What If

Kebetulan, saya menikah dengan suami yang juga teman kuliah saat masih di bangku universitas. Kampus sama, fakultas sama. We both had a little story with someone else back then *uhukUhuk*.

Itulah mungkin salah satu enaknya menikah dengan sahabat sendiri. Karena di masa lalu punya lingkup pergaulan yang sama, kita suka bergosip tentang yang dulu-dulu.

“Eh, dulu si anu kan naksir si itu?”
“Masa, sih?”
“Iya, serius.”
“Oh, kalau soal X dulu putus asa Y tahu enggak karena apa?”
“Karena apa emang?”
“Jadi gini…”

Dan seterusnya, dan seterusnya … Tak cuma suka mengobrol soal politik, sejarah, soal anak-anak, soal duitΒ , pasangan Gober juga hobi bener bergosip hahahahhaha.

The Gober(s) :D -2007

The Gober(s) πŸ˜€ -2007

Gosip paling sensitif ya pasti tentang si ‘dia’ di masa lalu. Faktanya, sang mantan-mantan dengan pasangan masing-masing sekarang juga berada di daratan Eropa semua. What a coincidence πŸ˜›.

Sering, deh, ledek-ledekan dengan suami.

“Pengin jalan-jalan ke kota ABC, deh.”
“Cieeehhh, pengin ketemu itu kaleee…”
“Enak aje! Situ kali yang pengin ke negara XYZ.”

Tentang siapa mereka bukan inti tulisan ini, kok. Hahaha.

Saya barusan blogwalking ke tempat-tempat ‘langganan’Β . Ketemu satu postingan lama seorang teman dengan tajuk “The One That Got Away.” Memang, judulnya diambil dari salah satu lagu popular milik Katy Perry. Isi tulisannya sangat menarik.

***

Baiklah. Saya mengakui, selama ini saya selalu menganggap pasangan saya sekarang adalah sosok yang mendekati sempurna. Enggak cuma ganteng luar biasa *eaaahhh*. Selain juga seru diajak mengobrol soal apa saja, sudah gitu kalau mengobrol bisa bikin ngakak-ngakak, dese juga tajir booooo hahahahahaha *ngikikMatre*.

Akankah uang belanja mendapat kenaikan dengan adanya paragraf sarat pujian ini? Hahahhaha *colek orang ganteng*Β .

Tapiii…enggak bohong juga, kadang-kadang kalau lagi iseng pernah terbersit pikiran soal si dia dari masa lalu. Semacam rasa penasaran, “What if I have never let him go…”

Ternyata saya tidak sendiri. Teman itu juga sama. Seperti saya, dia sering juga penasaran, akan seperti apa ya kehidupan seandainya kita berjodoh dengan orang lain, si dia yang sebenarnya ‘hadir’ lebih dahulu.

Kisah kami lagi-lagi sama. Kalau teman saya tidak direstui oleh keluarga mantannya, saya diputusin sama si doi huhuhu. Setelah itu ada, sih, proses rekonsiliasi, tapi intinya tetap bubar. Aduh, sedihnya waktu itu.

Bertahun-tahun memendam rasa sakit hati. Saya kepoin habis-habisan. Waktu baru kenal google, entah berapa kali namanya saya ketikkan di kolom pencarian hahahaha. Sampai jomblo pula eike dalam tempo yang tidak sebentar.

Bukan apa-apa, si doi yang itu adalah pacar pertama yang sangat diharapkan menjadi yang terakhir. Macam pepatah terkenal dari roman-roman tempo dulu, “Engkau yang pertama sekaligus yang terakhir” *tsaaaahhh*.

Hingga akhirnya, saya menghadiri pesta resepsi pernikahannya. Dan sangat kaget ketika dia memperkenalkan saya kepada istrinya, “Ini lho yang namanya Jihan.” Buset, deh. Langsung tengsin. Kira-kira dia bilang apa ya tentang saya hihihihi.

Walau sekarang kehidupan kami masing-masing terbilang bahagia dengan pasangan masing-masing, suka tidak suka, what if-what if tadi sesekali datang menghampiri. Tak jarang, ketawa-ketawa sendiri membayangkan seperti apa kehidupan seandainya waktu bisa diputar mundur dan takdir berlaku sebaliknya.

Akankah lebih bahagia? Apakah lebih seru?

Tapi kenyataannya, siapa pun dari masa lalu, mau dia lebih baik atau tidak, pasti akan selalu menjadi “The One That Got Away” dan menyisakan rasa penasaran. Tak bisa dimungkiri bila sekali waktu sebagian dari kita berharap waktu bisa berputar kembali dan menengok seperti apa kehidupan kita seandainya saja, “He/She’s Not Going Away.”

Makanya, yang masih muda-muda, dengerin deh nasihat Ustaz Felix. Mending enggak usah pacaran. Agar selamanya, what if-what if ini tidak perlu datang menghampiri hehe.

***

Tapi jangan dikira dengan adanya ‘what if’ ini bahwa kita masih menyimpan rasa lho, yaΒ . For me, it’s totally different. Kalau ada yang bilang “First love never ends”, maka untuk hubungan antara perempuan dan laki-laki, saya menentang keras kalimat ini.

Orang sering salah mengartikan, nostalgia dengan istilah CLBK (cinta lama bersemi kembali). Walau beberapa waktu lalu, saya pernah ‘terjebak’ dalam kesalahpahaman seperti iniΒ . Harga yang harus dibayar tidak sedikit, tapi pelajaran yang bisa dipetik juga banyakΒ . Kapok deh ane.

Bahwa, siapa pun dari masa lalu akan selamanya menjadi bagian dari hidup kita memang tak terbantahkan. Kita tidak bisa meminta kepada Tuhan agar bagian kehidupan yang itu dihapuskan begitu saja. Tapi, tidak berarti posisi mereka akan selalu sama. Karena trust me ladies, “First love did end!”

Bahwa apa yang terjadi di masa sekarang bukanlah pengingkaran dari masa lalu. Dulu ya dulu. Sekarang ya sekarang. People do change, don’t they?

Bolehlah dulu si doi berjaya dan menghadirkan rasa kehilangan yang sangat besar ketika akhirnya dia memutuskan ‘pergi’. Tapi sekarang, walau kadang masih hadir dalam bentuk ‘what if’ tadi, “We’re so over them. Aren’t we?” πŸ˜‰.

Dari dulu saya hobi banget ber-diari ria sampai terus merembet ke blog yang tak pernah disangka akan menjadi konsumsi publik. Untunglah, sebelum blog se’ramai’ sekarang, saya sudah membenamkan semua catatan-catatan hati tempo dulu.

Tidak pakai ganti status postingan ke ‘private’, langsung saya hapus begitu saja. Karena, kalau sampai terbaca oleh orang yang tidak tepat, maknanya bisa diselewengkan hehehe.

I truly believe what I have now is beyond my imagination πŸ™‚. Dalam arti positif tentu saja. Walau ‘what if’ katanya tak terhindari, tapi masa lalu cukuplah menjadi masa lalu saja. Disimpan rapat-rapat dalam hati. Jangan terpancing dengan kasih tak sampai di masa lalu. La terus kenapa situ tulis di wall/blog segala? Hahahaha.

Agar menjadi pelajaran buat kita semua dong, ya. ‘What if’ tetap akan menjadi ‘what if’, tapi yakinlah, “Old love(s) do end!” πŸ™‚. Maybe we can not completely forget them, but we remember them in a very different way now.Β 

***

30 thoughts on “What If

  1. O.. jadi menikah sama sahabat sendiri… he he he… dan gitu pula rasanya..

    sekarang ini aku punya beberapa sahabat cowok dekat.. dan banyak orang bilang… “Lu nanti pada akhirnya pasti menikahi salah satu dari mereka deh… ”

    #ehm tulisannya bisa buat perkiraan nih… :p

  2. Dulu, dateng ke nikahannya mantan udah bareng suami belon, mbak? Canggung, ya? Hayooo, ngakuuu..! *senggol2 bahu*
    Aku kok jadi ngebayangin, itu si mantan sama estrinya berantem di malam pengantin, ya… *ngikik usil* πŸ˜†
    Ini baru saja kuinget2 nasihatnya Imam Al Ghozali, salah 1-nya, katanya yg paling jauh itu masa lalu. Mau kayak gimana canggihnya kendaraan yg kita pake, nggak mungkin deh kita bisa balik ke masa lalu. Jadi ini juga sebabnya dari sekarang kita musti bikin yg indah2 ya, biar di masa depan kita masih bisa menoleh dengan bangga ke masa lalu kita. Haha, mulai ketularan keren deh nih, kayaknya komen eike baca jurnalmu, mbak… :mrgreen:

    • Waduh, parah, Fit :D. Waktu itu eike malah masih jomblo. Dandan cakep-cakep pakai baju merah menyala biar enggak disangka patah hati hahaha. Ngapain berantem? Ya dia udah ‘menang’ gitu, lho :P.
      Betul setuju, kita gak bakal bisa balik ke masa lalu :D… kan ada tuh di lirik lagu “What if” di video yg eike taruh di bagian akhir… “If I stayed if you tried If we could only turn back time … But I guess we’ll never know.”
      Blognya Baginda Ratu mang keren kaleeeee, sori yak, jarang ninggalin komen. Eike bacanya pasti dari hp, males ngetik-ngetik di HP. Biasanya blogwalking kalau nemenin anak-anak bobo :D. Kan rempong ya, bawa-bawa laptop di atas tempat tidur hihihihihi. Begitu ketemu laptop, pasti yg dikerjain banyakan menulisnya daripada membacanya :P.

      • haha, baju merah menyala ya.. Oookkaaayyy….! Trus pas salaman keringet dingin, nggak? Trus cipika cipiki nggak tuh, sama pengantin perempuan-nya? *ngikik usil jilid 2* πŸ˜†
        Halah, mbak. Aku ini bikin blog cuma buat ajang curhat dan merepet doang, kok. Ada yang baca alhamdulillah, nggak ada ya.. kebangetan! :mrgreen:
        Eh tapi bener kok, nggak ngarepin ada yg komen2 juga, wong niat awal asli biar punya diari online aja. Cuma ternyata kesini2 kan aku nggak tahan juga ya, kalo nggak ‘nyampah’ di blog orang, eh ternyata yg disampahi mau berkunjung balik ke rumahku. Haha, alhamdulillah.. jadi nambah temen, kan? πŸ™‚
        Aku follow blogmu ini karena beneran sukaaa semuaaa tulisanmu. Kadang saking sukanya sampe bingung mau komen apa. Halaaaahhh…! πŸ˜†

  3. hahahhahah Jihaaaaan semoga semua pujan yang berdasarkan fakta itu menaikkan uang belanja sesuai colekanmu. Soal what if ini kalo diomongin sama pasangan mah seru, menurutku. Kalo disimpen sendiri dan dipikir-pikirin sendirian kok jadi berasa serius. Masa lalu itu enak dilihat kayak ngeliat spion, sesekali doang. Buat jadi pelajaran dan lucu-lucuan kan. Kalo terus terusan juga nantinya nabrak yg di depan.
    Kalo aku sih bisa kembali ke masa lalu, kupaksa hubby menikahi lebih cepat. DUlu lama banget sih HTS nya ihihi

    • Tergantung pasangan juga kali, ya. Kebetulan suamiku orangnya lucu, sih. Dia malah yang suka ngegodain. Soalnya dia juga kenal ama si ‘doi masa lalu’ itchuuu :P. Kalau suami temenku katanya cemburuan. Jadi, dia enggak berani singgung-singgung mantan depan suami.

  4. Halo mbak Jihan, salam kenal πŸ™‚
    Postingan ini bikin saya senyum-senyum sendiri. And you know what??? Saya langsung iseng googling nama seseoraaaaaaaaaangg.. Hahahaha.. Gak jelas banget!

    Masih belum menikah sih, tapi sedang menuju dan insyaAllah sudah menentukan pilihan. Tapi what if what if nya uda muncul aja coba sekarang. Hehehe.
    Nice share πŸ™‚

    • Justru menjelang menikah itu pas galau-galaunya biasanya hahahaha. Duh maaf komen lama baru reply nih :p :D.

  5. “What If” sambil baca…senyum2 ndiri…inget yg doeloe2…buka2 foto “mr.ex” hasil hunting-an…
    Kepooooo. . . .

  6. Mak jihan aku suka banget ama tulisan ini. Menyuarakan isi hatiku banget *halah*. Kalo waktu bisa diputar ulang pengen deh jaman dulu nggak usah pacaran. Tp ya gmn udah takdir jalan hidup kali ya. Pengennya sih anak-anakku kelak nggak ada yg mengalami proses pacaran. Bener tu kata ustadz felix, biar nggak ada what if, what if :). Tapi masa lalu tetep ya ada hikmahnya, kalau nggak melewati proses itu mungkin juga nggak bakal bisa ketemu sama suami sekarang. Alhamdulilah lelaki yg ditakdirkan Allah utk jadi suamiku saat ini juga udah yang paling paaas banget. Ijin share tulisannya ya mak…btw semoga uang belanja berhasil naik ya πŸ˜€

    • Maunya juga gitu ya Mak. Tapi mungkin kalau dulu gak ketemu yang pertama gak akan tahu betapa spesialnya yang kedua iniiiii <3.

  7. Mak jihan,
    Salam kenal..

    Gegara gak bisa tidur trs baca postingan mak arifah w..

    Tos rame2 yuuk..
    Hihihi..
    Ternyata banyak temen ber-what if’an gni..

    Sukaaak baca tulisanmu ini mak.. Easy reading banget..

  8. mak jihan, keren banget, banyak kata hati yg terwakili *halah*
    btw, emang bener bgt, bagaimanapun perasaan ketika what if what if ini muncul, selamanya tetap what if, dulu dulu sekarang sekarang.. jadi bersyukur dg semua yg Allah beri..karena jodoh bagian dr takdir, percaya suami adalah laki2 terbaik dr Allah πŸ™‚

  9. Menikah dg sahabat sendiri??? Kampus sama, ukm sama, lingkungan pergaulan sama…..dakyuuu banggeettt….hehehehh…
    Berarti sama ya, suka cagilcagilan soal si mantan yg sekarang jg bekerja di lingkup yg sama….ahayyyy….

    • Si mantan tidak bekerja di lingkup yang sama Mbaaaa hahahahah. Secara suami saya memang murtad dari jurusan kuliah kerjaannya :p.

  10. ahhhhh tulisannya mewakili begitu banyak orang yang melewati masa2 “what if”
    kuliah bareng, skripsi bareng, wisuda bareng … akhirnya menikah bareng.
    salam kenal ya mak jihan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *