ASEAN, “Strength lies in differences”

Siapa yang mengenal nama Onassis? Aristotle Onassis, raja kapal berlimpah harta asal Yunani. Onassis juga terkenal karena berhasil mempersunting janda Kennedy sebagai istri ke-2nya, Jacqueline Kennedy Onassis.

Di awal 70-an, Onassis meninggal dunia dan mewariskan harta kepada salah seorang anak perempuannya, Christina Onassis. Christina sendiri meninggal dunia di usia muda, belum genap 40 tahun. Kepergian Christina membuat satu-satunya anak perempuannya, Athina, yang kala itu belum genap 4 tahun mewarisi harta peninggalan kakek dan ibunya. Athina Onassis digelari bocah terkaya kala itu. Kecil-kecil cabe rawit :D.

onassis

“Kecil-kecil cabe rawit” juga bisa kita sematkan pada salah satu anggota negara ASEAN satu ini, Brunei Darussalam. Walau wilayahnya masih lebih luas daripada Singapura, penduduknya hanya sekitar 400-500 ribu jiwa. Pendapatan perkapitanya no.2 di ASEAN dan di berbagai parameter perekonomian, pendapatan perkapitanya sering masuk jajaran 10 besar dunia.

Bulan april 2013, Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN kembali digelar. Kali ini, ajang tahunan yang mempertemukan pemimpin-pemimpin negara ASEAN tersebut digelar di Brunei Darussalam, negeri mungil nan sepi namun tajir :D.

brunei

KTT ASEAN ke-22 di Brunei : Maksimalkan Persatuan, Minimalkan Permasalahan

Pembahasan utamanya mencakup beberapa hal. Topiknya tidak jauh-jauh dari 3 pilar, Keamanan-Ekonomi-Sosial Budaya, yang ingin dikolaborasikan bersama antar sesama anggota ASEAN dalam rangka terbentuknya Komunitas ASEAN 2015.

Dari tautan mengenai jalannya konferensi tersebut, kerjasama dalam bidang ekonomi dianggap yang memiliki tingkat kesulitan terkecil. Kinerja pengerjaan cetak biru dari berbagai kebijakan ekonomi telah mencapai hampir 80%. Termasuk diantaranya kebijakan pengurangan hampir 100% pajak impor di Vietnam, Myanmar, Laos dan Kamboja. Juga penghapusan pajak impor hampir 100% di negara-negara sisanya.

Walau dari kesejahteraan ekonomi secara umum, ada jurang menganga cukup lebar diantara negara-negara anggotanya, urusan ekonomi bisa dibilang … masih dalam batas aman terkendali :D.

Soal keamanan yang bikin deg-degan. Terutama perselisihan tentang Laut Cina Selatan yang melibatkan Malaysia, Brunei, Vietnam dan Filipina vs non ASEAN (Cina dan Taiwan). Masalah ini dianggap besar dan terus digenjot upaya perundingannya dalam ruang lingkup ASEAN sendiri. Minimal mengupayakan agar sesama anggota ASEAN tidak saling ‘memakan’.

Tiga Pilar Untuk ‘Rumah yang Kokoh’

Bangunan yang bagus dan kokoh tercipta dari bahan-bahan pilihan. Batu batanya mesti yang kuat. Semennya enggak boleh yang murahan. Pondasinya apalagi. Atapnya juga harus tahan hujan dan enggak gampang diterbangin angin. Pintu-pintu dan jendela-jendela dibuat dengan seksama agar ventilasi udara nyaman bagi seluruh penghuni rumah.

Tujuan dibangunnya sebuah gedung kan beda-beda. Ada yang akan berfungsi sebagai mal, sebagai kantor, sebagai rumah sakit dsb. Maka, semua ruangan dalam bangunan harus sinkron dengan tujuan pembangunan.

Gambar : vimeo.com

Gambar : vimeo.com

Tak beda dengan proses penciptaan sebuah komunitas yang baik. Keberhasilan Komunitas ASEAN 2015 meraih tujuannya sangat bergantung kepada keberhasilan masing-masing anggota. Baik Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapura, Filipina, Brunei,  Kamboja, Vietnam, Laos dan Myanmar adalah bahan-bahan baku utama dalam pembangunan Komunitas ASEAN 2015. Kesepuluh negara-negara ini adalah batu bata, semen, atap dll, bagi “Rumah ASEAN.”

“Rumah” ini sudah ditujukan untuk melindungi ketiga pilar Keamanan-Ekonomi-Sosial Budaya untuk seluruh negara-negara ASEAN. Dimana kita bersatu untuk tujuan yang sama, saling berkerja sama secara optimal untuk membentuk satu ‘kekuatan baru’ dengan memajukan kawasan ASEAN di mata dunia.

Asia Tenggara merupakan kawasan yang sangat diuntungkan oleh letaknya yang strategis. Posisinya di persimpangan antara konsentrasi industri, teknologi dan kekuatan militer di Asia Timur laut ke utara, sub-kontinental dan sumber-sumber minyak di Timur Tengah ke Timur, dan Australia ke selatan.

Secara ekonomi Asia Tenggara merupakan bagian perdagangan dengan volume yang tinggi dari negara Jepang, Korea, Taiwan, dan Australia. Belum lagi jumlah penduduknya yang luar biasa, kerap dijadikan ‘pasar potensial’ bagi perdagangan internasional.

Sudah saatnya ASEAN jadi pemain utama. Bukan hanya obyek, bukan sebatas konsumen potensial. Sesama ASEAN, saling berbagilah. Singapura-Brunei-Malaysia yang memiliki kekuatan ekonomi yang kuat bisa menularkan keberhasilan yang sama bagi anggota lainnya.

Semangat dan kesadaran sebagai wilayah satu rumpun bisa memupuskan rasa ego dari kepemilikan ragam budaya di seputar ASEAN. Ide “Taman Mini Indonesia Indah” itu mungkin bisa diterapkan dalam Sosial-Budaya ASEAN. Daripada saling klaim, mending kita buat sebuah “Taman Budaya ASEAN.”

Masing-masing negara silakan bernarsis-narsis ria di sana, pamerkan semua kebudayaan yang kita punya. Gali keunikan masing-masing. Lantas kita buka untuk khalayak internasional. Pukau Uni Eropa, Amerika, Australia, bahkan sesama Asia dengan kekayaan kultural ASEAN :).

Daripada rebutan wilayah perbatasan, energinya dipakai untuk mengoptimalkan jalur perdagangan saja. Asalkan kita ingat, KESATUAN TUJUAN, harusnya tak masalah daerah mana punya siapa, asal sesama ASEAN :).

Untuk pertikaian dengan pihak di luar ASEAN, kita tetap harus tegas tapi jangan cari musuh. Dengan Cina misalnya. Ngapain, sih, berantem? Mending kerja sama.

Penduduk Cina itu di atas 1 milyar jumlahnya. Bayangkan bila barang-barang dari ASEAN bisa berjaya di sana ^_^. Tukar-tukaran barang ceritanya sama Cina hehehe.

Kata orang bijak, “Satu musuh terlalu banyak, satu juta teman takkan pernah cukup” ^_^.

Gambar : thaiembassy.org / worldfair.co.th / asean-community.au.edu

Gambar : thaiembassy.org / worldfair.co.th / asean-community.au.edu

 

Menyatukan Rakyat, Menciptakan Masa Depan yang Sama

Anggaplah semua negara-negara ASEAN tengah berlari. Pastikan kita berada di lintasan yang sama, menuju garis finish yang sama. Kalau larinya sendiri-sendiri, lintasannya beda pula, manalagi garis finishnya tidak sama, mempersatukannya bagaimana?

Itulah gunanya berbagi kekuatan. Larinya sambil berpegangan, agar tidak ada ngacir duluan, tidak ada pula yang ketinggalan sampai terlalu jauh. Sambil berlari, saling menyemangati …

“Indonesia, ayooooooo.. Singapura, terus semangat…Myanmar, mana suaranya?”

Yuhuuu Thailand, are you still thereHold on, Laos! Kami bersamamu, Filipina.”

“Malaysia, go, go, go! Faster, Brunei, faster! Maju terus Vietnam. Kamboja, yes, yes, yes!”

Perhatikan pertandingan sepak bola. Kalau pertandingan di kandang sendiri, pemain biasanya punya semangat lebih. Salah satunya ya karena dukungan pendukung yang lebih heboh ketimbang di kandang lawan.

Lintasan sudah sama, larinya bareng menuju garis finish dimana masa depan cerah menanti kita semua :). Karena berpegangan, menyentuh garis finishnya pun sama-sama. Amin.

gambar : dreamstime.com

gambar : dreamstime.com

Komunitas ASEAN Blogger, Salah Satu Ujung Tombak Informasi

Nah, bagaimana caranya agar semua masyarakat di masing-masing negara memiliki persepsi yang sama ini? Larinya harus di lintasan yang mana? Garis finishnya di mana? Pegangan tangannya sama siapa saja?

Penyebaran informasi adalah hal mutlak. Di era digital, masa mau mengandalkan media cetak resmi saja? Diberdayakan, dong, jurnalis warganya. Salah satu tujuan dibentuknya Komunitas ASEAN Blogger ya bukan cuma untuk berburu hadiah di lomba-lomba blog, kan? *ups* hahaha.

Sebarkan cita-cita Komunitas ASEAN 2015. Blogger itu kan terjadi dari banyak kalangan. Ada kalangan profesional, kalangan emak-emak hehehe, sampai alay juga ada. Kita coba untuk mengabarkan dengan cara kita masing-masing. Kita satukan masyarakat ASEAN, beritakan tujuan dan langkah-langkah positif yang bisa kita tempuh untuk pencapaian masa depan yang lebih baik untuk kita semua.

***

Walau tujuan sama, tidak berarti kita harus melebur menjadi karakteristik yang sama. Singapura harus jadi negara agraris. Thailand harus memiliki komunitas muslim yang besar. Pokoknya Filipina harus punya sumber daya minyak sebanyak Brunei. 

Kekuatan justru datang dari perbedaan yang dimanfaatkan untuk tujuan yang sama dan seimbang. Karena sejatinya,

“Strength lies in differences, not in similarities”  ― Stephen R. Covey

 

Jangan lupa… ASEAN is not only in my hand, nor in your hand, but… “ASEAN in OUR hands.”

Dear Bloggers, manfaatkan jari-jarinya sepositif mungkin ya, Kakaaaaa :P.

123rf.com

123rf.com

***

8 thoughts on “ASEAN, “Strength lies in differences”

  1. hahahahaha aseeek, ini ada fakta berbau ocip ocipnya dikit di opening hahahaha *langsung peka kalo sama ocip* .Itu gambarnya bisa ajeeeee ngambil yang three pigs build a house. Thankius Jihaaan, postingannya bikin aware sama ASEAN beginih

      • mana linknya jeng…
        trus ngapain aja?
        wisata? he he.. kebetulan aku kerja di pariwisata n perhotelan di salah satu kota…

        🙂 pengen tahu banget nih ceritanya..

        • Di aseanblogger.com, ya. Nah, nanti katanya ada #10daysWonderfulIndonesia :D. Ikutan yaaaa, kalau ada pengumuman, kuposting deh di blog ini 😉

  2. nicely written mbaaa…salam kenal plus plus yaaaa….ASEAN memang lagi ‘lucu-lucunya’..kalau tidak baik-baik dihandle, kita bisa kehilangan momentum..kami juga sedang getol raising awareness…terima kasih banyak dibantu :D>..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *