Vietnam, What Doesn’t Kill It Makes It Stronger!

Di bulan Agustus tahun 1945, dua buah bom atom mengukir sejarah besar dengan meluluhlantakkan Nagasaki dan Hiroshima. Hantaman bagi kedua kota di Jepang ini menjadi musibah sekaligus anugerah.

Musibahnya jangan ditanya. Lebih dari 200 ribu nyawa melayang, dan sangat banyak korban hidup yang menderita luka dan cacat akibat pengaruh radiasi. Seumur hidupnya, Truman, presiden Amerika Serikat selalu pelaku pengeboman tersebut kala itu, mungkin tak akan pernah hidup tenang.

Tapi, dunia pun mencatat peristiwa mengenaskan tersebut sekaligus mengakhiri Perang Dunia ke-2. Segera setelah peristiwa tersebut, Jepang menyerah. Salah satu negara yang terkena imbas positif adalah Indonesia. Yang meraih kemerdekaannya di bulan dan tahun yang sama setelah kedua ledakan bom tersebut mengguncang dunia. Kedua hal ini akan terus menjadi perdebatan moral yang tak akan ada habisnya.

Siapa menyangka, derita perang tersebut nyaris tak berbekas lagi di Negeri Sakura ini. Jepang malah bangkit dan merebut tahta sebagai salah satu raksasa perekonomian dunia. Siapa menduga, dalam waktu singkat mereka sukses menanggalkan pakaian penderitaan dan menggantinya dengan jubah kemenangan. Luar biasa.

Kalau Dunia memuja Jepang, ASEAN punya Vietnam ;).

vietnam

Vietnam … Terus Berlari, Makin Bersinar

Berdasarkan sontekan dari ‘Paman Wikipedia’ :P, selama 8 tahun Vietnam menjadi korban perseteruan kubu komunis vs liberal. Vietnam Selatan yang didukung penuh oleh Amerika Serikat dan konco-konconya bertarung melawan saudara mereka sendiri di belahan Vietnam Utara yang digawangi oleh Uni Sovyet dan anggota gengnya.

Bertahun-tahun tersandera dalam perang, perekonomian menghadapi tantangan luar biasa ketika akhirnya gencatan senjata di tahun 1973 menyudahi perang berdarah tersebut. Mulailah Vietnam menata kembali masa depannya, mengumpulkan serpihan-serpihan harapan yang pecah berserakan kala perang melanda.

Istimewanya, lagi-lagi dapat bocoran dari Wikipedia :D, Vietnam mengadopsi pembangunan terencana ala Orde Baru, Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita). Waduh, malah lebih sukses yang meniru daripada yang ditiru. Hehehe.

Pendapatan Vietnam secara nasional terus melejit. Bahkan menjadikannya sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat ke-2 di dunia! Tingkat kemiskinan di negara yang dijuluki “Vietnam Rose” ini menurun secara drastis dan kini lebih sedikit daripada Cina, India dan Filipina. Lebih lanjut silakan dicek di link bocoran dari wikipedia tadi, ya ;).

Tidak hanya sukses menjadi eksportir beras nomor 2 setelah Thailand, Vietnam pun menduduki nomor 2 dalam urusan jual menjual kopi. Apa kabar Indonesia? :(.

Padahal beras dan kopi ini merupakan salah satu produk andalan Indonesia. Karena tema #day5 dari #10daysForASEAN adalah komoditi kopi, maka kita tinggalkan beras sejenak :D.

Vietnamese Coffee (gambar : hungryhuy.com)

Vietnamese Coffee (gambar : hungryhuy.com)

Kopi, Si Hitam Manis dari Alam Tropis

Saya enggak usah berceramah soal jenis-jenis kopi di sini, ya. Tapi jenis-jenis kopi tersebut bisa diintip di tautan berikut ini :). Kopi termasuk tanaman khas yang tumbuh subur di negeri-negeri tropis. Tidak heran jika ketiga negara penghasil kopi terbesar di dunia adalah : Brazil, Vietnam dan Indonesia. Semuanya dikenal sebagai negara dengan curah matahari yang tinggi di hampir sepanjang tahun.

Agak unik juga fakta bahwa Vietnam sanggup menghasilkan kopi yang lebih banyak daripada Indonesia. Luas wilayah Vietnam sendiri hanya sekitar 331 ribu km persegi. Bandingkan dengan Indonesia yang memiliki luas daratan sekitar 1.9 juta km persegi.

Kopi Indonesia

Kopi Indonesia

Kuantitas memang tidak berpengaruh banyak jika tak ditunjang oleh kualitas dan perhatian secara berkesinambungan. Sebelum buru-buru ‘nyinyir’in pemerintah , kita harus memahami dulu betapa kompleksnya negeri kita dibanding Vietnam ini.

Vietnam sendiri memang sangat fokus kepada sumber daya alam kopinya. Sementara Indonesia, selain kopi, juga punya banyak sumber daya alam lain yang sangat potensial. Rempah-rempah misalnya. Walau jenis kopi di Indonesia itu sangat beragam dan tumbuh subur di hampir seluruh wilayah nusantara, perhatian pemerintah masih terpecah-pecah.

Coba lihat kasus dalam tautan berikut ini.

“SEBANYAK 130 kontainer ekspor kopi Lampung baru-baru ini ditolak dengan alasan kandungan residu pestisidanya melampaui ambang yang ditoleransi negara tujuan!” ujar Umar. “Terkait pengalaman itu, Wakil Gubernur Lampung Joko Umar Said menyatakan Pemprov akan berusaha meningkatkan mutu kopi Lampung melalui sertifikasi kopi untuk ekspor. Dengan sertifikasi yang diatur Pergub itu, pelaku usaha memiliki posisi tawar lebih baik dalam negosiasi!”


Kejadiannya bukan beberapa tahun lalu. Tapi kalau melihat tanggal di beritanya, ini peristiwa di bulan Mei tahun ini. Pantas saja dianggap sebagai sesuatu yang ‘memalukan’. Masa iya, komoditas sebesar dan setenar kopi untuk Indonesia belum dibuatkan “Pergub Sertifikasi Kopi”-nya? :(. Mudah-mudahan sekarang sudah ada, ya.

Kontras dengan Vietnam yang sangat fokus dalam hal pertaniannya. Selain reformasi kepemilikan tanah, kerjasama optimal dengan pihak swasta, infrastruktur transportasi juga digenjot habis-habisan. 

Selain luasnya wilayah dan geografis yang terdiri dari wilayah kepulauan, masalah infrastruktur transportasi juga ikut menyumbang rumitnya masalah peningkatan kualitas dan kuantitas hasil pangan nusantara secara umum.

Saya punya pengalaman soal dampak infrastruktur transportasi ini. Dulu, saya bekerja sebagai IT-Business Analyst di salah satu consumer goods di tanah air. Pekerjaan saya berada di area Supply Chain – Distribusi.

Dalam beberapa rapat, saya melihat betapa rumitnya perdebatan antara manajer sales dan manajer distribusi-supply chain dalam usaha menekan biaya pengiriman barang dari Jawa ke luar Jawa. Apalagi ke wilayah Indonesia Timur. Selain masalah biaya, masalah keamanan dan durasi waktu juga cukup merepotkan. Terlebih lagi untuk produk-produk makanan yang memiliki waktu habis masa konsumsi (expired date) yang singkat.

Jadi jelas, ini pekerjaan besar buat pemerintah kita, ya. Kopi dan komoditas unggulan lainnya juga  bergantung pada faktor-faktor lain seperti misalnya transportasi. Pemerataan pembangunan di semua wilayah Republik Indonesia menjadi salah satu harga mati demi meraih kesuksesan untuk ikut berperan utuh dalam  Komunitas ASEAN 2015

Bersatu Kita Oke, Bercerai Kita Keo(k)

Vietnam vs Indonesia? Aduh, jangan sampai, ya!

Mempertentangkan potensi kopi masing-masing akan berbanding terbalik dengan tujuan utama dibentuknya Komunitas ASEAN 2015. Justru, kita ingin seluruh negara-negara yang bernaung di bawah bendera ASEAN melejit bersama dalam kerja sama di bidang Keamanan-Ekonomi-Sosial Budaya.

Dengan resesi yang tengah melanda negara-negara maju / negara barat, nilai jual kopi terus mengalami gonjang-ganjing. Daripada saling rebutan pasar ekspor yang tengah meredup, bagaimana kalau Vietnam dan Indonesia duduk bersama mencari celah untuk memasarkan kopi masing-masing? Bikin terobosan baru kek, misalnya mengolah kopi menjadi makanan ringan lain selain hanya diseduh menjadi minuman ;).

Vietnam dan Indonesia bisa menyatukan para ahli perkopian di negara masing-masing untuk membuat laboratorium bersama. Saling menyatukan ide untuk menciptakan varian-varian baru dari pemanfaatan kopi ini. Biaya lebih  murah juga kan kalau ditanggung bersama? Katanya lagi, beberapa kepala lebih baik daripada satu kepala ;).

Brainstorming (123rf.com)

Brainstorming (123rf.com)

Justru Vietnam dan Indonesia harus bersatu mengalahkan Brasil. Sudah cukuplah negara latin satu ini berjaya di sepak bola dunia :P. Urusan kopi, yuk kita robohkan hegemoni Brasil bersama-sama ^_^. 

Dengan menyatukan misi, yaitu menjadikan ASEAN sebagai negara-negara penghasil kopi terbesar di dunia, kita juga bisa menggandeng dukungan dari negara ASEAN selain Indonesia dan Vietnam. Misalnya dengan ‘memaksa’ sesama anggota ASEAN agar tidak mengimpor kopi dari negara mana pun kecuali sesama ASEAN sendiri. 

What Doesn’t Kill Us Makes Us Stronger 🙂

Selain berusaha mencuri urusan produksi kopi, kita pun bisa belajar dari kebangkitan Vietnam dalam urusan perekonomian. Akhir-akhir ini, masalah demi masalah terus melanda negeri kita tercinta.

Didera masalah korupsi, rupa-rupa kegalauan di urusan politik, jangan sampai menyurutkan semangat untuk maju. Berhenti dong menyebarkan hal-hal negatif tentang negara sendiri :(.

Ingat, siapa yang bisa menebak nasib Vietnam di awal tahun 70 an silam? Vietnam, yang terkenal di berbagai film perang buatan Hollywood ini, kini terus melupakan masa lalunya dan bangkit secara mengejutkan.

Sesuai kata pepatah, “Everybody wants happiness. Noone wants pain. But you can’t have a rainbow without a little rain.” Untuk menikmati cantiknya pelangi, kita harus berpayah-payah dulu bertahan dalam hempasan air hujan.

Semoga masalah-masalah yang sepertinya telah siap menelan bulat-bulat negara kita yang pernah digelari “Macan Asia” ini adalah sebuah cobaan kecil saja untuk meraih kesejahteraan yang jauh lebih baik.

What doesn’t kill us can only make us stronger. We’re not dying, we’re just fighting to be the best. Aren’t we? ;). 

Tagline

***

5 thoughts on “Vietnam, What Doesn’t Kill It Makes It Stronger!

  1. Selalu ada unsur sejarah ya dalam tulisan Mak Jihan, dulu nilai sejarah dapet berapa? hihihi . Btw itu tagline Indonesia dibawa lagi, jangan-jangan bakal ngantiin Wonderful Indonesia, hahaha

    • Males bikin gambar baru hihihihi. Pokoknya kalau nyebut-nyebut Indonesia, gambar itu bakal dipajang terus deh 😛

  2. Iya dulu padahal ngebayangin Vietnam cuma ngebayangin perang *kebanyakan nnton pelem Hollywood*, sekarang udah jadi tujuan wisata.
    Btw aku setuju soal kopi tuh, meski gak peminujm kopi kalo baca-baca mengenai kopi Indonesia yang katanya rasanya maknyoss bagi para pecinta kopi, kok ya sedih kalo nggak bisa menguasai dunia gegara hal yang seharusnya mendasar buat marketing

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *