan si mbak di rumah.

Saya akui, walau galak saya suka gampang kasihan. Makanya, suami wanti-wanti banget, “Jangan terlalu percaya sama mereka. Nanti kamu ditipu.”

Mungkin inilah perbedaan kami. Buat suami, semua orang harus diwaspadai secara penuh hingga mereka terbukti bisa dipercaya (entah sampai berapa lama -_-). Sedangkan buat saya, semua harus dianggap baik hingga mereka terbukti bersalah. Waspada perlu tapi enggak perlu sampai ditunjukkan habis-habisan depan mereka. Singing, “Embaaakkk juga manusia” 😀.

Saya juga pecicilan pada asisten. Sikap periang dan hobi bergosip nan kepo (hahaha) tidak serta merta saya ganti dengan sikap sok galak dan menjaga jarak. Ya, saya sering mengobrol dengan mereka. Yang anak gadis saya godain, “Dah punya pacar beloooommm?” Yang sudah menikah, saya kepoin, “Mbak, dulu ketemu suamimu gimana ceritanya?”

Setelah Angelina, berturut-turut ada Jennifer Iniesta, Drew Barristelle, Cameron Dito, enggak pernah ada yang ‘beres’. Akhirnya, bolak balik berjodoh dengan asisten aneh-aneh, datanglah Julia Robinson. Julia datang saat saya sudah muak dan bete gonta ganti embak. Padahal, saya pikir, saya kurang baik apa coba? huhuhu.

Saya terpikir, apa saya selama ini terlalu ‘lemah’ yak dalam urusan jadi nyonya 🙁. Sempat ingin mengadopsi gaya ‘kepemimpinan’ baru seperti yang dianut sebagian tetangga saya, harus tegas-galak-menjaga wibawa dengan menjaga jarak. Tapi ibu selalu menghibur saya, “Sabar. Ini kan masalah jodoh-jodohan. Masa gara-gara ketemu yang model begitu, kita mau ikut-ikutan enggak benar.”

Ah ibu ini memang keren sekali, ya. Tanpa sadar, dia mengajarkan saya, “Kalau berbuat baik pada orang lain, belum tentu mereka akan membalas dengan kebaikan pula. But…be good anyway!” ^_^.

poem anywayUntuk kesabaran yang dianjurkan oleh ibu, si Julia ini jawabannya. Orangnya telaten, asyik diajak mengobrol, jago masak, tidak segan-segan becanda sama Abil, tenaga kuat dan… serba tahu. Dia bahkan bisa benerin keran bocor. Tahu beberapa alat pertukangan. Sigap membantu saya yang panik kala mesin air mati. Maklum, enggak ada suami di rumah .

Saya selalu memberi libur pada embak-embak. Satu hari dalam seminggu. Tapi rata-rata memang bingung mau ke luar. Soalnya dari daerah semua. Mau menginap di mana. Nah, si Julia ini selalu minta izin mau ke rumah suami. Padahal setahu saya, dia mengaku janda. Suami yang mana?

Lagi-lagi saya cerita ke ibu, ibu bilang, “Dia itu umurnya lebih tua daripada kamu. Seharusnya, dia sadar penuh terhadap semua tindakannya. Bukan urusanmu, hormati kehidupan pribadi orang. Konsekuensinya, kalau kamu berani-berani menegur, dia belum tentu mendengar dan mungkin…dia akan pergi.”

Saya sadar lagi. Iya juga, ya. Saya dulu pekerja kantoran. Apa iya bos saya dulu merepet urusan pribadi. Sudahlah, leave them alone. Doakan saja.

Belakangan, Julia mengaku nikah siri. Masa harus saya interogasi habis-habisan?

Oiya, waktu itu, saya kesepian di rumah. Biasanya cuwawa sana sini, sekarang sendirian. Tetangga-tetangga yang juga SAHM jarang ke luar rumah. Mau main juga segan. Jadinya, saya akrab dengan para embak hehehe.

Tiap sore, ikut ke luar bermain bersama Abil. Kalau Abil sudah asyik dengan teman-temannya, emaknya juga asyik ngerumpi sama para embak hahaha.

Teman saya pernah bertanya, “Ngobrolin apa sih? Gak nyambung kaleee ngobrol ama mereka.”

Kata siapa? Ya direka-reka atuh topiknya. Masa mengobrol dengan mereka nanyain diskon di Plaza Senayan atau suaminya gaji berapa bla bla bla hihihihi. Kita toh sama-sama perempuan. Tanya saja hal-hal umum seperti anaknya berapa, umur anaknya berapa, saudaranya ada berapa, tinggal di daerah mana, daerah itu tepatnya di mana, percaya sama saya … bisa berjam-jam enggak akan selesai. Asal, kita menempatkan mereka sebagai teman mengobrol tidak merasa ada jarak karena, “Heloooo, gue majikan situ pembantu. Ingat, kita tidak selevel!”

Saya sudah pandai menjaga diri untuk tidak membiarkan obrolan merembet ke ngomongin majikan masing-masing. Dosa sudah banyak, masa iya mau ditambah-tambah lagi hehe. Therefore, saya lebih suka bertanya hal-hal yang menyangkut mereka.

Dari situ jadi banyak belajar, ya. Mengingat saya sebenarnya bete ditinggal suami. Mereka juga ditinggal suami, dalam artian dicerai atau disia-siakan. Sementara saya, walau suami tiada, ATM selalu full tank hahaha. Suami pergi, anak ditinggal bersama mereka. Kadang, tak habis pikir saya, dengan gaji ratusan ribu rupiah, anak 2 atau 3, bagaimana ya mereka mengongkosi anak-anaknya.

Hebatnya, mereka berceloteh biasa saja. Seakan, hal itu bukan hal yang berat. Sementara eike, dikit lagi mau mewek hahaha.

Lama-lama untuk embak-embak yang gadis yang sibuk main ponsel saat menjaga anak majikan, saya bisa memaklumi. Padahal dulu juga suka kesal tuh hihihi. Ah, kita pun pernah muda. Beruntung sekali hidup kita, di usia 17, berseragam sekolah dan bermain dengan teman-teman sebaya. Bisik-bisik sambil cekikikan kalau kecengan lewat.

Sementara mereka? Sudah harus mencari nafkah! Bukan dengan duduk manis di depan komputer dengan baju rapi. Tapi dengan menyuapi anak orang, menggosok baju yang tidak pernah mereka pakai (mungkin sambil mengkhayal untuk mereka miliki sampai ada yang nekat foto-foto dengan memakai baju-baju nyonyanya –> kisah nyata! :D), menyikat kamar mandi yang tidak mereka pakai, mengepel lantai rumah yang bukan milik mereka .

Saya suka stres kalau ke mal lihat ibu-ibu masa kini pakai tas bagus-bagus dengan dandanan hits. Tapi jongkok depan rumah sambil mengobrol bersama mereka, rasa stres luntur mendengar kisah-kisah mereka.

“Ini lho Bu, cari celana kayak yang dipakai tentara gitu. Yang loreng-loreng. Di ramayana masak 20 ribu. Mahal sekali. Mau nunggu pasar senggol di kampung saja nanti pas mau lebaran.”

Astaga, kita sibuk mikirin merek-merek tas jut-jut, mereka nyut-nyutan mau beli celana motif army buat anak di kampung yang harganya 20 ribu rupiah! What kind of world are we living in? :'(.

Saya jauh dari suami, mereka jauh dari suami dan anak-anak sekaligus. Duh, enggak kebayang kalau harus berpisah dengan anak-anak? Pisahnya bukan karena harus training ke luar kota atau ke luar negeri? Karena harus mengais rezeki di tempat jauh yang entah harus dilakoni sampai berapa lama.

Sempat tersiar rumor kalau ada embak yang bergaji di atas 1 juta rupiah. Saya milih menyingkir, deh, dari gosip-gosip macam ini. Tapi jadi belajar satu hal, kita tidak bisa semena-mena memberi gaji kepada asisten. Karena resikonya… dinyinyirin tetangga bo’, hahaha. Dibilang sok baik segala macam. Hadeuuhhh -_-.

***

Makanya, waktu akhirnya ke Jeddah dan melihat banyak TKW di sana saya tidak berbagi keheranan yang sama dengan sebagian teman yang berpikir, “Heran ye, sudah tahu bakal disiksa kok pada nekat mau ke Arab? Sudah pada hilang akal?”

Dengan penghasilan ratus-ratus di tanah air, dengan 2 anak di kampung, walau menurut mereka bisa diberi makan dari sayur-sayuran yang tumbuh di halaman rumah, bagaimana bisa membawa para ananda lepas dari lingkaran seperti itu? Bagaimana menjanjikan harapan lebih baik?

Ratusan ribu rupiah per bulan untuk menyekolahkan 2 anak sampai perguruan tinggi? Bagus kalau anaknya jenius, kalau anaknya biasa-biasa saja? Bisa ditebak, bila mereka dewasa nanti, mereka akan menerima tongkat estafet yang sama, berlari di lintasan yang sama yang pernah ditakdirkan untuk orang tua mereka.

Jebakan yang sama untuk kita, para ‘majikan’, jika harus menggaji mereka juta-juta. Ya kalau gaji ‘majikan’ pul-pul jut-jut mungkin masih bisa, tapi kenyataannya, yang berpenghasilan di bawah sepuluh juta sebulan juga tak lepas dari campur tangan orang ketiga ini, kan?

Salah satu jalan yang mereka tempuh adalah … merantau ke luar negeri! Sepahit apa pun nanti yang akan dihadapi, mereka sadar, bertahan di dalam negeri tak selalu menjadi pilihan terbaik. Kalau mereka bodoh dan mudah ditipu ya kembali lagi ke ratus-ratus per bulan tadi. Lingkaran setan.

Doakan sebagian mereka yang masih berjuang untuk menyelesaikan kekisruhan di masa-masa menjelang akhir amnesti di Arab Saudi . Ikhtiar terkecil yaitu berdoa . Semoga Allah melimpahkan kesabaran dan membayar kesabaran ini kelak untuk masa depan ananda tercinta. Tak didapat di dunia, Allah tak pernah mengingkari balasan akhirat.

Gambar : empowernetwork.com

Gambar : empowernetwork.com

***

Berurusan dengan mereka memang tak selalu mudah. Sekali waktu, kita tergelincir dan berpikir, “Sial, udah miskin banyak lagu pula.” Astagfirullah. Siapa ‘majikan’ siapa ’embak’ bukan kita penentunya . Bersyukur takdir membawa kita sebagai posisi pemberi gaji hehe.

Atau sering terlintas, “Gue baik-baikin, dia malah  ngelunjak. Ngapain gue kayak gitu. Mending gue jutekin sekalian.”

“The good you do today, people will often forget tomorrow. Do good anyway”  ;). Seperti kata ibu saya, “Kalau diperlakukan tidak baik jangan ikut-ikutan bertingkah tidak baik.”.

Dukungan terakhir atas prinsip ini datang dari alquran sendiri lho , “Barang siapa berbuat baik maka dia berbuat baik untuk dirinya sendiri. Barang siapa berbuat jahat, sesungguhnya dia hanya akan merugikan dirinya sendiri.”

Kalau mau baik ya baik saja. Jangan dihitung-hitung apalagi diharap-harap. Bagi kita umat muslim, dunia ini hanya tempat persinggahan saja. Habiskan lebih banyak waktu untuk berpikir tentang akhirat dengan tetap menjaga keseimbangannya tentu saja ;).

“Lihatlah kebawah untuk urusan dunia, dan pandanglah ke atas untuk urusan akhirat.”

Tak selalu mudah, sih. Tapi in shaa Allah, many times … it works perfectly . Kalau sempat hinggap rasa hina kala tinggal di luar negeri harus berjibaku dengan urusan rumah tangga, ingat, kita mengurus rumah sendiri, suami dan anak dewe, tho? Bukan anak majikan hihihi.

Fabiayyi aala irabbikumaa tukadzdziban, maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? .

***

30 thoughts on “Orang Ketiga (The Help)

  1. ahh mbak tulisan ini ngena sekali. Aku sih mikirnya sama2 manusia, dan saling butuh juga kan jadi bersikap yang baik saja walau sama art sekalipun. Si bibi ini udah aku anggap kayak saudara, apalagi dari ceritanya dulu dia orang terkaya di desanya, rumah, mobil, motor, sawah berhektar-hektar, emas perhiasan gak terhitung deh, tapi orang sekaya itu juga kalau sudah kehendak Allah ternyata harta bisa langsung hilang sekejap mata pas suaminya meninggal. Jadi dia sekarang merantau buat hidup.

  2. Dan postingan indah ini langsung hancuuurrr sama pantun terakhir… 😆
    Ah, mbak. Atm kan full tank, bisa laaahhh kalo cuma beli tas yg jeti2an, haha..
    Aku melotot di bagian embak2 yg foto pk baju majikannya. Kisah nyata pula? Oh my…
    Iya ya, bener bgt kata Ibumu, berbuat baik itu harus, jangan ngarep2in balesan, tokh balesan yg paling hakiki ya di akhirat nanti.. *sungkem ke ibu*
    Anywaaayyy, udah 2 thn ini aku nggak punya embak sih, mbak. Tapi in case one day aku pake jasa mereka lagi, aku pasti akan inget2 postingan ini… 😀

  3. Ngikut komen ya Mba *terbang dari postingan Baginda Ratu*

    Saya dulu juga terbiasa hidup dengan ART karena Bapak dan Ibu semua kerja. Dari pengalaman itu menurut saya yang paling ribet dari hidup dengan orang ketiga adalah ‘menjaga hati’. Menjaga hati kita supaya ga marah-marah, seowt, judes trus stres. Menjaga hati suami dan anak supaya mereka juga ayem ada di rumah. Plus menjaga hati ART itu sendiri, supaya betah, ga sakit hati, dll.

    Karena sekarang saja sudah ada 3 hati yg harus saya jaga (hati sendiri, suami n anak), makanya opsi memiliki ART masih jauh panggang dari api. Daripada susah jaga hati, trus jadi majikan judes bin jahat kan.

  4. Bener banget…. meski kita diperlakukan gak baik, ya jangan ikut-ikutan kita jadi gak baik..
    Walo pembantu nyebelin, pemalas, gak jujur, ya tetep hrs kita baik2in disamping tetep kita tegur/ingatkan kesalahannya..
    kalo didiemin kan gak mendidik juga ya, padahal ada kewajiban kita untuk mendidik mereka, terutama yg masih umur belas-belasan itu..
    dan tentang baju majikan dipakenya, itu akuuu…. dan dia dengan pedenya berfoto pake baju dan kacamataku, diupload di fesbuknya pulaa… 🙂

  5. Waw keren sekali mba n ibunya. Aku ganti art 2 kali berturut2 langsung mutusin ga pake mba,mgkn krn pengalaman ngekos 10 tahun. Cape sih tp hati lebih tenang. Hihihi.. kl marahin suka ngerasa jd orang yg jahat, kalo ga diingetin juga mumet sendiri.
    tp quotenya keren bgt. Do good anyway, dan perbuatan baik atopun jahat pada akhirnya itu buat kita :)). Maapken ya mba aku lagi jalan2 di blog mba ni dr tadi. Hihihi… betah di sini

  6. Saya jg mak, jadul punya embak ya ada yg pengertian ada yg ngga, masak ya sdh diberi kebebasan milih menu di resto ambil yg harga paling mahal, juragannya aja kalah*tepokjidat* setelah itu ya akhirnya mmg tyt semengharagai bagaimanapun ttp kita yang mengontrol, misal kl makan ya pesanin saja yg sama. Tidak bs mengharap mrk mengerti, tp berpandai-pandai menjaga spy sama2 enak. Tp tyt tetep enak tanpa art ahaaayyy hampir 8 th mengurus diri sendiri dan hepii

  7. Susah ya nyari pembantu yang pas. Gara-gara banyak cerita gak enak soal pembantu, aku jadinya gak pernah punya. Sekarang beranak 3 baru berasa repotnya. Bikin audisi ah. Heheheh…
    Suka deh dengan kutipan kalimat ini:
    “Kalau mau baik ya baik saja. Jangan dihitung-hitung apalagi diharap-harap. Bagi kita umat muslim, dunia ini hanya tempat persinggahan saja. Habiskan lebih banyak waktu untuk berpikir tentang akhirat dengan tetap menjaga keseimbangannya tentu saja. 😉 ”
    Bravo Pembantu! :p

    • Jangan-jangan berkahnya karena emang enggak pake asisten Mbak Nia. Karena dikerjain sendiri jadi dapat berkah sering menang lomba hihihihi. Jangan lupa makan-makan di Bandung-nya yak hahaha 😀

  8. Suka deh tulisannya mak. Sy juga pernah mengalami beberapa asisten sampe akhirnya sekarg ga pake. Ya mereka juga sama dg qt .sama2 butuh2 ya saya butuh jasa mereka butuh uang sampe akhirnya kayanya g sanggup bayar gajinya lagi deh secara di komplek rumah banyak tetangga yg kasih gaji asisten sampe jut jut.satu2 lepas deh..gpp bener kt mak jihan wong qt urus rumah n keluarga sendiri ya…happy aja

  9. lucu2 mak ceritanya. soal TKI, di tpt sy banyak mak yg ‘janda’, ‘duda’ & ‘yatim/piatu’, bahkan yg ‘yatim piatu’ jg. demi mengejar impian punya rumah, bs menyekolahkn anak, dst, mereka meninggalkn keluarga. cm yg sy sayangkn, ada jg yg sdh tercapai cita2nya punya rumah dll tp masih juga ‘ketagihan’ kembali kerja di LN. anak2 mereka jd anak2 nenek kakek. kasihan lah pokoknya.

  10. pas dech postingannya mak jihan,saya baru kehilangan art bulan lalu, nikah 🙁 dari 5 kali ganti art dia yang paling baik, lulusan pesantren, santun, ngabdi (cara ngabdinya bikin tak enak hati), gak suka main hp, udah diniatin mau di sekolahin kejar paket tahun ini , tiba-tiba dijodohin ortunya n langsung mau aja tuch anak, …kerasa rempongnya tanpa dia…

  11. Saya pernah merasakan punya ART. Tap sekarang saya sudah bertahun2 tanpa ART sama sekali. ALhamdulillah fine2 saja walau kelabakan 😀

    Memang seperti yang Jihan cerita semua di atas. Pasti ada plus minusnya memasukkan orang ketiga di dalam rumah. Asal mereka tak mengerjakan kejahatan asusila pada keluarga kita, dan kekurangannya bisa ditolerir … gak masalah ya.

    Keren nih … ada promo di akhir tulisan … ndak perlu lari tunggang langgang lagi, wajar koq 😀

  12. Sukaaa sama gaya bercerita mba Jihan *kasi jempol tiga
    Kmrn mampir toko buku liat buku mba sekilas, eeh toko bukunya udah mau tutup aja *manyun

    Iyaaa, sepakat mba, seorang tmn sampe ngmg “nyari art itu seperti nyari jodoh” hihi
    Alhamdulillah, skrg sy dan keluarga masih bs survive tanpa ART *elap keringat
    Bismillah!

  13. Mba… selama ini jadi silent reader. Akhirnya nunut komen juga.
    Sekarang lagi ngalami dilema bedinde aka art aka prt
    kalo aku instropeksi diri, kayanya aku da baikkk banget ama art dirumah.
    Tapi kok yaa aku -nya yg dijahatin.
    serasa patah hati banget pas ditinggalin art yang uda dipercaya

    tapi sperti quote nya mother theresa… i will do good anyway…

  14. Sekarang tambah susah cari asisten.apalagi nanti. Makanya agak iri sama si sule yg punya si Maya asisten rumah tangga yang cantik dan seksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *