“Indonesia, In The Name of Asia.”

viuzza.net

viuzza.net

Pernah melihat penampakan orang-orang Aborigin, suku asli yang mendiami daratan Australia sebelum diramaikan dan dikuasai oleh para pendatang? Berkulit gelap, berambut keriting, dengan cara berpakaian adatnya yang khas yang langsung mengingatkan kita pada … suku-suku asli yang mendiami Papua, wilayah paling timur nusantara.

Tak cuma itu, familiar tidak dengan kata “walabi“? Walabi itu mirip sekali dengan hewan khas Australia, kangguru. Nah, walabi ini bisa ditemukan di beberapa wilayah Papua, lho. Bergerak dengan cara melompat-lompat, walabi juga memiliki kantung di bagian perutnya. Hanya saja, walabi berukuran lebih kecil daripada kangguru.

Perpaduan Asia dan Australia, ‘Hati’ Indonesia Milik Asia Sepenuhnya 

Secara geografis dan sisa-sisa budaya yang masih menghiasi beberapa wilayah Indonesia, wilayah nusantara memang tidak sepenuhnya melekat pada Asia. Sebagian wilayah timur lebih condong kepada Australia.

Tapi jangan lupa satu fakta penting. Kini, suku aborigin dan berbagai macam budaya yang pernah mereka emban sudah nyaris menjadi masa lalu. Mayoritas warga “Negeri Kangguru” tersebut adalah warga kulit putih dengan perawakan yang sangat mirip dengan orang-orang Eropa.

Dari segi ekonomi pun, Australia telah jauh melambung tinggi meninggalkan sebagian besar negara Asia yang masih berkategori “negara berkembang.” Dengan pendapatan perkapita yang konon hampir mencapai 50 ribu USD di tahun 2009, Australia sangat layak bergelar “negara maju.” Aduh, pendapatan perkapita Indonesia sendiri sepersepuluhnya saja belum ada.

Benua Asia sendiri merupakan benua terpadat. Menurut link wikipedia di sini, Asia sudah menampung 60% dari keseluruhan penduduk dunia. Wow! Ditambah dengan bukti bahwa diantara 10 negara berpenduduk terbanyak di dunia, 6 diantaranya adalah negara-negara Asia (berturut-turut, Cina-India-Indonesia-Pakistan-Bangladesh-Jepang). Rengking 1 dan 2 nya diserobot oleh Cina dan India sekaligus :D. 

Rupa-rupa wajah Asia (gambar : 123rf.com)

Rupa-rupa wajah Asia (gambar : 123rf.com)

Asia pun dikenal dengan keragaman budayanya. Wilayah Asia Timur Jauh yang didominasi Jepang, Korea, Cina dll, menawarkan serba serbi budaya oriental. Di Timur Tengah, budaya Arab mendominasi. Sementara di selatan ada India yang dikenal sebagai salah satu pusat peradaban tertua di dunia. Di tenggara sendiri ya ada…ASEAN :).

Sejalan dengan ragam budaya, wisata kuliner dan bentang alam di Asia pun tidak kalah rupa-rupanya. Yang pedas-pedas, yang asin-asin, yang asem-asem, yang manis-manis, semuanya ada. Salah satu makanan andalah yang khas adalah NASI. Mulai dari Jepang, Arab, India sampai Malaysia, siapa yang tidak menjadikan nasi sebagai menu utama? Indonesia banget ini mah :P. Hihihi.

Rupa-rupa makanan Asia (gambar : rf123.com)

Rupa-rupa makanan Asia (gambar : rf123.com)

Makanya, Indonesia lebih ‘nyaman’ berada dalam kehangatan Asia :). Inilah keunikan Indonesia yang harusnya kita garisbawahi. Bahwa sekalipun, tidak menyangkal rumpun kita yang sama-sama dari ras Asia, perpaduan antara kentalnya Asia di wilayah barat dan wajah Australia di Timur membuat kekayaan khasanah budaya Indonesia jauh melampaui negeri-negeri tetangga yang lain. Sudah saya jelaskan panjang lebar mengenai hal ini di tulisan #day2 kemarin, ya ;).

“In The Name of Asia”

Kalau mencari arti kata Asia sendiri, macam-macam jawabannya. Istimewanya, arti yang melekat pada kata Asia, selalu bisa dipadankan dengan kondisi Indonesia :).

Dari bahasa Yunani, katanya Asia bisa berarti “sunrise“. Lho? “Negeri Matahari Terbit” itu kan jatahnya Jepang, kan?

Hm…sebenarnya dalam urusan sinar matahari, Indonesia termasuk negara yang kaya limpahan sinar matahari. Di hampir sepanjang tahun, sinar matahari selalu setia menaungi Indonesia pada durasi yang nyaris tak berubah. Mau musim hujan,  musim kemarau, musim durian, musim diskon,  musim kawin :P, matahari selalu bersinar rata-rata dari pukul 6 pagi hingga 6 sore. Enaknya, tidak pusing mengganti-ganti kostum di setiap perubahan musim yang harus dialami oleh sebagian negara lain.

Terletak di jantung khatulistiwa, Indonesia termasuk negara yang beruntung dari segi cuaca. Kalau ingin merasakan pentingnya kehangatan matahari, tinggallah di kawasan Eropa, apalagi bagian utara. Dimana sinar matahari adalah hal yang cukup langka di hampir sepanjang tahun. Makanya, kurangilah keluhan, “Ah, Indonesia panas.”

Cuaca tropis memungkinkan banyak flora maupun fauna yang menghiasi berbagai wilayah di nusantara. Mau hewan khas Asia atau pun Australia, hidup rukun dan damai di atas tanah nusantara :).

Asia, masih berkaitan dengan Yunani, konon dalam mitologi Negeri Dewa Dewi disebutkan bahwa Asia adalah salah satu nama dari para Nereids. Nereids sendiri artinya roh perempuan yang ada di perairan laut. Laut? Iya, dong, perairan laut sangat identik dengan Indonesia.

maritim Indonesia

Ketiga negara kepulauan yang cukup besar di dunia ada di Asia. Selain Indonesia, ada Jepang dan Filipina yang memilki kondisi geografis kepulauan yang mirip. Tapi, Indonesia yang paling besar dengan gugusan pulau yang jauh lebih banyak sekaligus memiliki garis pantai terpanjang. Luas perairan Indonesia adalah yang terbesar di dunia. Tak salah bila Indonesia sering menyebut-nyebut dirinya sebagai Negara Maritim.

Dari sub judul pertama mengenai “hati” Indonesia yang lebih dominan pada Asia terlihat jelas bukan bahwa Indonesia adalah cerminan Asia dalam ruang lingkup lebih kecil. Semboyan “Bhinneka Tunggal  Ika” berbeda-beda tapi satu sejalan dengan keragaman dari benua Asia itu sendiri. “Hati” nusantara yang condong ke Asia karena  ragam budaya Asia yang saya sebutkan di sub judul pertama terpampang jelas di Indonesia.

Rupa-rupa wajah Indonesia (gambar : 123rf.com)

Rupa-rupa wajah Indonesia (gambar : 123rf.com)

Malaysia menyebutkan dirinya sebagai “Truly Asia” karena di sana memang ada perpaduan 3 budaya utama khas Asia, Oriental (cina) – Hindi (India) – Melayu (ASEAN). Tapi, Indonesia lebih luas lagi. We are more than Asia itself 😉. Kita punya khasanah khas bagian Timur yang sekilas terpisah dari akar Asianya. Namun, sekaligus membuktikan akar yang ini mampu melebur menjadi satu dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Keragaman ala benua Asia, perairan luas berdasar definisi Asia dalam mitologi Yunani, iklim yang berlimpah cahaya matahari berdasar definisi bahasa Yunani, membuat Indonesia lebih dari layak menyandang slogan, “In The Name of Asia.”

Brand atau slogan yang baik juga seharusnya mudah diingat dan memiliki kemiripan dengan nama produknya. Seperti kata-kata dalam pantun, ada rima-nya. Seperti Malay-sia yang sukses dengan “Truly-Asia” nya, Indonesia cukup tepat disandingkan dengan, “In the Name of Asia.”

“In-do-ne-sia … In-the-name-of Asia” ;).

Dengan Rupa-rupa Kekayaan Nusantara, Tak Ada Kata Terlambat

Sekitar dua tahun lagi, Komunitas ASEAN 2015 akan resmi terbentuk. Malaysia dengan “Malaysia Truly Asia”nya sudah menancapkan pesona wisatanya dengan sangat serius di berbagai belahan dunia.

“Malaysia is a very great country.” Sapa seorang warga asli Iran dengan sangat ramah saat kami menaiki lift yang sama, kala itu kala saya dan keluarga bermukim di kota Tehran.

“No, I’m not malaysian. I’m Indonesian,” jawab saya dengan senyuman.

Dia mengerutkan keningnya sebentar lalu segera berujar, “Aha, Indonezi. Tsunami?”

Ya ampun, yang dia ingat tentang Indonesia adalah peristiwa Tsunami yang memang sempat membuat nusantara memenuhi layar-layar kaca di seluruh dunia di penghujung tahun 2004. Sedih sekali, bukan?

Di Timur Tengah, nama Malaysia memang bergema lebih nyaring. Walau semasa tinggal di Saudi, banyak juga orang Arab yang memuji-muji cantiknya Indonesia. Ingat, tak pernah ada kata terlambat bagi siapa pun yang ingin berubah ke arah lebih baik :).

Bayangkan, bila diolah dengan optimal, seberapa kayanya negeri kita tercinta ini? Di darat kaya rempah-rempah dan padi-padian, di hutan ada karet dan aneka raga flora dan fauna, perairan nan luas pun mempersembahkan aneka rupa hasil laut. Tak cuma itu, terumbu-terumbu karang nan cantik bisa dimanfaatkan sebagai obyek wisata utama.

terumbu karang

Sudahlah, daripada ngambek, mari kita ikuti langkah-langkah nyata pemerintah di negeri-negeri tetangga kita (termasuk Malaysia dan Thailand) yang sukses melejitkan wisata negaranya di mata dunia. Itu kan salah satu sisi positif bergabungnya negara-negara ASEAN dalam Komunitas ASEAN 2015? :). Agar kita bisa saling berbagi hal yang indah-indah. Tidak malah saling membully, adu keren-kerenan dsb. Masih ingat dengan semangat “Take The Hits” dong ;).

Mau Malaysia, Indonesia, Thailand, Filipina, dan lain-lainnya, intinya … ASEAN itu keren. Dengan membawa nama Indonesia terbang tinggi di khalayak internasional, dengan sendirinya kita membawa panji ASEAN di bahu masing-masing.

Memposisikan diri sebagai bagian dari komunitas ASEAN, dengan tidak melupakan identitas sebagai bagian dari wilayah Asia, mari sama-sama kita persembahkan … “Indonesia, In The Name of Asia.” Indonesia, untuk ASEAN, sebuah kebanggaan atas nama Asia.

Tagline

***

#10daysForASEAN  #day3

21 thoughts on ““Indonesia, In The Name of Asia.”

  1. Ah, kereeeen bangeeet ni tulisan! panggil pak menteri pariwisata! cepetan direalisasikan slogannya!!! haha. proud to be indonesian. sukseeeess mak jihan! *minta tandatangan sebelum terkenal* 😀

    • Terkenal apaaannn? ahahahahhaha. ASEAN nih yang diusahakan untuk terkenal :P. Yg dari Jepang kagak ikutan neh? Orang Jepang tuh yang seharusnya banyak-banyak ditenteng jalan-jalan ke Indonesia :D.

      • Aduh ga bisa konsisten nulis tiap hari. Berat dah tantangannya. Apalagi temanya jg beraaatt, hihihi. Saya jd tim hore aja deh. Oya, klo orang jepang ditanya Indonesia pasti dijawab, ooh Bali ya? Ingetnya Bali doang. Tp lumayan lah.

  2. Paling repot jadi orang Indonesia adalah setelah kejadian Bali bombing I dan II. Setiap ditanya orang (di luar negeri) dari mana, dan saya bilang dari Indonesia, pasti komentarnya selalu, ‘Oh, Bali bombing…” Kadang kalau yg tanya sensible, diikuti dengan “How’s Bali now?” Ya semoga saja kejadian macam itu tak terulang lagi ya?

    • Iyap. Enggak cuma bom bali, tsunami yang sudah 9 tahun lalu saja masih diingat-ingat oleh dunia huhuhu :(. Btw Mbak, kok dari fotonya rasanya pernah lihat, ya? Kayak artis gitu? hehehe :D. Terima kasih sudah mampir :).

  3. Wow, dapet banget poin yang ini: “Malaysia menyebutkan dirinya sebagai “Truly Asia” karena di sana memang ada perpaduan 3 budaya utama khas Asia, Oriental (cina) – Hindi (India) – Melayu (ASEAN). Tapi, Indonesia lebih luas lagi. We are more than Asia itself”

    Sukaaa sama tulisannya! Dari kemaren kubaca selalu mengena dan bikin semangat
    Good luck mbak Jihan. Ditunggu tema yang selanjutnya 😉

  4. Indonesia: in the name of Asia. Sukaaaa….!
    Btw, penasaran loh, mbak. Di malaysia sana, ada nggak ya iklan yg promosiin Indonesia? Jangan cuma truly malaysia aja dong yg wara wiri di TV kita, gituuu… 🙂
    *duduk manis nunggu postingan selanjutnya*

    • Kalau di tv-tv mereka kurang tahu nih hehehe. Tapi kalau orang malaysia sendiri secara umum demen kok sama Indonesia. Terutama urusan musik, sinetron dan barang-barang murah di Tenabang hahahaahhaha :D.

  5. Perasaan kemarin udah komen gak masuk ya. Aku sukaaa semua yg rhyming begini dan ini rhymingnya KEREEEN. Aaah, patenkan itu Jihan, sebelum ada pihak yang mengambil semena-mena. Kudoakaaaaaan kau harus jadi juaranya. I’ve read other contestant, too. Jadi pujianku agak valid lah ihihi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *