Here, There and Everywhere

Kalau ramadan tiba, pendatang asal Saudi di berbagai penjuru Irlandia biasanya ‘menghilang’. Hampir semuanya kembali ke kampung halaman jelang ramadan hingga hari raya.

Pendatang asal Saudi di kota Athlone terbilang lumayan, lho. Sebagian besar tinggal di apartemen di City Center, yang bersebelahan langsung dengan Athlone Town Center, mal paling besar di Athlone.

Sebagai alumni Saudi, saya langsung memaklumi hehehe. Madam Saudi gitu lho, mana bisa jauh-jauh dari mal, ahahahahaha . Demikian pula soal ramadan, saya enggak heran jika seorang teman asal Saudi di sini pernah berkata, “It’s insane to spend ramadan in here. I always go back to Saudi for ramadan.”

Alasan mereka bukan cuma karena bulan puasa di musim panas mengharuskan umat muslim berpuasa rata-rata 17-21 jam di Eropa. Tapi suasana ramadan di Saudi memang cukup mencengangkan. Saya sungguh tak mengira kalau ramadan di Saudi berarti … waktunya dugem! Hihihihi.

Tahun pertama melewati di Saudi, tahun 2010 silam, di suatu akhir pekan saya mengajak suami jalan-jalan. Suami keheranan, “Ngapain jalan-jalan siang-siang?”

“Ya, biar enggak bosen aja. Ke mal, yuk. Lihat-lihat.”

Suami langsung terbahak, “Kalau bulan puasa, pagi sampai sore mana ada toko yang buka?”

Gantian saya yang heran, “Lha? Masa, sih? Mereka libur juga sebulan kayak anak sekolah?”

“Bukanya entar malam. Kalau mau jalan-jalan abis Isya aja, sampai subuh juga ramai.”

Saya jelas kaget. Selama di Saudi, saya sih tidak pernah ikut-ikutan pola hidup mereka yang memiliki jam malam lebih panjang. Saya dan anak-anak tetap tidur rata-rata pukul 10 malam. Weekend pun tak ada ampun buat saya . Tidur tetap jam segitu, bangunnya tetap subuh *sokDisiplin* hehehe. Saya tipe orang yang gampang bad mood kalau bangunnya siang .

Saat ramadan, kami pernah berbelanja ke supermarket selepas Isya. Jika suasana di pagi hingga sore bagaikan kota mati, sebagian besar madam bobok-bobok cantik dalam rumah  (menurut bibik yang membantu beres-beres di rumah teman yang juga part timer di rumah-rumah madam arab), malamnya sungguh luar biasa. Jalanan macet gilaaaaaa!

Mal penuh, supermarket ramai, kasir pun ngantrinya ampun-ampunan. Jam 1 malam baru kelar kami berbelanja. Saya sudah mulai cranky. Ngantuk, Cyin! Hehehehe. Begitu keluar dan beranjak pulang, suasana di jalan tidak berkurang kepadatannya.

Suami saya cengar-cengir, “Pesta baru berakhir entar, pas jelang subuh.”

Kalau di tanah air, ngabuburitnya dari ashar hingga magrib, di Saudi beda lagi. Ngabuburitnya selepas Isya hingga subuh .

To be honest, saya mah ogah banget dengan suasana ramadan seperti itu. Tapi demi menemani suami, ditahan-tahanin, deh.

Bukber 2012

Bukber 2012

Tapi serunya juga ada . Urusan makanan, tinggal di Jeddah hampir tak ada keluhan hehehe. Di bulan puasa pun, penjual snack untuk berbuka banyak banget. Tiap sore, main saja ke Singaparna. Mau apa? Cendol, onde-onde, aneka gorengan, putu-putuan, lontong-lontongan, sagala aya! . Harganya juga sangat masuk akal. Kalau enggak doyan masak seperti saya, enggak akan berpikir 2x untuk memasukkan segala macam ke dalam kantong plastik hehehe.

Teman juga banyak. Tak semua teman ‘menyerah’ dan mudik ke Indonesia saat bulan puasa. Banyak juga yang bertahan hingga hari raya di Jeddah. Acara buka puasa bersama tetap ramai alhamdulillah. Biasanya kami membagi tugas siapa bawa apa. Saya tak pernah risau. Pesan saja. Kebagian tugas membawa nasi putih, saking malasnya repot, saya pasti pesan hahahaha.

Waktu berpuasa di Jeddah, saat musim panas pun, rata-rata cuma berkisar sekitar 14-15 jam saja. Enggak jauh beda dengan di Jakarta. See? Kalau dicari, yang enak-enaknya tetap lebih banyak :D.

Buka puasa tahun 2010

Kumpul-kumpul tahun 2011

***

Tahun ini, giliran Eropa yang kudu ditaklukkan di bulan ramadan. Awal-awalnya, waktu berpuasa mencapai 19 jam. Onde mande *keringatDingin*. Saya dan suami sampai memutuskan untuk ‘gladi bersih’ sebelum ramadan benar-benar datang. Hihihihi. Voila, ternyata enggak sehoror yang dibayangkan.

Hm, tentu saja. Suhu di Eropa pada umumnya tidak seganas daerah gurun dan tidak selembab di Jakarta (yang bawaannya keringetan melulu jadi gampang haus). Alhamdulillah, sekali mencoba, kami langsung percaya diri. Percayalah, Allah tidak akan memberi cobaan melebihi kemampuan umat .

Lagian jangan mengasihani kaum muslim di Eropa saat harus berpuasa di musim panas. Karena begitu musim dingin tiba, subuh bisa berlangsung di jam 7 pagi, dan pukul setengah 5 sore magrib akan menjelang. Puasanya bisa 9.5 jam saja di musim dingin. Asyik, kan? . Segala sesuatu sudah diciptakan berpasangan. Sementara di Indonesia, mau musim hujan kek, musim kemarau kek, musim mangga kek, musim duren ataupun musim kawin, puasanya tetap stabil dengan durasi rata-rata 13-14 jam .

Sekitar belasan hari pertama puasa tahun ini, musim panas mencapai puncak. Suhu siang hari bisa di atas 35 derajat. Aduh, cobaan banget kalau harus jalan kaki berbelanja ke supermarket yang jaraknya sekitar 1 kilo sambil nenteng 2 bocah huhuhu. Suami yang baik hati pun mengambil alih tugas ini hehehe *kecupSuamiTerhebatDiDunia* .

Belakangan, hujan deras mendominasi, suhu drop ke angka 20 an derajat. Memang, suhu labil adalah ciri khas negara Irlandia .

Waktu tidur adalah tantangan terberat. Karena saya tak bisa berleha-leha di pagi dan siang hari. Masih ada 2 bocah yang kudu diurusin makannya. Saya tak mengganti jadwal makan anak-anak saya di bulan puasa. Mereka sarapan tetap di jam 8 pagi dan seterusnya. Waktu tidur mereka pun sama. Resikonya, waktu tidur mama pun terpaksa dipangkas . It’s ok. Manfaatkan banyak waktu untuk nulis-nulis hehehe.

Sebagai satu-satunya keluarga muslim asal Indonesia di Athlone, kesepian, gak? Enggak . Karena banyak keluarga muslim asal negara lain . Malah, di sini kami rutin bukber tiap jumat malam. Bedanya? Kalau di Jeddah tinggal pencet ponsel pesen ini itu buat dibawa ke acara. Di sini kudu nyiapin sendiri. Dasar bukan pencinta dapur, kebagian bawa salad buah saja mesti browsing internet hampir seharian, ahahahahaha. Alhamdulillah, salad buah eike laku keras 😀 <– amatiran abis, bikin salad buah saja udah berasa masterchef hahaha.

Pernah juga kebagian bawa snack asin. Wah, mereka cukup doyan martabak telur . Enggak sia-sia jumpalitan di dapur.

Di Athlone, dapur mama ngebul terus. Hampir sebulan penuh ini, kami tak pernah jajan di luar. Mau jajan apa lagian? Rasa kurang enak, harga apalagi hahahaha. Berkahnya, sekarang sudah terbiasa masak ini itu . Walau saya cenderung ber-FC ria pas ramadan tahun ini, kan masih ada suami dan anak-anak yang nampaknya belum bisa 100% mengikuti pola makan saya.

Cuma ya gitu, saya sering merasa ‘alone in a crowd’ di acara buka puasa bersama mingguan itu. Biasalah, orang arab kalau ketemu orang arab otomatis akan berbahasa arab. Orang pakistan sibuk cekikikan pakai bahasa mereka. Orang Turki juga sama. Mereka semua sangat fasih berbahasa inggris, tapi ya begitu ketemu sesamanya, refleks kembali ke bahasa ibu masing-masing . Kalau sudah begini, kangennya luar biasa sama madam-madamku di Jeddah.

Untung ada teman dari Malaysia yang baik banget sesekali mengajak saya mengobrol. Ini bukan cobaan ringan bagi orang yang enggak bisa diam seperti saya hahahaha. Kepooooo aja bawaannya. Apa daya enggak ngerti mereka ngomong apaan .

***

Lebaran di Jakarta, Jeddah maupun di Athlone, ada enak ada enggak enaknya. Tapi kalau disuruh memilih, saya sih, home sweet home, dong . Paling nyaman melewatkan ramadan di tanah air .

Namun konon, pengalaman adalah salah satu hal yang tak akan terbeli oleh uang, seberapa pun banyaknya . Tinggal di Saudi dan menyaksikan cara mereka melewatkan ramadan tidak berarti kita boleh seenaknya menilai nilai ibadah mereka. Ingat, urusan aqidah sudah ada dewan jurinya tersendiri . Istimewanya orang Saudi itu, sangat royal dalam urusan membagi makanan berbuka pada siapa pun .

Tinggal di Athlone pun, yang dalam kehidupan sehari-hari nyaris tak terasa suasana ramadannya, tidak boleh membuat kita ciut.

Semasa di tanah air, puasa cukup identik dengan kumpul-kumpul, makan-makan enak, hiruk pikuk mengejar waktu berbuka kala terjebak macet di jalan. Setelah menjalani ramadan di tempat lain jadi menyadari makna puasa itu intinya ibadah. Seharusnya kita bisa merasakan kehadiranNya di mana saja, apa pun suasananya. Nikmat berpuasa ada dalam diri sendiri. Bukan karena suasana atau lingkungan dan orang-orang sekitar 🙂.

***

7 thoughts on “Here, There and Everywhere

  1. mbak, kebangetan kamuh, kebagian bawa nasi putih kok ya pesen….! huahaha.. Madam arab, haha. itu mereka beneran byk duit semua ya, jd sebagian cerita di sex and the city (eh, dirimu nonton nggak ya? *ragu salah nanya orang,hihi* ) yg madam arab pk cadar tp dalemnya pake barang2 branded head to toe itu jgn2 bener, ya….

    • Ihihihihihi, bawa nasi buat 40 an orang kan males boooo, mesti segede ape tuh tempatnya? 😛 *ngeles*. Nonton dooongg SATC, penggemar nomer wahid neh :D. Iyap, madam-madam arab bercadar itu ‘isi’nya bisa gonjreng banget. Makanya awal dateng ke Saudi, coba-coba ikutan nge-sale di Zara, Mango, dkk, agak syok liat cewe-cewe pakai cadar ikut berebutan tanktop hihihihihi :P.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *