Dua Sisi Mata Uang, Arung Palakka

by : Jihan Davincka

***

Berbeda dengan puja puji yang dilimpahkan kepada ‘musuh’nya Sultan Hasanuddin, nama Arung Palakka tercatat sebagai salah satu ‘penghianat bangsa’ dalam buku-buku sejarah yang pernah saya pelajari waktu masih SD.

Kontras dengan buku-buku sejarah yang pernah saya pelajari waktu masih di bangku sekolah, sebuah patung besar berdiri gagah di sebuah Taman Bunga yang dibangun untuk mengenangnya di tengah kota Watampone. Watampone terletak di kabupaten Bone, daerah asal Arung Palakka.

Sumber : koraadnan06.blogspot.com

Sumber : koraadnan06.blogspot.com

***

Sebagai pengantar, mari sedikit mempelajari kultur sosial masyarakat Sulawesi Selatan. Ehm…propinsi asal eike, nih *benerinPoni*.

Seperti kebanyakan propinsi di berbagai belahan Nusantara, Sulsel juga kaya akan ragam suku dan bahasa. 4 suku terbesarnya adalah : Makassar, Bugis, Toraja dan Mandar. Beberapa waktu lalu, sebagian besar wilayah yang dikuasai suku Mandar sudah memisahkan diri menjadi sebuah propinsi baru, Sulawesi Barat. Makassar sendiri sudah resmi menjadi nama ibukota Sulawesi Selatan sejak tahun 1999 lalu setelah sebelumnya bernama Kota Ujung Pandang. Bukan berarti semua penghuni kota ini berasal dari suku Makassar semua la yaow. Orang Bugis dll juga ada .

Suku lain misalnya Enrekang. Kakek saya sendiri (dari Ibu) juga memiliki darah Enrekang. Aduh, ingat Enrekang ingat Dangke, makanan khas asal sana hehehe .

***

Membahas sejarah Arung Palakka akan membuka luka lama yang pernah ditorehkan oleh dinasti kerajaan Makassar kepada Kerajaan Bone, salah kerajaan terbesar Bugis di masa itu. Jadi, bukan cuma Sunda vs Jawa saja yang pernah bersimbah drama di masa lalu. Orang Bugis pun menyimpan kisah kelam di masa lampau.

Arung Palakka lahir sebagai pewaris tahta Kerajaan Bone. Belum lagi menginjak abege, Kerajaan Bone ditaklukkan oleh Kerajaan Makassar. Di usia belasan, Arung Palakka dan keluarganya disandera. Untung saja, Arung Palakka dan keluarga dijadikan pelayan Karaeng Pattinggaloang, salah satu petinggi di Kerajaan Makassar. Dalam asuhannya, Arung Palakka diberi kesempatan mendapat pendidikan layak hingga menjadi anak yang menonjol dalam olah fisik dan akademis.

Walau besar dan diizinkan bergaul biasa dengan pemuda-pemuda Makassar, Arung Palakka tak pernah bisa melepaskan dirinya dari Siri’-Pacce-Sare yang mengalir kuat dalam darah bugisnya. Sungguh sulit baginya menyaksikan ribuan bangsanya digiring dari Kerajaan Bone untuk bekerja paksa bagi Kerajaan Makassar atas perintah Sultan Hasanuddin.

Siri’-Pacce-Sare apaan? Ketiga prinsip ini adalah kepercayaan dasar bagi orang Bugis kala itu.

Siri’’ (harga diri atau kehormatan dan rasa malu).
Pacce (perasaan sakit dan pedih atas penderitaan saudara sebangsa).
Sare (kepercayaan bahwa seseorang dapat memperbaiki atau memperjelek peruntungannya dalam hidup ini melalui tindakan orang itu sendiri).

Tak cuma itu, setelah banyak para pekerja paksa yang sakit dan melarikan diri, para bangsawan Bone dan Soppeng yang tadinya hanya dijadikan pelayan dipaksa untuk ikut menggali kanal di sepanjang garis pertahanan Kerajaan Makassar. Bayangkan, seberapa besar rasa malu yang harus ditanggung oleh para bangsawan Bugis ini.

Banyak yang tidak terima dan melawan. Salah satu kompornya ya si Arung Palakka. Perlawanan dipatahkan. Larilah Arung Palakka membawa beberapa orang-orang kepercayaannya.

Singkat cerita, rombongan bugis yang melarikan diri dari penjajahan sekaligus kabur dari rasa malu, mendarat di Batavia. Dimulailah kehidupan keras mereka untuk mempertahankan diri. Para ‘Tau Ogi’ (sebutan untuk orang Bugis) segera mendapat perhatian dari Cornelis J Speelman, yang tengah berjuang membersihkan namanya dari tuduhan perdagangan gelap. Bertiga bersama Kapiten Jonker, mereka bertiga menjelma menjadi ‘Preman Batavia’. Semacam “Three Muskeeter” gitu kali, ya, di masa itu hehehe.

Uniknya, membawa dendam akibat pelecehan terhadap bangsanya malah membuat Arung Palakka membabi buta. Tak segan-segan ia membantu VOC meluluhlantakkan perlawanan orang-orang Minang di wilayah Sumatera. Jadi pernah lhooooo orang Bugis ‘mengalahkan’ orang Minang (melirik tajam ke arah suami! Apa iniiiii? Malah jadi chauvinisme begini :P).

Setelah bertahun-tahun menunggu, kesempatan emas itu datang juga. Pihak VOC meminta Arung Palakka membantu menaklukkan Kerajaan Makassar yang kala itu punya potensi besar menyaingi rencana monopoli VOC. Terbakar Siri’, Pacca, sibawa Sare, Arung Palakka langsung menyambut tawaran ini.

Begitulah sejarah terukir. Arung Palakka membawa bangsanya meraih kemerdekaan setelah bersama VOC berhasil melumpuhkan Kerajaan Makassar yang makin terdesak dengan Perjanjian Bongaya. Ah, dari dulu isunya selalu sama. Padahal mungkin jika Makassar dan Bone bersatu, VOC tak akan pernah sanggup mencicipi kekuasaan di perairan Sulawesi.

***

Seorang sejarawan memang mencoba mengangkat latar belakang darah bugisnya dan penjajahan Kerajaan Makassar terhadap kerajaan-kerajaan bugis untuk mengupas kisah Arung Palakka secara keseluruhan. Kalau dalam buku-buku sejarah dulu (sekarang masih enggak sih?), kisah yang ditonjolkan adalah bentuk kerja sama Arung Palakka bersama laskar bugisnya bahu membahu bersama VOC memojokkan Kerajaan Makassar di masa itu.

Bahwa, bila tak dibesarkan dalam situasi terjajah, mungkin tak akan ada cerita pengkhianatan orang Bugis terhadap sejarah kemerdekaan bangsa. Remember, we don’t judge others, for often we don’t know the whole story .

Sebenarnya Arung Palakka juga menunjukkan kekeliruan besar ketika membantu VOC mematahkan perlawanan Minang dan membuat beberapa wilayah Minang malah jatuh ke dalam penjajahan kompeni. La ya katanya sakit hati suku sendiri terjajah kok malah ikut-ikutan menjajah suku lain? Enggak bener dong, ya *jewerArungPalakka*.

Kerajaan Makassar pun membuktikan pepatah, “Apa yang kau tanam itu yang kau tuai.” Bukannya baik-baik sama suku tetangga malah memperbudak mereka? Zzzzz .

Ketika Kerajaan Makassar telah berhasil dilumpuhkan, Arung Palakka mau tak mau terjebak dalam urusan ‘balas jasa’ kepada VOC. Dia bahkan pernah meninggalkan bangsanya, berlayar hingga ke Jawa, membantu VOC menyelesaikan masalahnya di sana. Sikap ini mengundang kontroversi dalam kalangan orang Bugis sendiri. Tak sedikit orang-orang Bugis yang akhirnya hengkang dari Sulawesi sebagai bentuk protes terhadap sikap Arung Palakka yang dianggap menghalalkan segala cara.

Demikianlah tiap cerita kepahlawanan memiliki porsinya sendiri-sendiri. Dengan melihat dari berbagai sisi, kita akan memiliki pemahaman lebih mengenai siapa si jahat siapa si baik. Apa ada yang benar-benar jahat atau ada yang secara keseluruhan baik? .

Kisah-kisah seperti ini sekaligus mengajarkan betapa MAHAL yang namanya KEBERANIAN, KEKUATAN dan KEBAHAGIAAN.

Sultan Hasanuddin dalam kisah ini adalah orang yang paling berani melawan VOC? Belum cencuuuuu . ORANG yang paling CEPAT dalam MINTA MAAF adalah ‘ORANG YANG PALING BERANI’.

Jadi, yang paling kuat itu Arung Palakka? Ya enggak juga. ORANG yang paling CEPAT meMAAFkan adalah’ORANG YANG PALING KUAT’..

Pada akhirnya siapa yang mereka bahagiakan? ORANG yang paling CEPAT meLUPAkan KESALAHAN orang lain adalah ‘ORANG YANG PALING BAHAGIA’. Mudahkah kita meLUPAkan?

Ternyata untuk menjadi orang yang BERANI, KUAT dan BAHAGIA enggak mesti pula terbang jauh ke masa lampau mengangkat senjata melawan penjajah. Rumusnya sudah dikasih tuh di atas hehehe.

Dan sebenarnya ada satu hal penting yang perlu kita camkan bersama sebagai satu bangsa dan tanah air adalah… JANGAN MACAM-MACAM SAMA ORANG BUGIS!!! ahahahahahahahahahahhaha *pasangKacaMataItem*.

***

(Disarikan dari : id.wikipedia.org)

11 thoughts on “Dua Sisi Mata Uang, Arung Palakka

  1. Assalamualikum mbak Jihan 🙂
    Saya dari penerbit Edelweiss ingin menghubungi mbak jihan, kemana ya agar bisa menghubungi mbak 🙂 terima kasih

  2. baru kenal blog ini setelah liat promo buku bang dani di milis parakontel,
    salam kenal ya, kebetulan sy orang bugis dari bone, taman bunga yang ada patung arung palakka itu tempat main sepulang sekolah dulu di SMP4.
    melokka makkutana tau ugi agaki ?

    • Iye’, tau ugi pole Sidrap hehehe. Tapi kecilya di Ujung Pandang ji kodong. Terima kasih dah main ke blog ini, Daeng :D. Kalau saya, istrinya si Bang Dani itu hihihihi.

      • wah..mbak Jihan to ugi toh.. hehehe, salam kenal mbak.. sy Ria, alumni FHUI tapi.. to ugi-mangkasa.. wah..datuk sy dr sidrap juga, hehehe.. tulisannya mbak bagus2.. sy suka..

  3. jarang-jarang baca blog yang ngasi cerita arung palaka, udah gitu ending pesannya itu lho sering banget sy pake kalo lagi berantem ama teman *makanya jangan macam2 ama orang bugis*
    Sy orang bugis juga, bugis bone sih tp kw abis ga bisa ngomongnya. Teruski menulisna, suka sekali tulisanta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *