Menuju Komunitas ASEAN 2015, Let’s Take The Hits!

Pertengahan tahun 2009 kala tengah bermukim di kota Tehran, Iran, saya terkesima melihat sebuah Iklan pariwisata yang wara wiri di layar kaca. Bukan di stasiun televisi sembarangan, tapi muncul berulang kali di channel sekelas BBC dan CNN.

Dengan pengambilan gambar yang cantik dan latar suara musik tradisional yang merdu, semua keterangan ditulis dalam bahasa Inggris. Iklan ini dibuat dengan sangat profesional.

(“Malaysia Truly Asia” Commercial – 2009)

Melihat sepenggal tayangan dimana seorang perempuan cantik tengah menikmati buah durian, langsung ingat jajanan tanah air.

Potongan-potongan gambar berbagai penari dengan pakaian adat mirip suku Dayak, sekelompok orang bermain gamelan, tiga orang yang tengah membakar sate, jajaran shopping centres, sekelebat bayangan candi-candi, anak-anak kecil mengendarai kerbau di pinggiran sungai, pesisir pantai cantik seperti yang mudah ditemukan di Bali maupun Lombok, ragam flora dan fauna khas nusantara, saya yang memang tengah kangen pada tanah air langsung terharu dan kegirangan, “Astaga, kerennya Indonesiaku.”

Rasa sesak di dada luntur seketika saat di akhir tayangan, muncul sebaris kalimat “Malaysia Truly Asia.”

***

Hingga kini, urusan pariwisata (sosial-budaya) masih sempat mewarnai perselisihan antara Indonesia dan negara-negara tetangga. Khususnya dengan Malaysia, yang memang di beberapa wilayah berbagi daratan yang sama dengan Indonesia.

Sebagian masyarakat Indonesia sibuk menyalahkan pihak asing sebagai ‘pencuri budaya’. Lupa menyadari kelemahan kita sendiri yang kurang telaten merawat rupa-rupa warisan budaya Nusantara.

‘Perselisihan’ yang mungkin dirasa kecil namun bisa berdampak besar, tentunya bukan sinyal yang baik bagi percepatan pembentukan Komunitas ASEAN 2015, yang awalnya digagas untuk tahun 2020. Komunitas ini dibangun berdasarkan keinginan negara-negara di belahan tenggara benua Asia untuk bersinergi secara optimal di bidang Keamanan, Ekonomi dan Sosial Budaya.

Gambar : thaiembassy.org / worldfair.co.th / asean-community.au.edu

Gambar : thaiembassy.org / worldfair.co.th / asean-community.au.edu

Namun, jangan lupa. Sinergi ini akan memungkinkan terbukanya berbagai akses untuk memudahkan lintas bisnis diantara sesama negara-negara ASEAN. Dampak ekonomi yang paling mendapat sorotan tajam. Disertai pertanyaan besar, siapkah Indonesia? Siapkah kita?

Rumitnya Posisi Indonesia dalam Segi Keamanan dan Ekonomi 

Membahas masalah keamanan tentu bukan bidang saya, seorang blogger biasa yang hanya punya latar belakang IT :). Tapi jelas, dengan melihat geografis nusantara yang dibentuk oleh gugusan pulau besar dan kecil dan dipisahkan dengan perairan yang luas, tantangan besar  diemban oleh pemerintah kita. Daripada sok tahu, mari kita bantu dengan doa saja :).

Segi ekonomi pun terbilang rumit. Diantara negara-negara ASEAN yang lain, Indonesia memiliki  jumlah penduduk terbesar. Jauh lebih besar daripada negara yang berada di urutan ke-2, Filipina, yang diperkirakan berpenduduk sekitar 100 juta jiwa. Sementara Indonesia sudah menembus 250 juta jiwa.

Tentu saja, mengurusi penduduk dengan angka fantastis bukan perkara gampang buat pemerintahan mana pun. Walau ditopang dengan sumber daya alam yang juga melimpah, tetap saja segi pengelolaan adalah tantangan terbesar untuk pemerintah.

Seperti negara-negara berkembang di negeri tetangga yang berpenduduk sangat banyak, Filipina dan Thailand, Indonesia sudah selayaknya melirik lapangan kerja di luar negeri. Agak riskan jika lebih dari 250 juta jiwa ini hanya menggantungkan hidup dari dalam negeri saja. Jangan lupa, devisa adalah salah satu sumber keuangan yang penting bagi tiap negara. Devisa nomor 2 disumbangkan oleh para pekerja asing yang menyumbangkan penghasilannya ke tanah air.

Selain memberi kontribusi nyata berupa ‘kiriman uang’ secara berkala ke negeri tercinta, para perantau asal tanah air juga bisa ‘mempromosikan’ Indonesia di mana pun mereka berada. Setiap warga di negeri perantauan adalah duta bagi bangsanya. Sebagai salah seorang perantau, hal simpel yang sering dilakukan suami saya adalah mengenakan batik ke  kantor atau memakai kopiah hitam saat melaksanakan ibadah di masjid.

Di Iran, Malaysia sangat terkenal sebagai salah satu tujuan wisata bagi penduduk setempat. Di Eropa secara umum, Thailand sering disebut-sebut karena keindahan alamnya. Sementara Filipina mengirimkan warga negaranya ke berbagai belahan dunia. Bayangkan, dari Saudi hingga Irlandia, saya menyaksikan sendiri tenaga kerja medis asingnya dikuasai oleh orang-orang Filipina.

Para negeri tetangga ini sungguh matang dalam berbaur dengan bangsa lain. Wah, bikin jiper juga. Akan seperti apa kita kala harus berbaur secara ekonomi dengan mereka di Komunitas ASEAN 2015 nanti?

Sosial Budaya, Waktunya Indonesia Unjuk Gigi!

Sekilas kita merasa jumlah penduduk yang melimpah menjadi kelemahan utama Indonesia untuk bersaing secara kompetitif dari segi ekonomi. Tapi, kita selalu bisa mencari celah, mengubah kelemahan menjadi kekuatan ;).

Era digital membawa media sosial menjadi salah satu sumber informasi dunia. Media sosial memperkenalkan kita kepada komunitas blogger. Orang-orang dari berbagai kalangan yang berbagi kata/rasa/makna/gambar sesuai dengan karakter masing-masing di berbagai fasilitas blog di dunia maya. Termasuk diantaranya, Komunitas Blogger ASEAN.  Indonesia jelas punya potensi besar dalam menyongsong Komunitas ASEAN 2015 dengan Integrasi Konstruktif Berbasis Kerakyatan (people centered).

Gambar : aseanblogger.com

Gambar : aseanblogger.com

Hanya dengan memainkan jemari di atas keyboard atau layar ponsel, begitu banyak hal yang bisa kita sebar ke seluruh penjuru dunia. Indonesia punya banyak stok jari-jari yang bisa disumbangkan oleh lebih dari 250 juta pemiliknya :D. Tak cuma menciptakan pasar ekonomi yang besar, keuntungan 250 juta jiwa sangat penting dalam penyebaran informasi.

Berbagai bentang alam dan macam-macam bentuk geografis yang terpisah-pisah memang menyulitkan sistem kontrol dan kelola oleh pemerintah. Tapi, kita mendapat anugerah berupa macam-macam potensi alam untuk tujuan wisata, ragam budaya/suku/bahasa, hingga jejak kuliner yang sambung menyambung dari Sabang hingga Merauke.

Gambar : pesonaIndonesia.com

Gambar : pesonaIndonesia.com

Begitu banyak hal yang bisa Komunitas Blogger Asean ceritakan melalui rangkaian kata di media online. Sembari giat menyebarkan sosialisasi akan Komunitas ASEAN 2015, para blogger bisa terus mengulas sosial budaya negeri asal masing-masing.

Faktor wisata cenderung menarik karena siapa, sih, yang tidak senang disuguhi informasi yang indah-indah? ;). Kebanyakan orang juga gemar jalan-jalan. Dan siapa yang tidak tertarik akan dunia kuliner? Makan-makan gitu, lho. Kebutuhan utama setiap insan :D.

Sinergi Optimal dari Komunitas Positif dan Seimbang

Sangat penting mensejajarkan kualitas bangsa sendiri dalam merintis sinergi positif bersama negara-negara ASEAN lainnya. Keseimbangan dalam berbagai hal adalah kunci dari hubungan yang sehat dalam bidang apa pun.

Sebagai bangsa besar, ini bukan tantangan mudah. Bersama blogger dari negeri-negeri tetangga kita harus wujudkan hubungan yang memberi keuntungan timbal balik. Dengan tidak merasa yang satu lebih tinggi atau rendah daripada yang lain. Itulah sebaik-baiknya rekan/teman/partner :). Bukan di depan, bukan di belakang, tapi berjalan berdampingan.

“Don’t walk behind me, I may not lead. Don’t walk in front of me, I may not follow. Just walk beside me and be my PARTNER.” -Albert Calmus

Gambar : talkvietnam.com

Gambar : talkvietnam.com

Energi positif mustahil dimunculkan dari hujatan-hujatan, kan? Tak perlu sibuk mencela orang lain yang dianggap mencuri budaya kita? Sudah seharusnya itu menjadi pertanyaan besar untuk kita semua. KOK BISA budaya kita sampai dipatenkan secara resmi oleh pihak lain? 

Seperti saya tatkala melihat iklan “Malaysia Truly Asia” tadi. Ha? Sejak kapan buah durian hanya dikenal milik Malaysia saja? Bahkan, bunga “Rafflesia Arnoldi” yang sudah disematkan sebagai salah satu bunga nasional Indonesia (informasi dari link berikut) juga muncul dalam tayangan iklan tersebut.

Bukan salah Malaysia! Kita yang harus melihat kepada diri masing-masing, APA YANG SALAH?

“That’s how winning is done! Now if you know what you’re worth then go out and get what you’re worth. But ya gotta be willing to TAKE THE HITS, and not pointing fingers saying you ain’t where you wanna be because of him, or her, or anybody! Cowards do that and that ain’t you! You’re better than that!” -Rocky Balboa-

Tentu saja, kita, bangsa Indonesia, bukan bangsa pengecut. Yang mudah menyalahkan bangsa lain atas permasalahan yang ada. Jadi, jawab tantangan ini!

Bersama Kumpulan ASEAN Blogger, kita sosialisikan  Komunitas ASEAN 2015! Bukan dengan menyudutkan yang lain, tidak dengan menghujat siapa-siapa. Tapi dengan menyebarkan sisi positif bangsa sendiri :).

Bergandengan tangan bersama warga ASEAN lainnya, kita bisa memajukan kawasan ASEAN di mata dunia. Menjadikan ASEAN jaya di tangan anda, di tangan saya, di tangan kita semua. Not only “ASEAN in your hand. Even more… “ASEAN in OUR hands :).

Stop pointing our fingers and start taking the hits! 

Gambar : shutterstock.com

Gambar : shutterstock.com

***

38 thoughts on “Menuju Komunitas ASEAN 2015, Let’s Take The Hits!

  1. Wuihh.. opini yang mantabs 🙂 setuju sekali, kita yg kudu menjaga. Kadi inget kata bang mapi; “kejahatan bukan hanya karena ada niat si pelakunya, tapi juga karena ada kesempatan. Waspadalah!”

    • Sebenarnya Malaysia dan Indonesia memang berbagi kebudayaan yang sama. Kebetulan pas tinggal di Jeddah dan di Athlone, teman banyak dari Malaysia. Jadi saya tahu, batik-sate-rendang memang juga warisan leluhur di sana. Ya namanya juga satu rumpun, yak :D. Bedanya, (mungkin) kita harus meniru keseriusan Malaysia dalam mempromosikan wisata dalam negerinya :).

  2. What a very bright and smart article, Mbak Jihan! Agreed. Sudah saatnya kita stop pointing our fingers and start taking the hits! Yuk bergandengan tangan dengan sesama warga Asean lainnya, majukan negeri-negeri kita. Keren artikelnya, Mbak. Sukses selalu. Btw, ini diikutkan dalam lomba menulis kah?

  3. Wow.. Tulisannya mengena banget mak.. Keren banget. Kita memang seringkali menunjuk sana sini yang salah, padahal aslinya kitalah yang tidak peka dan tidak sigap dalam mempertahankan kekayaan negeri. Inspiring a lot ^^

    • Terima kasih sudah mampir :). Harusnya memang begitu, ya. Walau menyalahkan pihak lain memang rasanya lebih gampang hehehehe. Tapi, tindakan pengecut tentu bukan sikap dasar bangsa Indonesia ;).

    • Enggak, kok. Malaysia memang punya budaya yang sama dengan Indonesia ;). Maklumlah, dulu sempat satu daratan kan? Nenek moyangnya pun sama :D. Sodara jauh ;).

    • Terima kasih, Mak :D. Waktunya sampai besok :D. Selama ini lomba yang hoki cuma yang diadain KEB doang, yang lain-lain belum pernah menang hihihihi. Terus, tulisan lain lebih keren-keren. Berharap hoki aja deh :P. Mudah-mudahan sekali ini hokinya bagus juga. Aamiin.

    • Wah, coba baca juga tulisan-tulisan peserta lain. Bukan merinding lagi, tapi cetaaarrrrrr :D. Terima kasih, ya. Semoga hoki saya bagus di lomba yang ini :).

    • Waduh, Mak Fardelyn belum baca tulisan lain kali, tuh hehehe. Bikin gemetarrrrr :D. Ini nekat karena kebetulan lombanya ngebolehin blogger domisili di luar ikut serta :D. AKhir-akhir ini lomba menulis ‘kejam-kejam’ hihihihi, enggak ngebolehin yang berdomisili di luar negeri ikut serta :(.

  4. melihat posisi indonesia emang sulit, beberapa corak khas budaya dan kesenian indonesia diklaim ama tetangga sebelah. dan mestinya keberadaan indonesia di asean membuat negara lain memandang indonesia dg rasa hormat yg sama dengan negara lain. dan blogger mestinya bisa mengambil peran untuk menyuarakan budaya dan kesenian indonesia, agar gak diklaim negara sebelah lagi.

    • Sebenarnya budayanya memang banyak yang mirip-mirip, Mas :). APalagi yang bagian sumatera, jawa, bali dan kalimantan yang memang cenderung ‘merapat’ ke benua Asia :). Malaysia juga punya rendang dan sate. Rasanya yang agak beda hehe. Namanya juga satu rumpun, sama-sama Melayu ^_^. Baiknya, kita contoh keseriusan mereka mengelola wisata alamnya secara profesional sehingga mampu menggaet lebih banyak turis asing :).

      • nah itu dia, sama pentingnya. selain infrastruktur, banyak negara makin terlihat profesional dan serius mengelola pariwisata sebagai kekayaan negaranya. dan sy yang tinggal di lombok, merasakan sekali gimana sakit perut karena jalan yg rusak ke salah satu tempat wisata terkenal di sini. jalan berbatu, berlubang mesti dinikmati saja.

    • Coba diceki-ceki tulisan peserta lain, Mbak. Dijamin berubah pikiran hehehe. Tapi tetep doain aku biar bisa menang, ya :D.

  5. Aq doain smoga kakak jihan menang…klwpun enggak (smoga menang) mudah2n artikel ini bisa jd sentilan bwt smua betapa budaya n kekayaan alam qt amat melimpah ruah n beresiko punah klw bukan dri qt sndiri yg berusaha melestarikannya 🙂
    Lagi miris sm anak2 muda skrng yg lebih condong k budaya jepang n korea…bukan mksud mw mengecilkan kreativitas mrka…tp pahami dulu budayamu sebelum budaya negara lain :'(
    Good luck bwt kakak Jihan…

    • Ahahahahahahha, kenapa tiba-tiba panggil kakak iniiiiiii :D. Akyu masih belia ini lhooooo *umpetinAnakAnakDalamLemari* :P. Terima kasih ya Uni Yeni. Sebaiknya dicek-cek juga tulisan peserta lain. Lumayan lho jadi dapat informasi macam-macam dan insya Allah berguna semua :).

  6. Okey, Let’s stop pointing our fingers and start taking the hits!
    Tulisannya mbak Jihan ini benar-benar menggugah kesadaran, banyak potensi di negeri ini yang membuat Indonesia menjadi negeri yang membanggakan.
    Maka layak kalau tulisan ini menjadi Juara 1 Lomba Blog ASEAN. Selamat ya 🙂

  7. Trimakasih mbak telah membuat tulisan yang menginspirasi bangsa Indonesia untuk bangkit menjadi lebih baik lagi dalam segala bidang khususnya pada komunitas asean

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *