Kepribadian dan Karakter

Teman-teman kantor di tempat kerja pertama :D

Teman-teman kantor di tempat kerja pertama. Divisi IT Manulife Indonesia

Kejadian ini mungkin sudah hampir 10 tahun yang lalu (atau jangan-jangan sudah lebih) 😀.

Hari itu hari jumat, jam 5.30 sore. Rencana mau pulang jam 7 malam saja. Mari habiskan waktu dengan mendengar koleksi-koleksi MP3 mumpung kantor dah kosong jadi bisa lipsync tanpa ada yang nyinyir, “Lu mau menyanyi atau membunuh?” Hahaha.

Telepon berdering. Ternyata dari user. Doski panik banget, “Mbak, aku salah upload data. Salah copas jumlah preminya. Alamatnya salah. Tanggal lahir ketukar-tukar. Semua sertifikat kena.”

Eike masih kalem, “Ada berapa sertifikat?”

“Umm… sekitar 1600 an, Mbak. Sertifikat baru semua.”

“Ha? Gile.”

“Iya, Mbak. Gimana, dong. Manalagi ini prosesnya lama banget, Mbak. Upload sebelum makan siang, selesainya barusan.”

Why me? why me? Hadeuh, menyesal enggak kabur dari jam 5 tadi huhu.

Saya mulai berhitung. Kalau saya biarkan dia mengulang proses upload dengan cara ‘standar’ tadi, sampai tengah malam belum tentu selesai. Mau marah juga kasihan, namanya juga kecelakaan. Toh, dia pasti sudah ketakutan karena teleponnya saya banting barusan hahaha.

Tapi, kalau tidak dibantu, dia bisa mengadu ke atasannya. Kalau sudah melibatkan bos-bos, malas, ah.

Kebetulan, beberapa hari terakhir saya sedang mempelajari cara upload data agar tidak memakan waktu berjam-jam seperti selama ini. Tapi dengan tidak mengorbankan proses verifikasi data yang njelimet.

Algoritmanya belum optimal. Belum pernah saya coba dalam skala besar. Baru testing iseng-iseng. Aduh, sudah terpikir ide nekat mau menjalankan algoritma ini. Saya juga harus pikir-pikir kalau sampai harus pulang tengah malam. Ogah amat.

Setelah memastikan si user bisa diajak kompak biar enggak ketahuan, akhirnya, terjadilah peristiwa ‘tembak data’ langsung dengan ‘cara-cara tidak terpuji’ di DATABASE PRODUCTION! Hahaha.

Bukan main, prosesnya memang cepat sekali. Setengah jam, masuk semua data. Nasib baik berpihak pada kami, data-datanya masuk dengan sempurna. Jam 9 malam, kami pun siap-siap pulang.

Bandelnya lagi, karena sudah tahu prosesnya ‘jalan’, saya suka ulang berkali-kali walau tidak dalam kondisi kepepet. Mungkin sekitar sebulanan tidak ada yang tahu. Tapi, bau busuk disimpan lama-lama ya pasti ketahuan juga. Sialnya, orang lain yang melakukan kesalahan. Bos saya tidak sengaja mengecek data-data lain dan menemukan kejanggalan. Voila, ane ketahuan! Hahaha.

***

Bos saya marah dan kecewa. Ya saya jelaskan saja baik-baik algoritma temuan saya. Saya menerangkan dengan semangat, Pak Bos ragu-ragu dan khawatir. Sibuk bertanya ini itu. Kritikan beliau bagus juga. Tapi, dia sangat tertarik dengan temuan saya.

Jadilah, instead of melanjutkan marah-marahnya, beliau malah mengajak investigasi bareng. Memang, setelah ditelaah, kelemahan cara saya banyak juga. Enggak pernah kepikiran yang detail-detail seperti yang diungkapkan si Pak Bos ini hehe. Saya beruntung saja, selama menjalankan algoritma ini secara diam-diam, belum pernah kena sial 😛.

Dengan menggabungkan sifat saya yang menerjang-menerjang-terjang hahahaha, dengan karakteristik Pak Bos yang hati-hati dan sangat peduli pada hal-hal kecil dan mendetail, kami terbilang sukses meng-upgrade proses-proses rutin di sisi user tadi. Proses upload dan update ribuan data yang biasanya bisa bikin user ketiduran hihihihi, sekarang sudah lancar bagai jalan tol. Toss dulu sama Pak Bos 😀.

***

Waktu awal bekerja ini saya memang kebagian jadi developer. Dengan salah satu atasan yang (menurut saya) sangat kaku. Apa-apa mesti pakai form. Apa-apa mesti testing dulu. Ya memang itu kaleee yang benar hehe. Tapi kenyataannya, dalam praktik sehari-hari, sekali-sekali mengandalkan insting juga tidak salah, kan? Kecuali untuk profesi semisal dokter yang melibatkan nyawa orang lho, ya. Zero tolerance 😀.

Teman-teman kantor di tempat kerja kedua :D

Teman-teman kantor di tempat kerja kedua, Business Analyst @AIU-AIG

Dari sisi personality plus, sisi sanguinis saya tinggi sekali. Tahu kan tipe Sanguin yang menghentak-hentak dan super moody hehehe. Berpadu dengan sifat koleris yang membuat saya terkenal galak dan bossy . Sungkem dulu sama teman-teman yang pernah tersakiti di masa lalu hehe.

Sanguinis + koleris = extrovert yang sempurna. Itulah eike. Yang tidak pernah segan-segan bercerita soal apa saja, sememalukan apa pun, hampir kepada siapa saja *nyengirKuda*. Terus, apa-apa mau buru-buru, mau cepat-cepat. Kalau sedang marah, kadang suka kelepasan dan menyemprot sesuka hati.

Sementara, Pak Bos tempo itu, orangnya melankolis. Melankolis bukan cengeng. Melankolis itu maksudnya perfeksionis. Sangat mendetail dengan pemikiran mendalam setajam silet. Dia juga lebih tenang dan tidak heboh seperti anak buahnya hihihi.

Awalnya, rempong betul bekerja sama dengan tipe kayak begini. Habis, apa-apa salah, apa-apa mesti mengikuti alur yang rumit. Tapi, bisa dibayangkan bila orang seperti saya bekerja sendiri tanpa ada remnya. Bisa eike obrak abrik itu data di production tanpa terkendali. Ingat, sisi koleris saya selalu meyakinkan saya bahwa saya pasti benar. Manusia, mana ada yang sempurna? .

Tapi, kalau semuanya kayak Pak Bos ini. Waduh, sisi inovatif manusia bisa mati suri. Karena tipe perfeksionis cenderung melihat kesalahan, sementara yang sanguinis suka nekat dengan ide-ide baru yang (mungkin) bagus tapi suka melupakan detail yang bisa menjadi bumerang di kemudian hari.

Ternyata, kalau digabung, malah bisa bersinergi dengan jauh lebih baik. Sifat saya yang tidak takut coba-coba dengan semangat meletup-letup bisa dioptimalkan dengan Pak Bos yang selektif, tekun dan jauh lebih tenang.

Tapi jangan salah, bos saya ini usianya enggak jauh beda. Manggillnya juga Mas. Kalau dalam pekerjaan saja kami serius. Kalau di luar itu mah becanda-becandanya sadis-sadis juga hahaha.

Misalnya dia bilang begini, “Wah, ini bagus Je. Pinter idenya.”

Saya jawab, “Iyalah, Mas. Gue kan anak UI. Bukan anak ITB.”

Hahaha. Maaf, SARA . Bos eike anak ITB .

Becanda lho yaaaaa, sungkem lagi sama anak-anak ITB .

***

Nah, mungkin itulah salah satu sisi menarik dari pergaulan di dunia akademis atau dunia kantor. Walau sudah bertahun-tahun mainnya sama panci dan wajan doang , pengalaman yang dulu-dulu tetap bermakna penting.

Jadi, walau saya kagum dengan orang tua yang memilih homeschooling untuk anak-anaknya, saya kok enggak merasa cocok hehe.

Saya inginnya anak-anak punya pergaulan luas. Mengenal banyak orang dan berinteraksi dengan macam-macam karakter. Agar tidak merasa benar sendiri, keren sendiri, sisanya yang tidak setuju itu pasti sekuler atau liberal #eh, salah topik ya, hahaha .

Agar dia tahu, menimba ilmu bisa dari berbagai orang dan cara. Tidak mesti dikit-dikit emaknya yang kudu bisa A sampai Z . Yang seperti ini yang membuat dunia kaum ibu penuh dengan drama. Hihihihi. Ada tuntutan bahwa ibu kudu menjadi pendidik sempurna untuk anak-anak. Realistis saja. Tidak hanya keluarga, lingkungan pun patut diperhatikan . Ingat, jangan kenakan sepatu orang lain di kaki kita. Jangan pula, sok tahu mereka-reka sepatu yang lagi dipakai orang lain sementara kita pakainya sendal jepit hahahaha. Enggak bakal nyambung, cuy 😛.

Tapi, tiap model pengasuhan pasti ada plus minus masing-masing ah 😉.

Btw, apa kepribadian itu sudah harga mati? Tidak juga.

Pengetahuan soal kepribadian bisa disempurnakan dengan pembangunan karakter. Saya ini percaya sekali, karakter bisa dibangun (tapi enggak bisa sekejap :P). Karakter tercipta dari kebiasaan-kebiasaan. Kebiasaan bisa dilatih .

Nah, soal karakter, buku terbaik yang saya rekomendasikan, the one and only … “7 habits for highly effective teenage.” Ih, sok muda. Enggak kok, itu karena bahasanya enak banget. Kalau baca yang satu lagi (for highly effective people) bisa tidur duluan zzzzzz -_-.

Ngomong-ngomong, sudah pernah mengecek personality plus masing-masing? (sanguinis – koleris – phlegmatis – melankolis)?

Tiap manusia pasti punya keempat sisi ini dalam kehidupan sehari-hari. Tapi biasanya hanya ada 2 yang menonjol. Perpaduan alami itu, Sanguinis-Koleris (extrovert) dan Phlegmatis-Melankolis (introvert).

Sanguinis (si periang), Koleris (si bossy), Phlegmatis (si santai), melankolis (si perfeksionis).

Perpaduan Melankolis-Koleris ini yang agak ‘ngeri’ .

Tapi banyak juga yang memiliki perpaduan asyik seperti adik saya, si Buntel, dia ini Sanguinis-Phlegmatis. Konon tipe seperti ini adalah teman yang asyik dan setia. Indeed, si Buntel terkenal mudah berkawan dengan siapa saja dengan durasi seumur hidup 🙂.

Tim IT Unilever (Bali, 2009) --> sehari sebelum last day @Unilever :D

Tim IT Unilever (Bali, 2009) –> sehari sebelum last day @Unilever 😀

***

17 thoughts on “Kepribadian dan Karakter

  1. Aku… aku… type apa ya… *mendadak hilang kepribadian* 😆
    Halah, mbaaaakk.. aku nyengirrrr supeeerrr lebaaarrr baca postingan ini. Kebayaaang kayak gmn suasana kantor kalo kau dan si boss perfeksionis itu lg diskusi (berantem?) Hahaha…

    • Diskusi dong, dengan suara lemah lembut penuh kedewasaan, ahahahahaha, boong besar :P. Umm..sepertinya elo ini sanguinis sih yang jelas :D. Kolerisnya tidak menonjol kalau liat dari komen-komen selama ini, sih + postingan2 di blognya. Apa sanguinis-melankolis yak?

      • Buru2 ngecek ke atas lagi, itu sanguinis yg kek gimana, ya? Oh, periang ya. Oke, deh. Masih bisa diterima. Aku emang lumayan periang kok… kalo tanggal muda.. 😆
        Melankolisnya ada… dikiiittttt banget! Eh, koleris-nya justru yg paling menonjol, loh! Nggak percaya? Coba tanya the krucils! Huahaha…

  2. Hahaha, kalau saya tipe yang mana ya? malah nggak pernah menganalisa diri sendiri. Betul soal cocok nggak cocok itu yang paling tahu ya kita masing-masing. ndak perlulah memakaikan ukuran kita kepada orang lain dan sebaliknya. Btw, demen banget ya nyerempet-nyerempet, si sekul sama si liber..

  3. wahahhahah toss dulu. aku juga kalo cerita sampai hal yang memalukan sekali pun, biasa aja. maksudnya, pengennya semua orang itu tahuuuuu. hahhahah sanguinis sejati 😀
    tapi lupa nih paduannya apa ya? au ah. pantesan kita nyambung ya, padahal belum pernah ketemu, diajakin mas Andri ke mamasejagat, langsung mau 😀
    thank’s buat mas Andri, yg udah ngenalin aku ke mbak yang galak ini. *kata beliau lho ya, mbak galak banget* :p

  4. Hahaha Jihan, aku dukung boss mu lah. Anak Itebe, di mana anak terbaik bangsa dididik. Ahem.
    Aku sanguin lah pastinya, (agak?) dominan, galak, suka pamer dan ekstrovert tapi combonya nggak jelas. Kalo dari namanya doang melankolis tapi kayaknya gak perfeksionis deh. Pengennya kayak si Buntel disukai semua orang dong. Pleghmatis gitu. *bisa nggak cuci otak doktrin diri sendiri kalo kita pleghmatis* Kayaknya aku teman yang asik hahahaha *teman hidup yg asik udah pasti *todong Edi biar manggut-manggut*

  5. Seingetku dulu pas tes kepribadian itu aku sanguinis dan melancholis deh mbak hahaha 😳 Aku juga setuju karakter bisa dibentuk, karena kepribadian pun terbentuk dari habit (kebiasaan) yang berulang kan 😀

    • Setahu saya, definisi kepribadian dan karakter agak-agak beda, ya. Hehehe. Lupa-lupa ingat. Kalau enggak salah, kepribadian itu susah diubahnya, dari pendiam ke bawel kan rada-rada mustahil ya karena dasarnya memang pendiam. Nah, kalau karakter itu beda lagi. Toh, pendiam dan bawel sama-sama bisa punya karakter yang bagus ;).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *