(Bukan) Bangsa Tempe!

After 6 months of emptiness, akhirnya bisa juga … makan tempe lagi. *Lebay* hahaha. Dari info teman di sini, ternyata tempe bisa didapatkan di Asia Market di kota-kota besar. Termasuk di ibukota Dublin.

Pas ke Dublin, saat akan menghadiri acara 17 agustus yang mempertemukan orang-orang Indonesia dari seluruh kota di Pulau Irlandia, langsung berburu tempe. Yayyy, stoknya lagi ada. Tapi sedikit banget. Borong 3 bungkus.

Besoknya, langsung digoreng. Biar kelihatan banyak, digoreng pakai tepung bumbu yang diracik sendiri . Berasa makan mewah, suami dan anak-anak sampai rebutan hahahaha.

Beberapa hari kemudian pas akan mengurus visa Schengen, kami mampir lagi ke Drury Street tempat supermarket Asia tadi berada. Malangnya, kali ini stoknya habis.

Gambar : superindo.co.id

Gambar : superindo.co.id

***

Tempe terhitung mewah di Irlandia. Sebungkus dengan berat sekitar 400 gr dijual seharga kira-kira 2.7 euro. Satu kilonya bisa 6-7 euro. Convert sendiri ke rupiah dimana nilai euro sedang menguat kan ya, 1 euro = kira-kira 15 ribu rupiah. Harga 1kg tempe di sini = harga 1 kg daging kambing/domba.

Bagaimana dengan tahu? Di sini yang umum itu semacam tofu, tahu yang teksturnya sangat lembut. Agak syok pertama kali makan tahu model begini. Hahaha. Sudah biasa sama tahu Indonesia yang maknyus itu *ngelapIler*. Akhirnya, sekarang pasrah dan rasanya mendadak enak-enak saja hihihihi.

Tahu sendiri tidak bisa dibilang murah. Harga 1 kg tahu = harga 1 kg daging ayam utuh yang dipotong-potong itu. Pukulan berat bagi Food Combiner macam ane hehehe.

Eropa memang tidak tergolong mahal. I was a little bit surprised 😉. Untuk harga bahan baku utama seperti daging-dagingan dan beras malah enggak jauh beda dengan harga di tanah air. Tapi, kalau sudah makan di resto atau jajan makanan jadi, harganya langsung meroket. Therefore, memasak sendiri adalah pilihan bijaksana jika bermukim di sindang hihihi.

Kata suami saya, “Waktu di Indo, banyak yang mengeluh makannya cuma tahu tempe. Kita sekarang mengeluh karena susah makan tahu tempe.” Hehehe. Tahu tempe sering dianggap simbol kemelaratan .

Tapi saya pribadi, dari dulu selalu stabil kecintaannya pada tahu tempe. Nemu warung pecel yang enak pun, saat posisi keuangan sudah mumpuni, enggak malu-malu saat memesan, “Bang, tahu tempe aja. Enggak pakai lele, enggak pakai ayam.” Untuk alasan inilah, pola hidup sehat ala Food Combining langsung menancap di hati .

***

Konon, harga kedelai kembali berguncang di negeri penghasil tempe di tengah khatulistiwa sana . Mudah-mudahan tidak kisruh tempe lagi ya kayak setahun kemarin (lupa-lupa ingat kapannya). Saat masih di Jeddah, harga tempe sempat bergejolak di Indonesia dan mendadak langka di beberapa tempat.

Lucunya, emak-emak di Jeddah sempat panik. Eeehhh, pas ke Singaparna, tumpukan tempe tetap berjajar rapi di rak belakang. Harganya tidak berubah sama sekali, 3-4 riyal saja per potong. Aih, apa kabar, Singaparna? .

Penghargaan yang model-model begini memang berat ya dilakukan saat kita masih berada di tanah air. “Ah, malang nian hidupku, tiap hari cuma makan tahu – tempe.” Hehehe.

Sementara, di beberapa belahan dunia, ada ibu-ibu yang sibuk mencari-cari alasan biar bisa jalan-jalan ke ibukota hanya untuk sekadar mendapatkan satu bungkus tempe. Untuk beli tempe harus berkorban waktu, uang, tenaga yang tidak sedikit.

Biasanya, untuk mengakali menu yang karbo+protein yang dulunya tidak pernah pusing dengan kehadiran rutin si tahu-tempe, saya coba ganti dengan terong balado. Olala, terong termasuk sayuran mewah di sindang. Sudah sering banget saya melanggar pola makan FC karena beradaptasi dengan situasi baru ini hiks. Padahal sudah 6 bulan ya, Kakaaaaaa .

***

Tempe, makanan sederhana yang bahan utamanya adalah kedelai putih dan ragi saja. Bentuknya lunak harganya tidak mahal.

Dulu sih mana kepikiran mau bikin tempe sendiri. Di tukang sayur tiap hari pasti ada. Harganya murah pula. Kalau beli tahu tempe di ‘Mas Gondrong’ (tukang sayur langganan di kompleks), kadang-kadang mbak-mbak asisten rumah tangga para tetangga iseng menggoda, “Ibu Jihan lagi ngirit, nih.” Hihihi.

Salah satu resolusi mudik kami nanti adalah… “mendapatkan ragi tempe dan membawanya terbang dalam koper.” Hahahaha.

Sungguh tidak percaya, di negeri asalnya, tempe bisa juga bisa bergoncang. Negara agraris dan maritim sekaligus harus menggantungkan kehidupan pertaniannya pada bangsa asing. Mimpi buruk macam apa ini.

Tapi, urusan tempe cukup sampai perut saja. Jangan dipakai untuk meratapi hal lain-lain.

Urusan mental tidak boleh ditawar-tawar. Tidak bisa makan tempe? Jangan cengeng. Belajar masak jamur! Hihihihihihi.

Seperti pesan Bung Karno, “Kita penghasil tempe tapi bukan bangsa bermental tempe!!!!”

Bung Karno

***

12 thoughts on “(Bukan) Bangsa Tempe!

  1. Mbaaaakkk… aku jg pecinta pecel dan tempe! Duh, nggak bisa deh, hidup tanpa tempe….
    Err… bawa ragi ke luarnegeri, ya..? Oh baiklaaaahhh.. aku menunggu report bikin tempe ala Jihan… 😆

  2. Tempe :
    digoreng … sambal… nasi panas… muaaaaaachhhhhhhh
    dioseng dengan kacang panjang dan toge… wuhhhhhhhh
    dikasih santan… (terik namanya kalo di semarang) … mmmmmhhhhh…
    direbus gitu aja dengan gula, asem, garam, udang,… + sambal… yeeeeaaaa…

    #cintamatidah

  3. Mbak..aku juga sering bikin tempe….bawa ragi dr Indo (tp ragi tempe itu cpt kadaluarsa, sekitar 6bln), jd klo bw jgn banyak….satu bungkus ragi aja bs buat berkilo2 kedelai….he…he…klo buat konsumsi sendiri bs berbulan2 nggak habis, itu pun dlm sebln bs makan tempe sepuasnya. dh keburu expired aja raginya 🙂
    Tahu bikin sendiri aja mbak….sangat mudah sekali, bs makan sepuasnya….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *